
"Ya, Kakak benar!" balas Dara dan Li Phin keduanya melihat kepergian Tan Jia Li menuju ke arah Gu Shanzheng dan semua orang di sana.
"Aku rasa jika aku masih bisa kembali ke duniaku, aku akan menghancurkan semua sindikat narkoba itu. Aku tidak peduli jika aku harus membunuh mereka semua," batin Dara geram, "mereka telah menghancurkan penerus bangsa," lanjutnya.
"Apakah kamu berkeinginan untuk kembali ke duniamu lagi, Dara? Lalu, bagaimana dengan Liu Sun Ming dan Jang Min? Apakah kamu tega akan meninggalkan mereka?" tanya Li Phin bingung dan tidak mempercayai apa yang didengarnya.
"Aku tidak tahu, tapi semua ini bukanlah milikku, kebahagiaan ini adalah milikmu Li Phin. Semakin hari aku semakin tersiksa melihat kesedihan di matamu dan Liang Si.
"Aku merasa berdosa, aku hanya ingin kita menyelesaikan semua perang ini. Agar Donglang bebas dari pemberontakan sebagai kenangan yang akan aku tinggalkan kepada penduduk Donglang. Walaupun mungkin mereka tidak mengenalku.
"Kamu harus meneruskan perjuangan kita kedepannya. Jang Min … ia pasti bisa menemukan permaisuri atau selir lain, aku yakin kamu akan merawat putra kita Liu Sun Ming. Aku hanya minta sayangilah dia Li Phin," ucap Dara.
"Mengapa kamu berpikir demikian Dara? Aku sudah ikhlas melepaskan segala rasaku demi kebahagian putra kita?" ucap Li Phin.
"Aku mulai menyadari satu hal, kamu tahu umurku sudah hampir memasuki kepala 3 di duniaku, aku memiliki seorang ibu yang sudah lama janda dan membesarkanku, aku tidak ingin ia menangisi jasadku.
"Aku juga tidak ingin melihat musuhku begitu bahagia dengan kematianku. Aku harus kembali Li Phin!
"Aku ingin melihatnya dan meminta maaf kepadanya. Mungkin aku akan menerima lamaran seseorang di duniaku, walaupun mungkin aku tidak mencintainya," balas Dara termenung.
"Dara, pikirkanlah dengan matang! Aku tidak mengapa? Aku sudah cukup mendapatkan kebahagiaan, karenamu harga diriku sudah melebihi apa pun yang tidak pernah terbayangkan olehku. Walaupun mungkin …aku harus membayar mahal untuk itu.
"Aku tidak peduli jika cintakulah yang harus berkorban. Aku tidak mengapa? Aku pun tak ingin Liu Sun Ming tidak mendapatkan cinta kasih kita berdua yang utuh!" balas Li Phin.
Keduanya saling terdiam, Li Phin merangkul jiwa Dara dengan diam. Menatap senja yang mulai datang, "aku tidak tahu mengapa Jang Min sedikit terlambat? Apakah ada sesuatu yang menghalangi mereka?" tanya Dara kepada jiwa Li Phin yang masih memeluknya.
__ADS_1
"Kita berdoa saja semoga tidak ada sesuatu yang akan terjadi di perjalanan mereka," balas Li Phin ia pun merasakan kekhawatiran akan keselamatan Jang Min dan pasukannya.
"Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia masuklah ke dalam benteng. Suasa sudah mulai malam," ucap Liang Si tiba-tiba.
"Oh, jenderal Liang!" lirih Li Phin terkesiap ia tidak menyangka jika Liang Si sudah berada tepat di depannya melindungi dirinya dari cahaya mentari senja.
"Apakah Yang Mulia membutuhkan sesuatu?" tanya Liang Si.
"Tidak!" balas Li Phin cepat, Dara membiarkan kedua berbicara.
Akan tetapi, Dara melihat cahaya bola api mulai mendekat ke arahnya ingin membunuh Liang Si, "Awas, Jenderal Liang!" teriak Dara langsung mendorong tubuh Liang ke samping kanan, dia melesat menendang bola api yang mengarah ke arah mereka.
Semua orang terkesiap, "Siapkan, senjata! Permaisuri di serang!" teriak Jenderal Tan Yuan Ji langsung melesat berusaha untuk melindungi Li Phin yang terus melesat mengejar ke arah bola api tersebut
Serangan bola api semakin banyak akan tetapi tidak berpengaruh sama sekali terhadap benteng. Namun, mereka kehilangan Li Phin dan Liang Si yang melesat ke arah datangnya bola api.
"Sial! Ini pasti jebakan untuk mengecoh kita, agar Permaisuri dan Jenderal Liang ke arah musuh. Mereka pasti sangat mengenal watak dari Permaisuri! Sehingga mereka memanfaatkanku," umpat Tan Yuan Ji menyesali semuanya
"Ayahanda biarkan kami yang mencarinya. Kalian tetaplah di sini mempertahankan benteng!" ucap Gu Shanzheng dan Tan Jia Li bersama pasukan mereka ke luar dari benteng dengan mengendarai kuda mereka.
Mereka bertekad untuk mencari Permaisuri Li Phin dan Jenderal Liang Si sebelum terlambat.
***
Sementara Dara dn Li Phin masih melesat dengan ilmu peringan tubuh mencewek asal muasal bola api, di belakangnya Liang Si masih mengejarnya.
__ADS_1
Mereka semakin masuk ke Mongol, karena bola api tersebut seakan-akan membawa mereka untuk terus bergerak masuk ke wilayah Mongol.
"Yang Mulia Permaisuri, berhenti! Ini jebakan!" teriak Liang Si, dia mulai menyadari suatu hal.
Dara dan Li Phin terkesiap, ia langsung menghentikan lari mereka akan tetapi, bola api kembali menyerang ke arah mereka berdua.
"Sial! Dari mana datangnya semua ini?" batin Dara, "kita benar-benar bodoh!" umpatnya menyesali perbuatannya yang terlalu sembrono.
Ia dan Liang Si masih berusaha untuk menghindari dan menghancurkan bola api tersebut tetapi bola api itu tidak ada habisnya. Hingga malam telah menjelang keduanya terduduk di tengah hutan belantara, "Permaisuri, mari kita pulang!" ajak Liang Si.
"Baiklah, Jenderal! Maaf, aku terlalu bodoh, mempercayai semua itu! Sehingga membawa kita kemari," balas Dara.
"Sudahlah, Yang Mulia!" balas Liang Si. Ia pun sudah tidak ingin membahas hal itu.
Liang Si ingin mengulurkan tangannya tetapi ia tahu jika Li Phin tidak akan ingin menerima uluran tangan. Dara berdiri dengan sigap dan mencoba berjalan di dalam gelap bersama dengan Li Phin di dalam tubuh Li Phin yang tidak berani muncul atau mengambil alih tubuhnya sendiri. Ia takut jika hal itu akan memicu cintanya tumbuh dan semakin besar kepada Liang Si akan kembali datang lagi.
Liang Si berjalan di depan ia mengetahui jika Li Phin sedikit sulit berjalan di dalam gelap. Namun, kali ini ia tak melihat hal itu, "Apakah Li Phin berusaha mati-matian untuk menyembunyikan hal itu? Dan dia tidak ingin harga dirinya sebagai seorang istri dan permaisuri dipertanyakan?" batinnya.
Liang Si menarik napas dan melesat memotong sebuah dahan ranting pohon, membersihkannya, dan memegang ujungnya dan mengangsurkan ujung lain kepada Dara yang bingung.
"Ambillah Dara, Liang Si tahu jika aku sedikit sulit melihat di dalam gelap!" balas Li Phin, "aku tidak ingin dia curiga jika aku bukanlah aku seutuhnya," lanjut Li Phin.
"Oh, begitu!" balas Dara baru mengetahui jika di malam hari Li Phin tidak pernah mengambil alih tubuhnya jika mereka berjalan di hutan atau di mana pun,
"mengapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku?" tanya Dara bingung, tetapi ia berusaha untuk memahaminya.
__ADS_1