
Keduanya memandang ke angkasa dengan tangan masing-masing memegang benda sebagai hadiah anniversary dari mereka berdua, di bawah gugurnya bunga persik yang menambah keindahan di setiap moment yang mereka rasakan.
"Sayang, aku rasa pasangan naga sudah sanga bahagia di sana … begitu juga dengan semua sahabat kita." Liu Min menyentuh bahu istrinya dengan rasa yang dia sendiri pun tahu, jika ia masih merindukan semua sahabat mereka.
"Harga yang mahal untuk dibayar demi kenyaman dan kemakmuran dari semuanya," balas Liu Min.
"Ya, Laogong. Kamu benar,"
"Aku ingin kita ke Kampung Nelayan besok, kita harus mendorong Luo Kang menikahi Xiao'er," ujar Liu Min.
"Benarkah?! Aku punya rencana …," bisik Dara.
"Wah, itu hebat sekali!" balas Liu Min bahagia.
Keduanya tersenyum menatap semua bintang berkedip di langit kemudian berdansa di bawah siraman gugurnya bunga persik.
***
Luo Kang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia sudah berhari-hari menghabiskan waktu di rumah sakit, Liu Min dan Dara mempercayakan rumah sakit yang mereka bangun untuk kesejahteraan rakyat tanpa membeda-bedakan status ekonomi semua warga.
"Aku ingin pulang …," batin Luo Kang, ia merasakan butuh tempatnya untuk pulang.
Luo kang mengendarai mobilnya pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya yang sepi, kini ia merasakan jika segalanya teramat lengang. Rumahnya tak lagi dijadikan tempat klinik, ia hanya sendirian di rumah besar tersebut.
"Xiao'er! Xiao'er!" panggilnya, "ke mana sih?" batin Luo Kang.
Luo kang lupa jika Xiao'er tak lagi tinggal bersamanya, ia telah pergi tinggal di rumah karyawan yang bekerja di rumah sakit.
"Ya, ampun aku lupa jika Xiao'er tidak di sini lagi," keluhnya.
Luo kang sudah tidak minum alkohol lagi sejak ikut berperang di gurun Jinping ia lebih mendedikasikan dirinya untuk rumah sakit, tapi dirinya lupa jika jam biologisnya terus berdetak.
Kini, Luo Kang termenung, ia langsung meraih kunci dan mengendarai mobil pergi ke rumah Xiao'er. Ia ingin mencari kejelasan mengenai hubungan mereka.
Namun, di depan rumah Xiao'er ia melihat seorang pria yang tak lain kurir sedang membawa satu buket bunga mawar yang sangat besar dan indah dan kotak besar.
"Beugh! Apakah aku terlambat?" batin Luo Kang, "Xiao'er tidak boleh menikah dengan siapa pun! Dia adalah milikku!" umpatnya.
"Bunga dari mana ini?" tanya Luo Kang ketus pada Xiao'er yang tersenyum dengan memeluk dan mencium buket bunganya.
"Aku tidak, tahu!" bakas Xiao'er, ia berpura-pura tidak tahu.
"Kalau tidak tahu, siapa pengirimnya mengapa diterima?" ketus Luo kang cemburu.
"Soalnya cantik!" jawab Xiao'er.
__ADS_1
"Jadi, jika ada yang memberimu bunga bangkai pun kau akan mau begitu?" sindir Luo Kang.
"Tentu, saja!" balas Xiao'er.
"Buang itu! Aku akan memberikannya bunga lain, yang lebih cantik dan lebih besar dari itu!" ujar Luo Kang.
"Enak saja! Kamu kenapa sih? Kamu sendiri tidak pernah memberiku bunga! Kami tidak pernah mengajakku makan! Kamu sendiri tidak pernah memberikan kepastian tentang hubungan kita," umpat Xiao'er marah.
"Apa? Kamu 'kan tahu jika aku sibuk, Xiao'er." Luo Kang tak mengerti mengapa sekarang Xiao'er lebih egois.
"Sesibuk apa pun dirimu, seharusnya kamu juga tidak melupakanku. Bukankah selama ini aku mengerti dan tahu semua itu? Tapi kamu! Aku adalah nomor kesekian di kehidupan kamu, tapi paling tidak beri sedikit waktu untukku Akang!" teriak Xiao'er.
Luo Kang terperanjat dengan semua amarah Xiao'er, Luo Kang tidak menyangka jika kekasih dan pemilik hatinya yang biasanya lembut bisa marah juga.
"Kamu kok marah?" lirih Luo Kang bingung.
"Jadi menurut kamu, aku tidak bisa marah begitu? Kamu keterlaluan! Aku ini masih manusia dan masih seorang wanita Luo Kang. Jadi, mau sampai kapan aku haru menantimu?
"Jika kamu memang tidak menyukaiku berilah kejelasan untukku! Jangan gantung cintaku!" umpat Xiao'er.
"Hah! Kapan pula aku menggantung cintamu? Aku sangat mencintaimu Xiao'er bahkan aku ingin bertanya padamu … apakah kamu juga mencintaiku?" tanya Luo Kang bingung.
Deg!
"Xiao'er, kamu tahu 'kan jika aku tidak bisa berkata manis dan romantis aku hanya ingin … ya, maafkan aku … aku tidak bisa seperti orang-orang yang selalu mengatakan segala hal indah di dunia ini.
"Hanya satu yang ingin aku katakan, jika aku ingin menghabiskan waktuku di sisa hidupku hanya bersama denganmu!" ucap Luo Kang.
"Apa? Apa maksudmu? Dengan menghabiskan hidupmu bersamaku? Apakah kita harus seperti ini? Kamu di mana dan aku di mana? Kamu tidur di mana dan aku di mana? Begitu?" cecar Xiao'er.
"Xiao'er aku mohon … jangan marah padaku, menikahlah denganku dan jadilah ibu dari anak-anakku Xiao'er …," pinta Luo Kang, ia tak ingin lagi kehilangan atau tersalip pria lain.
Luo Kang berlutut dan mengangsurkan sebuah kotak perhiasan dengan seutas cincin mungil, yang baru saja dipilihnya dengan bantuan, Ahim Yilmaz, Liu Amei, Liu Aching, Liang Bo, bahkan ia meminta pasangan tua Ningrum dan Tan Juan.
"Apa?!" Xiao'er terperanjat.
Xiao'er tak menyangka dengan kejutan tersebut, ia hanya marah dan kesal karena Luo Kang memarahinya karena ia menerima buket bunga yang sengaja dikirim oleh Dara dan Liu Min, sebagai kado ulang tahunnya juga kotak lain yang belum dibuka oleh Xiao'er.
"Kamu mau menikah denganku nggak, sih?" tanya Luo Kang tidak sabaran, ia semakin takut jika hati Xiao'er telah diambil orang lain.
"Kamu serius Akang? Ini bukan prank 'kan?" tanya Xiao'er, ia mencubit pipinya dan terasa sakit.
"Ini nyata …," ucap Xiao'er tercengang.
"Tentu saja nyata, aku mau menikah denganmu Sayang …," lirih Luo Kang yang masih berlutut.
__ADS_1
"Ayo! Ayo! Terima dong!" teriak Dara yang muncul dari balik pintu pagar rumah Xiao'er bersama Liu Min.
"Kasihanilah dia Xiao'er! Kamu tega melihatnya jadi lajang tua seumur hidup?" ucap Liu Aching ya g muncul dengan liang Bo.
"Ayolah, Xiao'er … kamu tidak akan mendapatkan pria yang lebih baik selain Luo kang?" timpal Liu Amei muncul dengan Ahim Yilmaz dan putra mereka Acai.
"Ayolah, Nak … jangan tunggu lama-lama nanti Akang diambil orang!" timpal Ningrum muncul dengan Tan Juan dan si kembar.
"Aku mau! Aku mau Akang!" balas Xiao'er.
"Kamu mau aku atau cuma cincinnya?" tanya Luo Kang.
"Ya, mau keduanyalah. Kamu dan cincin itu Sayang!" ujar Xiao'er berhamburan ke pelukan Luo Kang dengan perasaan haru dan kebahagiaan.
"Akhirnya si perjaka lapuk menikah juga ya?" ucap semua orang tersenyum dan sebagian wanita menyeka air mata kebahagiaan.
"Selamat Akang! Xiao'er! Akhirnya … kapan kira-kira kalian akan meresmikan pernikahannya?" tanya Dara kepo.
"Aku ingin besok! Mumpung kalian semua di sini!" ucap Luo Kang, "bagaimana Xiao'er?" tanya Luo Kang.
"Tentu saja aku mau! Lagian aku juga ingin kita semua berkumpul!" balas Xiao'er tersenyum bahagia.
Keesokan harinya ….
Pernikahan Luo Kang dan Xiao'er dilakukan dengan khidmat dengan pemberkatan yang dilakukan oleh seorang biksu.
Keduanya memakai baju tradisional Tiongkok berwarna merah yang sudah dibelikan oleh Liu Min dan Dara. Keduanya tahu jika pasangan tersebut lebih menyukai segala hal yang unik dan tradisional.
Pernikahan itu begitu sederhana hanya dihadiri oleh teman-temannya seperjuangan karena Luo Kang dan Xiao'er tak lagi memiliki keluarga lain sehingga mereka menganggap Tan Juan dan Ningrum sebagai orang tua.
Pesta pernikahan itu dihadiri seluruh orang Kampung Nelayan dengan suka cita, para tetangga dan seluruh warga berbondong-bondong memasak ikan dengan kepintaran dan mengadakan pesta mewah untuk pasangan yang selama ini menolong mereka semua tanpa pamrih.
Dara dan Liu Min berdansa begitu juga dengan semua orang berdansa dengan suami dan kekasih mereka merayakan kebahagiaan mereka semua dan diabadikan dengan sebuah foto.
Dara dan Liu Min memandang di antara semua sahabatnya, "Kita sangat beruntung memiliki sahabat sejati seperti mereka," bisik Dara.
"Ya, kita adalah orang yang paling beruntung Sayang …," balas Liu Min memeluk bahu istrinya.
"Semoga kebahagiaan selalu bersama dengan kita semua," bisik Liu Min.
"Ya, amin!" balas Dara, ia mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa.
Dara menyandarkan kepala dengan rasa kebahagiaan yang luar biasa. Bayangan peperangan dan pasangan naga juga segala kepahitan dan keindahan masa lalu kita tak ada artinya dibandingkan semua tawa dan senyuman dari orang-orang yang masih menemani mereka dari masa lalu walaupun hanya sebuah reinkarnasi.
_________ The And ________
__ADS_1