
"Ayahanda! Saya tidak tahu apa yang diinginkan oleh Ibunda Selir Qin, ia membangunkanku tidur dan langsung menghukumku, ia bahkan berusaha untuk menjambak rambutku.
"Aku tidak berani memukulnya karena dia adalah Ibunya Selir Qin yang tidak lain adalah istri Ayahanda. Saya bisa dihukum Dewa," ujar Dara menyudutkan Selir Qin.
"Kau! Dia berbohong Yang Mulia! Jangan percaya Yang Mulia, saya hanya ingin mengunjunginya!" ujar Selir Qin, "sialan, anak ini! Dia sudah berani membangkang, lihat saja!" batin Selir Qin.
"Benarkah begitu, Selir Qin?" tanya Jenderal Li Sun menatap ke arah Selir Qin.
"Benar, Yang mulia! Phin'er terlalu berlebihan," jawab Selir Qin, "Heh! Li Sun lebih mempercayaiku daripada dirimu! Aku akan membuatmu sengsara, bila perlu aku akan membunuh dan mengirim dirimu bersama ibumu si wanita sialan itu. Mengapa kau tidak mati saja di Limen Utara," batin Selir Qin.
"Ayahanda, jika memang dia menjengukku, apakah dia harus membawa cambuk itu!" ucap Dara santai, "Ibunda Selir Qin, memerintah Dayang Sie, tetapi Dayang Sie menolak, Ibunda Selir Qin malah ingin mencambuk dan memenjarakan Dayang Sie.
"Aku langsung menolong Dayang Sie, tapi dia mengatakan, 'Aku anak durhaka dan tidak berbakti mirip denganmu yang tidak punya rasa tanggung jawab!' begitu Ayahanda," ujar Dara.
"Apa! Kau terlalu sudah banyak mengada-ada Selir Qin. Selama ini, aku berbaik hati padamu hanya merasa kamu adalah adik dari Perdana Menteri Qin Chai Xi, tapi inikah balasanmu!" teriak Ki Sun marah, "pengawal! Kurung Selir Qin di gudang jangan beri makan sehari ini!" teriak Li Sun.
"Ampun, Yang Mulia! Aku tidak melakukannya, Li Phin kau akan menderita dengan berbuat semua ini! Kau lihat saja nanti!" teriak Selir Qin marah.
"Sial, jika dia dikurung dan tidak berkeliaran, bagaimana aku bisa mengetahui siapa Selir Qin sebenarnya? Um, kamu ingin bermain-main dengan seorang intel ya?" batin Dara.
"Intel itu apa, Dara?" tanya Li Phjn.
"Indmie telor," balas Dara seenaknya ia malas memperjelas segalanya, karena pembahasan akan semakin panjang yang akan diminta oleh Li Phin.
"Ayahanda, aku mohon bebaskanlah, Selir Qin! Tidak baik selalu menghukum mereka, aku takut jika Selir Qin akan kehilangan mata juga seperti Ibunda Min Hwa," balas Li Phin memohon pada Li Sun.
__ADS_1
"Phin'er mengapa kau begitu baik, Putriku! Dia sudah berbuat jahat padamu," ujar Li Sun.
"Ayahanda orang jahat jangan dibalas jahat, bukankah seperti itu pepatahnya," ucap Dara.
"Baiklah!" jawab Li Sun menarik napas, "lihatlah Selir Qin, betapa mulianya Putriku begitu pun kamu masih berusaha untuk menyakitinya, untuk sekali ini aku akan memaafkanmu, karena memandang putriku" lanjut Li Sun.
"Terima kasih, Ayahanda!" balas Dara senang.
"Terima Kasih, Yang Mulia! Terima kasih, Li Phin," ujar Selir Qin berlutut, "aku akan membalas semua ini, Li Phin. Jika kemarin aku gagal tidak kali ini," batin Selir Qin.
Ia berjalan ke arah Li Phin, "Maafkan Ibunda, Putriku! Mulai sekarang aku akan menyayangi dan memperhatikanmu," ujar Selir Qin berbaik hari dan bermanis kata, ia memeluk Li Phin di depan Jenderal Li Sun.
"Terima kasih, Ibunda Selir Qin," balas Dara, "aku tahu apa yang kau pikirkan Selir Qin! Jangan mencoba-coba untuk menggangguku dan ibunda Min Hwa jika belangmu tak ingin ketahuan.
"Kau kira aku tidak tahu, siapa kau! Ilmu dalam dan beladiri milikmu cukup lumayan! Tinggal waktu yang akan membongkar kedokmu," bisik Dara, "ah, Ibunda mari makan bersama dengan semua selir dan ayahanda!" ajak Dara.
"Satu hal lagi, bagi kalian semua! Jika besok keluarga Kaisar ingin datang kemari untuk melamar Li Phin menjadi istri Putra Mahkota Jang Min. Selama ini Li Phin dan Jang min sudah menikah!
"Jadi, aku harap jangan ada yang mengganggu Li Phin lagi karena dia adalah calon permaisuri dari Kekaisaran Donglang!" ujar Jenderal Li Sun.
Ucapan Li Sun membuat Selir Qin dan dayang langsung berlutut, "Sial! Mengapa anak iblis ini bisa menjadi permaisuri? Aku harus menemui Kakak Xie untuk menikahkan Jiajia dengan Putra Mahkota juga!" batin Selir Qin.
Akhirnya mereka semua makan bersama, Jenderal Li Sun dengan ke-4 selir dan putrinya Li Phin.
Ketiga selir Li Sun begitu iri melihat kasih sayang yang diberikan oleh Li Sun dan Li Phin kepada Min Hwa, "Ibunda, aku ingin mengajakmu ke Taman Persik!" ujar Li Phin.
__ADS_1
"Tapi, Nak. Aku akan sangat menyulitkan kamu nantinya!" ujar Min Hwa.
"Jangan khawatir, Tabib Luo masih memeriksa Kaisar Liu Fei, setelahnya aku memintanya untuk memeriksa mata Ibunda," balas Li Phjn.
Ketiga selir di depannya hanya diam saja memakan hidangan di atas meja, "Makanlah ibunda Selir Jin dan Selir Ming," ucap Li Phin memberikan sepotong daging kepada semua selir-selir ayahnya.
Li Sun melihat jika putrinya begitu baik dan sangat adil, ia merasa malu, "Maafkan, aku kepada kalian berlima, aku tak becus menjadi suami dan seorang ayah. Seharusnya aku menyayangi kalian semua dengan segenap rasaku dan tidak membeda-bedakan kalian!" ucap Li Sun.
"Poligami sangat sulit, walaupun ada yang berlaku adil hanya 1 di dalam 1000 yang bisa, sisanya ya ... pusing sendiri!" batin Dara melihat ayahandanya mulai menyesali kesalahan yang diperbuatnya, ia mengambil sepotong daging dan memberikan kepada semua selir, membuat selirnya berderai air mata bahagia.
"Terima kasih, suamiku!" ucap keempat selirnya.
Sejak saat itu Li Sun selalu adil memberi apa pun kepada keempat istrinya, bahkan bergiliran mengunjungi kediaman mereka, membuat semuanya merasa bahagia kecuali Selir Qin yang merasa ia tak ingin berbagi.
Li Phin membawa Selir Min Hwa ke taman persik dengan menggendongnya, ia mendudukkan ibunya di rerumputan di sebuah batu pipih yang dulu selalu mereka lakukan di sana, kala Li Phin masih kecil.
"Ibunda bunga persik kali ini sangat lebat dan banyak sekali, apakah ibunda ingin menyentuhnya?" tanya Li Phin.
"Ah, sudah 20 tahun aku tidak menyentuhnya. Baiklah, jika itu tidak merepotkanmu!" balas Min Hwa senang.
Dara melompat mengambil beberapa tangkai bunga persik yang lebat dan memberikannya kepada Min Hwa yang menggengam, membaui, dan merabanya.
Hati Dara dan Li Phin trenyuh sedih, "Malang sekali nasibmu, Ibunda!" batin Li Phin dan Dara.
"Apakah warnanya masih sama?" tanya Min Hwa membelai kelopak bunga dan meraba wajah Li Phin, "apakah masih semerah muda wajahmu, Nak?" tanya Min Hwa.
__ADS_1
"Warnanya masih merah muda, segar dan sangat cantik, taman ini tidak berubah, dari aku kecil hingga sekarang masih seperti itu " ucap Li Phin, Dara hanya diam saja menyimak banyak hal.
"Ah, berarti dia masih secantik dirimu Phin'er!" ujar Min Hwa berseri dari raut wajahnya yang sudah memakai riasan. Min Hwa lebih cantik dari ketiga selir lainnya dan hati Min Hwa juga sangat baik dan lembut. Min Hwa adalah wanita dusun yang menyelamatkan Li Phin kecil kala dia terhanyut di sungai.