
"Tembak saja! Kamu pikir kami akan takut begitu?" ucap Liu Min santai.
Si pengawal ingin mengokang senjatanya, mengarahkan senjata api ke arah Liu Min, dor! sebuah tembakan langsung bergema menembak si pengawal tersebut membuatnya ambruk ke tanah.
Semua orang tercekat, mereka melihat seorang wanita langsung melompat dari sebuah sepeda motor.
"Enak saja kau ingin membunuh adikku sialan!" ujar Liu Amei, ia menendang mayat pengawal yang ingin menembak Liu Min.
"Ce Amei!" teriak Liu Min bahagia.
Liu Min tidak menyangka jika kakak pertamanya Liu Amei telah berada di sana dengan jajaran anggota kepolisian yang sudah mengepung tempat itu.
"Bekuk mereka!" perintah Liu Amei.
Beberapa polisi langsung berlari membekuk Pablo dan sekutunya, menggiring mereka memasuki mobil patroli untuk ke kantor polisi.
"Jangan bawa mereka ke kantor polisi! Aku ingin menukar sialan itu dengan para sandera!" ujar Liu Amei.
'Baik, Bu!" balas semua anggotanya.
"Bagaimana keadaan kalian? Mana Dara?" ujar Liu Amei, "Liang Bo bagaimana si kembar dan Aching?" tanya Liu Amei khawatir.
"Mereka masih menyekap semuanya, bukan itu saja, ibu Ningrum juga mereka sandera untuk memaksa Dara mencuri pedang naga hijau," ucap Liu Min.
Liang Bo masih diobati oleh Luo Kang, mereka berbicara cepat, Luo Kang memberikan obat dan salep kepada Liang Bo.
"Ayo, kita pergi ke rumah sakit, aku rasa kalian butuh perawatan, lalu bagaimana dengan kode digital itu Liu Min? Apakah itu tidak akan berbahaya?" tanya Liu Amei.
"Aku sudah menonaktifkannya, Sebenarnya itu sangat mudah jika kita merusak satu angka saja maka kode itu akan hancur dengan sendirinya, tapi … aku tidak tahu bagaimana dengan Dara," ujar Liu Min.
Kesedihan mulai merayap di jiwa Liu Min membayangkan istri tercintanya sedang berjuang sendirian di sana.
"Aku bersumpah, akan membunuh Guangzhou!" batin Liu Min.
Ia dan Dara berpisah, ia juga tidak tahu jika akan menggunakan kode digital, Liu Min juga tidak sempat memberitahukan kepada Dara begitu mudahnya untuk merusak hal itu.
"Ce, aku ingin ke Museum Hunan?" ucap Liu Min.
__ADS_1
"Memang mengapa kita harus ke sana?" tanya Liu Amei bingung.
"Dara … dipaksa Wanchai atau Guangzhou untuk mencuri pedang naga hijau," ujar Liu Min
"Apa? Kamu yakin?" ujar Liu Amei tidak mempercayai semua itu, ia langsung menyuruh sebagian anggotanya untuk pergi ke museum.
"Ce, biar aku saja yang menolong Dara, sebaiknya siksa Pablo dan semua anak buahnya untuk memberitahukan di mana mereka menyekap para sandera," usul Liu Min.
"Kau benar, baiklah kita akan berpisah di tengah Jalan Su Yat Sen. Bawalah ini," ucap Liu Amei.
Ia memberikan senjata dan amunisi juga bom asap pada adiknya, "Aku sudah mengaktifkan lagi jika kalian berdua sudah selamat, aku pun sudah melaporkankan pada pemerintah Indonesia mengenai Dara.
"Aku harap gunakanlah itu untuk memperbaiki citra diri kalian berdua. Jika semua ini selesai dan kita semua selamat, aku berharap kebahagiaan akan menanti di depan," ujar Liu Amei.
"Terima kasih, Ce!" balas Liu Min memeluk kakaknya.
Mereka langsung menaiki Iring-iringan mobil patroli polisi bersama dengan Luo Kang, dan Liang Bo yang bersikeras ingin ikut untuk menyelamatkan Dara dan para sandera.
Ahim Yilmaz muncul dengan geng bayaran yang disewanya dari luar negeri di tengah perjalanan. Liu Min telah memberikan. Bocoran jika Wanchai adalah Guangzhou. Sehingga pemerintah memberikan maklumat untuk menghancurkan sindikat tersebut.
Mereka telah menyiksa Pablo hingga ia sudah mendapatkan berbagai luka tembak dan tusukan yang diberikan oleh Liu Amei dan anggotanya yang sudah muak.
"Jinjing? Apakah maksudmu gurun tandus Jinjing?" tanya Liu Min, ia mengingat jika itu adalah pertempuran terakhir sebelum mereka meninggal.
"Ya, begitulah!" balas Pablo.
"Baiklah, Liu Min. Pergilah, biar aku yang akan ke sana dengan pasukan yang disewa Ahim dan kepolisian," ujar Liu Amei.
"Baiklah Cie!" balas Liu Min.
Brak! Dor! Dor!
Namun, belum lagi mereka berpisah sebuah tembakan telah membunuh Pablo dan para sekutunya.
"Berlindung!" teriak Liu Amei.
Tembakan bergema membuat mobil patrolinya meledak dan saling tabrak sehingga kekacauan dan ledakan semakin kacau.
__ADS_1
"Melompat!" teriak Liu Amei.
Ia pun membalas tembakan kepada musuh dari pihak Guangzhou yang ingin menghalangi mereka untuk pergi ke museum dan sebagainya ke Jinjing.
Liu Min dan Liu Amei bersama polisi langsung menembak musuh yang sedang memberondongkan senjata kepada mereka. Baku tembak kembali membahana hingga ledakan dan api terjadi di tengah jalan Sun Yat Sen.
"Ko, ini!" teriak Liu Min melemparkan senjata otomatis yang mudah digunakan kepada Liang Bo dan Luo Kang.
Keduanya secepat kilat menangkap dengan tangan gemetaran karena tidak pernah melakukan hal itu, mereka berusaha untuk membunuh musuh yang sedang mencoba untuk menghadang mereka.
"Tuhan! Dewa! Ampuni kami, kami sudah bersumpah di depanmu untuk menolong menyelamatkan nyawa manusia bukan menghilangkannya," ucap Liang Bo dan Luo Kang berdoa dengan agama mereka masing-masing.
Keduanya berusaha untuk menembak musuh dari balik mobil patroli dengan bersembunyi di sana, Liang Bo merasa bayangan berbeda terlintas di benaknya, ia merasa ia berada di sebuah pertempuran begitu juga dengan Ahim Yilmaz.
Keduanya saling pandang begitu juga dengan Luo Kang, ketiga ya mulai merasakan Dejavu yang sama. Ketiganya bersamaan ke luar dari balik mobil dan langsung menembak musuh di depan mereka yang sedang mencegah mereka untuk pergi.
Dor! Dor!
"Admiral Tan Juan?" umpat Liu Min melihat kepala atasan divisinya berada di sana dengan senjata yang siap digunakan untuk membunuh mereka semua.
"Bajingan, aku tidak menyangka jika atasanku sendirilah yang telah membuatku menjadi seperti ini," batin Liu Min.
Liu Min melesat berlari menerobos ledakan mobil dan mencoba untuk membunuh Admiral Tan Juan.
Dor!
Liu Min menembak senjata api di tangan Tan Juan, hingga senjata melesat jatuh ke jalanan.
Buk! Buk!
Liu Min langsung menerjang dan memukul Tan Juan, ia merasa sangat aneh dengan keadaan atasannya.
"Siapa kau? Ke mana Admiral Tan Juan?" tanya Liu Min penasaran.
"Hahaha, aku adalah Admiral Tan Juan. Kau adalah anggota bodoh! Kau menyalahi aturan, aku perintahkan kepadamu untuk membunuh mereka!" teriak Admiral Tan Juan.
Deg!
__ADS_1
Jantung Liu Min bergetar, ia tak menyangka jika Admiral Tan Juan yang sangat dihormatinya akan melakukan hal itu. Namun, ia merasa curiga dengan tangan Admiral Tan Juan.
Liu Min langsung menyerang Tan Juan dengan cepat menyerang titik kelemahan Tan Juan di tangan kirinya yang memakai tangan palsu, karena perang di salah satu belahan dunia sebagai utusan badan dunia untuk melindungi sebuah negara dari otoritas wewenang negara lain ia harus kehilangan tangan kiri.