
"Apa maksudmu Dara? Aku tak mengerti?" Liu Min menatap istrinya dengan cemas.
"Aku merasa jika Lu Dang akan kembali dan membuat kekacauan di mana-mana, Laogong," ketus Dara sedikit bergidik dan berkeringat.
Liu Min terdiam ia merasakan jika mimpi itu pun sama dengannya, tetapi ia tak ingin jika Dara khawatir menanggapi semua itu.
"Sudahlah, aku rasa itu hanya mimpi. Ayo, bangunlah! Aku rasa mari kita menunaikan kewajiban kita sebagai umat Tuhan!" ujar Liu Min untuk pertama kalinya ia berusaha untuk menjadi imam yang baik walaupun Daralah yang membaca semuanya pada awalnya.
Ia hanya mengikutinya, setelah selesai melakukan sholat, Dara mencium punggung tangan suaminya dan Liu Min mencium kening istrinya.
"Sayang, aku akan belajar secepatnya agar aku bisa menjadi imam-mu yang lebih baik lagi." Liu Min benar-benar berjanji akan melakukan hal itu.
"Aku percaya akan hal itu?" balas Dara.
Keduanya ke luar dari kamar dan mendapati semua orang sedang melakukan pekerjaan, Dara membantu kedua kakak iparnya di dapur sedangkan Luo Kang dan Liang Bo masih membicarakan obat-obatan dan mengamati sesuatu di bawah mikroskop.
Sedangkan Liu Min dan Ahim Yilmaz masih belajar mengenai agama, Liu Min benar-benar belajar dengan baik dan tekun.
Setengah jam kemudian mereka makan dan mengobrol ringan, "Hari ini kita akan berangkat ke Hunan," ucap Liu Amei.
Ia memandang pada semua orang, "Apakah kalian sudah siap?" tanya Liu Amei memandang pada Liu Min dan Dara.
"Kami siap Ce!" balas pasangan pengantin baru secara kompak.
"Cie, cie, Jiujiu (paman dari pihak ibu) dan Jiumu (istri paman) kompak nih Yee!" goda Ayin dan Ahwa.
Liu Min dan Dara hanya tersenyum, "Kalian nakal sekali!" ujar Liu Min menoleh pipi kedua ponakannya.
Acara sarapan pun telah usai, Liu Min dan Dara pamit pergi ke Hunan bersama Ahim Yilmaz dan Liu Amei.
Mereka menaiki mobil dan meluncur dengan cepat menuju Hunan, "Hunan (Chang An) telah banyak berubah," batinnya.
Ia tak lagi menemukan pohon apel maupun bunga persik di sepanjang jalan melainkan berganti dengan pohon-pohon mangga dan buah-buahan lainnya.
Dara tak lagi melihat bangunan rumah kuno dengan atap genting atau bambu melainkan gedung pencakar langit dan debu berterbangan dari knalpot kendaraan tak ada lagi ringkikan kuda dan derap langkah para prajurit.
__ADS_1
Brak!
Suara bergema kala sebuah mobil menghantam mobil yang dikendarai oleh Ahim Yilmaz.
"Bajingan siapa yang melakukan ini?" teriak Liu Amei marah ia langsung menarik pistol dari balik blazernya.
Mobil oleng berputar-putar di jalanan menghantam pembatas jalan, brak! Brak!
"Merunduk!" teriak Liu Min dan Dara kala dari dalam mobil di depan dan belakang mobil yang mereka tumpangi orang-orang tak dikenal langsung mengeluarkan senjata.
Dor! Dor!
Berondongan senjata benar-benar menghancurkan kaca mobil, membuat Dara dan ketiganya merunduk bersembunyi di jok mobil.
Dara dan Liu Min menendang pintu mobil di jok penumpang, "Cece! Apakah kamu punya senjata lain?" teriak Liu Min kesal dan marah melihat keluarganya ingin dibantai.
"Tarik kotak di bawah bangkumu!" teriak Liu Amei yang berusaha untuk membalas tembakan dari berondongan senapan m-60 yang terus menyerang tanpa memberikan jeda.
Liu Min mengulurkan tangan dan menarik kotak yang mirip sebuah laci. Ia terperanjat melihat senjata Laras panjang yang otomatis dengan lusinan peluru di sana.
Ia tak menyangka jika kakaknya lebih gila dari Admiral-nya Tan Juan di dalam mengoleksi senjata.
"Dara, nih!" ujar Liu Min memberikan sepucuk senjata Laras panjang juga padanya.
Sementara Ahim Yilmaz masih berusaha mengemudikan mobil dengan cara merunduk dan mengaktifkan mode manual di mobil kerennya.
Dara dan Liu Min menembak dengan berbaring hanya mengeluarkan kepala mereka.
"Laopo (istriku)kamu tembak bagian depan!" ujar Liu Min.
"Baik, Laogong!" balas Dara.
Rentetan tembakan senjata telah mengacau membelah keheningan tengah hari di sebuah kelokan sepi di mana Dara mengingat dulu ia pun pernah disergap di sana.
Ledakan terjadi pada mobil yang menembak mereka, mobil yang dikendarai oleh Ahim Yilmaz telah mogok dan berasap.
__ADS_1
"Ayo, ke luar! Mobil ini akan meledak!" ujar Ahim Yilmaz.
"Ayo, cepat!" teriak Dara, ia mengambil beberapa pucuk senjata dari bawah jok dan kotak peluru.
Melompat bergulingan di semak di parit masuk ke dalam bersama Liu Amei dan Ahim Yilmaz, sementara Liu Min melesat ke parit di seberang.
Tembakan masih bergema, duar! Ledakan dari mobil yang ditumpangi oleh Dara dan keluarganya, Dara melihat seseorang memutar ingin melemparkan sebuah granat ke parit di mana dia dan saudara iparnya berada
"Bajingan! Rasakan ini!" umpat Adara menembak musuhnya hingga granat meledak pada dirinya sendiri.
Liu Min dan Liu Amei melesat melompat dari dalam parit dan memberondong ke arah musuh mereka hingga sebuah mobil kabur meninggalkan ledakan dan korban di mana-mana.
"Sial, siapa yang melakukan semua ini?" umpat Liu Amei marah.
Ia langsung menelepon jajaran divisinya, berselang beberapa menit, mobil patroli dan ambulan merubungi tempat termasuk dari segala jajaran aparat dan reporter.
"Apa yang terjadi?" tanya seorang petinggi kepolisian Hunan kepada Liu Amei yang menjelaskan semuanya.
"Kami tidak tahu, sepertinya mereka sengaja melakukan semua ini agar mereka bisa membunuh dan menghancurkan kami. Mungkin kami adalah target mereka," ujar Liu Amei.
Para polisi dan memeriksa semua mayat bersama para dokter dan perawat. Semua orang menggelengkan kepala.
"Jadi, semuanya sudah tewas. Sial! Aku tidak bisa menginterogasi salah satunya. Siapa sebenarnya dalang di balik semua kejadian ini," geram Liu Amei.
"Siapakah mereka?" tanya petinggi tersebut.
"Oh, Tuan Gu! Ini adalah Li Min (Liu Min ) dan Yu Lan (Dara\= yu Lan \= bunga Magnolia). Mereka adalah Intel baru yang baru aku rekrut," jawab Liu Amei, "Yu Lan, Li Min ini adalah Jenderal Gu Feng," ujar Liu Amei memperkenal kan mereka.
Dara dan Liu Min mengulurkan tangan menyambut uluran tangan dari Gu Feng, "Selamat datang. Baiklah, kalian pulanglah dulu! Besok aku mau laporannya dan suruh mereka menyelidiki sebelum ada yang tahu keberadaan mereka berdua.
"Sampai jumpa Nona Yu Lan dan Tuan Li Min," ucap Jenderal Gu Feng.
Ia menoleh sekilas pada bangkai mobil dan kehancuran yang terjadi ia hanya menggelengkan kepala.
"Orang gila mana yang melakukan semua ini? Apakah mafia bawah tanah sudah mulai beraksi lagi?" umpat Gu Feng sambil berlalu.
__ADS_1
Gu Feng benar-benar marah dan masuk ke dalam mobil, "Amei, kamu bawa saja mobil salah satu patroli di sana! Ji Men berikan kunci mobil pada Amei!" perintah Gu Feng sebelum masuk ke dalam mobil.