
"Maaf Tuan, Tuan saya menginginkan Tuan dan Nyonya untuk bergabung dengan Beliau di lantai atas," ujar Pengawal.
Gu Shanzheng melihat kakak tertuanya sedang memandang dan menganggukkan kepala, "Sial, mengapa Gu Shanfeng mengetahui keberadaanku?" batin Gu Shanzheng, "baiklah!" ujar Gu Shanzheng mengibaskan kipas bergambar naga.
"Salam Yang Mulia Pu-" ujar Gu Shanfeng.
"Tidak usah terlalu formal kita sedang di luar. Aku tidak ingin ada yang tahu keberadaan kita di sini," balas Gu Shanfeng menatap adiknya yang sudah 20 tahun tidak pernah ditemuinya.
Walaupun mereka tidak bertemu tetapi ayahanda mereka selalu membawa dan bertukar lukisan wajah mereka sehingga mereka bisa mengetahui satu sama lain dengan baik.
"Ayo, silakan duduk! Apakah dia benar istrimu?" tanya Gu Shanfeng menatap ke arah Tan Jia Li.
"Kami sudah menikah tanpa diketahui Ayahanda, tepatnya sebelum kemari. Um, aku masih bingung harus mengatakan apa! Jia'er kenalkan ini kakak tertuaku Gu Shanfeng, Kakak ini Tan Jia Li putri Jenderal Tan Yuan Ji," ujar Gu Shanzheng.
"Salam kenal Adik Ipar, bukankah kamu Jenderal Tan Jia Li?" ujar Gu Shanfeng mengepalkan tangan di dadanya.
"Salam kenal Kakak Ipar Gu Shanfeng," balas Tan Jia Li sedikit menekuk kakinya.
"Ayo, silakan duduk!" ajak Gu Shanfeng, ia memanggil pelayan dan memerintahkan untuk menyuguhkan makanan.
"Kakak, mengapa Kakak sendirian ke luar dari istana? Bagaimana jika terjadi sesuatu?" tanya Gu Shanzheng menatap kakaknya yang tampan sehingga digandrungi banyak wanita.
"Hah!" Gu Shanfeng menghela napas, "kau tahu, terlalu banyak kejadian aneh di Wuling. Aku ingin menyelidikinya sendiri. Tapi, aku tidak menemukan apa pun selama beberapa bulan ini, selain itu. Ibunda Permaisuri sedang sakit parah terkena racun," ujar Gu Shanfeng.
"Apa? Lalu apakah Tabib tidak bisa mengobatinya?" tanya Gu Shanzheng bingung.
"Tidak ada seorang tabib pun yang bisa mengobatinya, kami sudah ke negara tetangga tapi tak ada yang pernah sampai," ujar Gu Shanfeng, "bukan itu saja wabah banyak menjangkit di Wuling, membuat Ayahanda bingung.
"Ibunda Selir Liu Jang Yin pun sedang di karantina begitu juga dengan Ibunda permaisuri," ujar Gu Shanzheng.
"Apakah kami perlu membawa Tabib dari Kekaisaran Donglang?" tanya Tan Jia Li.
"Adik Ipar aku sudah mengutus beberapa orang ke sana tetapi tak pernah kembali, aku tidak tahu apa yang terjadi. Apalagi, selalu saja banyak orang hilang di Wuling terutama para bangsawan dan cendekiawan," balas Gu Shanfeng.
__ADS_1
"Awal mula terjadinya wabah bagaimana, Kak?" tanya Gu Shanzheng penasaran.
"Sejak Kakek Raja Mongol mangkat, yang mengambil alih adalah keponakannya Raja Shan Xi'er. Mereka mengutus seorang jenderal untuk mengajak Wuling berkomplot untuk meruntuhkan Kaisar Liu Min.
"Tapi Ayahanda menolak, mengingat Selir Liu Jang Yin dan Kamu pun ada di sana, hal itu tidak mungkin dilakukan.
"Akan tetapi, hak Ibunda Permaisuri dicabut di kerajaan Mongol, sejak saat Ibunda pulang dari Mongol ia langsung sakit dan menyebarkan virus.
"Sehingga yang pertama terinfeksi adalah Selir Liu Jang Yin dan Ayahanda kemudian Shanzhai. Aku tidak terkontaminasi karena berada di Gunung Sun bersama Kaisar Liu Fei dan Ibunda Ratu Li Hun.
"Belajar sejarah dan peraturan pemerintahan, sebelum diangkat menjadi raja selanjutnya, selama 3 bulan terakhir ini," ujar Shanfeng.
"Lalu mengapa Kakak tidak memberitahukan keberadaan Kakak jika Kakak di Gunung Sun?" tanya Shanzheng.
"Aku takut ada orang yang berusaha untuk membunuh kita bertiga," ucap Shanzheng, "selain itu, Ayahanda melarang. Kamu terlalu banyak kerjaan, tapi aku sempat melihatmu di Shandong kala kamu pulang dari menumpas pemberontakan Kerajaan Qin," ujar Shanfeng.
Ketiganya diam, "Lalu, apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Gu Shanzheng.
"Aku tidak tahu untuk saat ini. Jika kamu penasaran kamu bisa ke istana dalam, tapi sebagai pengawalku malam ini, aku tidak bisa mengenalkanmu pada semua orang, secara terang-terangan, karena aku sendiri pun tidak tahu musuh yang sedang kita hadapi!" ujar Shanzheng.
"Permaisuri Zhu dan Selir Liu juga pangeran kedua juga Raja Gu Tian, pasti sembuh degan baik, tapi … permaisuri sedang hamil dan keadaan sangat genting di kekaisaran," ujar Tan Jia Li.
"Baiklah, begini saja! Kami akan ikut denganmu malam ini, Kak" ujar Gu Shanzheng.
"Tunggu aku di luar penginapan,"ujar Gu Shanfeng.
"Baiklah!" ujar Gu Shanzheng dan Tan Jia Li.
Tepat tengah malam keduanya bertemu di luar penginapan, "Ayo!" ajak Gu Shanzheng melesat dengan cepat menaiki kuda dengan penyamaran sebagai rakyat jelata melalui pintu belakang istana memasuki sebuah pintu rahasia yang langsung tembus ke ruang utama kerajaan Wuling.
"Uhuk! Uhuk!" suara batuk bergema di beberapa ruangan, para dayang hilir-mudik.
"Salam Yang Mulia Putra Mahkota!" ujar para pengawal dan dayang membawa baskom berisi air dan sebuah kain kecil.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Ayahanda dan Ibunda Permaisuri juga Ibunda Selir juga pangeran kedua?" tanya Gu Shanzheng.
"Sakitnya semakin parah!" ujar dayang dan tabib istana, "maaf, Putra Mahkota kami tidak tahu harus bagaimana lagi?" ujar Tabib Guan.
"Bolehkah kami melihatnya?" tanya Gu Shanzheng.
"Tapi …," ujar Tabib Guan keberatan.
"Tidak apa-apa!" ujar Gu Shanfeng.
"Bagaimana jika menular?" tanya Tabib Guan, "lihatlah kami," ujar Tabib Guan membuka baju di tangannya dipenuhi bercak yang semakin kehitaman dan bernanah.
"Ini, seperti wabah di Xihe!' ujar Tan Jia Li, "aku mengingat asisten Wong Fei meracik obat nya," ucap Tan Jia Li.
"Benarkah!?" tanya Gu Shanfeng Girang.
"Apakah ramuannya sulit didapat?" tanya Gu Shanfeng.
"Tidak, sangat mudah!" ujar Gu Shanzheng.
"Baiklah, mari kita ke dapur istana untuk meraciknya," ajak Gu Shanfeng.
Keempatnya berjalan cepat menuju dapur istana dan membuat ramuan, setelah selesai Tabib Guan meminumnya sedikit rasa panas dan menimbulkan asap pada tubuh, "Panas! Aku haus!" teriak Tabib Guan.
Tan Jia Li langsung memberikannya minum yang banyak sedikit demi sedikit asap mulai berkurang dan nanah melepuh kemudian mengering.
"Wah, manjur sekali! Ayo, kita bawa kepada ayahanda dan permaisuri juga selir Liu juga Pangeran kedua," ujar Gu Shanzheng senang.
Mereka tiba di ruangan di mana keempat orang dan para tabib istana sudah mengidap bisul yang mengerikan di sekujur tubuh bahkan Permaisuri Zhu Sia sudah buta.
"Ibunda, minumlah obat ini!" ujar Gu Shanfeng menyuapkan ramuan ke mulut permaisuri. Gu Shanzheng meminumkan kepada ayahandanya Tan Jia Li kepada selir Liu dan Tabib Guan kepada Pangeran Kedua.
Mereka menunggu reaksi obat beberapa jam dan benar saja semua orang telah sembuh, "Gu Shanzheng? Sedang apa kamu kemari? Bagaimana jika orang-orang Mongol dan Qin tahu?" ucap Gu Tian.
__ADS_1
"Kami sedang menyelidiki Xihe dan mengirim sandang pangan juga obat-obatan. Kaisar Liu Min tidak tahu apa yang terjadi di Wuling," ujar Shanzheng dan menceritakan segala masalah Selir Qin dan Selir Chien juga terlibatnya Ketua Aliran sesat racun hitam Lu Dang.
"Selir Chien? Setahuku Selir Go Zhu tidak memiliki anak dan meninggal muda, aku juga tidak tahu bagaimana putri Go Zhu kembaran ayahandaku bisa punya anak? Tapi kami tidak boleh bersuara," ujar Permaisuri Zhu Sia.