
Dara hanya diam memandang ke arah Liu Min, ia ingin marah tapi selalu saja Liu Min mampu untuk meredam setiap amarah yang mulai membara. Dara melihat sekilas ke arah Liu Min dan menghela napas membuangnya dengan berat.
"Sama-sama. Kamu juga telah menolongku, jika tidak, aku pasti sudah mati di sana," balas Dara, "aku tidak menyangka jika kamu harus rela menyusulku.
"Jika apa yang aku dengar sebelum kepergianku aku sangat yakin, kamu tidak akan pernah menyusulku. Maaf, aku salah mengenai itu!" balas Dara menatap Liu Min.
"Banyak yang kamu tidak tahu mengenai diriku. Aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu …?" balas Liu Min jujur.
Ia hanya takut kehilangan Dara, sehingga ia dengan berat hati menyusul Dara, "Naluriku, yang mendorongku untuk melakukan hal itu." Liu Min menatap ke arah Dara.
Dara hanya mendengar debur ombak yang saling menggulung di pantai "Apakah aku dan Liu Min selalu ditakdirkan bagaikan ombak itu? Saling berkejaran dan terhempas di pantai?" batinnya gelisah.
Keduanya saling diam, "Kamu makanlah, aku rasa kamu belum makan sama sekali!" ucap Liu Min masih memperhatikan Dara.
"Ya," Dara langsung mengambil sepiring makanan di atas nakas dan makan dengan diam tanpa suara.
Keheningan terjadi di antara mereka, tak seorang pun mencoba untuk memecahkan kesunyian tersebut.
***
Sementara jauh di sudut Kota Medan yang lain, beberapa pria dan 3 orang wanita sedang duduk mengitari sebuah meja, "Sial! Jimmy telah tewas, kita tidak lagi memiliki seseorang sebagai mata-mata kita di kepolisian.
"Kita harus berhati-hati untuk bertransaksi. Apalagi dengan munculnya masalah di Diskotik B, aku yakin para aparat tidak lagi tinggal diam.
"Mereka berusaha untuk melacak setiap keberadaan kita. Dara Sasmita dan Liu Peter atau Liu Min benar-benar telah membongkar sindikat ini," ujar Pablo Sandez salah seorang gembong mafia berkebangsaan Meksiko.
"Lalu, bagaimana kita akan menjalankan semua bisnis kita? Kita telah melakukan hal ini selama bertahun-tahun di Asia Tenggara.
"Apalagi Ketua Guangzhou pasti akan marah jika kita tidak berhasil melakukan semua transaksi ini," ujar seorang wanita cantik yang duduk di seberang memakai baju hijau dengan dandanan yang elegan bak seorang ratu.
"Nona Quino, aku rasa kita harus sedikit berhati-hati dan mengurangi bisnis kita," ujar Pablo menatap Quino.
__ADS_1
"Aku tidak setuju! Kalian tahu, bagaimana Ketua Guangzhou! Dia tidak akan pernah mau tahu kesulitan apa pun di lapangan.
"Ia hanya tahu jika perdagangan permen manis akan selalu untung dan terjual habis, apalagi target terbesar kita adalah Indonesia di Asia tenggara ini.
"Karena jumlah penduduk yang sangat tinggi dan tingkat permintaan juga kita menyusup sangat relevan mudah," ujar Cicero, pria blasteran Hongkong dan Australia.
"Iya, kamu benar! Tapi kita harus bersatu untuk meyakinkan Ketua Guangzhou, jika tidak. Kalian tahu akibatnya," ujar Pablo Sandez menatap Cicero dan Quino.
"Lalu bagaimana dengan putri Jimmy yang kita sekap? Apakah kita akan membebaskannya saja? Atau kita … ya kamu tahu kita harus apa!" ujar Solano, seorang pria bertampang kurus dan memiliki tatapan sedingin es dan terkenal sangat kejam dan seorang psikopat.
"Jangan terlalu memancing keadaan untuk sementara ini, sebaiknya kita membiarkan saja apa yang akan terjadi.
"Untuk sementara kita harus menghilang dulu dari sini. Aku akan meminta kepada Ketua Guangzhou untuk sedikit berbaik hati dengan kita," ujar Pablo Sandez.
"Bukankah petinggi keamanan di Indonesia Gunarwan pasti membiarkan kita tetap melebarkan sayap kita?" ucap Solano.
"Kami benar! Tapi, untuk sekarang. Ia pun pasti sangat takut untuk bermain-main dengan api. Siapa pun sangat takut jika jabatan dan kedudukannya akan terancam," balas Pablo Sandez menatap Solano.
Merak tidak ada yang berani bersuara, "Baiklah, aku rasa ucapan Tuan Sandez ada benarnya juga.
"Untuk sementara kita harus berhati-hati! Yang utama kita akan tetap memberi Dara Sasmita dan Liu Min.
"Keduanya pasti telah tahu akan semua keberadaan dan segala hal tentang bisnis kita," balas Quino.
Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing, "Itu sangat mudah! Kita akan membunuh keduanya," ujar Solano dengan malas.
"Solano, aku tahu dengan semua trik dan keahlian kamu. Tapi, kamu juga harus tahu jika Liu Min adalah seorang kolonel hebat di Hongkong.
"Apakah kamu ingat kisah Drake bersaudara dan Chien Ma? Mereka mati dengan mengenaskan tanpa ampun dibantai oleh Liu Min?" tanya Cicero.
Ucapan Cicero benar-benar membungkam semua orang, "Sedangkan Dara Sasmita, jika dia tidak koma dan kita tidak menyandera putri Jimmy, kau tahu. Mungkin kamu berakhir seperti Carlos," sindir Cicero.
__ADS_1
"Jangan mengingatkanku akan kekasihku itu, Cicero!" cetus Paulin.
"Maafkan aku Paulin. Aku hanya mengingatkan, agar kita tidak terlalu menganggap enteng semua hal. Aku tidak suka akan hal itu, Paulin!" balas Cicero.
Paulin terdiam, ia masih merasa sedih, "Jika aku bertemu dengan Dara Sasmita, aku 'kan membubuhnya." Paulin mengepal tangannya dengan geram, ia susah sangat ingin membunuh Dara.
Akan tetapi, saat di perairan Tanjung Balai ia sedang pergi ke Malaysia. Sehingga ia tak memiliki kesempatan membunuh Dara. Namun, masalahnya Dara dan Liu Min malah menghancurkan markas tersembunyi mereka di sana.
Semua orang diam berpikir dengan pikiran masing-masing, "Sudahlah aku akan bertemu dengan Tuan Guangzhou besok. Aku akan ke Hunan," balas Pablo menengahi pertengkaran antara Cicero dan Paulin.
Semua orang menghela napas dan hanya mampu diam dan mengikuti apa yang diinginkan oleh Pablo Sandez, "Aku rasa rapat kali ini sampai di sini. Aku hanya berharap jika kalian masih ingin berbisnis aku minta jangan mencolok.
"Karena aku sangat yakin semua aparat keamanan di Indonesia asri sedang gencar untuk mencari kita," lanjut Pablo menatap semua anggotanya.
"Baik Tuan!" balas semuanya.
***
Sementara Dara dan Liu Min masih berada di ujung koridor yang panjang dan muncul di sebuah ceruk pantai berbatu terjal.
"Wah, kalian benar-benar sangat hebat!" puji Liu Min menata sunset yang sudah mulai muncul..
"Terima kasih! Markas ini dibangun atas usul Jimmy. Aku bersyukur, ia tak pernah memberitahukan tentang markas ini. Walaupun, hanya aku yang memiliki sandi dan yang bisa membuka pintunya
"Tapi, jika Jimmy mau dia pasti akan sangat mudah membongkar rahasia kami," balas Dara menatap deburan ombak memecah pantai.
Liu Min melirik sekilas ke arah Dara, luka di bahunya sudah mulai tidak berdenyut dan tidak merasakan nyeri lagi.
"Dara, apakah kamu pernah jatuh cinta?" tania Liu Min, menatap Dara.
"Memang kenapa? Aku rasa aku pernah jatuh cinta," balas Dara menatap Liu Min.
__ADS_1