
"Tentu saja aku akan mendampingimu sepenuh hati dan jiwaku, asal jangan kamu duakan aku! Aku tidak bisa berbagi cinta kecuali aku mati, bolehlah kamu menikah lagi!" balas Dara.
Jang Min menatap ke arah wajah Li Phin, "Pegang, Janjimu!" ujar Jang Min.
"Tentu saja! Pegang juga janjimu!" balas Dara dan Li Phin.
"Siapa takut! Ayo, saling berjanji!" ujar Jang Min memberikan jari kelingkingnya begitu juga dengan Dara.
Kepala Dara mendadak pusing ia seakan dejavu mengingat sesuatu, di benaknya bayangan seorang anak kecil yang selalu bermain di kebun persik dan memandangnya dengan pakaian bangsawan tanpa melakukan apa pun, "Aduh, kepalaku!" ujar Dara dan Li Phin berbarengan karena sinkronisasi otak mereka mencoba untuk saling mengingatkan kenangan.
"Istriku, kamu kenapa?" tanya Jang Min langsung meraih tubuh Dara yang mau jatuh.
"Entahlah, aku hanya merasa pusing dan mengingat sesuatu!" balas Dara dan Li Phin.
"Memang apa yang kamu ingat?" tanya Jang Mjn.
"Aku tidak tahu, sepertinya dulu aku pernah melakukan janji jari kelingking dengan seorang anak lelaki saat masih kecil, tapi bukan Liang Si," balas Li Phin jujur.
"Wah, kamu benar-benar keterlaluan? Ckckck, saat kecil pun kamu telah membuat seseorang bertekuk lutut dan berjanji padamu, mengerikan! Lalu aku orang yang ke berapa?" tanya Jang Min sedikit cemburu.
Namun, ia masih merawat tubuh Li Phin dengan membalurkan sedikit minyak aromaterapi, "Yee, aku baru mengingatnya sekarang dan aku lupa siapa pria itu? Um, tapi sepertinya aku masih menyimpan sapu tangan darinya," ujar Li Phin dengan polos.
Ia tidak menyadari jika Jang Min cemburu, tetapi Jang Min berusaha untuk meredamnya sementara Dara masih terkulai lemas akibat serangan dejavu tersebut
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Jang Min penasaran, "anak kecil mana yang telah berjanji dengan mudahnya kepada Li Phin?" batinnya.
"Tentu saja! Di mana ya?" ujar Li Phin.
__ADS_1
Ia memeriksa kantong baju di lengannya, "Nah, ini dia!" ucap Li Phin.
Jang Min menerimanya dan memeriksanya, "Hah! Hahaha," Jang Min tertawa terpingkal-pingkal mengetahuinya sehelai sapu tangan tersebut.
"Hei, suami! Itu tidak pantas sama sekali! Dia memberikan kepadaku dengan tulus, kamu tahu wajahnya sangat menyedihkan," ujar Li Phin merampas kembali sapu tangan tersebut dan melipatnya dengan penuh kasih sayang.
Jang Min terdiam, ia menatap ke arah Li Phin dengan rasa haru, "Apakah kau pernah bertemu lagi dengannya?" selidik Jang Min.
"Tidak pernah, kami hanya bertemu sekali di Taman Persik aku menolongnya kala ia kabur dari pengasuhnya, lalu aku mengajaknya memanjat pohon persik dan kami memakan buah persik yang banyak kami saling berkejaran dan bermain," ujar Li Phin mengenang semuanya. Dara hanya diam menyimak semuanya ia melihat Jang Min hanya mengerutkan dahi dan tersenyum.
"Syukurlah aman! Aku kira Jang Min akan marah, Li Phin terlalu polos!" batin Dara, ia mencoba untuk istirahat dari pusingnya. Membiarkan keduanya berbicara dan ia merasa damai kala Jang Min memijat keningnya.
"Apakah kamu tahu siapa anak kecil itu?" tanya Jang Min.
"Tidak, memang kamu kenal?" tanya Li Phin menatap ke arah Jang Min.
Li Phin kembali mengeluarkan sapu tangan dan mencari nama di sudut sapu tangan tersebut, "Liu Min?! Siapa dia?" tanya Li Phin dan Dara ikut bangkit.
"Um, kamu tidak tahu? Apakah kamu tidak pernah mengikuti acara kekaisaran dulunya? Kamu 'kan tinggal di Taman Persik Selatan?" tanya Jang Min keheranan.
Li Phin menggelengkan kepala mengenang masa kecilnya yang penuh kesedihan dan kesengsaraan, walaupun dia adalah seorang putri dari seorang Jenderal hebat, "Aku tidak pernah ke mana pun, aku hanya bermain sendiri, aku hanya mengganggu Liang Si kala dia selalu bermain di Taman Persik," kenang Li Phin bersedih, ia hampir tidak memiliki seorang teman pun.
Jang Min terenyuh mengetahui hal itu, ia hanya memandang Li Phin, "Jadi, kamu tidak pernah memasuki kekaisaran?" tanya Jang Min bingung.
Li Phin hanya menggelengkan kepala, "Baiklah, suatu saat nanti kamu akan tahu," ujar Jang Min, "cobalah untuk tidur! Nanti 2 jam kemudian aku akan membangunkanmu!" ujar Jang Min.
"Suamiku, apakah kamu akan ke luar?" tanya Dara dan Li Phin tiba-tiba ia ingin Jang Min selalu di dekatnya
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak ingin mereka curiga, maksudku para pengawal tersebut. Tidurlah," ujar Jang Min mengecup kening Li Phin.
"Akh, aku meleleh!" ujar Li Phin.
"Cih!" ujar Dara tapi jauh di jiwanya ia pun merasa sangat bahagia.
Dara dan Li Phin tertidur di dalam dekapan Jang Min setelah Li Phin tidur ia beranjak perlahan, menatap rembulan, "Begitu jauh aku berjalan dan berlari mencari anak kecil itu! Siapa sangka, takdir mempertemukan kami di tempat dan waktu berbeda! Siapa sangka dia telah menjadi istriku sendiri?" batin Jang Min tersenyum.
Ia mengingat seorang anak kecil dengan kepang rambutnya, gigi depan ompong, memakai baju compang-camping karena tersangkut dahan pepohonan, "Siapa sangka dia adalah sepupu dan juga calon istriku sendiri. Aku tidak menyangka, jika gadis kecil itu adalah Li Phin putri Paman Li Sun," batin Jang Min mengingat anak kecil tomboy dan tidak takut akan ular juga pintar berkelahi dengan anak-anak kampung, Li Phin kecil juga mengajarkan mencuri kacang tanah di kebun petani dengan meninggalkan 2 tail perak di perkebunan dengan sebuah tulisan cakar ayam.
Jang Min tersenyum kala ia mengingat semua detail satu hari kebahagiaannya sebelum ia diracuni dan hampir mati kemudian disembunyikan oleh ibunya Li Hun hingga kini. Ia hanya memasuki istana sebagai seorang Jenderal Jang Min tanpa bisa menyentuh atau memeluk ibu maupun ayahnya ia hanya melihat adiknya yang cacat karena terjatuh dan tak tahu mengapa dia jadi idiot?.
Sebuah panah melesat di dinding, Jang Min mengambil dan membacanya, "Istriku, ayo, bangunlah!" ajak Jang Min membelai wajah Li Phin yang mulai bergerak. Mengambilkan air dan membasuhkan air pada wajah Li Phin.
"Apakah sudah waktunya?" tanya Li Phin seperti anak-anak yang menggemaskan.
"Iya, apakah semua rohmu sudah terkumpul?" tanya Jang Min tersenyum melihat Li Phin.
"Um, hanya tinggal sebagian yang masih melayang ke surga!" balas Dara.
Li Phin hanya menguap dan masih terbaring nyaman di benak mereka. Jang Min dan Dara menyelipkan pedang mereka di punggung dan melesat dari atap dan memasuki sebuah dapur umum penginapan berjalan ke sebuah pintu rahasia di dalam sebuah gua.
"Suamiku, bagaimana Pocia dan si Hitam?" Dara khawatir.
"Tenang saja, mereka sudah mengurusnya. Ayo, cepatlah!" ajak Jang Min berlari dengan cepat begitu juga dengan Dara di sisinya. Entah berapa lama mereka berlari menembus lorong panjang tersebut hingga keduanya keluar dari sebuah gua di balik akar sebatang pohon.
Jang Min mengintai sejenak dan melesat secepatnya bersama dengan Dara berlari melompati dahan-dahan pepohonan dan bertemu dengan Gu Akim dan Gu Shien dan yang lain.
__ADS_1