
"Kamu tidak pernah menanyakannya, jadi aku rasa ya, itu tidak perlu!" balas Li Phin.
"Seharusnya kamu mengatakan rahasiamu, sehingga aku tahu apa yang sedang kamu rasakan Li Phin. Bagaimana jika ada yang tahu keadaan dan kekuranganmu sebenarnya? Aku takut mereka semakin curiga," balas Dara.
"Maafkan, aku!" ujar Li Phin.
Dara langsung memegang ujung dahan kayu tersebut mengikuti Liang Si berjalan. Sejauh mereka berjalan mereka tidak melihat jalan keluar, "Apa yang telah terjadi?" tanya Liang Si bingung, "kita hanya berputar-putar saja!" lanjutnya melihat sekitarnya mereka sudah berulang kali mengitari tempat itu.
"Apakah kita tersesat?" tanya Dara pada Liang Si.
"Hamba tidak tahu Yang Mulia! Seharusnya, tidak demikian. Padahal kita hanya masuk tidak begitu jauh, seharusnya kita sudah menemukan jalan keluar," balas Liang Si menatap ke langit yang penuh bintang tanpa cahaya rembulan.
"Jenderal Liang, sebaiknya kita istirahat saja dulu, besok baru kita lanjutkan perjalanan!" usul Dara.
"Baiklah, Yang Mulia!" balas Liang Si setuju akan usulnya.
Dara duduk di bawah sebuah pohon rindang, Liang Si menyalakan api unggun. Kobaran api membumbung tinggi menerangi wilayah tersebut.
Liang Si berburu kelinci dan memanggangnya memberikan sebagian kepada Dara, "Terima kasih, Jenderal Liang!" balas Dara. Li Phin hanya diam saja tanpa bicara apa pun.
Dara memakan daging kelinci panggang dengan diam, "Yang Mulia Ini minumnya," ujar Liang Si menyodorkan minuman dari sebuah daun lebar dan diterima oleh Dara yang langsung meminumnya.
Liang Si duduk tidak jauh dari Li Phin, keduanya tidak bicara apa pun. Keduanya saling memandang kegelapan tanpa bicara dan tanpa saling memandang. Keduanya bingung untuk berbicara apa pun, sehingga keheningan terjadi di antara mereka.
Malam semakin larut, "Yang Mulia Permaisuri, jika Permaisuri ingin tidur silakan," ucap Liang Si.
__ADS_1
"Jangan khawatir Jenderal, jika aku ingin tidur aku akan tidur," balas Dara.
Liang Si hanya diam tanpa bicara lagi, "Permaisuri, apakah yang Mulia Kaisar akan segera tiba di Xihe?" tanya Liang Si.
"Aku rasa begitulah, tapi entah mengapa mereka begitu lama mereka tiba?" balas Dara sedikit khawatir.
"Semoga Yang Mulia segera cepat kembali kemari," balas Liang Si.
"Ya, begitulah!" balas Dara. Keduanya kembali terdiam tanpa melanjutkan bicara lagi.
Liang Si melihat ke arah Li Phin, "Aku begitu rindu kepadamu! Apakah kamu merindukanku?" tanya batin Liang Si menatap Li Phin yang mendalam dengan segenap rasa kerinduan yang selama ini ditahannya.
"Dara aku rasa sebaiknya kita tidur saja!" ajak Li Phin ia sedikit gelisah melihat ke arah Liang Si yang masih menatap ke arah mereka.
"Jenderal Liang, aku memahami apa yang engkau rasakan … tapi semua itu telah berakhir. Aku tahu, jika aku merasa dulunya pernah berjanji kepadamu. Namun, aku tidak bisa memenuhinya," balas Dara.
"Aku tahu, masalah itu! Jangan khawatir, aku hanya … masih tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini. Aku sudah mencobanya walaupun aku tahu semua cinta ini tak bisa aku tahan," balas Liang Si menatap pekat malam.
"Aku tidak tahu, Jenderal Liang. Aku hanya berharap, tolong jagalah harga diriku, aku tidak ingin semua orang beranggapan kita memiliki hubungan spesial lagi. Semua itu adalah masa lalu," balas Dara.
"Ya, percayalah! Aku hanya ingin melindungi dan menyayangimu dari jauh saja," balas Liang Si menekan rasa kecewanya.
Ia tidak bisa menyalahkan keadaan, "Aku tahu semua cinta ini adalah rasa yang salah dia hadir di waktu dan tempat yang tidak memungkinkan hal itu untuk terjadi. Tapi, semakin aku menjauh dari dirimu, Permaisuri Li Phin.
"Semakin aku tak kuasa untuk menahan rasa cintaku, aku tahu sudah tak lagi pantas untukku, untuk merindukan dirimu, karena kamu sudah ada yang memiliki," balas Liang Si, "tapi, jangan salahkan aku! Aku mohon, sudah berulang kali aku berusaha untuk mengingatkan siapalah diriku," lanjut Liang Si.
__ADS_1
Malam semakin larut dengan suara nyanyian binatang malam, "Aku hanya ingin tahu, tidak adakah rasa sedikit saja di hatimu untukku Yang Mulia? Jika aku mati kelak, aku hanya ingin engkau masih mengingat dan menziarahi makamku," balas Liang Si.
"Andaikan kamu tahu, jika Li Phin pun masih mencintaimu, sebesar rasa cintamu kepadanya," balas Dara bingung di dalam benak mereka, "haruskah kita berterus terang dengan keadaan kita?" tanya Dara tak kuasa merasakan iba pada Liang Si.
"Tidak usah! Jika Liang Si tahu kebenarannya, ia akan berusaha untuk melakukan sesuatu untuk memisahkan kita berdua, kita sendiri pun tidak tahu bagaimana caranya agar kita terpisah," balas Li Phin, "aku tidak ingin musuh memanfaatkan banyak cela untuk menghancurkan cinta dan kekaisaran Donglang yang kita perjuangkan.
"Banyak yang akan dipertaruhkan di dalam semua ini. Aku tidak ingin karena keegoisan Liang Si dan aku, maka semua orang akan terluka. Itu tidak sebanding dengan rasa cintaku dan cintanya. Kami harus berkorban," balas Li Phin dengan tegas.
Membuat Dara begitu takjub dengan perjuangan seorang Li Phin yang rela terluka demi kebahagiaan semua orang, "Hatimu begitu mulia, Li Phin. Kamu benar-benar menjadi seorang permaisuri yang luar biasa. Sejarah akan mencatatnya kelak," balas Dara.
"Andaikan aku bisa melihatnya kelak! Jika kami bisa kembali ke duniamu aku berharap engkau masih mengenang semua tentangku, perjuangan kita, juga cinta kita yang aneh dengan dua pria tampan yang luar biasa!" balas Li Phin tersenyum.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, Li Phin sampai kapan pun. Aku pasti tak akan pernah melupakan Jang Min, Liu Sun Ming, Liang Si dan senua orang yang berada di sini." Dara menatap malam dengan kesedihan, ia tak ingin pergi tapi keafaan memaksanya.
Keduanya saling terdiam, "Tidurlah, Yang Mulia, Permaisuri. Aku akan menjagamu, percayalah kepadaku!" ucap Liang Si.
Dara dan Li Phin terdiam. Dara menyandarkan punggung ke sebuah pohon mencoba untuk tertidur. Akan tetapi, belum lama ia tertidur hujan deras datang mengguyur tempat mereka.
"Yang Mulia, mari kita mencari tempat untuk berteduh!" ajak Liang Si.
Dara mengikutinya dari belakang mencari tempat berteduh, hingga keduanya hanya menemukan sebuah batu cadas di sebuah tebing, keduanya duduk berdekatan saling diam.
Petir menyambar di angkasa, Li Phin tercekat, "Apa yang kamu lakukan Jenderal Liang?" tanya Dara menepis tangan Liang Si yang tiba-tiba memeluknya karena petir berkumandang membelah angkasa.
"Oh, maaf! Aku masih saja berpikir jika kamu masih saja takut akan petir. Aku selalu lupa jika kamu bukanlah sepenakut dulu, lagi!" balas Liang Si menarik tangannya dan langsung keluar dari bawah batu cadas tersebut, ia berdiri di bawah guyuran hujan.
__ADS_1