Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Jalan ke luar


__ADS_3

Namun, kala Dara sudah terlelap Liu Min malah turun dari tempat tidur menuju ke arah kolam. Ia mengamati aliran air yang mengalir dan mengikutinya.


"Aku ingin tahu ke mana aliran air ini berakhir …," batinnya, "semoga saja ada pintu keluar. Aku tidak ingin kami terjebak di sini selamanya," batin Liu Min.


Ia melesat secepat ia bisa, "Wow, ternyata aku bisa bergerak secepat ini? Apa ada yang salah denganku ya?" lirih Liu Min.


Liu Min menyadari ia begitu mudah melompat dari batu ke batu melintasi jurang-jurang terjal menganga di depannya. Dia tak bisa berpikir lagi,ia bahagia sekaligus merasa aneh.


"Aku tidak menyangka ada banyak aliran mata air yang saling bertemu di sini," desis Liu Min girang.


Ia memperhatikan dari gorong-gorong di dalam gua terdapat mata air yang deras mengalir dan bertemu di suatu aliran deras sehingga ia melihat sebuah lorong ke luar dari seluruh air yang bertemu membentuk sebuah aliran air terjun.


"Apakah aku dan Dara bisa melesat sejauh ini?" batinnya bingung menatap ke bawah.


Ia menimbang-nimbang dan mengira-ngira jika air terjun tersebut lumayan tinggi jatuhnya ke permukaan air di bawahnya. Selain itu, ia melihat terlalu banyak bebatuan cadas yang menghalangi mereka untuk mencapai ke permukaan. 


"Bukankah ini mengalir hingga ke sungai yang berada pusat kota Shenzhen? Atau ada lagi?" batin Liu Min menerka-nerka.


Ia tak menyadari jika ia sudah sangat jauh meninggalkan gua kenyamanan mereka berdua.


"Sebaiknya aku kembali. Aku tidak ingin membuat Dara khawatir," batin Liu Min.


Ia kembali melesat menggunakan ilmu peringan tubuh yang sama sekali tak disangka bisa dimiliki olehnya.


"Sayang …," bisik Liu Min di telinga Dara.


Ia melihat jika Dara begitu nyenyak di dalam tidurnya. Wajah Dara begitu damai dan tenang, membuat Liu Min tak tega untuk membangunkan istrinya.


Di luar salju sudah semakin bertumpuk, ia sudah lupa bagaimana menyentuh salju karena ia sudah setahun berada di penjara dan ia pun telah berada di Indonesia.


"Sayang, mengapa tubuhmu …," tanya Dara bingung.


Ia memperhatikan di baju Liu Min terdapat banyak serpihan salju, Dara mengulurkan tangan menyeka serpihan salju tersebut.


"Ada yang ingin aku tunjukan kepadamu. Apakah ruh kamu sudah terkumpul semuanya?" tanya Liu Min memperhatikan istrinya yang masih mengantuk.


"Um," lirih Dara.

__ADS_1


Ia masih ingin bergelung di bawah hangatnya selimut, ia mengulurkan tangan meraih wajah suaminya memeluk dengan kelembutan yang tak pernah ia perlihatkan selama ini.


"Aku ingin mandi … gendong!" pinta Dara dengan manja.


"Iya, Sayang … sini. Aduh, Sayangku manja banget hari ini. Ayo, kamu mau apa?" selidik Liu Min.


Ia merasa selama ini Dara tak pernah meminta kemanjaan yang sangat berbeda. Sehingga membuat Liu Min ingin memberi apa pun yang diinginkan oleh Dara.


"Aku … aku ingin itu!" ucap Dara sedikit malu-malu. 


"Apa?" jawab Liu Min sedikit tak mengerti.


"Sayang, jika kamu minta baju dan makanan aku rasa, aku akan memberikannya saat kita tiba di luar," balas Liu Min tersenyum mengecup kening istrinya.


"Bukan! Aku mau buah …," pinta Dara manja.


"Iya, aku tahu! Nanti aku memberinya di luar ya, Sayang. Kita mandi dulu, sarapan dan ada yang ingin aku tunjukan kepadamu!" ucap Liu Min tak sabar lagi.


"Aku tidak mau!" tajuk Dara manja.


"Hah! Di sini tidak ada buah apa pun Sayang. Kamu lihat saja, mana ada buah di sini," bujuk Liu Min.


Glek!


Liu Min menelan ludahnya, ia tak menyangka buah yang dimaksud oleh Dara ada di bagian tubuh Liu Min.


"Aku mau ini," ulang Dara tak sabaran.


Ia langsung meraih dan membelainya dengan lembut sekaligus mengulumnya seakan ia sedang makan es krim rasa coklat.


"Sayang …," lirih Liu Min terperanjat.


Liu Min tidak menyangka akan perlakuan Dara yang sangat agresif pagi ini. Liu Min pun larut di dalam kasih sayang dan belaian sang istri yang sangat luar biasa itu.


Keduanya saling mengayuh kebahagiaan dan kenikmatan dengan belaian kasih sayang di antara keduanya. Dara benar-benar mengambil alih semuanya pagi itu membuat Liu Min begitu bergairah dan penuh hasrat yang bergelora.


Hingga keduanya terkulai lemas, "Sayang, kamu sangat luar biasa. Terima kasih," balas Liu Min memeluk istrinya.

__ADS_1


"Siapa dulu dong! Dara Sasmita gitu lho!" balas Dara tersenyum manis. 


Dara sendiri tak habis pikir mengapa ia bisa melakukan hal itu. Ia sedikit malu tetapi ia tak peduli, ia merasa jika Liu Min adalah suaminya sehingga ia tak begitu mempedulikan hal itu.


"Ayo, kita mandi dan sarapan!" ajak Liu Min.


Dara hanya mengangguk, kali ini Liu Min kembali membopong Dara yang sempat tertunda. Ia memandikan istrinya dengan penuh kasih sayang, setelahnya mereka sarapan.


"Sayang, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ayo!" ajak Liu Min.


"Apa sih, Laogong?" tanya Dara penasaran.


Ia langsung menerima sambutan tangan Liu Min, berjalan kembali ke arah mata air menelusuri lorong gua hingga ke air terjun.


"Wah, ini sangat luar biasa Laogong! Kamu hebat sekali! Muach," puji Dara mencium pipi suaminya.


Ia merasakan suatu kebahagiaan yang sangat luar biasa. Ia tak menyangka jika Liu Min benar-benar berhasil menemukan jalan untuk mencari jalan ke luar dari dalam gua yang sangat luar biasa.


"Ayo, Laogong!" ucap Dara.


Dara melesat turun ke bawah melesat dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Melompat terjun bebas tanpa berpikir apa pun dan melesat di antara bebatuan dengan melompat dengan luar biasa.


"Istriku benar-benar istri idaman! Dah pinter masak, kerja, dan memuaskanku di ranjang. Di mana lagi mau cari istri begini?" batin Liu Min melesat menyusul sang istri yang sudah tiba di bebatuan di pinggir sungai.


"Ayo, kita telusuri ke mana akhir dari aliran sungai ini," ajak Dara.


"Iya, tentu saja, Sayang!" balas Liu Min.


Ia dan Dara melesat secepatnya menelusuri aliran sungai hingga mereka berada di pusat Kota Shenzhen.


"Apakah kita akan menyusup ke perusahan Wanchai?" tanya Dara menatap gedung pencakar langit yang berada di depannya.


"Apakah ini tempat di mana kamu disekap?" tanya Liu Min.


Liu Min pun menatap ke arah gedung tersebut, "Ini adalah perusahaan cabang dari Hunan. Aku rasa, Wanchai adalah orang terkaya di Tiongkok. 


"Siapa sangka ada niat busuk di hatinya dan ia pasti memiliki tujuan ya g mengerikan jika dia menginginkan kekuatan dari pedang naga hijau!" ujar Liu Min.

__ADS_1


Keduanya masih duduk di taman kota Shenzhen menikmati siang hari sambil melihat keramaian kota.


__ADS_2