
"Terima kasih, Tuan Luo. Anda sangat baik dan luar biasa!" balas Liu Min dan Dara.
Ketiganya menuju ke meja makan menyantap hidangan yang dimasak oleh Xiao Ling. Mereka makan dengan diam, "Apa rencana kalian berdua selanjutnya?" tanya Luo Kang.
Ia ingin mengetahui rencana pasangan di depannya dan ingin membantu, "Aku berusaha untuk membantu semampu dan sebisaku, Tuan dan Nona. Walaupun mungkin bantuanku tidak ada apa-apanya," ujar Luo Kang merendah.
"Jangan bicara seperti itu Tuan Luo, kami malah sangat senang jika Tuan bisa membantu kami. Kami ingin pergi ke Hunan dan Kota Jinjing, aku ingin melihat bagaimana rupa kota itu," balas Dara.
Dara tidak ingin menceritakan apa latar belakang keinginannya untuk pergi ke sana. Ia tidak ingin jika Luo Kang berpikir jika dirinya sudah gila dan terobsesi dengan permaisuri Dara Sasmita yang melegenda di negara itu.
Liu Min hanya diam memakan ikan pari yang sangat lezat dihidangkan oleh Xiao Ling. Liu Min hanya menyimak semua obrolan tanpa bermaksud menyela ataupun menentang.
Liu Min merasa jika Dara sudah memiliki rencana yang matang jika mereka tiba di Hunan nanti.
"Baiklah, besok aku akan membawa kalian ke kota Hunan. Tapi, kalian harus menyamar juga, aku tidak ingin semua kaki tangan Guangzhou akan mengenali kalian.
"Walaupun mereka telah menganggap kalian telah tewas di Indonesia," balas Luo Kang.
"Baiklah, jangan khawatri!" balas Liu Min cepat.
Ia sudah ingin sekali pergi ke Hunan, ia lelah jika harus bertahan lama tinggal di Kampung Nelayan tanpa harus tahu kelanjutan dari sindikat narkoba yang sudah membuat mereka menjadi anumerta.
"Apakah di sana nanti aku bisa mengenali dan merasakan bagian masa laluku? Seperti yang dikatakan oleh Dara." Liu Min membatin dan berusaha untuk mengerti dan mencoba untuk mencari kebenaran yang dikatakan oleh Dara.
"Besok pagi kita akan pergi ke Hunan, malam ini sebaiknya kita tidur dulu. Besok hari, sebelum subuh kita akan berangkat," ujar Luo Kang.
"Baiklah," ujar Liu Min dan Dara, serempak.
Keduanya masuk ke tempat tidur mereka masing-masing, berusaha untuk tertidur dengan cepat dan tak ingin membuang waktu yang tersisa. Keduanya berpikir, malam cepat berlalu, agar mereka segera pergi ke Hunan.
Keesokan paginya ….
__ADS_1
Mereka bertiga benar-benar ke Hunan dengan menaiki sebuah kereta api, Dara melihat semua jalanan yang sudah banyak berubah tak lagi seperti masa lalu, hanya daerah gurun dan hutan yang masih tertinggal sedikit, sebagian sudah menjadi rumah yang padat penduduk.
"Dara, apa yang kamu pikirkan?" tanya Liu Min menatap Dara.
"Hm, tidak apa-apa! Aku hanya ingin memandang hamparan gurun di depan," balas Dara, "jika perjalanan ini hanya kami berdua, aku ingin mengatakan di gurun inilah kematian merenggut kami," batin Dara.
Bayangan peperangan yang pernah terjadi di sana, gurunlah yang masih menjadi saksi dari semua itu. Dara merasakan sesuatu yang berbeda seakan angin kencang mulai menerpa dirinya membawa mimpi masa lalunya kembali seakan nyata
Dara merasakan pertempuran terakhirnya bersama, Li Phin, arwah pedang naga hijau bersatu menghancurkan Lu Dang.
Tubuhnya gemetar membuat ia kejang dan pingsan, hingga seluruh penumpang KA heboh dengan kejadian yang menimpa Dara. Kereta api menuju Kota Jinjing (Xihe) di mana Xihe adalah pintu masuk (perbatasan) menuju Chang An (Kota Hunan).
"Dara! Dara! Ada apa?" tanya Liu Min tidak mengerti, dengan yang terjadi pada Dara.
Liu Min baru saja melihat Dara memandang hamparan gurun tanpa pepohonan maupun rumah penduduk, sedetik kemudian Dara langsung jatuh kejang-kejang mengepalkan tangan dengan tubuh bersinar kehijauan.
"Berilah, ruang sedikit longgar pada Nona Dara. Aku akan memeriksanya," ujar Luo Kang.
"Apa yang terjadi dengan Nona ini? Sepertinya ada suatu kekuatan energi berbeda dan sangat besar yang masuk ke dalam tubuhnya," batin Luo Kang.
"Bagaimana dengan Dara, Tuan Luo?" tanya Liu Min cemas.
"Jangan khawatir, dia hanya kelelahan," ujar Luo Kang.
Ia langsung memberinya vitamin dan meminumkan sedikit air dengan cara menyapukan air ke bibir dan membuka mulut Dara sedikit memberinya vitamin C.
"Apakah Tuan yakin jika Dara tidak ada sesuatu yang mencemaskan? Maksudku … sebuah penyakit atau virus?" tanya Liu Min merasa dialah orang paling dungu sekali.
"Tidak sama sekali!" balas Luo Kang tersenyum, "apakah ada hubungan Dara dengan tempat ini? Ia mulai kejang kala melewati gurun," batin Luo Kang.
Ia pernah mendengar dari kakek dari kakeknya kisah dongeng diceritakan turun temurun jika di gurun Xihe (Jingjing) pernah terjadi perang yang mengerikan antara Chien Fu, Qin Chai Xi, Shan Shier, Li Phin (Dara Sasmita), Lu Dang, Kaisar Liu Min, dan semua tentara juga orang hebat dari beberapa kerajaan di bawah kedaulatan Kaisar Donglang dan negara musuhnya, yaitu : Mongol, Qin, dan Changsha.
__ADS_1
"Menurut kepercayaan kami jika reinkarnasi benar adanya," batin Luo Kang, "aku percaya jika Nona Dara adalah reinkarnasi dari Permaisuri Dara Sasmita, apalagi nama mereka sama. Begitu juga dengan Tuan Liu Min," batinnya.
Luo Kang menatap pasangan di kursi di depannya di mana Liu Min sedang memangku kepala Dara dan memijatnya dengan lembut.
"Suamiku …," lirih Dara sambil tertidur.
Deg!
Jantung Liu Min mulai bergetar ia merasa suara itu memenuhi isi kepala Liu Min ia merasa begitu akrab dengan suara yang memanggilnya dengan sebutan, "Suamiku!"
Liu Min memejamkan mata, ia merasa melihat bayangan samar, derap ringkikan kuda, dan suara pedang berdetingan serta teriakan kematian juga kesakitan.
"Tuan! Tuan Liu!" ujar Luo Kang menyentuh tubuh Liu Min.
"Oh, Tuan Luo! Apa yang terjadi?" tanya Liu Min mencengkram tangan Luo Kang.
Liu Min tidak mengerti tiba-tiba ia merasa berada di suatu tempat di tengah sebuah pertempuran dengan membunuh orang-orang, darah memenuhi pedangnya.
"Anda pingsan!" ujar Luo Kang masih memberikan minuman dan memberikan vitamin pada Luo Kang, "andaikan aku tahu begini, aku akan membawa coklat yang banyak," lirih Luo Kang.
"Apa?" tanya Liu Min, "apa hubungan coklat dan pingsannya, kami?" lanjutnya bingung.
"Coklat … adalah makanan yang memiliki kandungan zat yang mampu membuat sedikit ketenangan," ujar Luo Kang.
"Maafkan kami! Kami sudah merepotkan Anda. Seingatku, aku tidak pernah pingsan, kecuali terluka. Begitu pun dengan Dara," keluh Liu Min.
Ia masih memandang wajah Dara di pangkuannya, "Apakah semua ini memang ada hubungannya dengan masa lalu kami?" batin Liu Min bingung.
Luo Kang memandang gurun di samping jendela kereta api yang lumayan luas, "Menurut cerita, gurun ini … dulunya tidak seluas ini. Dulu tempat ini sangat subur karena jalur sutra perdagangan dari seluruh kota menuju Mongol, Wuling, dan Kekaisaran Donglang.
"Namun, kala pertempuran Permaisuri Li Phin bersatu dengan Permaisuri Dara Sasmita, dan Arwah Pedang Naga Hijau kekuatan itu menjadi sangat dahsyat.
__ADS_1
"Gabungan kekuatan itulah yang menghancurkan Lu Dang, pendekar hebat pada masanya. Sehingga bekas dari ledakan kematian Lu Dang dan kekuatan kedua permaisuri dan Pedang Naga Hijau menghancurkan sekelilingnya, hingga menjadi gurun tandus," ujar Luo Kang.