Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Membekuk Cicero


__ADS_3

"Benarkah? Padahal dari wajahnya terlihat sangat baik. Siapa sangka dia malah orang yang paling jahat," balas Ningrum.


"Ibu, harus berhati-hati, mulai sekarang. Jangan pernah pergi sendirian Bu," timpal Liu Min menatap Ningrum.


"Iya, Nak. Mama akan mengingat semua pesan kalian, kalian pun harus berhati-hati. Mama tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian berdua," balas Ningrum memandang kedua anak muda di depannya dengan penuh kasih sayang.


"Mama, kami akan pergi dulu. Berhati-hatilah, Ma!" pamit Dara mencium pipi Ningrum, ia merasa berat meninggalkan ibunya.


"Iya, Sayang. Berhati-hatilah! Jangan khawatir, Mama akan baik-baik, saja." Ningrum melihat kedua anak muda tersebut, "Ya, Allah … lindungilah kedua anakku di mana pun mereka berada, amin!" batin Ningrum.


Namun, Dara harus merelakan untuk meninggalkan semua yang dirindukan demi tugasnya, "Berjanjilah, agar kalian berdua pulang dengan selamat!" pinta Ningrum melepas keduanya di ambang pintu belakang.


"Iya, Bu!


"Iya Ma!"


Balas Keduanya mencium kening Nigrum, Keduanya melesat berlari dengan cepat menembus malam yang sudah mulai memasuki pukul 03.00 dini hari.


Liu Min dan Dara kembali melesat meninggalkan perumahan di mana rumah Dara berada. Keduanya melesat memasuki jalan Gatot Subroto memasuki sebuah tempat prostitusi.


"Sebaiknya kamu menjauh dariku, aku tidak ingin jika orang akan curiga kepada kita," ucap Liu Min. 


"Oke!" balas Dara meninggalkan Liu Min masuk seorang diri ke dalam rumah prostitusi tersebut.


Sementara Dara menyelinap masuk sesudah Liu Min, "Aduh, banyak sekali wanita cantik di sini. Masuk kemari aku lebih seperti seorang pria yang membutuhkan kehangatan?" batin Dara.


Ia melihat sebuah pakaian di gantungan di sebuah kamar yang dimasuki oleh Dara, Dara langsung  menarik sebuah pakaian yang sedikit menggoda memakainya dan menyelipkan cadar menutup bibir dan hidungnya menyelipkan pistol di balik baju.


"Aku harap penyamaranku sedikit mirip dengan semua wanita cantik dan menggairah ini," batin Dara masuk ke dalam bagian rumah yang sangat mewah.


"Pria-pria ini, ya ampun! Apakah di rumahnya memiliki beras untuk anak istrinya? Ckckck jika Liu Min seperti ini, aku akan memotong tombak saktinya menjadi kecil-kecil dan memberikannya kepada kucing!" umpat Dara.


Ia melihat setiap pasangan pria dan wanita yang menyelinap masuk dengan pakaian yang benar-benar menggoda iman, "Wow, ampun!" umpat Dara kala ia salah memasuki satu buah kamar di mana terlihat adegan panas seorang wanita sedang bermain kuda-kudaan.


"Hadeh, mataku sudah ternoda!" batin Dara, bayangan kala ia masih bersama Liu Min di dunia Li Phin kembali mengusik.


"Aku tak pernah bisa … menghapus semua bayangan dan rasa itu," umpatnya.


Ia terus menyelinap masuk hingga sebuah tangan menariknya, "Kemarilah, Cantik! Bukankah aku telah memilihmu tadj di layar monitor!" ujar Cicero.

__ADS_1


Deg! Mak gludak!


Jantung Dara seakan berdetak kencang kala mencari buruannya tepat di depan mata sedang menarik tangan dan mendekap tubuhnya hingga gundukan kenyal di dadanya terhimpit di sana.


Di seberang ia melihat Liu Min sedang memperhatikan semua gerakan yang dilakukan oleh Dara di dalam dekapan tubuh Cicero.


Liu Min menggenggam sebuah, gelas dan memecahkannya, "Aduh, mengapa Liu Min sampai memecahkan gelas? Mati … apakah dia marah?" batin Dara melihat Liu Min yang memandang ke arahnya.


"Sayang … ayo, aku sudah tidak tahan lagi," ujar Cicero.


"Aduh, Yang. Aku … masih datang bulan!" balas Dara


"Aku sudah membayar mahal dirimu," ucap Cicero, menarik tangan Dara dengan cepat dan kasar memasuki sebuah kamar.


Cicero langsung mendorong tubuh Dara dengan cepat hingga terlentang ditempat tidur. Cicero langsung membuka baju dan celana jeansnya, "Ayolah  Sayang …!" ajak Cicero tak peduli.


"Dasar, Bajimgan!" umpat Dara kala Cicero ingin menyentuhnya.


Buk! 


Dara langsung menendang tubuh Cicero hingga terjatuh ke belakang tubuhnya.


Buk! Buk!


Dara langsung menendang tubuh Cicero hingga kembali terjatuh, "Bajingan, siala kau?" tanya Cicero.


Buk!


Dara kembali memukul wajah Cicero hingga pingsan, "Sialan! Kau pikir aku wanita murahan apa?" batin Dara kesal ia langsung mengikat kedua belah tangan Cicero, "Liu Min ke mana?" batin Dara.


Brak!


"Aku sudah melumpuhkannya!" ucap Dara melihat Liu Min yang tertegun di ambang ointu.


"Ya, syukurlah!" balas Liu Min lega yang terlihat dari wajahnya.


"Apakah kita membawanya ke markas?" tanya Dara.


"Tak perlu! Ayo, aku akan membawanya ke markas. Kamu akan mengetahui di mana," ajak Liu Min langsung membopong Cicero dari pintu belakang.

__ADS_1


Menyelinap agar tak terlihat oleh orang lain dengan memakaikan Cicero pakaian wanita untuk mengelabui semua orang yang berada di rumah prostitusi tersebut.


Dara dan Liu Min membawa Cicero dengan mengendarai sepeda motor menuju suatu tempat rahasia, Liu Min menggendong Cicero di bahunya.


"Wow! Kalian membuat sebuah tempat rahasia?" tanya Dara kepada Liu Min melihat sekelilingnya.


"Iya, Dabu mengetahui ini beserta Jovich dan Daniel. Aku sudah menelepon Jalik Nasution dan Hendra, aku harap Hendra susah berada di dalam bersama dengan Daniel dan Hendra," balas Liu Min.


"Oh …," balas Dara menganggukan kepala.


"Halo Bro! Aku kira kamu tidak bisa selamat, " ujar Daniel.


"Ya, aku jita oh  demikian!" balas Liu Min memberikan tubuh Cicero kepada Daniel dan Hendra juga Jalik.


"Syukurlah kalian sudah saling kenal," balas Liu Min.


"Halo, Komandan Dara Sasmita!" balas ketiga pria di depan Dara.


"Halo!" balas Dara dinging, "um, salam kenal! Maaf, aku tidak mengenal kalian aku terlalu lama tertidur," balas ujar Dara menyesali banyak hal.


Namun, ia pun bersyukur akan perjalanan waktu yang dialaminya hingga ia telah mengenal cinta. Dara memandang ketiganya dengan penuh minat, "Mereka adalah aparat negara yang luar biasa, aku sangat yakin negara akan bangga kepada mereka," batin Dara.


"Tidak apa-apa, Komandan. Aku Daniel," ujar seorang pria yang lumayan  jangkung dan tampan berambut gimbal sebahu.


"Kami berdua sudah kenal, bukankah begitu Bu Dara?" tanya Jalik Nasution.


"Ya, aku sangat senang bertemu dengan kalian!" balas Dara.


"Lalu apa yang akan kita lakukan  dengan wanita ini Bro?" tanya Daniel.


"Dia bukan wanita tapi Cicero," balas Liu Min.


"Apa?! Wow, hebat! Ini lebih seru dari yang kubayangkan," ujar Hendra tersenyum. 


Daniel langsung meletakkan tubuh pingsan Cicero di sebuah bangku dan mengikat kedua kaki dan tangan di pegangan kaki kursi.


"Siapa yang memukulnya hingga dia babak belur begini?" tanya Jalik Nasution.


"Siapa lagi kalau bukan Komandan sadis kalian?" ujar Liu Min.

__ADS_1


"Oh, pantas saja! Masih, hidup saja syukur. Um, aku kira engkau yang melakukannya, Bro. Lalu mengapa tanganmu berdarah?" tanya Daniel menatap tangan Liu Min yang masih meneteskan darah segar dari telapak tangan juga jemarinya.


__ADS_2