
"Iya, aku nggak pernah berkencan dan pacaran tuh! Saat muda aku berpikir, perempuan hanyalah buat capek dan gudang masalah!" ucap Liu Min anteng.
"Apa maksudmu dengan wanita hanya buat capek dan gudang masalah, Laogong? Apakah kamu berpikir jika aku pun akan membuatmu capek begitu?" ketus Dara sedikit tersinggung.
Dara menatap suaminya dengan perasaan marah. Ia tak ingin jika Liu Min berpikir jika ia adalah sumber dan gudang masalah untuk Liu Min.
"Ya, 'kan saat muda, aku berpikir demikian. Dulu aku hanya ingin bermain game, balapan, dan ya … anak mudalah. Jadi, aku melihat jika semua temanku selalu saja terperangkap dengan kekasihnya.
"Kekasihnya selalu datang marah-marah jika mereka telat untuk menjemput, mengantar belanja, menemani mereka ke mana pun. Itu melelahkan.
"Belum lagi, pakai marah-marahan jika mereka sedang cemburu!" papar Liu Min menatap Dara.
"Alasan yang tak masuk akal! Apakah Sekarang, kamu merasa aku membuatmu lelah begitu, Laogong?" selidik Dara.
"Hahaha, berbeda saat kita muda dan tua. Cara pandang ketika kita muda dan setelah berumur itu dua hal yang sangat jauh berbeda," balas Liu Min tersenyum.
"Entahlah, aku tidak tahu! Jika suatu saat kamu merasa aku menjadi bebanmu aku ingin kamu berterus terang. Aku tidak ingin kita saling diam dan terjebak pada hal yang sulit …," ucap Dara.
"Tentu, Sayang! Jangan khawatir!" balas Liu Min tersenyum, "lagian jika aku tahu berkencan itu sangat luar biasa seperti ini aku mungkin tidak akan menyia-nyiakannya!
"Aku akan pertama kali antri untuk berkencan! Ckck, sayangnya, aku terlambat menyadarinya …," sesal Liu Min.
"Hah! Dasar!" balas Dara menggelengkan kepala.
Namun ia merasa beruntung jika mereka berdua adalah orang bodoh yang sama sekali tidak memiliki pengalaman apa pun dengan lawan jenis mereka.
"Um, Laogong apa yang harus kita lakukan? Jika kita keluar maka, sayang dong duit kita sia-sia, cari duit susah!" ucap Dara.
"Wah, setelah jadi ibu rumah tangga sifat perhitunganmu menjadi luar biasa? Apakah para wanita selalu saja membawa kalkulator ke mana pun, begitu?" tanya Liu Min.
"Ya, jelas dong! Jika tidak, bisa telungkup tuh, Periuk! Um, aku ralat rice cooker! Lagian, kita bisa bersenang-senang di sini menikmati kamar meriah ini," goda Dara sedikit genit.
Dara pun merasa aneh, akhir-akhir ini ia pun sedikit merasakan selalu menginginkan sentuhan dari suaminya. Namun, ia merasa malu untuk memintanya.
__ADS_1
Glek!
Liu Min merasakan sesuatu di dalam kalimat yang terlontar dari bibir Dara. Ia ingin dan sangat ingin mendekap istri cantik di depannya.
Akan tetapi, kala ia memandang perut Dara yang masih rata, bayangan perut itu membesar membuatnya merasa semakin kacau.
"Sayang, aku … merasa lelah. Bagaimana jika kita tidur saja, karena nanti tengah malam kita akan kembali ke diskotik," usul Liu Min menatap Dara.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku juga ingin tidur," balas Dara tersenyum dan langsung mengulurkan tangan.
Liu Min tersenyum dan langsung membopong istrinya membaringkan di ranjang dan memeluknya dengan kehangatan.
Liu Min menepuk pelan punggung Dara seakan ia menidurkan seorang bayi dengan kasih sayang, berulang kali mengecup lembut kening istrinya dengan bersenandung lembut.
"Maafkan aku Sayang! Aku takut, jika terjadi sesuatu padamu dan anak kita. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat menginginkannya, aku ingin melihat bagianmu dan diriku … tapi … jika Guangzhou masih hidup.
"Kita tidak akan pernah tenang, selain itu … kita juga sudah dikatakan anumerta. Bagaimana dengan anak kita ke depannya?" batin Liu Min bingung.
Ia semakin takut dengan semua keadaannya, Liu Min melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 waktu Shenzhen.
Ia tak ingin terus melibatkan Dara, ia pergi ke diskotik melihat keramaian dan mencoba untuk menyelinap di antara kerumunan orang yang menari di lantai diskotik. Musik bergema bersamaan dengan bau minuman dan telernya orang mabuk berkumpul dengan para mafia yang ingin mencari kenikmatan sesaat dan uang yang terus mengalir.
Liu Min terus menyelinap masuk ke lantai atas, melihat Lu Tek sedang berpelukan dengan seorang pria bule. Di sampingnya seorang wanita berbikini sedang duduk bercerita dengan temannya.
"Mereka baru saja melakukan transaksi," batin Liu Min.
Liu menarik tuas lampu listrik sehingga semua lampu mati dan musik pun terhenti. Keadaan menjadi gelap gulita dan keheningan terjadi.
Kras! Kras!
Liu Min berlari melayang dan langsung membunuh Lu Tek dan pria bule tersebut dengan sebilah sangkur. Liu Min melesat bersembunyi kembali, byar! lampu menyala.
"Aaa!" teriak wanita yang berada di sisi Lu Tek yang telah telah bersimbah Dara jatuh di sofa bersama pria bule. Si wanita langsung jatuh terduduk.
__ADS_1
Kegaduhan terjadi semua orang menjerit ketakutan dan ingin ke luar, "Jangan ada yang boleh ke luar!" teriak salah seorang tangan kanan Lu Tek.
Semua orang terdiam di lantai diskotik ketakutan, "Periksa! Siapa yang membawa senjata?" teriak asisten Liu Tek dengan berang.
Liu Min diam di sudut ruangan, menanti bagaikan harimau menunggu mangsa. Para anggota Lu Tek langsung memeriksa semua orang.
"Katakan siapa yang telah berani melakukan hal ini pada Tuan Lu Tek? Jika tidak kami akan membunuh kalian?" teriak kaki tangan Lu Tek mengokang senjata dan mengarahkan pada semua orang yang berjongkok dengan tangan di atas kepala.
"Kami tidak tahu, Tuan!" balas seseorang.
Dor!
Si pria langsung jatuh bersimbah darah, "Ayo, menyerlah! Jika tidak, kami akan membunuh kalian semua!" ancamnya.
Bles! Dor! Dor!
Lampu kembali mati, Liu Min bergerak kembali menyerang musuh, ia tak peduli jika ia berlaku curang, ia langsung menembak anggota dari Lu Tek yang memegang senjata.
"Keluarlah! Jika kalian ingin selamat!" teriak Liu Min.
"Aaa!" teriakan dan derap langkah kaki berusaha untuk ke luar dari pintu menuju ke pintu utama.
"Jika kalian ke luar, aku akan membunuh kalian! Tembak mereka!" teriak anggota Lu Tek.
Dor! Dor!
Liu Min memakai kacamata infra red sehingga memudahkannya untuk menembak semua kaki tangan Lu Tek yang memegang senjata.
Byar!
Kembali lampu menyala, anggota Lu Tek sudah banyak yang terluka, Liu Min tak lagi melihat orang-orang berada di sana.
Ia langsung melesat, menembak pusat garda listrik yang ada di ruangan diskotik hingga meledak. Liu Min kembali melesat ke luar berlari menjauhi TKP.
__ADS_1
Berjalan pelan sekan tak ada apa-apa menuju kembali ke hotel. Ia melihat pemadam kebakaran dan mobil patroli polisi langsung ke arah diskotik, Liu Min menyelinap kala iring-iringan mobil dan sepeda motor sindikat naga merah ngebut menuju ke arah diskotik.
Liu Min menyelip ke arah balik gedung gelap, ia tak ingin ada yang tahu apa yang telah terjadi