Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Antara cinta dan pertarungan


__ADS_3

Mereka melihat para ninja mulai berlarian seperti angin menuju ke arah mereka mengacungkan pedang di tangan mereka.


Semua orang semakin menarik napas tak menyangka jika masih ada saja hal yang menghambat mereka.


"Sialan, apa yang ingin mereka lakukan?" umpat Liang Bo, ia semakin kesal kemarahannya sudah memuncak.


"Ckckck, padahal sekejap lagi sampai!" kesal Liang Bo.


"Liang, gunakanlah ini. Aku rasa kamu lebih pintar menggunakan pedang daripada senjata," ujar Liu Amei menarik pedang dari bawah kakinya.


"Lalu denganmu, Cie?" tanya Liang Bo, ia masih sungkan menerima pedang tersebut.


"Aku mendapatkan pedang baru di istana putih tadi. Um, Tuan Luo, kamu harus pakai apa ya?" ujar Liu Amei bingung, ia masih mencari yang cocok untuk Luo Kang.


Ia mengangkat busur panah dan Boomerang ia ingin memberi pada Luo Kang. Namun, Liu Amei merasa tak ada yang cocok untuknya. Sementara pasukan ninja sudah mulai menyerang, sudah bersiap-siap untuk menyerang.


"Aku menggunakan ini saja!" ucap Luo Kang, ia sudah menyiapkan tongkat sakti leluhurnya Tabib Luo.  


"Oh!" balas semua orang hanya memandang Luo Kang dengan terbengong.


"Kamu yakin?" tanya Liang Bo, ia masih memperhatikan tingkat kayu yang mulai rapuh termakan usia.


"Sangat! Jangan khawatirkan aku," balas Luo Kang santai.


"Hm, baiklah! Ayo, kita ke luar sebelum mereka menusuk kita seperti sate, lagian sayang ini mobil, kita tidak tahu harus menaiki apalagi ke Jinping," ucap Ahim Yilmaz, ia sudah bergerak ke luar mengeluarkan pedangnya.


"Ayo, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu istriku!"balas Liang Bo, ia langsung keluar dari dalam mobil menyerang ke arah ninja tersebut.


"Wah, Liang Bo, hebat juga ternyata! Siapa sangka dokter berhati lembut itu bisa mengerikan?" tanya Liu Amei, ia masih memperhatikan adik iparnya melesat dan menebas musuh dengan lincah.

__ADS_1


Liang Bo bisa mengimbangi kelincahan musuh dengan cepat bahkan Liang Bo, sudah berhasil membunuh 3 o RT ang musuh.


"Aku harus berhasil dan selamat demi anak dan istriku!" batinnya. 


Sementara Liu Amei masih terperanjat di sisi Ahim Yilmaz, memperhatikan musuh, ia melontarkan bumerang, ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa begitu mudah menggunakannya.


"Demi istri dan keluargamu apa yang tidak akan kamu lakukan, sesuatu yang tak akan mungkin pun akan menjadi mungkin jika semua itu sudah di depan mata!" balas Ahim Yilmaz.


"Oh, Sayang kamu manis sekali! Bagaimana jika semua ini selesai kita akan menambah anak lagi? Aku ingin seorang putri!" usul Liu Amei, ia menatap suami dan mengangkat tangan ke atas menangkap bumerang yang melesat kembali padanya.


"Ckckck, kenapa nggak bilangnya dua hari yang lalu sih? Hadeh, padahal aku sudah menginginkannya dari beberapa tahun lalu, tapi kamu terlalu sibuk dengan masalah Guangzhou," ucap Ahim Yilmaz.


"Ya, aku takut jika aku hamil itu sedikit menyulitkan diriku, lihatlah, kita sudah berjauhan dengan Acai. Aku tidak ingin itu terjadi lagi," balas Liu Amei, ia kembali melontarkan bumerang membuat para ninja berjumpalitan menghindari bumerang tersebut.


"Berhati-hatilah Sayang! Bagaimana mau tambah anak jika musuh masih terus menghadang begini?" balas Ahim Yilmaz, ia menebaskan satu oedang dan melesat meraih pinggang istrinya agar terhindar dari tebasan pedang musuh.


"Muach!" Liu Amei tanpa malu menarik tengkuk suaminya dan mendaratkan ciuman panas di bibir suaminya yang terbengong.


"Makanya menikahlah! Nikahi Nona Xiao Ling, aku yakin dia mencintaimu!" ucap Ahim Yilmaz dan Liu Amei berbarengan.


Luo Kang hanya terbengong, "Xiao Ling? Apa mungkin? Aku tidak tahu jika dia mencintaiku?" balas Luo Kang.


Ia pun menangkis serangan pedang musuhnya dengan sebuah tongkat dimakan rayap, akan tetapi keanehan terjadi tongkat itu berdenting seakan ia terbuat dari sebuah besi.


"Wah, ternyata ini sangat hebat! Um, aku akan membakar hio untuk leluhurn jika selamat," batin Luo Kang.


Ia pun berkelit menghindari tebasan pedang dari samurai tersebut. Ia tak menyangka jika tongkat tersebut benar-benar bisa mengalahkan musuh dengan sangat cepat dan ia memiliki kekuatan berbeda.


"Um, Xiao Ling …!" lirih Luo Kang di antara tebasan tebang yang terus bergema, ia masih membayangkan perawatnya seorang janda kembang yang cantik yang selalu menemani dan mengurusnya tanpa pamrih.

__ADS_1


"Apakah benar jika Xiao Ling mencintaiku?" batin Luo Kang masih bertanya, ia tak pernah membayangkan hal itu.


"Dia memang cantik, baik, dan menarik selain itu, ia tak pernah meminta hal yang lebih padaku." Luo Kang mengingat banyak hal mengenai perawatnya.


Seribu pertanyaan bergema di benaknya mencoba mencari tahu banyak hal yang sesuai dengan Xiao Ling, ia masih tidak yakin akan ada wanita yang ingin menikah dengannya.


Ia merasa masa depan lnua berantakan dan tidak memiliki apa pun yang bisa diandalkan untuk menghidupi seorang wanita dan anak-anak. 


"Woy, jangan terlalu menghayal! Apa yang kamu lamunkan?" teriak Liang Bo.


Liang Bo tak mengerti kala melihat Luo Kang melamun padahal ia sudah bersyukur kala melihat Luo Kang telah berhasil membunuh satu ninja hanya dengan tusukan tongkat rapuhnya.


Namun, Liang Bo melihat jika tebasan pedang musuh hampir saja memenggal kepala dokter bedah yang serba bisa tersebut, ia langsung menangkis serangan pedang tersebut dan menusuk dada si ninja dengan cepat. Sehingga darah mengucur dan musuh tewas seketika. 


"Tuan Liang, apakah kamu merasa jika Nona Xiao Ling mencintaiku?" tanya Luo Kang dengan perasaan tolol.


"Mengapa kamu bertanya? Nyawa lebih penting! Kau bisa menanyakannya nanti jika kau selamat!" ujar Liang Bo.


"Hm, benar juga sih!" balas Luo Kang.


"Makanya sekali-kali sadar jangan minum arak terus! Jadi kamu sadar kalau nona Xiao Ling itu cantik!" pesan Liang Bo.


"Sadarnya sih sudah lama, cuman tahunya baru sekarang!" umpat Luo Kang, ia memang baru menyadari hari ini jika ia pun sudah berulang kali merindukan Xiao Ling, hanya saja ia malu untuk mengakui hal itu.


Keduanya saling membelakangi punggung berusaha untuk menjatuhkan lawan mereka, dengan senjata pedang di tangan Liang Bo dan tongkat di tangan Luo Kang.


"Bagaimana jika bergerak secara berkesinambungan, aku sangat yakin kita akan mudah menaklukkan mereka!" usul Liang Bo.


"Ayo, siapa takut?! Aku pun sudah rindu pada Xiao Ling, aku ingin pulang ke Kampung Nelayan," tegas Luo Kang, ia ingin bertanya pada Xiao Ling apakah Xiao Ling mencintainya dan ingin me ikah dengannya kelak.

__ADS_1


Pertempuran semakin kacau kala serangan gerombolan ninja semakin merubungi mereka, menyerang dengan senjata rahasia yang mematikan membuat keduanya semakin bergerak dengan cepat. Namun, tangkisan dari tongkat Luo Kang mampu menghalau semua itu.


 


__ADS_2