Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 15~Masih mencari


__ADS_3

Bu Siti berjalan mencari alamat rumah Kamila. Ia menyusuri jalanan komplek dengan hanya ditemani Leni.


Kesana-kemari bertanya kepada setiap orang dengan mengandalkan ciri-ciri fisik dari Kamila, namun kebanyakan orang tak tahu dan tak mengenalinya.


Hari mulai senja, tapi mereka belum menemukan rumah Kamila. Bu Siti sengaja menutup warung dan meliburkan pekerja khusus untuk mencari, tapi tetap saja waktu sehari tak cukup bagi mereka. Padahal, mereka tinggal di komplek yang berdekatan. Hanya saja komplek tempat tinggal Kamila lebih masuk lagi ke dalam gang, sedangkan warung Bu Siti di depan komplek, pinggir jalan pas persimpangan.


"Hah, Bu. Ke mana lagi kita nyari Mila? Rasanya kakiku sudah sangat pegal," keluh Leni dengan nafas terengah.


"Sabar ya, Len. Siapa tahu di depan sana ada orang yang mengenali Mila!" kata Bu Siti sambil memperhatikan sekitaran. "Ah, kita kesana saja!" tunjuk Bu Siti kemudian.


Leni hanya mengikuti pasrah kemana kaki ibu bosnya melangkah. Sebuah warung sembako kecil menjadi tempat yang didatangi mereka untuk kesekian kali.


"Permisi, Bu. Saya mau tanya. Barang kali ibu kenal sama wanita ini?" tanya Bu Siti.


Si pemilik warung saat ini suasana hatinya sedang panas. Dia sampai tak menghiraukan Bu Siti dan Leni yang bertanya dengan sopan.


"Bu!" panggilnya sedikit keras karena si pemilik warung tak menggubrisnya.


Namun, lagi-lagi ia tak memperdulikan seruan kedua orang yang baru datang itu karena tengah memarahi seseorang.


Nampak seorang ibu sebaya dengan dirinya, tengah jadi amukan si pemilik warung. Masalahnya yaitu, ibu tersebut terus-menerus berhutang tanpa kejelasan kapan akan membayarnya.


"Saya tidak mau tahu ya, Bu! Hutang kalian sudah menumpuk di bon. Tulisannya sampai panjang ke bawah seperti kereta api yang di sambung. Saya butuh uang buat belanja lagi, Bu." bentak si pemilik warung sembako.


"Saya akan bayar besok, Bu. Tapi biarkan hari ini saya berhutang lagi, ya. Kami belum masak apapun di rumah," pinta ibu tersebut.


Bu Siti tergerak hati ingin membantu. Dia tak tega melihat sesama yang sedang kesusahan. Namun setelah mendengar perkataan pemilik warung kali ini, dia malah memaki dan mengutuk wanita di hadapannya itu.


"Bayar besok ... bayar besok. Siapa yang akan membayar hutangnya? Riki atau suamimu? Cih," cibir pemilik warung. "Semenjak hilangnya Kamila, kalian tak sanggup membayar hutang. Apa jangan-jangan Mila minggat karena tak tahan dengan sikap kalian yang suka berhutang?" tebak si pemilik warung.


"Hei, diam kamu. Dia pergi karena ketahuan selingkuh dan diusir oleh Riki!" elak Bu Nani.

__ADS_1


Bu Siti yang mendengar orang itu menjelekan Kamila menjadi tak terima. Dia menarik tangan wanita itu sampai berbalik menghadapnya.


"Oh, ini toh mertuanya Kamila!" Bu Nani sontak mengerutkan dahi menatap orang yang tak dikenali.


"Siapa kamu?" Tanya Bu Nani.


"Saya adalah ibu kedua bagi Kamila. Kamila sudah ku anggap sebagai anak saya sendiri," kata Bu Siti menepuk dada. "Berani benar kamu menjelekan anak saya, sementara dia yang selama ini menanggung biaya hidup kalian!" ucap Bu Siti dengan nada tinggi.


Warga yang kebetulan lewat di sana, langsung berdiam dan menyaksikan pertengkaran mulut mereka.


"Ada apaan tuh, rame bener!"


"Itu lho, katanya menantunya diusir sama anaknya karena selingkuh!"


"Masa sih? Jadi kepo deh!"


Warga pun berdesakan menonton drama keluarga yang ditayangkan secara live di depan warung sembako.


Bu Nani yang merasa dipermalukan pun tak terima. Dia berkata dengan suara tak kalah tinggi.


"Bohong. Itu semua hanya rekayasa orang ini saja. Saya tidak pernah menyuruh menantu saya untuk bekerja! Dia sendiri yang mau bekerja," alibinya mengelak dari kenyataan.


"Iya. Dia bekerja dengan suka rela karena jika dia tak bekerja, dia pun tak bisa makan!" tutur Bu Siti.


"Waaah, kasihan sekali!" seru para warga yang menyimak.


Bu Nani langsung melambaikan tangan ke depan. "Tidak, itu fitnah!" Ia terus mengelak.


"Fitnah kamu bilang?" kata Bu Siti memicingkan mata. "Saya saksi di mana Mila diperiksa oleh Dokter dan katanya dia kekurangan gizi serta jarang makan. Dia menangis karena tak tahu harus bilang apa kepada Dokter. Bahkan, duit yang saya berikan untuk dia berobat saja diambil sama mertuanya itu!" lanjut Bu Siti menjelaskan sambil menunjuk Bu Nani kembali.


"Mertua kurang ajar dia. Tega sekali menyiksa menantu yang sedang hamil," cibir para warga.

__ADS_1


"Aku tak mau punya mertua seperti dia,"


"Pantas saja jika menantunya pergi. Dasar mertua matre,"


Hinaan dan cacian yang terlontar membuat Bu Nani malu. Tanpa berkata lagi, dia pergi meninggalkan tempat itu sambil melemparkan tatapan tajam kepada Bu Siti.


"Awas kamu ya, aku akan membuat perhitungan sama kamu!" ucapnya dalam hati.


Bu Siti dan Leni hanya menatap kepergian bu Nani tanpa bisa bertanya kemana Kamila pergi. Dia terlanjur marah dan tersulut emosi saat Bu Nani menjelekan Kamila di hadapannya.


'Ternyata, memang benar jika kamu sering tersiksa di rumah mertuamu, Mila. Keputusanmu sudah benar dengan pergi meninggalkan mereka. Tapi, ke manakah kamu pergi? Ibu sangat khawatir dengan keadaanmu, Mila.' Bu Siti membatin.


"Bu, kita pulang atau mencari Mila lagi?" pertanyaan Leni membuyarkan lamunannya.


"Ah iya, kita pulang saja yuk! Lagipula, kita tak kan menemukan Mila karena dia sudah pergi jauh dari tempat ini." Leni pun mengiyakan perkataan Bu Siti.


"Di mana pun dia berada, aku harap dia sehat dan baik-baik saja ya, Bu!" ucap Leni.


"Amiin!"


Mereka pun berbalik pulang karena sudah menemukan jawaban dibalik tak datangnya Kamila ke warung. Ternyata, hidup lebih kejam kepadanya. Punya suami dan mertua yang suka memanfaatkan dirinya saja tanpa berterima kasih atas apa yang dilakukan Kamila.


'Kenapa kamu tak datang sama ibu, Mila? Jika ibu tahu kamu akan diusir mereka, ibu tak kan membiarkanmu kembali kepada mereka.'


Bu Siti terus melamun sepanjang jalan pulang. Walaupun dia berkata sudah tidak apa-apa, tapi hatinya tetap tak tenang. Mengingat perut Kamila yang semakin hari kian membesar.


'Ke mana lagi ibu harus mencari kamu, Mila?'


Hati Bu Siti tetap tak tenang. Rasanya, ingin sekali ia mencekik leher mertua Kamila itu, karena tega berlaku kasar kepada Kamila. Walaupun dirinya bukan siapa-siapa dan baru mengenal Kamila belum lama, tapi Bu Siti yakin jika Kamila adalah wanita baik dan dari keluarga baik pula. Ia memiliki sopan santun dalam bertutur kata, menandakan jika didikan orang tuanya sangat baik.


'Semoga kamu dan bayimu tidak kenapa-napa, Nak! Ibu berharap, suatu hari nanti kita bertemu lagi dan kamu sudah hidup dengan layak serta bahagia.'

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2