Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Semakin kacau


__ADS_3

Tan Jia Li menghindari serangan yang dilakukan oleh Qin Chai Jian yang melesat secepatnya menebaskan pedang dengan kekuatan yang luar biasa mengarah kepadanya dengan kelincahan yang sangat luar biasa 


"Aku tidak menyangka jika pria ini benar-benar, semakin kuat. Aku rasa, ia telah banyak belajar kembali bersama dengan Lu Dang. Sialan!" batin Tan Jia Li, ia melihat jika para prajurit sekutu semakin banyak dan memiliki kekuatan yang luar biasa.


"Sial, apakah Lin Tao, Xiang Lu, dan Zu Wo gagal? Apakah ada pengkhianat di antara kami? Apakah mereka tertangkap oleh musuh?" seribu pertanyaan berkecamuk di jiwa Tan Jia Li. 


Ia termenung sehingga ia sedikit lengah untung saja naluri prajurit yang dimilikinya sangat luar biasa 


Trang! Tebasan pedang Qin Chai Jian hampir saja menebas lehernya, "Hahaha, kamu sudah mulai melemah akibat Gu Shanzheng! Cinta benar-benar telah membodohimu, Jia'er sayang!" ejek Qin Chai Jian.


"Aku bukan bodoh! Jika kamu berpendapat jika cinta bisa membodohiku, kamu salah besar. Aku tidak pernah merasa terbodohi oleh cinta," ujar Tan Jia Li melesat menyerang Qin Jia Li dengan cepat.


Namun, Qin Chai Jian yang telah belajar ilmu beladiri dari Lu Dang bergerak dengan lihai dan tangkas, "Sialan! Mengapa pukulan dan taktikku bisa dibaca olehnya?" batin Tan Jia Li sedikit kesal.


Ia tidak menyangka jika masih mulai maju dan berpikiran cepat juga luar biasa hebat, Tan Jia Li mengubah taktik perangnya. Ia memutar pedang dengan cepat dan langsung mengarah ke tubuh Qin Chai Jian.


Wus! 


Tan Jia Li hanya menebas bayangan Qin  Chai Jian saja, "Hahaha, kau bukanlah lawanku Tan Jia Li. Kalian akan mampus sekarang juga!" teriak Qin Chai Jian bersemangat. 


"Bajingan! Kalian benar-benar belajar ilmu hitam Lu Dang bukan? Jika tidak aku yakin kamu tidak akan selincah dan segesit ini," ujar Tan Jia Li.


Ia menyadari jika dulu dan sampai beberapa dekade pun Qin Chai Jian selalu saja kalah bila bertarung untuk mendapatkan gelar baik di pelatihan maupun di mana saja.

__ADS_1


Namun, kali ini Tan Jia Li merasa jika Qin Chai Jian benar-benar luar biasa hebat dan memiliki banyak kemajuan yang membuat Tan Jia Li kewalahan. Apalagi, pikirannya bercabang-cabang antara Gu Shanzheng yang masih terluka dan semua anak buahnya yang diutus belum kembali sudah 3 hari lebih.


"Hahaha, tentu saja! Kami sudah lama ingin melakukan kudeta untuk membunuh kalian! Wajarkan jika kami mempersiapkan segala hal untuk merebut kekuasaan." Qin Chai Jian melesat secepatnya, berusaha untuk membunuh Tan Jia Li.


Tan Jia Li langsung melesat menghindari pedang Qin Chai Jian bunga api berhamburan dari kedua pedang mereka yang berlaga, di udara kosong. Keduanya melesat ke udara dengan kecepatan yang luar biasa.


"Jia'er sekali lagi aku bertanya, maukah kamu menikah denganku?" tanya Qin Chai Jian. Ia merasa jika ia masih berada di atas angin, "jika tidak! Aku akan membunuhmu. Tapi, sebelum itu aku akan memperkosa mayatmu!" seringai Qin Chai Jian.


"Tidak akan pernah! Lebih baik aku mati. Mayatku pun tak akan pernah bisa kau sentuh, Bajingan!" teriak Tan Jia Li melesat menarik satu pedang lagi dari pinggangnya, berusaha untuk menyerang Qin Chai Jian secepat kilat 


Qin Chai Jian mundur ke belakang dengan kaki menyeret tanah membuat suatu parit kecil, "Jia'er memang benar-benar luar biasa! Untung saja, aku sudah belajar ilmu dalam sekte hitam jika tidak aku akan mati cepat!" umpatnya kesal.


"Hm! Hanya segitu kemampuanmu Jian'er Sayang? Cuih! Kau ingin tahu mengapa aku selalu menolak cinta dan lamaran dari orang tuamu? Karena aku tahu, kau adalah pria bajingan yang arogan dan pengkhianat!" hina Tan Jia Li.


"Coba saja kalau kau bisa, Pengkhianat!" teriak Tan Jia Li melesat dengan cepat menyerang ke arah Qin Chai Jian. Keduanya masih saling serang dan saling menghina, namun belum ada kelihatan siapa yang lebih unggul.


***


Sementara sekutu dari Mongol, Qin, dan Changsha sudah mulai berdatangan. Benteng pertahanan Xihe sudah hancur lebur dan kebakaran di mana-mana. Penduduk Xihe tidak berpangku tangan mereka pun sudah mulai turun tangan berperang dengan menggunakan penawar racun.


"Ayo, kita bantu Jenderal Gu dan Nona Tan!" teriak kepala desa mengajak semua penduduk untuk mengangkat senjata.


Akan tetapi, mereka masih kalah dengan semua kekuatan dari sekutu Qin yang mengerikan, Qin Chai Xi benar-benar mengirimkan prajurit yang kuat dan hebat juga buas.

__ADS_1


Sementara Gu Shanzheng semakin lemah, walaupun ia telah dikelilingi para anggotanya untuk menolongnya. Namun, serangan demi serangan satu persatu prajurit miliknya telah terluka walaupun Wong Fei dan beberapa sahabat sesama tabib magang sudah berusaha untuk menyelamatkan mereka yang terluka.


"Tuan Gu, makanlah ini! Anda sudah tidak makan beberapa hari kemarin sejak Anda pingsan," ujar Wong Fei memberikan sejenis manisan.


"Tuan Wong, apa ini? Manis sekali!" balas Gu Shanzheng berusaha untuk memakannya.


"Itu adalah manisan untuk menambah darah dan tenaga, terbuat dari ginseng, gula merah, dan kacang tanah Tuan!" balas Wong Fei tersenyum melesat menolong prajurit Donglang yang terluka.


Gu Shanzheng memakan manisan tersebut dengan cepat ia menoleh ke arah Tan Jia Li yang masih bisa bertahan. Akan tetapi, seorang jenderal Mungol langsung membantu Qin Chai Jian. 


Amarah Gu Shanzheng semakin murka, "Sialan! Jika aku meninggalkan benteng bagian Timur ini, aku sangat yakin mereka akan masuk dan membobol semuanya. 


"Benteng Xihe pasti akan jatuh! Ya Dewa, apa yang harus aku lakukan? Jiq'er … bertahanlah Sayang!" batin Gu Shanzheng kalut, ia melihat Zhang Fuk di sisinya.


"Zhang Fuk! Pergilah lindungi Nona Tan! Aku baik-baik, saja! Jangan biarkan dirinya terluka apalagi sampai dia tewas!" perintah Gu Shanzheng pada tangan kanannya.


"Baik Yang Mulia, Jenderal. Aku harap Tuan Gu pun harus selamat, jika tidak aku sangat tidak yakin kalau Nona Tan pun tidak akan berbahagia, dia pun akan menderita!" balas Zhang Fuk  masih menebas memenggal kepala musuh yang berada di sisinya.


"Mengapa kau mengatakan hal itu Afuk?" tanya Gu Shanzheng bingung.


"Karena selama hampir seminggu ini, Nona Tan tidak tidur sedetik pun. Ia telah berjaga setiap waktu selain mengatur kekuatan benteng dan semua orang.


"Jenderal Tan juga sudah mengirim utusan ke kaisaran Donglang, Wuling, dan Limen Utara. Tapi, aku tidak tahu mengapa mereka belum tiba juga? Aku harap tidak ada yang akan terjadi dengan mereka," balas Zhang Fuk menceritakan segalanya.

__ADS_1


__ADS_2