
"Pedang naga hijau, kaukah itu?" Dara berusaha untuk bertelepati menembus teleportasi batas yang tak logika di benaknya.
"Grrgrr!" suara bergetar di kejauhan, memberikan bisikan seakan mengajarkan Dara untuk mengingat banyak hal di masa lalunya.
"Pusatkan pikiran dan tetapkan tujuan! Aku ingin naik ke atas untuk memenuhi kewajibanku, untuk menghancurkan Guangzhou dan sekutunya. Demi kenyamanan dan ketentraman semua orang," lirih Dara.
Ia mulai berkonsentrasi ia merasakan jika suara arwah pedang naga hijau membimbingnya. Liu Min memperhatikan istrinya berkomat-kamit bak seorang dukun membaca mantra.
"Laopo …," lirih Liu Min.
Tapi ia tak ingin mengganggu istrinya yang terkadang terlihat aneh.
Dara melesat dengan bergerak dengan kaki seakan berlari di antara dinding batu sumur terus dengan cepat bergerak ke atas, mengalahkan seekor cicak bahkan Dara berlari hanya dengan menggunakan kedua kakinya.
"Wah, Laopo! Kau hebat sekali!" ucap Liu Min terperangah.
Ia tak menyangka jika istrinya bukan wanita biasa, "Zaman sekarang ada hal begini? Aku mulai gila kurasa!" keluh Liu Min.
Ia duduk memandang ke atas melihat cahaya langit dan istrinya dengan meletakkan telapak tangan di kening untuk menghindari silau cahaya.
Semenit kemudian Dara melesat turun kembali, "Aku kira kau akan meninggalkanku Laopo?" ucap Liu Min tersenyum.
"Memang aku istri apaan? Aku hanya mencobanya, tunggu aku ulang lagi!" ucap Dara berulang kali masuk- keluar dari gua ke luar sumur.
"Nah, coba dirimu Laogong!" pinta Dara
"Hah! Bagaimana bisa?" sanggah Liu Min terperanjat.
"Pada masa lalu kamu adalah orang yang sangat hebat! Percayalah padaku." Dara mengajarkan Liu Min memusatkan pikiran dan menggunakan tenaga dalamnya.
"Itu 'kan masa lalu … jangan lupa aku adalah Liu Min masa kini Daraku sayang!" ujar Liu Min lugas.
"Hahaha, aku merasa kamu sama saja dulu dan sekarang! Aku 'kan yang lebih tahu. Bahkan, tahi lalat di pedang tumpul kamu pun tetap sama!"
"Hah! Segitunya? Wah, kamu benar-benar jelalatan saat menghisap es krim itu!" ucap Liu Min terperangah dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Um, nanti aku ingat-ingat!" goda Dara tersenyum dan terus membujuk Liu Min agar memiliki kepercayaan diri.
Hingga akhirnya Liu Min setuju untuk melakukannya dengan rayuan dari Pulau Kelapa hingga Pulau Natuna yang dilakukan oleh Dara yang tak habis akal dan kamus.
Ia mempercayai Liu Min memiliki kekuatan yang tidak disadarinya hanya saja ia tak pernah serius di dalam menjalani kehidupan. Dara melihat jika Liu Min terlalu suka bermain-main saja dan tak pernah serius.
Namun, berulang kali Liu Min mencoba ia belum juga bisa naik, "Aduh, jangan 'kan untuk naik, bergerak pun tidak!" ketus Liu Min patah semangat.
"Ayolah, Laogong! Jika kamu bisa naik aku akan melayaniku semalam penuh. Jika tidak, jangan salahkan aku jika ada pria lain yang menggodaku!" teriak Dara dari atas sumur.
"Sialan! Aku akan membunuh pria itu dan dirimu, Laopo! Jika kau berani selingkuh di belakangku!" teriak Liu Min marah.
"Bagaimana kau bisa tahu! Kau 'kan di sana terus! Aku bisa keluar masuk menemui selingkuhanku!" teriak Dara memanasi Liu Min.
"Woy! Dasar, istri zaman apa sih, ini? Awas kau, Laopo! Aku akan membuatmu tak bisa berjalan!" kutuk Liu Min murka
"Ah, Laogong … bayangkan saja jika ada yang menyentuh semangka dan kerang mentah, milikku! Apakah kau rela Laogong?" teriak Dara.
Keduanya saling berteriak seperti anak kecil, sementara Dara duduk di batu melingkar sebagai pembatas sumur dengan santainya sedangkan di dasar sumur, Liu Min berkacak pinggang dengan emosi dan amarah.
"Sialan! Aku akan membunuh kalian!" teriak Liu Min.
Ia langsung melesat naik penuh amarah tanpa harus berjalan di dinding seperti Dara. Liu Min melesat naik dan terus melambung melewati pohon-pohon pearl.
"Laogong! Turun ke bawah, apa kata orang, jika ada yang melihatmu!" teriak Dara cemas jika ada yang melihat kegilaan itu.
"Apa?!"
Bruk!
Liu Min kembali jatuh ke dasar sumur hingga Liu Min harus berulang-ulang mengendalikan tenaga dalam agar sesuai dengan yang diinginkannya.
Hingga pada akhirnya ia telah berhasil mendarat di rerumputan dengan kelelahan, Dara melesat mendekati suaminya.
__ADS_1
"Laogong! Laogong!" bisik Dara cemas, "Apakah aku terlalu keras padamu! Laogong … bangun!" Dara ketakutan ia merasa dunianya kacau.
"Aku tidak ingin kau meninggal!" Isak tangis Dara pilu, ia tak ingin ditinggal sendirian lagi tanpa Liu Min di dunia.
"Laogong, maafkan aku! Ayo, bangun! Aku hanya main-main saja berkata demikian. Aku tidak akan pernah berselingkuh. Laogong!" ucap Dara berulang-ulang kali sambil menangis.
Liu Min mengintai sedikit dari balik kelopak matanya, ia tak menyangka jika Dara benar-benar menangis, ia merasa kasihan melihatnya. Liu Min hanya ingin bersandiwara menakuti Dara karena sudah membuatnya marah.
"Woy! Aku belum mati!" balas Liu Min.
"Laogong!" teriak Dara langsung berhamburan memeluk dan menindih tubuh Liu Min.
Membuat Liu Min memeluk istrinya ia tidak menyangka jika istrinya yang serius memiliki sifat kekanakan, tegas, lembut, keras kepala, pemberani, dan penuh kejutan.
"Laopo, menikahimu aku merasa seperti menikahi 10 wanita, jangan biarkan aku menebak-nebak mana sifat yang akan kamu keluarkan," ucap Liu Min.
Ia membelai punggung istrinya, Dara mengangkat kepalanya dan tersenyum saat Liu Min menyeka air mata.
Dara bertumpu pada tangannya di dada Liu Min.
"Sayang, inilah aku sebenarnya. Sekuat dan setegarnya kami para wanita, Kami membutuhkan pria yang kuat bukan secara otot tapi, mampu mendengarkan dan menerima segala keluh kesah, tangisan, dan menyayangi kami jika kami marah.
"Menghargai kami, mengingatkan, dan memaafkan jika kami salah. Wanita begitu mudah dicintai jika kalian bisa meraih dan menyentuh hati kami.
"Kami makhluk lemah begitu kodratnya tetapi di balik kelemahan kami tersembunyi kekuatan yang tiada taranya. Jadi, jangan sia-siakan cinta dan keberadaan kami. Sekali wanita mencintai itu akan sampai mati tapi sekali tersakiti kami akan mengingatnya sampai mati. Itulah kami."
Dara menjelaskan hakikatnya sebagai wanita yang masih membutuhkan bahu untuk bersandar. Walau sekeras dan sekuat apa pun wanita terlihat ia pasti masih sering menangis diam-diam di keremangan dan sudut malam.
Wanita selalu saja mencoba tersenyum dan tertawa walaupun hatinya terluka, mencoba mengerti walaupun sering kali disalahkan.
"Baiklah aku akan mengingat semua itu, Sayang … sekarang ayo, kita cari sepeda motor itu. Jika kita terus berbaring di sini, aku takut akan menyentuhmu di alam terbuka ini.
"Aku tak ingin ada drone yang akan mempublikasikan adegan mesum kita di khalayak ramai," ucap Liu Min.
Dara beranjak dari tubuh suaminya dan keduanya melesat menelusuri rumah hingga merak menemukan sebuah gudang tua terbengkalai dan mendapatkan sepeda motor keren dan semua keperluan mereka.
__ADS_1