
Matahari sudah menampakkan kegagahannya, tapi Kamila tak kunjung datang. Ke mana perempuan satu ini? Bu Siti dan teman-teman kerja Kamila begitu bingung dibuatnya.
Warung yang semakin hari semakin ramai pengunjung karena menu makanan di sana bertambah dua masakan dan itu sangat lezat menurut mereka.
Tapi hari ini, mereka komplen karena rasa yang berbeda dari sebelumnya yang dimasak oleh Kamila.
Tangan halus itu tak biasa menyentuh perabotan dapur saat di rumah besarnya. Namun di sini, dia mampu membuat cita rasa baru dan diterima oleh semua kalangan penikmat masakan khas itu.
"Kenapa hari ini rasanya sedikit berbeda, Bu?"
"Iya, rasanya agak hambar dan kurang pas pematangannya!"
"Kemana si Mbak yang biasa melayani di sini, Bu?"
Keadaan warung menjadi sedikit ricuh karena Kamila tak ada. Dia seperti hilang ditelan bumi tanpa jejak atau petunjuk sedikitpun.
Bu Siti dan para karyawan lain hanya diam tak berkata apapun.
"Kira-kira, si Mila kemana ya, Buu? Kok gak ngasih kabar apapun sama kita!" keluh Ismi.
"Heemh, dia gak biasanya seperti ini. Apa dia ada masalah?" timpal Leni.
"Gak mungkin kan kalau dia kabur setelah gajian!" semua mata mengarah kepada Dini.
"Apa dia sudah gak mau kerja di sini lagi, karena merasa sudah punya uang banyak?!" Ismi mulai berpendapat.
"Mungkin juga itu. Menurutku sih, dia nyari kerjaan lain deh! Atau mungkin buka warung sendiri, karena merasa masakannya itu enak dan disukai banyak orang." Dini mengira-ngira.
"Menurutku sih enggak mungkin! Soalnya, Mila itu kelihatannya baik kok. Gak mungkin lah dia sengaja keluar dan gak ngasih tahu dulu Bu Siti sebagai pemilik warung. Kecuali, ada sesuatu yang terjadi sama dia. Iya kan, Bu!" bela Leni.
Bu Siti termenung mendengar perkataan ketiga pegawainya. Dia menepis semua hal buruk tentang Kamila, karena dia tahu betul bagaimana sifat Kamila meskipun mereka baru saling mengenalnya.
__ADS_1
'Tidak mungkin Kamila seperti yang dikatakan Ismi dan Dini. Pasti perkataan Leni yang benar, terjadi sesuatu sama Kamila. Oh, Ya Tuhan. Apa dia dijahati lagi sama suami dan kedua mertuanya?' batin Bu Siti.
"Ibu akan mencaritahu sendiri untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi kepada Mila!" seru bu Siti kemudian menghentikan perdebatan kecil mereka.
"Ibu tahu di mana rumah Mila?" serempak mereka bertanya.
"Tidak! Tapi kita bisa bertanya pada seseorang, kan?!" sahut Bu Siti.
Leni mengacungkan tangannya. "Leni ikut ya, Bu!"
"Kita juga," kata Ismi dan Dini bersamaan.
"Baiklah! Setelah warung tutup kita langsung kesana. Kita cari rumah Kamila dan menanyakan semua apa yang kita ingin tanyakan, untuk membuktikan dugaan kita itu benar atau salah." mereka pun setuju dengan usul Bu Siti.
'Mila, ibu harap tak terjadi sesuatu yang buruk sama kamu!' gumam Bu Siti dalam hati.
•
Sementara di rumah Riki, kedua mertua Kamila tengah berseteru karena kepergian Kamila dari rumahnya.
"Dasar bodoh. Kenapa kamu mendukung Riki buat mengusir dia? Apa kamu tidak tahu jika di luar sana seperti apa?" bentak Pak Wiryo. "Akan ada banyak orang yang memanfaatkan dia untuk bekerja dan menghasilkan uang lebih. Jika itu terjadi, habislah kita. Kita tak akan mempunyai ATM berjalan lagi!" lanjutnya kemudian.
"Aku khilaf, Pak. Aku kira Mila bakal diam dan menuruti semua perkataan suaminya, karena dia kan orangnya baik dan pendiam!" tutur Bu Nani menjelaskan.
"Kamu pikir dia itu patung yang terus akan diam jika dimaki atau digigit? Hei, ibunya Riki! Dia itu orang terpelajar dan berpendidikan. Dia akan pergi karena merasa sudah tak tahan dengan sikap kalian," ejek ayahnya.
Bu Nani mengernyitkan dahi mendengar ejekan dari suaminya. "Maksud kamu apa? Bukankah kita sama-sama memperlakukan dia dengan tidak baik, hehh! Kamu pun sama halnya dengan kami, suka minta uang kepadanya dan suka memarahinya juga. Apa perlu aku ingatkan!" balas Bu Nani.
Pak Wiryo hanya menyunggingkan sudut bibirnya seraya pergi dari sana. "Bapak akan mencari dia dan merayunya supaya kembali pulang. Mudah-mudahan dia mau pulang," ujarnya kemudian seraya berlalu dari rumah.
"Cih," Bu Nani hanya berdecih sebal.
__ADS_1
Meninggalkan ayah dan ibunya Riki yang tengah meributkan soal kepergian Kamila, yang padahal memang berasal dari perlakuan buruk mereka kepada Kamila.
Saat ini, Riki sedang berada di sebuah kamar di apartemen mewah dengan hanya mengenakan kolor boxer dan bertelanjang dada.
Kulitnya yang putih bersih dengan memperlihatkan otot-otot bisep serta dada bidangnya, mampu menyihir semua mata wanita.
Dia memang tampan, ditambah tubuhnya yang tinggi dan tegap, membuat siapa saja bisa jatuh cinta dalam sekali tatap. Namun, sifatnya yang selalu mementingkan uang dari pada cinta dan kasih sayang, membuat poin tinggi di dirinya jatuh ke angka nol besar.
Perlakuan kasarnya terhadap sang istri karena sifatnya yang lebih menyukai uang, ditambah hasutan dari kedua orang tuanya yang sama-sama gila akan harta. Riki juga memiliki masalah dengan gairahnya yang tak bisa puas hanya dengan satu wanita.
Meri adalah salah satu pemuas segala nafsunya. Baik itu dari segi percintaan di ranjang, maupun isi dompetnya. Wanita itu selalu memberikan kepuasan serta membuat senyum Riki mengembang.
Sekarang, Riki sedang tidak bersama Meri. Dia kini tengah berada di kamar apartemen seorang wanita yang usianya lebih tua di atasnya. Namanya, Susi.
Tante Susi sangat baik, menurut Riki. Wanita itu suka sekali membelikan barang berharga untuknya. Mulai dari sandang, papan, dan panganan. Semua dipenuhi Tante Susi agar membuat hati Riki dan kedua orang tuanya senang.
Dia tahu jika Riki sudah menikah, begitupun dengan Meri. Tapi, kedua wanita itu tak mempermasalahkan hal tersebut asalkan Riki tetap memberikan jatah kenikmatan malam panjang untuk mereka.
"Tante, besok aku pulang dulu ya. Bapak sama Ibuku pasti mencari," cetus Riki yang masih asyik berbaring di ranjang.
Tante Susi melirik Riki sembari menyunggingkan senyum penuh arti. Dia mendekat dan duduk di tepi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping tubuh Riki.
"Boleh. Asalkan ..." Tangannya yang nakal mengusap dada bidang Riki, dan kemudian turun ke bawah menuju benda pusaka yang selalu membuatnya menjerit keenakan.
Riki yang tahu maksud wanita tersebut segera memiringkan tubuhnya, serta mengusap pipi mulus Susi. "Berikan aku sepuluh juta! Aku ingin membelikan kedua orang tuaku oleh-oleh," pintanya tanpa tahu malu.
Susi menyeringai. "Dua puluh juta, tapi kita main sampai pagi. Setuju?!"
Riki terkekeh pelan. Tanpa menunggu lama, ia pun memulai aksinya agar Susi merasa puas dengan hasil kerjanya. Dia tahu jika hati Susi senang, maka berapa pun uang yang dimintanya pasti akan diberikan.
"Ah, indahnya hidup!"
__ADS_1
...Bersambung ......
...____&&____&&____...