
Ke esokan harinya
Matahari mulai menampakkan sinar orangenya membentuk bulat sempurana, Kicauan burung mulai terdengar, Syifa dengan malas menuju ruang dapur untuk memasak, Sudah menjadi kebiasaan sejak Ayah dan Bundanya pergi keluar negeri dan anehnya hanya Ridwan yang tau Alasannya
Bertahun tahun Mereka hidup Bertiga tanpa Ayah dan Bundanya, Terutama pada Rizky yang bersama bunda dalam Satu tahun saja.
"Dek, kamu kenapa lelet banget." Ridwan yang tak di gubris Syifa bahkan parahnya syifa sempat menguap
"Hoamm..hoaamm!"
"Dek apa kakimu masih sakit.?" Tanya Ridwan mendekati Syifa
"Udah enakan bang, Syifa ngantuk aja." jawabnya Ridwan mengernyitkan dahi
"Semalam syifa ngga tidur bang," Lanjutnya merengek bagai anak kecil
"Yaudah kita beli aja sarapan di luar." Ujar Ridwan dan di angguki Syifa
Setelah selesai membeli sarapan mereka segera menyantapnya tak lupa membangunkan Rizky, setelah selesai Syifa segera pamit untuk urusan.
"Dek Riz sama bang Ridwan, Kakak mau pergi dulu." ucap syifa di angguki Rizky
"Assalamu'alikum.''
" Wa'alaikumussalam. " Ridwan
"Ada apa dengan abang, tumben dingin emang aku ada salah ya,tapi apa." Batin syifa pada diri sendiri
.
.
.
drrt drrt Hp Syifa bergetar
GP 4A (Grup A, Asyifa, Arina, Areva, Ayunda)
Areva: gaes kit pencar aja bagi undangannya
Ayunda: iya kita ke tempat terdekat rumah aja aku lagi males jauh jauh
Me : Yee gimana sih😑
Arina: udah nurut aja
Reva,Yunda: 👍👍👍
(...)
Syifa sudah berkeliling setengah hari ,Tinggal lembar terakhir bertuliskan Pondok Nurul Qur'an seketika Syifa membelalakkan mata
"Duh nasib, Kenapa selalu urusan dengan pondok, secara gue gadis rumahan , tapi lumayanlah cuci mata ." Batinnya
"Astaghfirullah,dasar otak, Nyelesain Rumus aja susah giliran ini ck ck ck." Gerutunya
Kini Asyifa sudah berdiri di depan gerbang masuk pondok putra, sebelum ia melangkahkan kaki kanannya ada seseorang yang menyebut namanya
"Syi." ucapnya , Syifa mengembalikkan badannya senyumnya mengembang
__ADS_1
"Assalamu'alikum." Ucap dua orang yang ia kenal
"Wa'alaikumussalam." Syifa
"Ada perlu ya." tanyanya yah orang itu yang tak lain Faqih, Syifa mengangguk
"Dah lah males autan autan." Danu
Faqih dan Syifa mengernyitkan dahi
"Kenapa" Faqih
"Kalian kalo sudah berdua lupa kanan kiri." sambil melangkah pergi
"Eeee mau kemana?" Cegah Faqih
"Pergi nanti jadi nyamuk." Danu malas
"Wah wah kau hebat danu, selain bisa menggoda gadis kau juga ahli sihir ternyata." Syifa dengan polosnya
Danu sudah menggeram, Sedangkan Faqih sudah menahan tawanya
"Oo iya ini, undangan aku malas mau masuk ke dalam," Ucap syifa sambil menyodorkan amplop coklat Faqih menerimanya
"Kau hanya membagikan undangan sekolah mu, lalu kapan kau membagikan undangan pernikahanmu." Celetuk Danu
Syifa mengernyitkan dahi "Aku belum ada calon." singkat
"Nah itu di depanmu,Kau gered dia menghadap pak yai, nanti segera dibawa ke KUA." Jawab Asal Danu
Syifa kesal dengan candaan Danu sedangkan Faqih menundukkan kepala hatinya bergejolak entah perasaan apa yang ia alami tapi terdapat senyum tipis di ujung bibirnya.
"Hey kau bercanda, Mana mungkin dia mau dengan gadis rumahan, pasti levelnya hafidzah." Tutur Syifa membalas candaan Danu
"Ahhaha dari pada kau tak laku nanti." Celetuk Danu
"Yee memangnya gue sayuran hah, Kau sendiri berapa banyak buku diary mu bertuliskan nama nama dalam lembaran lembaran, wah wah pasti sudah sampai satu kardus hahahh." Syifa mengejek
Danu menggaruk kepala yang tak gatal,
"Sudah sudah kalian dari dulu selalu bertengkar." Lerai Faqih
Di kejauhan Pasang mata memperhatikan dua santri mengobrol dengan gadis berjilbab Biru pasmina dengan tunik biru dongker kotak kotak dan rok hitam,
Yah dia Fauzi yang selesai mengajar kelas anak anak, Ia terus memandangi interaksi ketiga tiganya, bukan! tapi memandang punggung gadis yang posisinya di depan Faqih sehingga yang terlihat hanya punggungnya.
"Seperti tak asing." ucap fauzi melangkahkan kaki untuk melihat sosok Sang Gadis yang menganggu pikirannya
(...)
"Baiklah aku pulang, Nanti abang Khawatir lagi." Syifa, Faqih mengangguk
" Kau masih manja dengan Kakakmu hahahh." ejek Danu
"Kau jangan coba coba bisa dapet bogem nanti." Ancam Faqih
Danu segera mengangguk sambil membayangkan kejadian beberapa hari lalu keganasan Pria Dingin Es balok menjadi Benda kristal yang tajam ia pun bergidik ngeri
Faqih dan Syifa tertawa melihat wajah pucat Danu
__ADS_1
"Assalamu'alikum." syifa
"Wa'alaikumussalam." Faqih dan Danu
Syifa yang hendak naik ke motor meticnya membalikkan posisi, Dengan bersamaan Fauzi akan melihat kejelasan dipending karena panggilan dari santri kecil
"Gus ada yang berantem." ucapnya tergesa gesa
"Baiklah kita kesana." Sambil melangkah ia menghadap arah gerbang
Di lihatnya sang Gadis sudah melajukan motornya, Dia tidak melihat jelas rupanya
"suatu saat mungkin akan bertemu." batinnya
Segeralah ia mengikuti langkah kecil, Santri kecilnya yang konon katanya ada kegaduhan di kelas.
.
.
.
Syifa sudah sampai di depan gerbang rumahnya, setelah membukanya ia segera memasukkan motornya ke garasi, Kakinya menuju pintu yang tak di kunci.
"Assalamu'alikum bang...,Dek." salamnya
Tak ada jawaban ia memutuskan untuk masuk toh juga ini rumah sendiri. Di lihatnya sekeliling rumah mencari keberadaan kakak dan adiknya, Namun Nihil hasilnya , Ia segera menuju kamar Abangnya
Niat hendak mengejutkan abang tapi dia yang terkejut sendiri karena ulah Ridwan
"Bruak...!!!" (bunyi benda jatuh)
"Beraninya dia menganggu ketenanganku, kau segera cari tau siapa dalangnya dan sekap anak buahnya di markas, " Ucap Ridwan dari balik pintu
Syifa mendengarnya hanya mematung pikirannya benar benar kemana mana, hingga akhirnya
ceklek
Ridwan terkejut melihat adiknya sudah di depan pintu dengan tatapan kosong ia mencoba tenang, berharap adiknya tak mendengarnya namun pupus sudah harapannya.
"Apa maksud kakak." Tanya syifa datar, Ridwan menelan salivanya jika sang adik sudah memanggil nama kakak pasti dia sangat serius
Ridwan hanya diam, tidak ada suara dan tak ada niat untuk membahasnya
"Jawab." Teriak Syifa tegas
Baru saja Ridwan hendak menjawab, Rizky sudah terbangun dari alam mimpinya
"Kak udah pulang ya." Ucap Rizky berhambur memeluk kakaknya lalu menariknya ke dapur, Karena sedari tadi perutnya sudah keroncongan
"Kakak masih hutang penjelasan padaku." Ucap Syifa penuh penenkanan, setelahnya ia segera mengikuti rizky.
Ridwan menghela nafas, entahlah jika berhadapan dengan adiknya ia bagaikan kutu yang siap di pites (Malang sekali nasibmu bang hehehh)
"Setidaknya masih ada waktu, untuk mencari alasan, Riz kau penyelamat Abang mu dari singa ganas itu."
.
.
__ADS_1
HAPPY READING GUYS..JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN KOMEN
TERIMAKASIH