
Ridwan menghampiri kamar Syifa dan melihat Rizky sedang di pangkuan kakaknya.
"Bagaimana ini Bang?" Tanya Syifa
"Rizky kenapa." Tanya Ridwan tetapi Rizky tak bergeming, entah apa yang ia rasakan.
_______________________
Pagi-pagi Syifa hendak menyiapkan sarapan, samar-samar ia mendengar Ridwan berbicara dengan nada dingin, kaki Syifa mengikuti kemauannya.
"Sudah kau temukan siapa pelakunya!" Ridwan.
"...." Jawab orang itu yang tak didengar Syifa.
"Dia mau main-main dengan ku hem." Ridwan
"...."
"Lakukan penyerangan ke markas tersembunyi Riko." Ucap Ridwan menahan marah.
Di sisi lain Syifa mendengar samar-samar apa yang sedang dibicarakan Ridwan, karena pintu terbuka membuat Syifa penasaran dalam hal itu.
"Apa yang neror Rizky itu Riko." Tanya Syifa pada batinnya.
"Ah sudahlah, nanti tanya Abang." Batinnya.
Syifa hendak melangkah pergi namun terurung karena ponsel Ridwan berbunyi lagi, entah kenapa Syifa mengerinyit ketika melihat Ridwan beberapa kali menarik nafas dalam-dalam.
"Assalamu'alaikum,, Bun." Ucap Ridwan.
Deg!
Bumi seolah terhenti, Syifa menajamkan pendengarannya berharap itu bukan salah dengar, Apa tadi Bun? Demi apa jika itu benar Syifa akan mengintrogasi Ridwan dengan berbagai pertanyaan.
"Ah ya kami baik-baik saja, Ayah Bunda bagaimana hem?" Tanya Ridwan pada benda pipih.
"...."
Syifa masih terpaku, Apakah itu beneran Orang Tuanya tapi mungkin Tidak lalu kenapa Abang berbicara sendiri terlebih lagi dengan sebutan Ayah Bunda. Syifa benar-benar berfikir keras.
"Heheh, perasaan ibu kali, Rizky baik kok, dia juga betah dengan pondok hemm Abang bangga," Ujar Ridwan lagi.
"...."
__ADS_1
"Bunda tenang ya,, Mungkin perasaan Bunda aja yang tidak tenang mmm Rizky baik-baik aja kok." Ucap Ridwan terlihat meyakinkan.
Syifa membulatkan matanya sempura, "Rizky baik-baik." Kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya, sungguh dalam pembicaraan Abangnya, Syifa mengerti beberapa hal yang selama ini tertutup.
Ridwan berhubungan dengan Ayah Bunda dari jauh dan terlebih lagi Ridwan bercerita jika Rizky mondok, patas saja jika dulu ia tenang-tenang saja meninggalkan Rizky mondok. Hal mengganjalnya ialah Ridwan mengatakan bahwa Rizky baik-baik aja.
Egois,,
Syifa segera melangkah dengan tatapan marah dan kecewa sungguh selama ini Ridwan diam-diam menyembunyikan sesuatu yang besar, yah Ayah Bunda nya yang ia sembunyikan.
Tanpa aba-aba Syifa merebut ponsel Ridwan.
"Bunda??" Tanya Syifa.
"Hem,,Asyifa?" Suara dari seberang.
Deg!! Syifa masih ingat suara itu, iya yang tak lain Bundanya. Ridwan masih menatap terkejut dengan hadirnya Syifa.
"Bunda Rizky Bun, dia ingin bertemu kondisi tubuhnya tidak stabil." Ucap Syifa to the point.
Entah arah dari mana ponsel Ridwan terbanting hingga berkeping-keping, jelas sekali samparan itu sangat keras. Hiks malang sekali nasib ponsel itu Ck.
Oke lanjut, kita main...
"Apa? Harusnya Abang tidak sembunyikan ini semua, Rizky butuh mereka..." Ucap Syifa terpotong.
"Mengertilah Dek, ini demi kebaikan keluarga bersikaplah dewasa." Ucap Ridwan dengan nada yang tak teratur, jujur ia kesal.
"Harusnya Abang yang mengerti, keadaan Rizky benar-benar membutuhkan Ayah Bunda, apa salahnya, lalu? Kenapa harus Abang Sembunyikan dari kita." Ucap Syifa ber api-api.
"Keluarga kita bukan keluarga layaknya pada umum Dek, musuh di luar masih banyak, belum lagi Ayah mantan mafia dan sering terkena ancam dengan geng mafia lain." Ucap Ridwan.
"Iya Syifa tau Ayah mantan Mafia, cuma Mantan kita bisa selesaikan masalah ini bersama." Ucap Syifa dengan kesalnya.
"Jangan gegabah, Mafia Amerika tidak selemah yang kau kira Dek," Ucap Ridwan yang kesabarannya sudah di ubun-ubun.
"Syifa tidak takut, hidup mati itu karena Allah dan Syifa hanya ingin melihat Rizky seperti dulu kenapa Abang itu kurang ngerti sih!" Ucap Syifa dengan nada keras.
"Abang tuh Egois!"
"Pikir kebahagiaan Rizky."
"Kenapa harus sembunyikan Ayah bunda, jelas-jelas Rizky butuh, jangan Egois." Ucap Syifa berturut-turut, ia meluapkan emosinya bahkan ia sudah tidak sadar berbicara dengan emosi.
__ADS_1
"CUKUP!" Bentak Ridwan, membuat Syifa yang menunduk tanpa air mata kini menatap Ridwan dengan mata memerah menahan tangis. Bagaimana tidak? Pertama kalinya Syifa dibentak Ridwan.
Sekuat tenaga Syifa menatap Ridwan, hingga manik hitam mereka saling beradu, sangat jelas jika Syifa melihat penderitaan Ridwan. Tanpa aba-aba Syifa berlari menjauh dia tahu bukan hanya dirinya yang menderita.
Namun Saat ini ia ingin menenangkan diri entahlah ia ingin sendiri, Syifa berlari keluar Rumah ia masih menggunakan sandal jepit. Namun ia tak peduli keadaannya sangat kacau.
Dadanya serasa sesak, "CUKUP!" Bagaimana mungkin satu kata itu membuat hati Syifa benar-benar hancur, tentu karena selama ini Ridwan bersikap lembut, bahkan sekalipun berhadapan dengan musuh intonasinya sudah berbeda.
Apa yang Syifa lakukan saat ini hanya berlari terus berlari dengan deraian air mata, ia mengusap berkali-kali.
Tes
Air mata itu tetap luruh tanpa ia minta, hatinya yang sakit kenapa matanya ikut menangis, Setidaknya menangis membuat nya sedikit lega.
Syifa berlari dari jauh tidak cukup sia-sia, ia menemukan tempat yang nyaman, setidaknya ia menenangkan pikiran. Syifa merasa bersalah juga karena bicara kasar dengan Ridwan tapi hatinya begitu sakit saat ini.
(...)
Di sisi lain Ridwan frustasi, ia mumukuli kepalanya sendiri, perasaan yang membuatnya hancur sudah di depan mata.
Brakkk (suara benda)
"Bodoh!!"
"Kenapa kau membentaknya hah."
"Arrrghhhhh."
Ucap Ridwan memukul tembok yang tidak berdosa itu, ia benar-benar di luar kendali saat itu, lebih menyesal lagi melihat manik hitam Syifa yang di rasa sudah hampir menangis.
Membuat Ridwan makin kencang memukul tembok itu, darah segar sudah bercucuran Rasa sakitnya tak sebanding dengan apa yang terjadi saat ini.
Setelah di rasa lega, Ridwan memutuskan untuk mencari keberadaannya Syifa..
.
.
.
Tunggu, apakah Rizky terlupakan?
Oke happy Reading all
__ADS_1