
Jangan Lupa, LIKE, KOMEN, VOTE😍
Masih di pesantren
Pukul 00.00 Wib Rizky masih terjaga, berkali kali ia membalikkan badan kekanan kekiri dia memutuskan untuk keluar,
"Duh gerah, ngga bisa tidur lagi, kak Syifa Rizky rindu." Gumam Rizky dikejutkan oleh seseorang,
"Ehem."
Sontak Rizky membalikkan badannya dan, "Ehh Kak Gus." tercengar cengir
"Eh belum tidur kamu." Ucap orang itu yang tak lain adalah Fauzi.
"Hem nggak bisa tidur." Ucap Rizky,
"Ayok Kakak bacain dongeng." Tawar Fauzi tersenyum senyum,
"Ah enggak.. Rizky masuk dulu Assalamu'alikum." Ngacir.
Fauzi hanya menggelengkan kepala ulah bocah kecil itu kemudian melanjutkan ke kamar.
"Huh," Fauzi membuang nafas kasar, ia segera menuju alam mimpi, entah kenapa saat ini ada yang membuatnya tidak bisa lama tidur, ia melihat jam dua kurang lima belas ia segera mengambil air wudhu, melaksanakan tahajud,
"Astaghfirullah hal 'adzim." Berulang kali melafadzkan istighfar tak lupa membaca tasbih (Subhanallah) , tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu akbar), tahlil (Laa illahaillallah).
Setelahnya ia melipat sajadahnya dilihatnya waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ada senyum tipis diujung bibirnya. Segera merebahkan diri di kasur bayangannya menuju kejadian dimana ia berusaha mengenal seorang gadis.
Flashback on
Fauzi yang tadinya mengikuti Ridwan dan Abi, kembali ke kamar Rizky, berdiri mematung di depan pintu,
"Ada apa kak." suara dari dalam membuat buyar lamunan Fauzi
"Emm itu gimana ya." Gumam Fauzi malah ganti nanya, Rizky bingung dibuatnya.
Rizky menata pakaiannya karena teman sekamarnya sedang tidak ada disana,
"Mm kakak boleh minta tolong," Fauzi ragu,
"Memangnya yang jual lontong dimana kak." Tanya Rizky
"Kok lontong." Fauzi mengernyitkan dahi,
"lah katanya tadi minta lontong." Rizky datar Fauzi menepuk kening,
"Mm heheh becandaa kak." Cengir Rizky tanpa dosa.
"Hmm."
"Memangnya tugasnya seberat apa kak, apa lebih berat dari menyelami lautan, mm atau mendaki pegunungan tapi tidak masalah karena itu tak sesulit menyebrangi jembatan Shiratallmustaqim." Ucap drama Rizky disambut gelengan dari Fauzi.
"Hm tugas ini hanya seperti mengambil bintang di angkasa." Ucap Fauzi,
"Oke Rizky siapin Roket dan Kandang." Antusias.
"Buat apa." Fauzi terheran heran.
"Roket untuk menuju angkasa dan mm kandangnya untuk mengurung si binatang agar tak kabur nanti jika ditangkap." Ucap Rizky dengan polosnya,
"Kenapa dengan binatang." Fauzi mengernyitkan kening.
"Bukannya tadi buat nangkep Binatang di angkasa, mm tunggu tunggu memangnya ada ya kak?" Tanya Rizky dengan bodohnya
"Otakmu perlu disekolahkan," Fauzi datar,
"La ragaku di pondok otakku di sekolah?Rizky nanya dulu otaknya di sekolah engga soalnya pikiran Rizky ngeblank!" Ucap Rizky asal,
"Terus?" Tanya Fauzi.
"Tadi otaknya belum pamit kalau mau sekolah." Fauzi hanya tepuk kening,
__ADS_1
"Terus?" Fauzi datar
"Nabrak, nanti tabrak lalu jatuh terus jatuh cinta." Memang Rizky kalo ngomong suka bener.
"Bintang bukan Binatang," Dingin Fauzi kesal.
"Oh" Singkat Rizky,
"Oh aja?" Fauzi benar benar pusing
"Apa yang bisa Rizky bantu, Rizky harus segera menyewa astronot." Ucap Rizky serius,
"Buat apa"
"Buat nangkep tuh bintang, biar ngga terbang." Santai Rizky.
"Sakarepmulah"
"Jadi gimana, Rizky harus apa." Mulai bicara datar serius.
"Kakak mau nitip ini sama kakakmu perempuan." Ucap Fauzi sambil menyodorkan kertas.
"Surat."
"Kakak siapa ya." Tanya Rizky sedikit menggoda.
"Jangan pura pura minesia deh." ketus Fauzi.
"Minesia mm kak, Rizky manusia kok ini kaki Rizky masih nyentuh lantai, jadi tenang Rizky bukan siluman." Rizky berlagak sok.
"AMNESIA maksudnya." Tekan Fauzi.
"Ohh kirain tadi manusia padahal memang manusia dasar ini menyebalkan," Gumam Rizky sambil mangguk mangguk.
"Karepmu karepmu."
"Baiklah sini." Rizky langsung merebut kertasya lalu membola balikkan si kertas.
Flashback off
.
.
.
Disisi lain Syifa terbangun tepat jam dua kurang, ia yang baru saja memejamkan mata kembali terbangun karena ia terus mengingat adiknya,
"Mau tahajud sedang halangan." Gumam Syifa berjalan menuju lemari.
"Dimana ya ponselku?" Tanya Syifa pada diri sendiri memang aneh, ia teringat jika dia belum menyentuh tasnya otomatis ponsel masih di tas, pikirnya.
Syifa merogoh tasnya tapi yang ia temukan adalah kertas lipatan yang menjadi misteri, teringat ucapan adiknya.
"Kak ada titipan surat, bukanya harus jam dua." Ucapan Adiknya terngiang ngiang di telinga membuat telinga Syifa gatal, Syifa melihat jam yang jarum panjang menunjuk arah sebelas untuk jarum pendek menuju angka dua, mungkin lima menit lagi.
tek! tek! ( anggap saja bunyi jam)
Syifa terus melihat jarum yang memutari setiap angka, tak lupa menerka nerka isi dari suratnya.
"Ah serasa ada titipan dari pangeran, massa iya Rizky jadi merpati hahahah, mau maunya dia disuruh ck ck ck." Batin Syifa melihat arah jarum jam tepat pukul 02.00 ia segera membuka kertas yang dilipat sejumlah empat lipatan.
"Bismillah." Setelah membacanya Syifa mengernyitkan kening.
***
**Hey Gadis berjilbab Biru
Senyummu membentuk bayangan dikepalaku
Tak hanya itu
__ADS_1
Wajahmu menghiasi pikiranku
Suaramu menari nari ditelingaku
______________
Terkadang seseorang ingin mengenal tetapi bingung entah darimana, tapi aku mulai dari sini. Surat ini**.
***
Syifa hanya membolak balikkan kertasnya
"Tanpa nama." Ucap Syifa geleng geleng.
Kertasnya ia simpan di laci nakas, kini menjadi bingung sendiri kemudian merebahkan diri di kasur empuknya seketika terlelap di alam mimpi.
.
.
.
07.00
"Syifa bangunnn!!!" teriaknya sambil menggoyang goyangkan tubuh Syifa,
Syifa yang merasa tubuhnya terguncang segera membuka matanya dan
"Gempa!!! Gempaa!!" teriaknya terlonjak dari kasurnya.
Ridwan menjewer telinga Syifa,
"Aw aw aw. Ishh!! Abang" Pekik Syifa
"Yeh di mana gempanya." Tanya Ridwan masih menjewer telinganya.
"Memangnya gempa ya bang?" Tanyanya yang membuat Ridwan yakin jika Syifa tengah mengigau.
"Dah lah males." Ucap Ridwan hendak berlalu tapi ditahan Syifa.
"Ada perawan kok bangunnya kesiangan." Gerutu Ridwan kemudian mata Syifa melihat jam dan.
"What? Really? jam tujuh ishh, Syifa belum masak, bentar bang." Ucap Syifa hendak mendahului Ridwan tetapi bajunya sudah ditarik lagi dengan Ridwan.
"Tidak usah kita makan di luar." Ajak Ridwan.
"Diluar nanti dilihatin orang dikira dapurnya dimasukin koper." Jawab bodoh Syifa.
"Huh, Maksudnya tidak usah masak kita beli saja di resto." Ucap Ridwan sedikit malas,
Syifa menggaruk tengkuk yang tak gatal
"Mm heheh ngobrol dong." Ucap Syifa tanpa dosa.
"Seterah dek." Ridwan segera berlalu Syifa memandangi punggung Ridwan tanpa berkedip, Ridwan segera membalik badan memunculkan kepalanya dekat pintu,
"Cepat mandi Abang mau ke pondok, adek ikutlah nanti bosen kalau di rumah." Titah Ridwan dan Syifa mengangguk paham setelah itu, segera bersiap.
.
.
.
Heppy Reading Maaf jarang Up karena masih ada kesibukan,
Terimakasih buat yang setia menunggu dan yang ditunggu tidak tau, Saran Kritiknya kalo ada unek unek bisa dilampiasin kok😅😅
maklumin masih amathiran jadi masih perlu bimbingan.
Salam buat keluarga aja😁😁
__ADS_1