
Setelah sholat dzuhur, masih pesantren..
Kini kakak beradik tengah berkumpul di serambi masjid, sedangkan Ridwan sudah berangkat kantor karena urusannya.
"Kakak kenapa ngga pulang aja sih." Ucap Rizky. Jangan heran dengan wataknya karena mood anak kecil berubah-ubah.
"Kamu ngusir kakak hah?" Teriak Syifa seketika para santri dan santriwati melihat arahnya, Syifa tersenyum kikuk manik hitamnya mengarah Rizky yang sudah cekikikan.
"Okey kalau begitu enam bulan kedepan kakak ngga akan kunjungi pondok lagi." Ucap Syifa ketus.
"Lahh kok gituu." Ucap Rizky sedangkan Syifa hanya melengos.
"Kak nanti kalau kakak ngga jenguk bisa bisa kurus nanti Rizkynya lalu jatah bulanan gimana, masak iya kakak mau punya adek yang kurus seperti ikan teri kerempeng gitu." Cerocos Rizky.
"Buah manggis buah tomat, plis deh bodoamat." Ucap Syifa ketus.
"Buah manggis, makan pohon Risky nangis memohon." Ucap Rizky mencibikkan bibirnya.
"Wait wait, memangnya bisa ya buah makan pohon." Tanya Syifa.
"Bisa."
"Massa iya." Ucapnya tak percaya.
"Iya beneran deh," Jawabnya dengan mimik merkurius sedangkan Syifa mengernyitkan dahi.
"Tapi beneran bo'ong nya hahhaha." Tawa Rizky.
Syifa hanya menatap datar tak berekspresi,
Kemudian ia menulis sesuatu dikertas yang telah ia sobek dari buku yang ia pegang, lebih tepatnya tanpa izin.
"Ini Kamu kasih ke kang santri." Titah Syifa sembari menyodorkan kertas.
"Hah?"
"Ck! malah bengong, ini amanah lho." Ucap Syifa.
"Kakak sedang ngeluwak ya ehh ngelawak ya?" Tanya Rizky heran.
"Serius ini dek kenapa malah bingung jadi kangkung." Ucap Syifa sedangkan Rizky menepuk kening.
"Aduhh! Kakak itu tega sekali massa iya Kang Santri disuruh bergantian membaca surat kakak." Ucap Rizky kini Syifa yang menatap heran.
"Lhoh kan ini cuma disuruh kasih ke kang santri udah itu aja kok." Kukuh Syifa.
"Iya tapii..Santri di sini puluhan kak, massa adekmu ini harus keliling kayak jualan kantor pos." Ucap Rizky panjang.
"Eh iya ya...lupa." Ucap Syifa tercengir kuda. Sedakan Rizky hanya mendelik.
__ADS_1
"Maksudnya Fau Fu Fauzi iya mm Gus Fauzi." Elak Syifa.
"Oalah Gus Fauzi toh, tapi seribu sayang, Kak Gus sudah pergi tadi." Ucapnya santai.
Deg!
"Pergi!".
" Ma-maksudnya pergi hah.?" Tanya Syifa.
"Iya dia pindah pondok kak, terus tadi nitip salam." Ujar Rizky dengan santai.
Seketika Syifa menatap datar, tetapi siapa yang tau hatinya tengah bergejolak
"Dasar Santri aneh, masih aja bersikap gila walaupun ngga ketemu,"
Rizky yang melihat mimik wajah ganda Syifa mengernyitkan kening,
"Kakak kenapa?" Tanyanya kemudian menyeruput air putih.
"Emh itu eee..Kakak ngekos di kota A jadi nanti kakak ngga jengukin kamu dulu ya." Ucap Syifa.
"Uhuk! uhuk! uhuk!" Sontak Rizky keselek.
Syifa mengarahkan air yang dipegang Rizky ke mulut adiknya itu. Setelah mereda Rizky angkat bicara.
"Kakak itu janjian ya sama Gus Fauzi, hahha memang kalian ini benar-benar jodoh ya, apa apa janjian lagi."
"Mana ada kentang ada bijinya kakak ini ngawur." Ujar Rizky, sedangkan Syifa hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Lagian Rizky tau kalian itu janjian kan, Gus Fauzi nitip salam, Kak Syifa nitip surat, adil kan? lalu kedepannya nitip undangan hahah." Goda Rizky.
"Undangan apa maksudmu?"
"Undangan campursari. Kakak itu bener polos atau los." Ucap Rizky malas.
"Yeh! lagian Adek itu masih kecil pikirannya kok nanjak mulu sih kaya jalan pegunungan." Ketus Syifa Belum sempat Rizky menyahut Ridwan sudah meleraikan perdebatannya.
"Assalamu'alaikum, Kalian ini kenapa berantem?" Tanyanya.
"Wa'alikumussalam Gapapa!" Jawab Syifa Rizky bersamaan.
"Huh!" Ridwan membuang nafas kasar.
"Ayo Fa Rizky bentar lagi ada kelas lho," Ajak Ridwan yang diajak cukup mengangguk beralih menatap Rizky yang diam.
"Dek, Kakak pulang dulu ya sekalian pamit." Ucap Syifa.
Rizky menatap Syifa lekat-lekat kemudian menyalami Syifa, memang indahnya saudara berbumbu pertengkaran tapi tak meninggalkan kasih sayang.
__ADS_1
"Kakak hati-hati semangat belajarnya." Ujar Rizky seperti orang dewasa.
"Iya kamu juga harus rajin hafalannya." Ucap Syifa kemudian dibalas anggukan.
Rizky mengantar Syifa dan Ridwan ke parkiran, yah mungkin rindunya belum selamanya terobati tapi ia tetap semangat menjalani hari.
Kadang seseorang tersenyum itu menyimpan kepedihan mendalam, sejak kecil kurang akan kasih sayang orang tuanya mungkin karena alasan tersendiri, tetapi perlu diketahui Si kecil Rizky bahkan sempat tak percaya dengan keberadaan orang tuanya.
-
-
-
Kini Mobil Ridwan sudah memasuki halaman rumahnya, Ridwan sudah turun sedari tadi kini hanya tinggal Rian dan Syifa.
Kebanyakan para asisten di luar sana membukakan pintu mobil sang tuan, tetapi di sini tidak berlaku untuk keluarga Ridwan selagi mampu kenapa tidak?
"Mm Kak Rian masuk dulu yuk." Ajak Syifa.
Lain dengan Rian seolah ia tengah bermimpi mengapai bulan ia hanya mematung tak menjawab sepatah kata pun.
Padahal tanpa disuruh pun Rian akan tetap masuk karena ada urusan juga tapi hal langkanya ialah nona muda yang sudah ia anggap sebagai adiknya yang menawarkan.
"Kak, Syifa masuk dulu ya." Ucap Syifa segera turun dari mobil.
Rian hanya melongo dan mematung, tak lama segera sadar dan menggelengkan kepalanya.
"Itu beneran Syifa, kesambet apa ya?Tumben dia berani mengajak lawan jenis." Gumam Rian segera turun mengikuti langkah Sifa.
Pikirannya terus berkecambuk memikirkan hal konyol, siapa yang tak heran dengan perubahan seseorang yang dulunya datar dan selalu menghindar kini kenal akrab.
"Apa dia sudah berubah, eh dia kan manusia ya tentu saja tak mungkin berubah jadi superindo eh superwoman mungkin." Batin Rian terus mengikuti langkah Syifa.
Seketika lamunannya buyar karena ucapan Syifa
"Lhoh Kak Rian ngapain di sini." Tanya Syifa.
"Emh ..maksudnya." Tanya Rian dengan bodohnya.
"Ini kamar aku lho..hahahah kenapa kakak melamun ya?" Goda Syifa.
Sedangkan yang ditanya hanya bergidik ngeri, tak biasanya Syifa berwatak lucon hingga dipikiran Rian hanya kesambet, kesurupan dan kebentur hingga amnesia.
"Benar-benar berbeda." Batin Rian kemudian menuju ruangan Ridwan.
(...)
Okee gimana menurut kalian..
__ADS_1
jumpa bab selanjutnya daaaa🙋🙋🙋🙋