Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Hilangnya Fauzi


__ADS_3

Satu pekan sudah berlalu, semenjak pamitnya Fauzi dan menyerahkan Syifa kembali kepada Ayah Arnold, menantu nya belum juga menjemput putrinya yang sudah benar-benar seperti orang yang tidak punya tujuan.


Sebenarnya Fauzi kemana?


"Kang santri udah jemput Syifa belum Yah?" Tanya Syifa kepada sang Ayah yang menyiapkan makan siang untuk putri dan calon cucunya.


Mungkin karena hormon ibu Hamil Syifa kalau sedang Rindu memanggil sebutan "Kang Santri" tetapi lain saat dirinya tengah terlibat masalah ia akan memanggilnya "Gus/ Kang Uzi".


" Bunda makan ya, kasian dede bayinya kalau belum makan." Ucap Annisa seraya mengelus perut Syifa.


Wanita itu mengangguk seraya tersenyum tipis, hanya Annisa harapan putrinya, dan hanya Annisa yang bisa membujuk Syifa untuk makan,


Hanya beberapa suapan saja Syifa sudah menolak dengan alasan sudah kenyang, Arnold dan Ayana hanya menatap miris. Annisa hanya sesekali memeluk sang bunda dengan air mata yang menetes lalu menghapusnya cepat. Jujur saja ia Rindu pada sang Abi tetapi, gadis cilik itu paham kondisi bundanya.


"Bagaimana bang?" Tanya Syifa dengan pria yang baru saja datang, Ridwan Muhammad Arsyad.


"Terakhir info dari anak buah Fauzi berada di titik A, dan itupun jejaknya sangat susah kita lacak. Dan...sampai saat ini abang belum menemukan Fauzi, Fa." Tutur Ridwan membuat Syifa menunduk.


Flashback on Seminggu yang lalu,


"Ayah, Kang Uzi kok belum jemput Syifa?" Tanya Syifa mengerucutkan bibirnya. "Pokoknya kalau dia nggak jemput Syifa, Syifa bakal marah." Imbuhnya membuat Arnold yang mendengar putri nya akan marah hanya menelan ludah susah payah.


Sudah menunggu berjam-jam hingga larut tetapi sayangnya hidung Fauzi tak muncul-muncul juga.


"Coba Syifa tanya sama mertua." Saran Arnold.


Alis Syifa mengerut sebentar kemudian mengiyakan.


"Assalamu'alaikum Abi."


"Wa'alaikumussalam."


"Abi, Kenapa Kang Fauzi belum jemput Syifa?"


"Loh, Fauzi belum jemput kamu? Tadi Abi sempet meminta Fauzi ke pondok kota Z dan tidak mungkin jika dia belum selesai urusannya." Ucap dari seberang membuat Syifa menutup mulut rapat - rapat.


"Se-serius Abi?"


"Iya Nak, kamu tunggu dulu, mungkin suamimu sedang ada urusan di sana. Biar nanti Abi yang gubungi Pesantren." Ucap Abi membuat Syifa mengangguk kecil.


Flashback off.


****#

__ADS_1


Suara motor dari luar membuat Syifa segera beranjak dari ranjang, senyumnya juga memudar karena yang datang hanya tetangga sebelah, ia duduk di teras menatap ke depan gerbang, berharap jika Fauzi akan datang detik itu juga.


Senyum teduh lelaki itu, dan tatapan teduhnya, Syifa benar benar rindu dengan kelembutan Fauzi dan juga gombalan receh yang terlontar dari mulut seorang Gus.


"Kamu tahu Fa, aku pernah janji sama ayah kamu agar kelak aku tidak berpoligami."


"Lalu?" Tanya Syifa dengan mendelik. Fauzi tertawa


"Bilang sama Ayah kamu, jika Syifa putri nya ini hanya ada satu di dunia. Jangankan kedua ketiga ke empat, semua tidak akan bisa mengganti kamu, ya karena kamu satu-satunya."


Bugh


Satu pukulan mendarat di bahu Fauzi dengan iringan tawa Fauzi yang memecah keheningan malam itu, malam yang di isi dengan rayuan rayuan kang santri yang membuat Syifa mengelus dada.


"Bunda?" lamunan Syifa terbuyar kala suara anak kecil itu memanggilnya


"Bunda Abi kapan pulang?" Ulangnya, membuat Syifa tersenyum getir dengan tatapan sulit di artikan.


"Abi kamu akan pulang kok Nak, kita berdoa saja ya. Agar Allah segera mengembalikkan Abi kepada kita." Ucap Syifa.


"Kamu duduk sini." Ucap Syifa menuntun anaknya duduk di sampingnya dengan senyum lembut.


"Abi Fauzi, hanya punya kita. Kita nunggu di sini dulu ya nak, nanti Abi akan pulang, pasti." Ucap Syifa membawa anak kecil itu pada harapan yang tidak tahu kenyataannya.


"Iya." Ucap Syifa mengelus kepala putrinya yang berbalut khimar. Ia juga harus janji kepada calon anaknya untuk tetap kuat.


Aku ingin cinta yang berkata. Bahkan aku masih menunggumu kang santri tak ada satupun yang memisahkan kita, Syifa yakin kelak kita akan dipertemukan kembali.


*****


"Teruskan pencarian, siapapun yang berani berurusan dengan kelompok kita. Bunuh dia!" Titah Ridwan membuat Arnold tersenyum bangga dengan putranya.


"Ayah, berita kehilangan Fauzi sudah menyebar ke pesantren dan sayangnya kejadian itu membuat para wali santri juga ikutan geger." Ucap Ridwan membuat Arnold mengerinyitkan kening


"Ayah curiga ini ulah salah satu musuh bebuyutan Ayah." Ucap Arnold menekan pangkal hidung dengan jari jarinya.


"Ulah siapa?"


"Alex."


*****


Ridwan menatap sendu ke arah sang Adik yang hanya mematung menunggu kedatangan Kang Santri nya dengan terus mengoceh bersama Annisa.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum sayang." Ucap Ridwan untuk seberang.


"Iya, aku menginap di sini. Kamu jangan lupa jagain anak-anak. Iya...yasudah aku tutup ya. Assalamu'alaikum."


Musuh bebuyutan Ayah? Alex? Ohh sekarang Ridwan ingat jika Alex berhubungan dengan Riko. Astaghfirullah Kenapa ia baru paham sekarang.


Tentu saja Alex ke sini akan balas dendam akan kematian Riko waktu itu. Ridwan menekan sesuatu di dalam ponselnya.


"Berani bermain di belakang rupanya?" Seringai Ridwan.


*****


"Syifa masuk ke rumah sayang, sudah malam." Ucap Ayana membuat Syifa hanya mengangguk kemudian menatap lurus lagi ke arah gerbang.


"Annisa kasihan nak," Ucap Ayana, benar saja Annisa sudah tertidur dengan posisi menyandar. Sehabis sholat tarawih dengan buku Iqro yang ia peluk.


Syifa mengangguk dan membangunkan Annisa dengan lembut, Annisa mengucek matanya kemudian mengangguk dan berjalan sempoyongan menuju kamar.


Langkah Syifa terhenti kala mendengar sesuatu dari arah ruangan lain. Ia berjalan menuju suara itu dengan sedikit rasa penasaran.


"Setuju." Ucap keduanya.


"Tidak!! Syifa yang akan mencari suami Syifa." Tegas Syifa membuat kedua lelaki itu menoleh.


"Syifa kita saja yang mencari Fauzi, akan bahaya jika kamu mengikuti kami." Ucap Ridwan. Membuat tangan Syifa mengepal.


"Tidak! Syifa ingin mencari Kang santri."


"Tapi..


" Besok Syifa berangkat ke kota Z." Setelah mengatakan itu Syifa berlalu dengan perasaan kabut.


Sudah cukup ia menunggu, sudah cukup ia merasa bodoh dalam menunggu. Ia harus mencari Keberadaan Fauzi, memang benar ia tengah mengandung tetapi calon anaknya sangat merindukan sang Abi.


Syifa tengah lihai menghubungi kelompok yang harus menyiapkan strategi penyerangan, harus! masa bodoh dengan larangan dari semua orang.


Ia rindu menggores pisau kepada para tangan tangan yang berani menyembunyikan Fauzi, siapa suruh membangunkan singa tidur pada siang hari? lihat saja.


"Kang Santri Syifa rindu dan Syifa akan mencari sampai ketemu." Ucapnya menatap tajam ke luar jendela yang sudah gelap.


*


z

__ADS_1


z


__ADS_2