
..."Katakan kebenaran, sekalipun itu pahit”...
...-...
...(Bukti Cinta Kang Santri)...
...-سافيرا ريسك-...
*****
“Nampaknya quwwah (kekuatan) dan jur’ah (keberanian, kegagahan, ketekunan); kekuatan hati dalam menghadapi keputusasaan; tenang, sabar, menguasai diri.”
"Maka hakikatnya, syaja’ah (keberanian) adalah salah satu pembuktian dari sikap istiqomah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya kepada setiap hamba-hamba-Nya."
Syifa mendengar penjabaran dari suara yang sangat ia kenal, dalam masjid pondok pesantren. Ia menatap dari halaman, sudah ada santriwan santriwati yang duduk sesuai pembatas.
Lelaki yang berstatus suaminya itu berdiri di atas mimbar masjid, aura wibawa dan pemimpin sebagai seorang Gus amat sangat terdapat di sana. Syifa kagum, nyaris tersindir dengan materi yang di bawa.
"Contoh nyata syaja’ah ditunjukkan oleh orang-orang beriman sebagaimana diceritakan di dalam surat Al-Buruuj yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya."
Semua terlihat tenang dan ada juga yang ngantuk-ngantuk
"Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah, pelayan Firaun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Fir’aun."
Tentu para jama'ah ikut menyimak dengan hikmat.
"Jihad yang paling afdhal adalah berkata benar di hadapan pemimpin zhalim.” (HR. Abu Dawud no. 4344, Ibnu Majah no. 4011)."
DEG..DEG..DEG
Jantung Syifa berdetak lebih cepat dari biasanya,
Perwujudan sikap asy syaja’ah dalam kehidupan ini amatlah banyak terlebih dalam konteks perjuangan dakwah. Implementasinya bisa bermacam-macam
quwwatul ihtimal (memiliki daya tahan yang besar).
Seseorang dapat dikatakan benar-benar memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar dalam menghadapi kesulitan, penderitaan, bahaya, dan mungkin saja penyiksaan, karena ia berada di jalan Allah Ta’ala.
"as-sharahah fil haq (berterus terang dalam menyampaikan kebenaran)"
Abu Dzar radhiyallahu anhu pernah diberi beberapa wejangan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam, diantara isi wejangannya adalah,
...قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا...
“Katakan kebenaran, sekalipun itu pahit”(HR. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 4737)
Lagi-lagi Ucapan Kang Santrinya yang tengah menyampaikan dakwah, sangat pas dalam posisi Syifa. Terduduk lemas di tangga masjid.
"Keterus terangan dalam menyampaikan kebenaran adalah indikasi keberanian. Bahkan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai jihad yang paling afdhal (utama), dan orang yang dibunuh karenanya disebut sebagai syuhada."
"Tidak sedikit kita melihat orang yang berdusta atau diam karena khawatir akan resiko-resikonya. Sikap ini dipilih untuk mencari jalan selamat. Atau memang ia seorang pengecut dan penakut." Ujar Fauzi lagi.
Dada Syifa kian sesak, benarkah ia akan jujur? Air mata itu merembes membasahi pipi mulus Syifa. Jujur takut dan bohong tak di benarkan.
"Dan kali ini tentang , milku an nafsi ‘inda al ghadhabi(menguasai diri di saat marah)"
"Seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu bermujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya. Orang yang bisa melakukan itu dipandang sebagai orang kuat karena kemampuannya menahan amarah."
Kata Fauzi panjang nan lebar menembus gendang telinga Syifa, apakah dirinya sanggup menahan amarah? ketika tubuh lain mengambil alih dirinya??
"Amarah dapat menggelincirkan manusia pada sikap serampangan. Ia akan kehilangan kontrol diri. Bisa jadi ia lupa diri akan sikapnya yang keliru. Sampai-sampai Rasulullah SAW. mengajarkan untuk tidak marah berulang-ulang."
"Bila masih muncul perasaan itu maka rubahlah posisi dirinya. Bila juga masih berkobar-kobar maka pergilah dan ambillah wudhu. Karena rasa marah dari setan. Setan diciptakan dari api. Dan api bisa mati disiram dengan air."
Seperti yang di sampaikan Fauzi, dan bagaimanapun manusia tidak selalu bisa menghilangkan sifat yang satu ini. Lain dengan Fauzi yang bicara tenang Syifa yang duduk di serambi merasa gusar.
"Sekian dakwah saya tentang makna Syaja'ah yakni untuk melatih kita agar senantiasa berbicara jujur." Ucap Fauzi tersenyum tipis.
"Dan buat santri dan santriwati Nurul Qur'an. Terapkan dakwah kebaikan, berusaha seperti dalil sampaikan dariku walau hanya satu ayat. Bagi saya Dakwah itu Cinta dan Istiqomah itu kesetiaan:)"
Ingat-ingatlah senandung para senior dakwah yang menggumankan
‘Di dalam hatiku selalu terdengar suara Nabi yang memerintahkan, ‘Berjihadlah, berjuanglah dan lelahkanlah dirimu’. Dan berseru, ‘Menanglah, kalahkanlah musuh dan berlatihlah jadilah kamu selamanya orang merdeka yang pantang menyerah. Hai pemberani lakukanlah karena kita punya hari esok dan harapan’.
"Wallahu a’lam bishshawwab. Sekian dari saya Wassalamu'alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam Warrahmatullah Wabarakatuh." Jawab serempak para jama'ah.
__ADS_1
****
Fauzi yang baru keluar dari pintu masjid, setelah seluruh santri juga melanjutkan aktifitas. Kini ia mengerutkan kening. Sesaat tak yakin bahwa wanita yang ada di serambi masjid itu adalah Istri.
Wanita itu bergamis dan menyembunyikan kepala di kedua lututnya. Fauzi ragu tapi firasat jika itu istrinya semakin kuat kala yakin dengan lingkar cincin di jari manisnya.
"Fa?" Ucapnya membuat Syifa terlonjak.
Nyaris hampir berguling-guling di tangga depan masjid itu. Kalau saja Fauzi tidak segera menariknya, bisa jadi bahan tontonan.
"Astaghfirullah!!" Pekik Syifa menetralkan detak jantungnya.
"Hati-hati." Ucap Fauzi ikut duduk di samping Syifa, ia memandang Syifa dari samping yang memegangi dadanya sendiri.
"Kenapa?"
"Deg-deg an Kang." Jawab Syifa apa adanya.
"Jatuh cinta mungkin." Jawab Fauzi bercanda membuat Syifa memicingkan mata ke samping.
Mana ada jatuh cinta!??
"Hampir, jatuh dari tangga Kang, bukan jatuh cinta." Ucap Syifa membuat Fauzi terkekeh pelan, kan dia sudah bilang Istrinya ini masih polos.
"Emang rasanya hampir jatuh dari tangga itu gimana?" Tanya Fauzi ia menselonjorkan kakinya diantara tangga masjid. Sembari menatap Syifa di sampingnya yang juga menatap dirinya.
"Ya Deg-deg an ini." Ucapnya lagi.
"Jatuh cinta juga Deg-deg an kok Fa, buktinya aku kalau di dekat kamu selalu Deg-deg an.."
Bug
Satu pukulan sebal mendarat di lengan Fauzi, tapi sang empunya malah tertawa sampai membawa banyak pasang mata ikut menatapnya heran. Gus pondok lagi gak waras mungkin terlintas begitu di otak mereka.
"Suamimu kesakitan ini Fa." Ucap Fauzi membuat Syifa mendelik tajam
"Kang santri lebay." Ucap Syifa membuat mimik Fauzi yang tadinya gesrek kembali terlihat datar layaknya papan triplek, sedingin kulkas pintu seribu. Ah Syifa jadi kedinginan.
"Ikh jangan diam terus Kang, Syifa kan jadi takut." Ucap Syifa menunduk.
"Memangnya muka Gus mu ini mirip gorila ya? sampai Ning Syifa ketakutan?" Tanya Fauzi menaik turunkan alis.
"Udah ah, Kamu bercanda mulu." Ucap Syifa menatap lurus kedepan, sebenarnya otaknya berfikir keras bagaimana ia bisa jujur dengan Fauzi tanpa harus ada perang dunia.
Atau hanya bisikan syaiton yang membuat Syifa terbanyang buruk soal Fauzi jika mengetahui kebenarannya??
"Kabar Ayah Bunda gimana?" Tanya Fauzi membuat Syifa gelagapan.
"Eh!..Alhamdulillah baik kang baik." Ucapnya membuat sedikit perasaan selidik dari Fauzi.
"Lagi ada masalah ya?" Tanya Fauzi.
"Eng- Gak Kang enggak." Jawab Syifa menunduk. Fauzi mengangguk-angguk.
"Gak percaya."
DEG.
"Se serius Kang.. Syifa baik-baik aja kok." Ucap Syifa netra lekat itu ketemu hingga membuat Syifa tak kuasa untuk mebendung lagi hal yang selama ini ia sembunyikan. Buru-buru ia menunduk dalam, tangannya memilin ujung jibab.
Belum sempat Fauzi mengatakan sudah ada Ustadz Rizal yang memanggil..
"Gus!!! Bantu sini Gus." Ucapnya membuat Fauzi mengangguk dan menunjukkan jempolnya.
Ia beralih menatap samping, ada Syifa yang menunduk. Rasa penasaran semakin tumbuh besar dari benak Fauzi.
Ada apa dengan kamu Fa?
Suara Ustadz Rizal kembali meraung layaknya ibu-ibu tukang sayur yang mengharuskan Fauzi segera beranjak.
"Kalau kamu ada apa-apa bilang ya Fa. Aku masih suami mu kan." Tepat kalimat itu terlontar, kemudian.
Deg..
Cup..
Tes
__ADS_1
Tes
Katakan Syifa cengeng, ia diam tak bergeming. Fauzi tidak lagi ada di sampingnya setelah mengecup ubun-ubun Syifa yang berbalut hijab. Sepersekian detik Syifa berlari cepat tanpa peduli jika menabarak ustadzah yang membawa banyak buku.
Keduanya tersungkur,
"A-afwan Ustadzah." Dengan tangan bergetar dan menunduk dalam, Syifa memungut buku bersama Ustadzah tadi.
Aku masih suami mu kan, Fa?
Kalimat itu terus memutari otak Syifa, hingga selesai membantu Ustadzah ia terus kembali berlari.
Aku masih suami mu kan, Fa?
Sementara tak jauh dari kejadian itu, Fauzi sempatnya terkekeh ia berfikir jika Syifa malu karena dirinya menciumnya di tempat umum.
"Terus bersamaku Fa, sampai maut yang memaksa untuk berpisah." Gumamnya seraya tersenyum.
"Tebar kemesraan di kalangan umum dosa Gus, lebih lagi di hadapan Ustadz Fikri yang masih jomblooo." Ucap Ustadz Rizal menepuk pundak Fauzi yang berdiri kikuk.
"Kenapa jadi saya to tadz?!" Sungut Ustadz Fikri.
"Loh bener kan sampeyan masih jombloo..JOMBLO." Ucap Ustadz Rizal dengan senyum tengilnya.
"Ustadz di kamar ada kaca?"
"Ada."
"Ngaca!!" Ucap Fikri tersenyum menang, ia segera berlari sebelum Ustadz Rizal melemparnya dengan panci.
Fauzi geleng-geleng dengan kedua Ustadz yang sangat tidak akur itu.
"Gus jangan tersenyum." Cetus Ustadz Rizal.
"Sebelum tersenyum dilarang, Ustadz.." Ucap Fauzi tersenyum-senyum dan menunduk.
"Carikan saya istri lagi." Ucap nya membuat Fauzi mengangkat alis sebelah.
"Saya beristri masih dibilang jomblo sama Ustadz Fikri. Apa saya harus seperti sampeyan dulu Gus??" Astaghfirullah Ustadz Rizal ini sebelas duabelas kayak sifat Rizky kalau lagi merajuk.
"Mboten Ustadz, Kun Anta mawon. Kalo jodohnya Ustadz ada sepuluh dan Istri mengizinkan ya monggo saja." Ucap Fauzi terkekeh melihat Ustadz Rizal mendengus kesal.
"Kalau Gus gak mau cari lagi?" Tanyanya.
"Satu lebih dari cukup Ustadz." Jawab Fauzi simpel.
"Kalau ada yang lebih cantik dari Ning Syifa?"
"Insyaallah Ning Syifa paling cantik di mata saya setelah Ummi." Ujarnya lagi.
"Diantara 5,6 milyar wanita, kenapa pilih Ning Syifa." Tanya Rizal lagi suka-suka Gus to tadz. Istri juga istrinya Gus ngapain repot-repot jadi reporter??
"Karena...Syifa satu-satunya perempuan yang Allah pilihkan untuk saya, dari banyaknya milyaran wanita, hanya Syifa." Ucap Fauzi sudah seperti aktor dadakan.
Ustadz Rizal dengan lebaynya menjatuhkan dirinya di kursi kosong di sana. "Klenger saya Gus." Ucap Rizal dengan badan melemas yang di buat-buat.
"Kenapa?"
"Kalau saya jadi Ning Syifa mungkin udah di bawa terbang ke langit tujuh." Ucapnya mendramatisir. Sontak Fauzi membacakan ayat kursi untuk Ustadz itu.
"Sudah-sudah Tadz, ayo selesaikan ini keburu hujan." Ucap Fauzi yang di angguki oleh Rizal. Keduanya mulai mencabut rumput-rumput di sana.
*
z
z
^^^Banyak Typo.. ^^^
^^^Cuma mau bilang, bedakan Real life dan dunia halu. ambil hikmah baiknya aja. ^^^
1657 kata.
Masih menarik enggak?😂
aku sih gak yakin..Tapi pengen cepet udahan wkwkw.
__ADS_1
...Syifa masih bimbang huhuhu. Sama kayak author yang pengen nanya 'Ini masih ada yg pengen dilanjut?"...
Ldr dulu ma BCKS ehh!!😅