
Pagi hari..
"Assalamu'alaikum, Istriku aku mencintaimu."
Batin Fauzi ketika melihat istrinya masih terlelap.
Syifa mengerjap mengumpulkan setiap nyawa yang sudah melayang di negara-negara lain, tatapan pertama jatuh kepada Fauzi yang memandanginya.
Deg.Deg.
"Aku mencintaimu." Ucap Fauzi,
Blushh
Syifa membenamkan kepalanya ke dalam selimut, ia malu. Setiap pagi Syifa selalu mendapat ucapan itu namun malah membuatnya malu setengah terbang, sepertinya dia butuh avtur biar gak mogok.
"Pulang jam berapa?" Tanya Syifa masih di dalam selimut, tanpa mau melihat Fauzi.
"Jam sebelas." Jawab Fauzi tangannya membuka selimut yang menutupi kepala Syifa, tanpa balutan hijab.
Yah semalam Syifa tertidur, Fauzi yang habis pulang ceramah tidak tega membangunkan istrinya, hingga memutuskan untuk menggendong bidadarinya ke kasur. Tidak biasa Syifa tertidur sebelum Fauzi pulang.
"Sudah yuk, malu-malu nya disambung nanti ya. Ayo persiapan subuh, aku mau ke masjid." Goda Fauzi tersenyum-senyum.
"Hm." Singkat.
Fauzi mengerinyit tapi tak ambil pusing atas ke aneh an istrinya, ia segera siap-siap berangkat ke masjid.
"Aku berangkat, Assalamu'alaikum istriku." Pamit Fauzi, sedangkan Syifa mencium tangan suaminya. Namun jika biasanya Fauzi mencium kepala Syifa yang berbalut mukena, kini tidak ia lakukan karena takut sudah iqomah.
"Wa'alaikumussalam." Ucap Syifa lesu, memandang punggung Fauzi yang sudah menjauh.
Syifa melakukan sholat subuh dan membaca Al-Qur'an, Sesudah usai subuh, pintu di ketuk oleh Fauzi, munculah Syifa yang berbalut mukena putihnya.
"Assalamu'alaikum Istriku." Ucapnya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Syifa mencium tangan Fauzi dan menatap suaminya dengan penuh binar, seolah ada yang ia inginkan.
Namun lagi-lagi Fauzi berjalan dahulu ke sofa, mendudukan dirinya, ia cukup lelah. Lain dengan Syifa yang sudah kesal menghentakkan kakinya dengan kencangnya, Fauzi memutar kepalanya 90° melihat Syifa yang mengerucutkan bibirnya.
"Dek, sini." Ucap Fauzi menepuk sofa di sampingnya, artinya Syifa harus menurut.
Bug!
Lagi-lagi Fauzi mengerinyit heran sekarang lihat, Syifa yang duduk di ujung sofa dan Fauzi juga di ujung sofa, sudah seperti musuh pada umumnya.
"Dek sini." Ucap Fauzi menepuk sofanya.
"Hm"
"Fa, duduk sini."
"Hm."
Fauzi hanya menggaruk tengkuk, namun ia ingin melihat kenapa istrinya marah? perasaan pagi tadi baik-baik saja kok. Lalu ini?
"Katanya mau jadi istri sholehah, tapi kok..." Belum sempat Fauzi menyelesaikan dialognya, Syifa sudah menggeser dirinya ke tengah-tengah jangan lupa wajahnya yang sudah di tekuk-tekuk.
Fauzi tersenyum puas namun juga heran melihat istrinya merajuk, dia salah apa Ya Allah?
"Istriku kenapa hem?" Tanya Fauzi yang sudah menggeser tubuhnya mendekat Syifa, menepis jarak yang terbentang walau hanya 5 cm. Gini nih bucinnya Fauzi.
"Gak tau." Ketus Syifa.
Fauzi mengulas senyum, sabar ya Allah sabar, sudah kemarin-kemarin ini istrinya marah tanpa sebab, ia juga tidak membicarakan lagi tapi untuk kali ini Fauzi tak ingin rajukan Syifa menjadi momok di hidupnya. Syifa adalah hidupnya, nafasnya.
"Saya nanya, istriku yang satu ini kenapa hem?" Tanya Fauzi mencoba sabar.
__ADS_1
"Apa? yang satu? atau jangan-jangan kang santri udah punya istri lainnya di luar hah, hiks hiks." Ucap Syifa menepis tangan Fauzi yang menyentuh punggungnya.
"Ha? saya salah ngomong ya?" Batin Fauzi melongo saja dengan kelakuan istrinya. Sabar lagi jadinya.
"Hey kenapa nangis hem? Syifa adalah satu-satunya kok gak ada duanya suer," Ucapan Fauzi sambil menunjukkan jari tangan berhurup V dan senyum pasta gigi.
"Auk ah sebel." Ketus Syifa membelakangi Fauzi sambil bersedekap tangan di depan.
"Astaghfirullah kamu salah apa lagi zi?" Lagi lagi sabar dan lagi sabar.
"Dengerin akang," Ucap Fauzi membalikkan badan Syifa dan mengusap air mata yang keluar tanpa tahu alasannya.
"Kamu (mencubit hidung Syifa) adalah satu-satunya milikku, dan hanya Fauzi yang punya tidak ada yang lain, begitupun aku..Hanya Syifa yang punya, iya Asyifa Nur Fadilla." Ucap Fauzi menangkup wajah Istri. Uh ustadz yang terlihat kalem di kalangan umum, kini bucinnya melebihi anak remaja apa kata dunia coba?
Syifa jadi terbang kan, ia menatap Fauzi dengan teduh dan berkaca-kaca.
"Jadi katakan kenapa istriku ini marah dan menangis." Tanya Fauzi.
Syifa menunduk, pipinya memanas begitu saja.. Namun hal itu membuat Fauzi beberapa kali beristighfar. "Ya Allah Astaghfirullah sabar zi, nanti malam aja ya."
Masih dengan acara tatap menatap,
"A-ak-ku belum,,,di-ci-um tadi." Ucap Syifa menunduk terbata-bata, ia malu sebenarnya namun ingin rasanya kecupan manis suami halalnya.
Fauzi? mengaga tak percaya!! Hanya karena belum di cium istrinya marah-marah, Ayo dik kita lanjutin yang lebih seperti itulah batinnya Fauzi.
Cup
Kecupan Fauzi mendarat sedikit lama di kepala Syifa yang berbalut mukena putihnya. Baru saja ingin melanjutkan aksi yang lebih, Syifa malah berdiri tanpa dosanya dan melenggang begitu saja.
"Dia pergi tanpa tanggung jawab." Astaghfirullah sabar Zi, orang sabar rejeki jembar InsyaAllah. Batinnya meronta.
__________________
Syifa dan Fauzi sudah menuju ke pesantren, Yah selama ini Syifa sering ke pesantren membantu Ummi Fatimah,
"Wa'alaikumussalam." Jawab Ummi Fatimah, menyalami putra dan menantunya.
"Masuk dulu yuuk." Ajak Ummi merangkul Syifa.
Fauzi mengekor dua wanita hebat di depannya ini, Ia sangat bersyukur di kelilingi orang-orang dengan penuh perasaan cinta.
Nampak Kiyai Hakim baru keluar dari kamarnya, Syifa dengan perasaan binar menemui Abi dan mencium tangannya.
"Eh ada menantu Abi." Ucap Kiyai Hakim.
"Abi aku pengen dibelikan air kelapa muda." Ucap Syifa dengan tampang binarnya dan jangan lupa dengan puppy eyesnya.
Fatimah dan Fauzi saling menatap heran, Ya Allah ekspresi Kiyai Hakim setengah kaget karena biasanya tidak ada yang berani meminta sesuatu padanya kecuali Fatimah, lah ini?
"Ehem, Dik Syifa kamu minta sama akang saja ya?" Tawar Fauzi, membuat Syifa menatap tajam dan menusuk.
"Kang santri panjatin mangga sana, jangan ganggu adik." Ucap Syifa menatap Abi lagi sedangkan Abi Hakim menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ha?" Apa tadi Syifa bilang? Fatimah menatap Fauzi dengan penjelasan.
"Istrimu kenapa?" Tanyanya.
"Zil nggak tahu udah dari kemarin dia begini," Ucap Fauzi berbisik-bisik.
"Tunggu, dia tadi minta mangga muda kan? atau jangan-jangan..." Ucap Ummi Fatimah menutup mulutnya dan tatapan binar. Fauzi masih dengan tampang lola nya.
"Kenapa Ummi?"
"Atau istrimu sedang ber isi." Bisik Fatimah lagi. Sedangkan Fauzi masih dengan Loading lama nya.
"Isi? Ummi, perut Syifa belum ke isi sama sekali kok serius." Fauzi.
__ADS_1
"Huh memangnya kamu tahu zil? kan belum di cek." Tanya Fatimah dengan bisikannya lagi.
"Tahu to mi, jelas-jelas Syifa tadi belum sarapan jadi mana sempet perutnya ke isi." Bisik Fauzi dengan memandang istrinya yang menarik-narik tangan Abinya.
"Hadehh." Batin Fatimah menepuk keningnya.
"Kamu itu kalo polos jangan los los gitu to le, Massa belum peka juga." Ucap Ummi.
"Peka apa to mmi?" Tanya Fauzi.
"Hadeh, mungkin bentar lagi kamu jadi seorang Abi." Jawab Ummi dengan binarnya, Hal itu masih di dengar Kiyai Hakim namun tidak dengan Syifa.
"Tapi, Kenapa Abi dimintai kelapa muda?" Tanya Fauzi dengan tampang bodohnya.
"Mungkin biar abi mu terlihat muda lagi hihi." Ucap Ummi tersenyum-senyum, namun terdengar oleh Kiyai Hakim hingga tatapannya mengarah tajam ke Umminya.
"Hihihi." Fauzi juga tersenyum melihatnya.
"Ummi?" Kiyai Hakim.
"Maaf abi." Ucap Ummi Fatimah dengan menunduk-nunduk.
Fauzi menatap Syifa yang merengek ke Abi Hakim, jelas terlihat Abi Hakim memberikan beberapa pengertian kepada menantunya, dengan beribu-ribu alasan. Namun malah membuat Syifa semakin gencar meminta ke Abi.
"Apa ini ya alasannya? tapi kalo tiap pagi minta cium Alhamdulillah hihi." Batin Fauzi tersenyum-senyum penuh arti.
"Kenapa senyam-senyum." Ucap Syifa menatap Fauzi datar, sedangkan yang di tatap jadi salting sendiri.
ا
ب
ت
DI BACA,
Ini tentang novel BCKS aku tuu buat novel ini hanya sebatas halu kok murni dari pikiranku sendiri,
Aku aja nggak nyangka kalo ada yg mau baca awal sampai akhir walaupun banyak pake mode kalem aja, pembacapun dah sampai 8rb an tapi yg like cuma..ehem😂
Aku tu masih pelajar walaupun bentaran lagi lulus, (17thn)menuju 18 nanti juni tgl 18-2021 yang dari jateng mana? hehe, atau Alhamdulillah kalo ada di luar jateng, salam kenal semuanya.
Ini tentang BCKS , Kisah dari seorang santri tapi bnyak adegan di rumah, ya karena ini author bukan santri, yg penasaran author ini santri? jawabannya
Aku Bukan Santriwati koo, cuma gadis desa biasa, yang kagum akan santri yang ingin merasakan menjadi santri. Jujur aku tahu yg namanya santri itu pas kelas 9 MTs karena ada pondok baru di sana hehe.
Yang dari kalangan santri/wati aku pengagum kalian😘😍😍apalagi tahu kalo yang namanya GUS itu sebutan putra kiyai hadehh itu baru waktu kelas 10, astagaa.kudet sumpah.
Di novel BCKS itu konfliknya kayaknya gak ada deh, nyaris ada tapi nggak kelihat ya karena aku nggak pandai buat alur cerita itu aja masih ambrul adul gitu. makanya sy sering nanya apa sih yg buat kalian bertahan di novel ku??
Dan untuk genre Action itu hanya tentang author juga yg suka banget sama adegan mafia atau bela diri gitu..
Cerita BCKS ini dah tamat karena sebelumnya author dah ancang" dan merekayasa jika alurnya sepersekian (part50) tapi nyatanya karena dukungan kalian jadi panjang gini.
Dan Kalian minta di panjangin lagi kan?
BIG NO! hehe aku nggak suka halu pjg lebar kali jajar genjang, hadee apa lagi pikiran ku ini masih 1+1 \= jendela. Udah ngetik tambah halu kadang" otakku buntu juga.
Tapi tenang, Untuk yang minta cerita Abang Ridwan aku bakal kabulin kok,
Penasaran bang Ridwan?? ada dari kalian yg pengen langsung ke kisah Ridwan, tapi mohon maaf, aku mau selesain Beberapa Ekstra part dulu di S.F, entah setuju enggak nya yg penting halu ku terpenuhi gitu.
Jika cinta Syifa tentang menunggu tanpa kepastian lalu, bagaimana dengan kisah Bang Ridwan? aku bakal nyamar berusia 25 tahunan deh biar nyandak nge part critanya. Untuk Rizky? ya nunggu waktu aja.
Kalian mau kisah yang mana?
Ridwan atau Faqih? kalo dua-duanya aku gak bisa
__ADS_1
buat satu judul ,,,for dua orang sulit rasanya.