
Heppy reading, di kisah S.F
Semangat menunaikan ibadah puasa.
SF gak pengen di utamakan kok ehe
Yang penting Baca Qur'an
Siapkan komen ter the best😘
**
zzz
***
"Syifa kok pucet gini?" Tanya Khawatir dari Fauzi, membuat Syifa yang di hadapannya hanya memalingkan muka.
Tangan lemas itu bergerak mendorong tubuh Fauzi yang ada di hadapannya.
"Syifa nggak mau liat kang santri, sana pergi." Ucap Syifa menutup mulut lagi. Fauzi mengerinyit heran.
"Loh kok?"
"Syifa lemes, pusing, mual...liat kamu kang, mending kang santri pergi deh." Rancaunya membuat Fauzi mengaga. Ya Allah ini kok?
"Fa, jawab dulu kamu kenapa?" Tanya Fauzi.
"Pokoknya pergi dulu, Syifa mu..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Syifa kembali berlari ke kamar mandi.
Fauzi mengerinyit heran, setelah itu dia sedikit membulatkan mata. "Syifa bulan lalu belum dapet. Wah tanda-tanda ini.." Gumam Fauzi sumringah, bahkan ia melupakan titah Syifa yang memintanya pergi.
Fauzi berdiri depan kamar mandi dengan wajah sumringah, Syifa yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap heran.
"Fa, kamu isi?" Tanya Fauzi membuat keningnya Syifa semakin berlipat.
"Ck, kamu satu bulan sudah ngga dapet kan?" Tanya Fauzi lagi-lagi Syifa hanya mengerinyit bingung.
"Syifa isi?" Tanya ulang Syifa loading. Ya Allah sabarkan Fauzi.
Tangan Syifa menyentuh perutnya yang masih rata, spekulasi buruk muncul dalam pikiran Syifa tentang Fauzi.
"Kalau Syifa isi gimana? puasa Syifa hari ini batal hikss..hiks.." Tangis Syifa pecah, Yarabb ampuni bunda langka satu ini, harusnya Seneng kok malah nangis!
Fauzi langsung memeluk Syifa dengan lembut, ia fikir jika Syifa benar mengandung calon anaknya marah karena dirinya mendiamkan bundanya selama 3 hari.
"Ssussttt.. tenang Fa, aku tanggung jawab kok pasti." Aneh, Fauzi sudah seperti tersangka yang menghamili anak orang, ck.ck
Kini Syifa mendorong lagi tubuh Fauzi ia tak suka Fauzi yang memakai parfum, "Mandi dulu sana, bau." Ucap Syifa membuat Fauzi hanya menuruti, ia hanya berharap jika istrinya benar mengandung, tapi ia tak boleh berharap lebih. Takut Syifa tersinggung.
Setelah keluar menggunakan setelan kaos dan juga sarung, Fauzi berlari mendekap Syifa yang mendadak limbung.
"Fa??" Panggil Fauzi membuat Syifa hanya menyipit sebentar kemudian terpejam. Tubuhnya lemas, ia fikir itu karena dirinya yang kurang asupan makanan.
__ADS_1
******
Bahaya akan datang dari mana saja, kita tidak bisa memprediksi suatu masalah kecuali jika tidak memulai atau korban. Masalalu adalah masalalu dan akankah masalalu hadir lagi di masadepan.
Sosok pria sangar berpawakan berotot dan tato dengan kaos oblong tengah memandang seluruh gedung tinggi, Hotel yang ia tempati sejak tadi pagi. Dengan tangan mengepal dan juga rahang mengeras.
(Dering ponsel)
"Hm. Saya tidak menerima informasi tak guna lagi." Suara berat.
"...."
"Really?" Ujarnya setelah mendapati informasi dari seberang membuat senyum smirk tercetak di sana, lelaki itu sesekali menghisap rokok.
".... ...."
"Good job." Ujar si pria lagi dengan menyunggingkan senyum.
"... ..."
"Awasi terus. Kita akan lakukan penyerangan." Titah sang bos seketika mematikan sambungan sepihak.
Tangan berotot itu mengambil sebuah bingkai, dimana anak berusia 13 tahun dan dirinya tengah tersenyum menghadap kamera. Senyum lepas bertahun-tahun lalu membuat dirinya mengepal tangan kuat.
"Let's play girl."
Sebuah Dokumen beserta keterangan yang baru di kirim oleh pengawal.
"Siapkan strategi, segera datang ke markas."
*****
Syifa mengerjab kala merasakan kecupan halus di seluruh wajahnya nyaris ia merasa tengah ngelindur. Sedangkan perlahan mata itu terbuka menampilkan Fauzi yang tersenyum seraya terharu. Tatapan mata lembut dan penuh cinta.
"Sayang."
Deg.
Alasan Syifa tidak pernah mau di panggil nama kesayangan oleh Fauzi karena jantungnya akan mendadak mengalami kelainan, dan Syifa nggak mau itu terjadi.
"Terimakasih." Ucap Fauzi lagi, melupakan panggilan sayang, Syifa mengerinyit heran.
"Sebentar lagi Annisa bakal punya adik." Ucap Fauzi lagi.
"Ha?" Syifa hanya belum mencerna.
"Iya Adik, kamu hamil sayang." Ucap Fauzi membuat Syifa terheran-heran.
"Alhamdulillah."
__ADS_1
Seorang dokter muda nan cantik berhijab itu memasuki ruang Syifa yang tadi di periksa. Syifa dan Fauzi hanya tersenyum.
"Selamat Pak, Buk atas ke hamilan pertamanya." Ucap sang dokter.
"Hamil ke dua dok." Ucap Syifa terkekeh, membuat dokter itu sedikit tersenyum ia mengira jika Syifa belum memiliki anak. Terlalu muda memang.
"Saya kira ibu belum punya anak, masih muda soalnya." Kata sang dokter membuat Fauzi dan Syifa saling pandang.
"Eumm dokter apa saya masih bisa berpuasa? "
"Sebenarnya, ibu hamil tidak diwajibkan menjalani puasa Ramadhan apabila merasa tidak sanggup atau khawatir terjadi sesuatu pada janin yang tengah dikandungnya.
Beberapa hasil penelitian ada yang mengungkapkan bahwa ibu yang menjalani puasa saat hamil dapat berisiko membuat bayi lahir prematur. Selain itu, ada risiko bayi lahir dengan bobot lebih rendah dibanding dengan ibu hamil yang tidak berpuasa.
Risiko tersebut tergantung pula pada kondisi kesehatan ibu hamil secara keseluruhan.
Selain itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai risiko puasa saat hamil muda bagi ibu hamil dan sang janin.
"Puasa saat hamil muda, aman atau tidak?" Tanya Fauzi lagi, usia kandungan Syifa baru dua minggu lebih.
"Umumnya, saat usia trimester pertama kehamilan (1-13 minggu), ibu hamil akan mengalami serangkaian keluhan kehamilan yang wajar terjadi."
"Mulai dari mual, muntah, lemas, pusing, tidak nafsu makan, serta tubuh ibu hamil yang masih terus beradaptasi dengan perubahan hormonal."
"Jika memaksakan diri untuk puasa saat hamil muda dengan kondisi tersebut, dikhawatirkan dapat membahayakan kondisi kesehatan Anda dan janinnya. Mual dan muntah secara berlebihan yang Anda alami pada trimester awal kehamilan bisa menyebabkan dehidrasi."
Ucap sang dokter membuat Syifa menunduk lagi.
"Kondisi kekurangan cairan tubuh pada ibu hamil bisa memengaruhi fungsi kerja ginjal dan jumlah cairan yang mengelilingi bayi. Sementara, pada janin bisa menyebabkan kurangnya nutrisi yang masuk."
Beberapa sumber menyatakan bahwa puasa saat hamil paling aman dilakukan saat usia trimester kedua kehamilan (4-7 bulan).
Pasalnya, usia kehamilan kurang dari 4 bulan dikhawatirkan masih rentan terjadi keguguran, sedangkan lebih dari 7 bulan biasanya ibu hamil sering merasa lelah sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak.
Syifa mangguk-mangguk, Bu dokter memberikan vitamin untuk nya.
****
Buka puasa berdua gagal, tapi Allah menggantikan kebahagiaan kepada keluarga kecil itu.
"Annisa pasti seneng." Ucap Fauzi di sela menyetir, Syifa mengangguk sembari mengelus perut yang masih rata.
"Ya Allah, Engkau masih memberi kepercayaan kepada Sifa. Tapi kenapa perasaanku Syifa gak sebahagia saat mengandung annisa."
*
z
Dont Forget to like commend and votenya guys.
Terimakasih masih mendukung Kisah S.F.
terimakasih
__ADS_1