
Aku ada ide..!" Ucap Danu membisikan Faqih dan tersenyum senyum.
"Gimana?" Tanya Danu menaik turunkan alis Faqih masih berpikir.
"Alah ngga usah ikutin playboy nanti ikut masuk kandang buaya." Celetuk Ridho, Sedangkan Danu mengerucutkan bibir.
.
.
.
Ujian
Hari ini Seluruh sekolah mengadakan Ujian jadi kelas 10&11 Belajar Di Rumah, Syifa masih setia membuat sarapan.
"Dek sarapannya uda?" Tanya Ridwan
"Udah ini." Sambil menuangkan nasi ke piring Ridwan, Kemudian beralih ke Rizky.
Hanya ada suara sendok dan garpu , Belum selesai Rizky angkat bicara
"Kak, Bang, Rizky mau mondok." Ucapnya santai sembari mengunyah makanan lagi.
"Uhuk uhuk uhuk." Syifa/Ridwan seketika tersedak lalu meneguk air.
"Serius dek." Tanya Syifa, Diangguki Rizky yang masih santai mengunyah.
"Serius deh, Lima ribu lima puluh lima ratus juta rius deh." Ucap Rizky aneh
"Mondok nanti Adek harus mandiri lho, Lha ini umur baru 5 tahun kemarin udah mau Mondok." Ridwan angkat bicara
"Ck! Abang ini gimana kan niat adek baik." Ucap Rizky masih kukuh
"Benar benar keras kepala kamu dek." Ucap Syifa yang paham sifat Rizky
"Baiklah Abang tanya tujuanmu mondok apa?" Ridwan
"Mau dapetin Santriwati bang." Ucap Rizky tertawa lebar sedangkan Syifa sudah menepuk jidat.
"Rizky Muhammad Irsyad.!!" Ucap Ridwan
"Mm heheheh." Rizky sudah tersenyum senyum.
"Jangan menggoda Abangmu itu bisa di gulai kamu nanti." Ucapan Syifa seketika Rizky merubah 180° menjadi datar tanpa ekspresi.
"Baiklah sebenarnya Rizky sedih di rumah sepi, di sana kak ada ummi sama abi, Sejak kecil Ayah Bunda sibuk urusan masing masing, " Ucap Rizky sendu.
"Seandainya kamu tau dek, Jika Ayah Bunda memilih hal yang terbaik buat kita." Batin Ridwan.
"Apa adek tidak bahagia sama kakak ya." Ucap Syifa menutupi kesedihan Ridwan.
"Bu bukan begitu kak, Rizky bahagia, terimakasih selalu mendukung adek." Ucap Rizky memeluk Syifa kemudian Ridwan juga.
__ADS_1
"Jadi adek mau tetep mondok ya." Tanya Ridwan.
Rizky yang sudah mendapat lampu hijau segera mengucapkan tujuannya
"Yah, Banyak diluar sana, seseorang tak mau mondok tapi dipaksa memondok, Sedangkan aku ingin sekali mandiri, ingin menjadi hafidz ingin mendalami agama islam." Tutur Rizky yakin.
Syifa terdiam masih belum bisa mencerna adiknya karena bisa juga adiknya belajar di sekolah khusus agama tanpa harus mondok.
"Karena menurut adek di era globalisasi, kita harus lebih banyak yang namanya memasukkan inti-inti agama di dalam pendidikan, karena kalau di luar mungkin kita bisa belajar (agama) seperti biasa, tapi unsur-unsur agamanya tetap saja kurang, Jaman now." Ucap lagi
"Dek rizky bisa lho belajar khusus disini, atau undang privat, yang ahli deh" Ucap Syifa masih khawatir.
"Gini kak lebih nyaman ketika berada di lingkungan yang agamis, karena lebih mudah untuk mengatur ibadah yang akan lakukan tiap hari dibanding sendiri dirumah. Memang tujuan adek ingin tempat agamis, pentingnya disana tidak memandang beda golongan kok,” Tutur Rizky mengingat sering diejek tidak ada Orang tuanya.
Ridwan menatap adiknya bangga, Entah malaikat mana yang membuat Rizky berpikir dewasa dan Ridwan tau jika pasti ada seseorang yang membuatnya termotivasi hanya saja belum jelas siapa dia,
"Baiklah akan Abang pertimbangkan."
"Bang.." Ucap Syifa yang tak tega dengan Adeknya Ridwan memberi syarat dengan senyum yakin Syifa hanya menurut.
"Baiklah baiklah Abang telat nanti, Jika terus berdrama disini." Ucap Ridwan
"Lagian pakek mau sekolah segala, Kantor tuh diapain." Ketus Syifa.
"Ye kakak ini mau cari tambahan wawasan." Alasan
"Wawasan apaan, Keburu jomblo akut."
Setelah perdebatan selesai, Ridwan berangkat sekolah dan Syifa mengantar Rizky.
.
.
.
Syifa melihat Budenya menurunkan beberapa jajanan dan bahan bahan, Rizky sudah menuju kelas.
"Saya bantu bude." Ucap Syifa.
"E eh Syifa disini?" Tanya Bude Yul
"Iya nganter Rizky." Jawab Syifa menceritakan semua sambil menuju kantin pondok, Syifa berniat membantu Budenya awalnya sih budenya ngga mau tapi karena Syifa memelas membuat bude luluh.
Untuk Pondok masih masuk karena ujiannya masih Minggu depan.
Syifa membantu menggoreng, dan menata di tempat meja dia sibuk dengan dapur Bude, hingga bell berbunyi tanda istirahat.
Kring kring
Syifa tak menyadari itu karena dia menggunakan headset, Sedikit mengeluarkan suara emasnya tapi tak ada orang yang mendengarnya.
Beberapa grombolan santri menuju Kantin yah dia Faqih, Danu, Ridho, Adit dan Toyib. Teman Faqih segera duduk meja makan dan Faqih memesan kepada Bude Yul.
__ADS_1
"Bude Yul kita pesen seperti biasa." Ucap Faqih menatap Gadis yang tengah sibuk menggoreng dan meracik bahan soto dengan balutan Jilbab modren instan rok plisket dan tunik cream membuat kulitnya terlihat cerah.
"Itu ponakan Bude," Seolah tau yang dipikir Faqih kamudian Faqih menuju tempat duduknya.
"We kenapa ada santriwati disini." Celetuk Danu.
"Ponakan Bude itu." Ucap Faqih diangguki Danu.
"Sikat Dan, Siapa tau antum ngga playboy lagi." Ledek Ridho
"Terserah karepmu karepmu karepmu," Ucap Danu menatap Makanan yang sudah didepan mata.
"Yakin ngga tergoda itu kalo cantik buat saya aja deh." Celetuk Toyib
"Hey hey lihat ini, Kau apakan otaknya Toyib hingga menjadi genit." Salah Adit pada Danu.
"Yib otakmu sudah dipastikan terbentur dengan planet merkurius jika sudah bersama si Playboy akut tingkat وحد(Satu) ini hahahh." Faqih meledek membuat Danu mendengus kesal memang Faktanya kebiasaan Playboynya sering kumat.
"Ngaku aja Satu santri pada nyesel sama kata kata gombalmu tok." Tambah Ridho.
"Kalian ini mau makan engga, kok bisa bisanya mulut kayak cewek." Ketus Danu
Mereka segera berdoa kemudian menyantap makanannya sembari bercanda,
Syifa masih melihat budenya sibuk melayani para santri, Ia berniat hendak membantu mengantarkan pesanan santri.
"Bude Saya Kopi satu," Ucap satu santri.
"Wih nggak kembung ya hahah." ledek satunya, karena posisi membelakangi, Syifa tidak melihat jelas.
"Kamu antar yang tadi pesen ya," Titah bude yang masih sibuk dengan lainnya.
Santri yang mendengar samar samar titah bude hanya diam pasalnya Gadis itu seumuran jadi sebisa jaga pandangan, Tidak untuk salah satunya dia merencanakan sesuatu.
"Coba saya gombalin deh, Siapa tau jodoh." Ucapnya kemudian mendapat injakan kaki dari temannya hingga sang empu hendak menjerit tapi diurungkan karena melihat sosok yang ia kenal.
Syifa berjalan menuju meja yang ditunjuk tadi.
"Ini pesannya." Ucap Syifa meletakkan kopi.
"Syifa." Panggilya..
.
.
.
Heppy Reading,
Maaf Author masih banyak salah dalam penulisan, dari dalam hati author berharap readrs mendukung author selalu,Mohon Kritik sarannya dan sempatkan jempol komen dan vote juga yak
Terimakasih
__ADS_1