
"Syifa?" Ucap Fauzi, bibirnya tertarik sedikit, ia yakin jika Syifa berada di sini.
Sosok wanita itu menatap danau dengan khimar yang berkibar terhembus angin sore. Tempat ini banyak ketenangan buat seorang Syifa dan juga Fauzi.
Seolah cinta mereka bersatu lewat danau ini, meski mereka juga tahu jika Allah lah yang menentukan takdir.
Awal kisah saat Fauzi memanggilnya Fafa, awal saat curhat dengan orang yang tak ia kenal dan awal dari perpisahan remaja yang dilanda asmara. Lebih lagi tempat ini lah janji halal yang Fauzi ucapkan untuknya. Dan bukti cinta kang santrinya terkenang jelas di sini. Bagi Syifa ketenangan di danau ini membuatnya berfikir jernih.
"Fa?" Ucap Fauzi membuat Syifa menoleh kebelakang dengan hidung yang sudah sembab.
Fauzi duduk di samping Syifa menatap wanita yang mendampingi hidupnya selama bertahun-tahun ini.
"Kenapa hmm?" Ucap Fauzi membuat Syifa menunduk.
"Semua salah Syifa ya kang?" Lirihnya terdengar oleh Fauzi.
"Maksudnya?"
"Syifa denger yang di ucapin oleh Abi sama Ummi tadi, masalah Pesantren ini gara-gara Syifa, kalau aja kita dulu nggak kenal." Tangis Syifa pecah, Fauzi mendekap erat Syifa dengan lembut.
"Bukan salah kamu, kamu jangan banyak kepikiran, kasihan calon anak kita Fa." Ujar Fauzi membuat Syifa hanya sesenggukan dan mengangguk.
"Jangan menyesal jika kita udah bersatu, kamu percaya kan sama takdir Allah. Ini bukan masalah aku atau kamu yang terbaik tapi kita yang saling melengkapi," Ucap Fauzi.
"Kita pulang ya." Imbuh Fauzi menuntun Syifa untuk berdiri.
*****
Nampaknya masalah ini membuat para santri ketakutan, bahkan ada sebagian wali yang meminta anaknya di pulangkan.
"Wes angel angel." Gerutu Ustadz Rizal duduk di samping Gus Fauzi yang menatapnya datar. Ustadz Fikri sampai melihat Ustadz Rizal hanya terbengong.
Ini jadwal piket sehabis tarawih, biasanya para santri yang melakukan rutinitas ini, tapi mencegah sesuatu yang berakibat fatal maka lebih baik Ustadz-ustadz yang menjaga keamanan pondok.
"Kenapa lagi to tadz?" Tanya Ustadz Fikri.
"Saya ini herman.."
"Ustadz ganti nama?" Tanya Fikri
"Heran-heran." Ralat Ustadz Rizal, salah satu sahabat Gus Fauzi yang membuat kelucuan dan sikap ajaibnya. Heran aja jadi herman ck.
"Heran kenapa hidup harus ada masalah."
"Kalau nggak ada masalah bukan hidup namanya." Celetuk Ustadz lainnya. Dan Fauzi hanya menjadi pendengar cerita.
Sebenarnya Fauzi ini orang yang selalu berpikir apapun masalahnya, hanya saja sikap yang cenderung datar membuat semua orang tidak menyadari. Bahkan saat ini Fauzi menjadi takut teror di pesantren akan mengakibatkan hubungan dengan Syifa sedikit renggang, dan juga jika benar Syifa terlibat dalam masalah ini, maka ia harus bisa menjaga Syifa dan calon anak - anaknya.
"Gus Fauzi?" Tanya Ustadz Rizal membuat Fauzi berdehem sebentar.
__ADS_1
"Kasih saya ceramah bijak Gus, saya heran sama perempuan udah di kasih duit udah di kasih cinta. Kok masih marah-marah ya? Kadang memang perempuan yang seperti itu atau gimana sih." Curhat niee sama Gus.
"Jangankan Ustadz Rizal, saya juga begitu." Jawab Gus Fauzi terkekeh, mengingat kalau Syifa tengah ada tamu bulanan ia harus nginep di ponpes, dari pada jadi sasaran kemarahannya. Wanita akan jadi kucing anggora kalo di sayang tapi juga bisa jadi macan betina kalau sedang hm.
"Beneran begitu?" Celetuk Ustadz Fikri.
Fauzi dan Rizal mengangguk dua kali dengan tampang polos.
"Saya jadi takut nikah." Kata Ustadz Fikir. Astaghfirullah baru saja Fauzi dan Rizal lupa dengan jomblo di sampingnya.
"Heh, jadi laki-laki yang berani dong Tadz. Umur udah cukup pekerjaan udah mapan. Buruan cari sana." Jawab Rizal.
"Cari dimana Ustadz?"
"Di pinggir jalan."
Astaghfirullah sabar Ustadz Fikri, pasalnya mentang-mentang Ustadz Rizal udah nikah.
Suara tadarus dari berbagai masjid sudah mulai terhenti,artinya sudah tengah malam mereka berjaga.
Selanjutnya mereka berjalan mengelilingi pesantren untuk memeriksa santri-santri yang belum tidur.
"Gus?"
"Nggih."
"Kita ini manusia kan?" Tanya Ustadz Rizal secara tiba-tiba. Dan dengan tiba-tiba pula Ustadz Fikri berceletuk.
"Kita tahu kita sama-sama manusia, tetapi kenapa harus saling menyakiti?" Ucap Ustadz Rizal membuat langkah mereka terhenti seketika. Benar juga ya?
"Manusia itu punya sifat iri dan dengki, maka saling menyakiti satu sama lain, tanpa di sadari. Na'udzubillah.," Jawab Ustadz Fikri, di jawab anggukan kedua nya.
"Kalau menurut Gus Fauzi?"
Fauzi mengerutkan kening, seolah berfikir dengan matang untuk menjawab segala persoalan dari Ustadz Rizal, dan Ustadz Fikri juga menantikan jawabannya.
1 detik
5 detik
10 detik
"Apa Gus?" Tanya Rizal tak sabaran.
"Takdir." Lahhh, satu kata doang yang mikir 10 detik, memang bener-bener anjaytana ya Guss.
*****
"Serahkan Syifa kalau kalian mau pesantren selamat."
__ADS_1
Secarik kertas membuat Fauzi menyorot tajam dan mengepalkan surat itu.
"Gus kening njenengen berdarah." Ucap Ustadz Rizal terkejut mendapati Fauzi yang berjongkok bahkan darah segar mengalir.
Satu botol kaca yang tadi mengenai kepala Fauzi dan juga kertas putih yang tertulis di dalamnya, Dengan langkah lebar Fauzi menuju ndalem setelah mengucap salam Ke Ustadz lainnya.
Rizal dan Fikri menatap botol dan juga kertas yang sudah Fauzi kepalkan.
"Astaghfirullah, siapa yang berani menculik Ning Syifa?" Ucap Fikri menggebu-gebu, ia sangat marah jika Gus Fauzi dan Ning Syifa berada dalam bahaya. Melihat Ustadz Rizal diam saja Ustadz Fikri mengerinyit heran mendadak Ustadz konyol itu diam.
"Ustadz sampean tumben diam? kita harus laporin ini ke Mbah Yai." Ucap Fikri lagi hendak berjalan namun di cekal oleh Ustadz Rizal.
"Jangan gegabah, apalagi Gus Fauzi sudah bertindak." Ucap Rizal datar dan dingin, baru kali ini Fikri mendapati Ustadz kocak itu berbicara serius.
"Sebenarnya siapa Ning Syifa?"
Rizal terdiam, fikirannya berkelana oleh masalalu. Ustadz Rizal adalah salah satu Ustadz yang mengabdi ndalem mbah yai Hakim. Bahkan sudah bertahun-tahun, dari kisah cinta remaja anak kyai sampai beneran takdir, Ustadz Rizal tahu.
Ia bahkan sempat kagum juga dengan Ning Syifa, yaitu kakaknya Rizky ( muridnya) Namun sayangnya Rizky harus di boyong ke pesantren lain agar mendapat pengalaman belajar.
Mengingat itu semua membuat dirinya tahu saat dimana Gus Fauzi remaja di nyatakan koma, dan siapa yang tahu dengan rencana takdir? Ternyata mereka memang berjodoh.
"Ustadz melamun?" Tanya Ustadz Fikri.
"..." Ustadz Rizal menggeleng.
"Siapa tadi Ning Syifa?" Tanya Ustadz Fikri membuat Ustadz Rizal menatap lurus ke depan, ada senyum tipis di sana.
"Sampean gak perlu tahu siapa Ning Syifa suatu saat waktu yang akan menjawab." Jawabnya membuat Ustadz Fikri menggaruk tengkuk tak paham.
"Yang jelas dia Srikandhi-nya Gus."
*
*
z
z
Hay Assalamu'alaikum.
Masih semangat berpuasaa??
Up nya gak jelas. udah itu aja.😅
Semoga puasanya lancar nggih.
Hehe yaudah Next episode.. Ntar sore deh. InsyaAllah😃
__ADS_1
Wassalamu'alaikum