Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
72.Cemburu?


__ADS_3

Satu minggu kemudian Fauzi dierbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.Sesampainya di pesantren semua menyambutnya dengan bahagia kedatangan Gus tertampan.


Kan jadi terhura si Fauzi kalau begini, ia hanya bisa mengucap syukur Alhamdulillah berkat do'a semuanya Fauzi bisa sembuh dan keadaan lebih baik meski hatinya tidaklah baik.


"Kak Gus." Teriak anak kecil dengan logat cemprengnya kalian tentu tahu milik siapa suara itu.


"Heyy, Assalamu'alaikum dulu." Ucap Fauzi sedangkan anak itu menepuk dahinya yang ngga ada nyamuk sama sekali.


Mundur-mundur ganteng ia mengulangi salamnya.


"ASSALAMU'ALAIKUM." Ucap Rizky, Fauzi mengulas senyum.


"Wa'alaikumussalam."


"Kak Gus sehat?" Aih pertanyaannya ada aja si Rizky mah.


"Kamu tanya sehat atau sembuh ky." Selidik Fauzi.


"Hehe adadeh hanya Allah dan Rizky yang tahu." Ucap Rizky.


"Kak Gus, Rizky mau curhat huaaa, Kak Syifa ngga pernah jengukin Rizky lagi, pokoknya Rizky ngambek." Ucap Rizky bersedekap membuat Fauzi terkekeh.


"Lhoh terakhir jenguknya kapan ky?" Tanya Fauzi yang memang penasaran.


"Tiga hari yang lalu." Ucap Rizky enteng seolah tanpa otak.


What baru tiga hari sudah marah-marah ni bocah? Fauzi hanya olahraga kepala jadinya.


"Baru aja tiga hari lho ky." Ucap Fauzi tak percaya.


"Iya baru tiga hari." Rizky memperjelas sepertinya Fauzi butuh obat atau Rizky kurang sirup.


"Lalu?"


"Kan Kak Syifa belum kasih jatah buat beli siomaynya." Ucap anak kecil itu mengerucutkan bibirnya, belum sempat Fauzi menjawab, teriakan seseorang membuat kepala Rizky dan Fauzi berputar 90 derajat


"Hey bocil kau ini, kakak cari dari selat sunda ke lubang buaya ngga ketemu rupanya di sini huh huh." Ucap Syifa ngos-ngos an." Ucap Syifa sembari melangkah ke depan.


Deg.


Syifa baru ngeh jika di sana ada Fauzi, namun langkahnya terhenti bukan lagi maju melainkan mundur, Fauzi masih setia menunduk. Hal itu membuat Syifa sakit.


"Kakak ngapain mundur kayak undur-undur aja." Ketus Rizky hingga Fauzi tersenyum sambil menunduk.


"Kau ke sini saja ky." Ucap Syifa dari arah sekitar lima meter dari mereka. Rizky mengerinyit namun tetap mendekat kelakuan adik kakak itu tak luput dari pandangan Fauzi.

__ADS_1


Setelah sampai di depan Syifa tangan Rizky tengah menadah, iya menadah... Bukan mendadah salim justru rejeki mingguan yang tengah ia dambakkan uweee.


"Ishh adik durhaka, biasakan salim,, adikku yang sangat jelek." Ucap Syifa ketus.


"Kakak ish Rizky mau jajan, salimnya nanti aja." Ucap Rizky meronta sebagai pecinta siomay.


"Sebenarnya dia itu adiknya siapa sih kenapa kelakuannya gini amat ya." Gumam Syifa masih terdengar Rizky.


"Oh ya kenalin saya adiknya Asyifa nama saya mm Rizky anak yang amat sangat kalem." Ucap Rizky menderamalisir berbicara formal.


"Iya kalem,,, kalempit lempit ." Ejek Syifa hingga Rizky hanya melirik kakaknya dengan mata sipit.


Setelah mendapat uang Rizky nylonong ke tukang Siomay, Syifa menatap sekilas ke arah Fauzi yang terus menunduk. Sebenarnya Syifa ingin bertanya namun ia juga sebal dengan sikap Fauzi yang sekarang acuh.


"Kang Santri, apa di bawah ada koin yang membuatmu terus menunduk." Ucap Syifa seketika Fauzi mendongak.


"Ha?"


"Assalamu'alaikum." Ucap Syifa segera menyusul Rizky, bukan apa-apa ia hanya ingin melihat Fauzi walaupun caranya terlalu memalukan.


"Wa'alaikumussalam." Gumam Fauzi menatap punggung Syifa yang semakin menjauh, bukannya menanyakan kabar kenapa dia terkesan memberi saran. Entahlah pusing.


"Assalamu'alaikum." Ucap pria paruh baya dan gadis cantik seumuran dengannya.


"Wa'alaikumussalam Abah, Ning." Ucap Fauzi menyalami Kiyai Hussein dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada kepada Najwa.


"Bagaimana keadaanmu Gus?" Tanya Kiyai Hussein.


"Alhamdulillah Pak Yai," Ucap Fauzi tersenyum.


Setelah beberapa saat mengobrol Fauzi undur diri, ia ingin mengambil keperluan di asramanya. Beberapa saat langkah sedikit jauh dari pintu ada seseorang yang memanggilnya.


"Gus?"


Fauzi berbalik dan melihat Najwa yang sudah berdiri di jarak satu meter.


"Nggeh? " Tanya Fauzi.


"Ngapunten Gus, sampean jadi kuliah ke kairo?" Tanya Najwa.


Fauzi bahkan lupa jika ia harus melanjutkan pendidikan, ia terkekeh sendiri mengingat terlalu lama di Rumah Sakit. Yasudahlah toh ya belajar tidak ada batasan umur.


"InsyaAllah, jadi." Jawab Fauzi singkat, entah apa Najwa yang tadi wajahnya khawatir sekarang menjadi binar, namun tetap menunduk.


"Baiklah saya permisi, Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Tanpa mereka sadari ada baru saja sepasang mata yang melihat mereka itu pergi, ada rasa sesak di lubuk hatinya. mungkinkah ia cemburu? Tetapi kenapa?


Syifa yang tadinya ingin menunggu Rizky di masjid terurungkan niat, dikala ia melihat Fauzi dan gadis cantik yang tak lain ialah Najwa, tengah berbincang-bincang. Syifa tersenyum getir ia segera berbalik dan pergi dari sana.


"Ya Allah beginikah merasakan cemburu kepada yang belum berhak." Gumam Syifa, Ia memilih mengambil motor dan pergi dari sana.


"Perempuan baik untuk laki- laki baik, perempuan buruk untuk laki-laki yang buruk pula." Kata itu yang terngiang di telinga Syifa.


Jika sudah begitu lantas pantaskah ia sebagai perempuan buruk berlumur dosa berharap mendapatkan lelaki baik pikirnya.


Setidaknya ia sadar diri, Najwa adalah sosok idaman termasuk pantas mendapat julukan buronan mertua, selain cantik dia jago dalam bidang apapun apalagi ia sangat pandai dalam agama, kecerdasannya setara dengan Fauzi.


"Wah apa dia Ning dari pondok sana, ternyata cantik ya selain itu dia sopan."


"Hey bukannya setiap kali Gus dan Ning dipertemukan itu akan menjadi perjodohan?"


"Iya ya? Lagian biasa kali jika Ning jodohnya Gus, secara nanti jadi pak yai dan nyai hehe," Gurauan santriwati yang membicarakan mereka.


"Wah harapanku dengan Gus runtuh seketika."


Entah kenapa telinga Syifa mendadak panas, benarkah ia cemburu? lalu apa hak nya. Istighfar itu yang dilakukan Syifa dan segera mencari tempat penenang.


_____________


Pesantren


"Ummi punya kotak?" Tanya Fauzi. Yang kini tengah berbaring di pangkuan sang ummi.


"Kotak apa?" Tanyanya.


"Apa saja."


"Buat apa Zil, beli aja di toko banyak." Ucap Fatimah masih mengelus rambut anaknya yang sebentar lagi akan berangkat ke kairo.


"Zil mau punya Ummi." Ucap Fauzi ish dia kalau bersama Fatimah selalu manja seolah menunjukkan pada dunia jika Abi Ummi nya hanya miliknya, padahal mereka mempunyai banyak anak didik hehe.


"Baiklah sebentar." Ucap Fatimah beranjak sedangkan Fauzi menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Selang beberapa waktu


"Ini." Ucap Ummi tersenyum-senyum maksudnya apa coba.


Fauzi nampak mengerinyit namun juga menerimanya tak lupa mengucap makasih dan beranjak dari sana untuk satu urusan.

__ADS_1


-


-


__ADS_2