Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Berantem di pasar


__ADS_3

...Karena setiap persoalan dari kutipan di atas tidak akan jauh dari kata adalah Sama dengan alur kehidupan yang tidak akan jauh dari masalah. Dan setiap masalah pasti akan ada solusi seperti pertanyaan yang pasti di sertai jawaban...


****


Detik detik pemutusan kabel yang amat sangat kecil bisa ia putus diantara bunyi detikan ke 15 yang tertera di sebuah layar.


putus.


Lega sudah, keringat yang mengucur di dahi Fauzi sedang di usap oleh Syifa dengan tissu. Ia tersenyum lega setelah percobaan beberapa kali akhirnya Fauzi bisa juga menjinakkan bom.


Awal mencoba saat di detik ke tiga Fauzi belum berhasil, beruntung Arnold sudah mengambil alih.


"Lalu kamu punya keahlian apa lagi menantu?" Tanya Arnold membuat Fauzi menghentikan tangan Syifa yang mengusap dahinya.


"Em.. memanah dan berkuda." Ucap Fauzi mantap.


"Menembakmu?"


"Belum Ayah."


Lain dengan Fauzi sedangkan Syifa sedang melihat layar ponsel untuk makanan sedap yang ia inginkan, rujak.


"Hemmm enak nih bikin ngilerr." Gumam Syifa. Fauzi dan Arnold yang menatap Syifa mulai was was, bumil satu ini mau bikin ulah apa lagi kira kira.


"Kang."


"Iya."


"Syifa pengen rujak, tapi syifa pengennya buah yang langsung dari pohon." Ucap Syifa sambil membayangkan se enak nanas mentimun kedondong di kasih sambal rasanya uh mantap. Lebih lagi gigi Syifa ikutan ngilu ingin cepet memakannya.


"Syifa pengenn." Ucapnya membuat Fauzi menelan ludah.


"Tapi kebun abi belum ada buahnya," Ucap Fauzi membuat Syifa mendengus kesal


"Di desa sebelah rumahan udah pada tumbuh buahnya,"


"Nanti kita beli di pasar aja ya Fa?" Tanya Fauzi membuat Syifa memalingkan wajah.


"Gak!!"


Arnold dan Fauzi seketika kaget dan mengelus dada.


"Syifa hukum kang santri untuk metik buah tetangga gak boleh bilang sama yang punya." Ucap Syifa tajam sembari merengek, matanya memerah menahan tangis.


"Heh." Fauzi menggeleng.


"Aku petikin tapi izin sama orangnya Fa." Ucap Fauzi membuat Syifa menggeleng keras.


"Enggak boleh ijin!" Ucapnya lagi.


"Maling fa namanya." Lirih Fauzi


"Gak mau tau!" Marah Syifa, sedangkan di sisi lain Arnold menggeleng-geleng kepala, ancaman bumil memang gak main main.


"Turutin saja apa mau Syifa menantu, jangan bikin dia ngamuk hehe." cengiran Arnold membuat nafas Fauzi terhembus berat. "Kamu bisa minta maaf kalau setelah istrimu lahiran nanti." Imbuh Arnold.


Tangannya Fauzi meraih pundak sang istri namun dengan sigap Syifa menepisnya dengan tangan, Fauzi tersenyum simpul kemudian menggeleng pelan. Ia menundukkan kepalanya untuk sejajar dengan perut Syifa seraya mengelusnya pelan.


"Dasar anak anak, tau gini tadi aku ngajak istri." Gumam Arnold kesal.


"Anaknya Abi kepengen buah ya?" Fauzi terus berbicara tanpa ada jawaban dari Syifa.


"Abi bakal turutin kok, tapi buah itu bukan punya Abi sayang, kalau Abi metik tanpa izin artinya Abi maling..Memangnya kalian mau punya Abi pencuri, kalian mau merubah status abi?" Tutur Fauzi lagi.


"Kamu ini gimana sih menantu! Turutin aja mau bumil nanti kalau Syifa ngambek lebih bahaya lagi, soal izin bisa habis lahir nanti ngomongnya " Ucap Arnold yang sedikit tak setuju dengan menantunya, ia sudah melihat air mata Syifa luruh.


Fauzi berdiri tegap.


"Ngidam hanya keinginan ibu hamil, Di turutipun untuk menyenangkan hati sang ibu hamil, tapi kalau keinginan itu mengarahkan kepada hal buruk maka tidak harus di turuti." Tutur Fauzi.

__ADS_1


"Jika saja umur saya tidak sampai di saat Syifa melahirkan lalu siapa yang akan meminta izin kepada si pemilik buah? Apa saya bisa tenang di sana." Tanya Fauzi,


Arnold dan Syifa tersentak.


"Syifa, aku ingin mengajarkan anak kita untuk selalu jujur." Lembut kata Fauzi.


"Maaf." Cicit Syifa meski dongkol tapi jika sudah bicara soal kematian ia menjadi takut, tepatnya takut kehilangan dalam keadaan dosa.


"Kalau mau buah ayo kita izin tetangga atau ke pasar." Ajak Fauzi seketika membuat Syifa berbinarr...


"Ke pasar Boleh?"


"Tentu saja."


*****


Di pasar, Syifa menggandeng tangan Fauzi melihat buah buah segar yang di taruh di atas meja bersama teman-teman buah lainnya. Ia mengelus perut buncitnya yang semakin membesar.


"Nanas, mentimun, kedondong, melon, dan mangga." Ucap Syifa membuat penjual mengangguk senang.


"Berapa kilo neng."


"Setengah kilo semua." Jawab Syifa.


Riuh pembeli pasar dan juga penjual yang melihat para gerombolan berbaju hitam, salah satunya sedang menodongkan pisau ke salah satu leher pembeli, sedangkan satu diantaranya sudah membawa pistol untuk meluncurkan di setiap saat.


"Kalian serahkan semua harta dan keuntungan kalian kalau tidak mau mati sia sia." Ucapnya yang membuat semua pengunjung sibuk menyerhakan beberapa perhiasan dan juga uang. Sedangkan 3 preman diantaranya sedang sibuk merampas uang ibu-ibu.


Syifa memutar bola mata jengah, si pedagang buah sudah mengemasi buahnya berniat segera melarikan diri.


"Neng cepat pergi neng." Bisik penjual.


"Kenapa?" Tanya Syifa.


"Saya mau tutup, hari ini pelanggan saya cuma neng, kalau saya tidak menyerahkan keuntungannya kepada mereka saya akan tetap pulang babak belur." Ucap Si penjual.


"Kita pulang saja Fa." Ucap Fauzi membuat Syifa mendelik tajam ke sang suami yang.. ganteng.


"Terus?"


"Kita lawan."


"Jangan main-main Fa, kasihan anak kita." Ucap Fauzi tapi tak di gubris oleh Syifa.


"Bapak tenang di sini biar saya yang memberi pelajaran IPS kepada mereka." Ucap Syifa membuat Fauzi memijit pelipisnya. gawat


Terlihat si penjual es cendol tak mau memberi keuntungannya,


Dan terlihat dari arah lain jika pria yang membawa pistol itu mengarahkan ke arah penjual es cendol.


"Buk yakin masih ingin hidup."


Dug..


Kreekk.


Pistol terlempar bersama buah melon ke beberapa pembeli yang sudah ketakutan.


"Pistolnya tolong sembunyikan." Teriak Syifa membuat ibu-ibu yang terdekat itu segera menyembunyikan pistol itu.


Syifa menyunggingkan senyum. Ia mengkode Fauzi untuk tetap tenang tapi Fauzi masih saja deg degan melihat nasibnya kedepan.


"Kita akan bersenang-senang kang." Gumam Syifa yang membuat Fauzi bergidik ngeri.


"Fa ku mohon."


Masih di aura ketajaman dan mencekam mendadak keramaian menjadi sunyi. Syifa menantap tajam ke arah yang tadi memegang pistol. Sedangkan lima orang tadi juga menatap Syifa sengit dan remeh.


"Jangan macam-maca...." Ucap salah satu dengan mengejek.

__ADS_1


Brug.


Uhuk Uhuk.


Syifa melemparkan salak ke mulut si orang tadi hingga terbatuk-batuk.


"Sialan!!! Buat menyesal bumil itu". Ucap salah satu yang memegang pisau tapi masih posisi seperti tadi mengarah di satu leher pembeli yang ada di kurungannya.


Bugh bugh.


Adu jotos terjadi, Fauzi ikut andil dalam berperang saat ini. Sedangkan Syifa hanya melawan satu orang yang cukup mampu membuatnya kewelahan, ia hanya berdoa agar anaknya tetap baik baik saja.


Tangan Syifa terus menangkis serangan kaki si preman, pengecut bukan? melawan ibu hamil? Namun, dari sini ada hal yang sangat di benci Syifa, ia benci film yang sedang berperang dan lainnya asyik menonton seperti sekarang ini!!


Ibu-ibu malah pada meringis dan menonton lebih parahnya ada yang merekam, Istighfar dalam batin. Syifa berusaha menyerang menggunakan benda-benda yang tersedia di pasar seperti kayu dan juga buah semangka.


Bug bug bug


Lain dengan Syifa sedangakan Fauzi sesekali melirik Syifa dan juga fokus menyerang, setidaknya ia menguasai ilmu bela diri. Hingga ke tiga orang itu sudah tersungkur.


Dugh.


Tendangan Fauzi membuat si preman terjatuh di meja.


Kemudian satu pukulan lagi mampu membuat si preman terdampar dibeberapa sayuran.


Fauzi melirik Syifa yang sepertinya lelah melempari preman dengan buah-buahan.


Satu preman yang tadi melepaskan tawanan kini berjalan menuju Syifa dengan mengarahkan pisau ke perut, Fauzi menangkap kilauan dari pisau itu seketika berlari dan memeluk Syifa kemudian menggeser memutar tubuh Syifa hingga posisinya berarah balik dari yang tadi.


Jleb.


"Shhhh.."


Syifa memejamkan mata, tangannya mencengkram kuat pundak Fauzi air matanya tumpah dan memerah menahan amarah.


Goresan pisau itu mengenai lengan Fauzi, dengan capat Fauzi menbopong istrinya di antara beberapa ibu-ibu dan membalikkan badan menghadapi ketiga preman.


Kini tatapan Syifa menajam seolah api menyala di keduanya, melihat Fauzi dengan lengan koko yang memerah darah dan juga terkena pukulan oleh preman..


Syifa mengambil tembak yang di pegang oleh ibu-ibu tadi,


DOR


DOR.


DOR


Sasaran Syifa tidak akan pernah meleset.


Bahu ketiga preman tadi bercucuran darah karena tembakan dari Syifa, sedangkan ibu-ibu semua mulai melempar buah dan sayur ke arah mereka semua.


Syifa menghampiri Fauzi yang hanya mematung tegak, "Seharusnya dari tadi ibu-ibu itu membantu Syifa bukannya malah menonton." Pikir Fauzi.


"Kang."


Deg.


"Ayo kita pulang Fa."


*.z.z.z..


@


z


z


Gak masuk akal? haduh halunya ambruladul gini wkwkw😂

__ADS_1


Mau liat siapa aja nih yang masih kepengen baca kisah Syifa Fauzi..?


__ADS_2