Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
76. Abu Jahil


__ADS_3

Hari terus berganti semua berjalan seperti biasanya, dan Syifa anehnya gadis itu tidak ingin kuliah, Ridwan menyarankan untuk mengajaknya untuk belajar bekerja di kantornya, aneh memang.


"Ayo Kak berangkat." Ucap Syifa semangat menggebu-gebu.


"Adek semangat bener, awas ya nanti kalau buat kesalahan." Ucap Ridwan.


"Cih Abang, Syifa juga baru belajar kalik." Ucapnya tak mau kalah.


"Baiklah-baiklah nanti kalau ada laporan yang mengganjal atau kurang paham kamu tanya ke Rian oke!" Ucap Ridwan.


"Assiapp Abangku." Jawab Syifa.


Selama setahun ini Syifa belajar dengan Rian mengenai perusahaan, kadang juga Ridwan yang langsung mengajari adiknya yang super lemot kalau soal menghafal.


"Bang nanti sepulang dari meeting kita ke pondok jenguk Rizky ya." Ajak Syifa ketika perjalanan hendak meeting dengan klien.


"Setahun berlalu."


"Itu artinya Kang santri empat tahun lagi baru kembali." Batin Syifa, ia masih ingat akan Fauzi yang setahun lalu memberikan janji, tetapi Syifa mengajukan bukti.


Cukup sudah lama ia menahan rindu, terkadang melakukan kesibukan adalah rutinitasnya hanya karena menghilangkan perasaannya kepada Fauzi, bukannya benci tetapi takut jika ia akan melebihi perasaan wajar.


"Dek kenapa melamun." Tanya Ridwan.


"Eh Syifa lagi mikirin proyek kerja saja Bang." Ucap Syifa ngasal.


"Ooh." Ridwan singkat. Begitulah Ridwan yang tetap tampang datarnya, namun juga sayang, sampai di umur ke 20 ini Ridwan masih jomblo ya, tampang datar begitu sih mana ada yang mau ejek Syifa setiap hari.


"Ayah bunda kapan baliknya." Tanya Syifa.


"Setahun lagi, baru aja kemarin mereka pulang buat jenguk Rizky tapi udah kesana lagi. Kita berdoa saja mereka baik-baik di sana dan menyelesaikan perusahaannya dengan cepat." Ucap Ridwan memberikan pengertian.


Sampai saat ini Arnold dan Ayana masih menetap di Amerika, bukan apa-apa hanya saja ada urusan yang harus mereka selesaikan. Kadang Syifa kasihan dengan Rizky yang sangat rindu orang tuanya termasuk dirinya.


Setelah meeting mereka berangkat ke pondok untuk memberikan uang jajan kepada si bocil dan membayar adsminitrasi. Dan benar saja Rizky sudah berdiri di depan gerbang menanti datangnya jatah jajan.


Syifa mengerinyit melihat adiknya berdiri di situ, ngapain coba?


"Dek ngapain di situ?" Tanya Syifa dari kaca mobil namun Rizky hanya cengar cengir ngga jelas.


"Kayak ngga tau mau nya bocil aja kamu." Celetuk Ridwan, sedangkan Syifa segera turun dari mobil menanyakan lagi.


"Ngapain berdiri, mau jadi patung pajangan atau gimana?" Ucap Syifa seolah tidak peka.


"Ish kakak kayak gak tau aja." Ucap Rizky mengerlingkan matanya.


"Apa ya, kakak benaran ngga tau." Ucap Syifa pura-pura berpikir keras hingga Rizky memutar bola matanya malas.


"Jajan." Jawabnya samar-samar setengah berbisik hal itu membuat Syifa ingin ketawa sekencang-kencangnya.


"Cium dulu dong." Ucap Syifa masih berdiri tegak sambil menunjuk pipi kanan nya.

__ADS_1


Rizky yang berjinjit tapi tidak sampai mendengus kesal namun bukan bocil namanya jika otak kirinya tidak bekerja saat genting sekalipun, ia menyeringai senyuman jahilnya siap di mulai. Mungkin kalau dia hidup di jaman nabi bisa ber gelar Abu Jahil.


"Astaghfirullah kakak tali sepatu mu lepas." Ucap Rizky pura-pura terkejut benar saja Syifa seketika menunduk melihat sepatunya.


Melihat kesempatan itu Rizky menarik jilbab Syifa dan melompat sedikit karena belum sama tinggi dan..


Cup


Syifa membulatkan mata, bocilnya ini benar-benar Abu Jahil, ia punya berbagai cara untuk mendapatkan tujuannya, Syifa? dia merasa di bodohi oleh anak se usia 8 tahun itu, ia hanya mendengus kesal.


Bagaimana tidak sepatu kantornya tidak mempunyai tali, kenapa ia dengan bodohnya melihat sepatunya. Syifa beralih menatap Rizky yang cengengesan tanpa dosanya.


"Hahaha kena kan jahilnya bocilmu itu." Ucap Ridwan tertawa mengejek Syifa yang sudah memicingkan matanya.


_ _______ _____________


Restoran


Kini seorang gadis dengan gamis cream dan jilbab panjang senada tengah duduk menunggu seseorang, ia sibuk dengan ponsel sampai tak sadar jika seseorang sudah berdiri di hadapannya.


"Fokus amat ya neng?" Tanyanya seketika Syifa mendongak.


"Hehe.." Ia hanya tercengir kuda setelah itu berpelukan dengan sahabatnya.


"Yunda kamu makin tinggi ya?" Tanya Syifa antusias, Yunda sahabatnya ini berpakaian modis namun tetap berhijab. Bak model.


"Haha biasa aja kali Fa." Ucapnya dengan khas senyum yang Syifa rindukan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Syifa dan Yunda melihat arah suara.


Reva dan Rina, yah mereka datang bersamaan dengan senyum kangen setelah setahun berlalu tidak bertemu.


"Oke sudah lengkap pesa dulu gih." Ucap Syifa memanggil pelayan.


"Wah si ibu kantoran ini sudah gajian." Ledek Yunda.


"Hahha iya Fa ini kamu kan yang traktir?" Ucap Reva dengan candanya.


"Beress, aku mau nraktir gaji pertamaku." Ucap Syifa dengan sok seriusnya.


"Gaji pertama? setahun bekerja?" Tanya Rina tiba-tiba.


"Bukan Rin, aku setahun belajar ini baru kerja sebulan di kantor Abang." Ucap Syifa menjelaskan semua mengangguk.


"Ooo."


Semua hening ketika pesanan mereka datang setelah pelayan pergi mendadak Yunda menanyakan hal konyol yang membuat Syifa tersedak ketika meminum jusnya.


"Fa, Kak Ridwan masih jomblo?" Tanyanya dengan santai.


"Uhuk-uhuk."

__ADS_1


"Pelan-pelan Fa , kalau minum bismilla dulu." Ucap Rina membuat Syifa menatap datar.


"Bukannya lupa bismillah Rina, tapi pertanyaan Yunda ini benar-benar membuat aku tersedak, Bang Ridwan masih jomblo kok mana ada orang yang mau dengannya secara tampang datar begitu." Jelas Syifa.


"Kau ini sama kakak sendiri juga." Ucap Reva geleng-geleng.


"Datar tapi ganteng." Yunda.


"Ishh sadar yund, Abang ku itu susah jatuh cinta lha wong dia aja kalo dekat perempuan aja nggak mau." Ucap Syifa menerawang jauh, lain dengan Rina entah lah setiap mendengar kata Ridwan ia selalu berdebar.


"Huss aku tahun depan sudah mau nikah." Ucap Yunda.


"Uhuk-uhuk."


"Apaa??" Pekik ketiganya hingga sepasang mata mengarah mereka dengan heran.


"Iya aku tahun depan mau nikah, cuma ya gitu aku di jodohin dengannya, aku aja ngga tau siapa orang itu. Namun aku lihat fotonya sih lumayan." Ucap Yunda dengan santai.


"Jadi nggak mungkin aku naruh rasa sama Kak Ridwan." Ucap Yunda dengan mimik serius.


"Oooo."


Hening


Semua fokus ke arah makannya mendadak Yunda mengingat sesuatu dan menanyakan kepada Syifa


"Fa mm Gus pondok yang ku pikir dulu dekatmu itu bagaimana kabarnya." Yunda.


"Iya Fa,?" Reva.


"Aku penasaran apa dia akan datang di masa depanmu nanti?" Rina.


Deg


Selama ini Syifa bercerita dengan sahabatnya , tidak ada hal yang di tutupi namun saat ini mendadak kepercayaan diri hilang.


______________


100 nya cepet ya sekarang,😂😂


Okee 😂


Typo bertebaran jadi mohon maklumi karena aku sibuk RL.


ini demi kalian ya ..aku dah tepati janji setiap like tembus 100 aku langsung ngetik.


Salam Jum'at


Dariku ..


Si pemalas sejuta impian

__ADS_1


__ADS_2