
Assalamu'alaikum apa kabar menuju penghujung ramadhan,? Tetap semangat puasanya.
Sebelumnya bukan maksud fira bikin kalian nunggu atau apa ya hihi..tapi memang baru sempet banget Up dan banyaaakk bangett kendalaa,, dari HP yang lupa aku tarok di mana sampai agendaa dunyat yg super duperr buanyaknya.
Intinya maafin yang sebesar-besarnya dan sesabar-sabarnya. Belum aku cek typo hiks
Cuss baca sedikit dulu aja geh....
******
Fauzi mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar, namun bayangan Syifa tidak ada di sana. Fauzi menangkap benda pipih milik Syifa tergeletak di lantai. Perasaan khawatir menghantui Fauzi, langkahnya bergetar tangannya mulai mengambil ponsel itu.
"Syifa?" Lirih Fauzi.
Decitan pintu terbuka dari kamar mandi namun tak membuat Fauzi berhenti tertunduk.
"Kang Uzi."
DEG.
Suara yang di kenali oleh Fauzi, wanita yang berdiri di depan pintu kamar mandi menatap polos ke arah Fauzi dengan lilitan handuk di kepala dan juga daster selutut.
Syifa belum sadar dengan adanya darah di kening Fauzi saat dirinya tiba-tiba berada dalam dekapan hangat sosok kang santri.
Syifa seperti anak kecil yang bertingkah polos, ia hanya mengerjab membiarkan tangannya menggantung tanpa membalas pelukan dari suami.
"Jangan pergi ya Fa." Ucapnya lagi membuat Syifa mengerinyit.
"Memangnya Syifa mau kemana?" Tanya wanita itu mulai membalas pelukan Fauzi.
"Intinya jangan pergi." Ucapnya hanya membuat Syifa menganggukan kepala dua kali, masih dalam dekapan hangat seorang Fauzi.
Tes
Satu tetes darah membasahi kemeja koko Fauzi yang terlihat oleh Syifa, membuatnya berjengit kaget. Fauzi juga kaget ulah Syifa.
"Astaghfirullah." Pekik Syifa mendapati dahi Fauzi dengan darah yang merembet melalui pipi. Ia langsung menangis.
"Kang Uzi kenapaa huhu." Tangis Syifa peecah, Fauzi pasarah dirinya didudukkan di ranjang.
Syifa sudah mengambilkan kotak P3K, ia dengan segera mengobati luka yang Fauzi dapat meski dalam batinnya penasaran berat ada apa dengan suami tetapi itu ia tahan, sedangkan Fauzi sesekali meringis dengan mata terpejam.
"Sakit?" Tanya Syifa
Fauzi menggeleng pelan membuat Syifa mendengus kesal.
"Gimana gak sakit orang ini aja penyok gini!" Lirih Syifa membuat Fauzi hanya meringis sebentar,
"Jangan pergi dari saya ya Fa." Ucap terkahir Fauzi membuat Syifa menatap Fauzi aneh, dikeadaan seperti ini Fauzi masih bisa-bisanya meminta hal konyol.
"Siapa yang ngelakuin ini?' Tanya Syifa tangannya sibuk membereskan alat-alat, untung saja dia paham mana luka dalam dan tidak. Jadi sedikit mempermudah.
" Syifa kenapa mandi malam-malam gini? " Tanya Fauzi membuat Syifa menyengir, ia bahkan lupa apa yang di tanyakan sama Fauzi.
Syifa bangun malam-malam merasa gerah, dan dia tidak bisa tidur membuat Fauzi hanya menatap istrinya datar.
"Jangan di ulangi nggak baik buat kesahatan." Ucap Fauzi menatap Syifa kemudian turun ke area perut Syifa yang masih datar, tangannya terulur untuk mengelusnya.
"Umi Abi belum tahu?" Tanya Fauzi yang di jawab gelengan kepala oleh Syifa.
__ADS_1
*****
"Pokoknya aku mau ketemu sama Ayah, Syifa pengen ketemu Ayah hiks." Entah kenapa dengan dirinya yang membuat Fauzi hanya beristighfar setelah sahur tadi.
"Nanti ya sayang, ini masih gelap." Ucap Fauzi mencoba memberi pengertian kepada Ibu Hamil tersebut, namun nampaknya sangat susah jika di ajak negosasi.
Demi bini dan calon anak, Fauzi bahkan rela meminta izin kepada Umi dan Abinya. Sekarang ini keduanya tengah menaiki motor, beruntung rumah Syifa lumayan dekat dengan pondok.
"Assalamu'alaikum." Ucap Syifa tak sabaran.
"Wa'alaikumussalam." Saut dari dalam membuat Syifa tak henti-hentinya menebarkan senyumnya.
"Lohh Syifa?" Terkejut Ayana membuat Syifa terkekeh.
Ayana menyuruh anak dan menantunya untuk masuk ke dalam, suasana sahur menjadi semakin ramai. Apalagi saat ini hujan juga mengguyur tanah, gemercik air yang tenang menambah aura kesejukan penghirupan.
"Ayah mana bund?" Tanya Syifa membuat bunda mengkode untuk diam.
"Zi sahur dulu nak?" Tawar Ayana.
"Sudah bund." Jawab Fauzi seadanya tapi membuat Ayana mendelik ke arah syifa, bisa bisanya sahur begini menuju ke rumah, gak bisa apa nunggu pagi-pagi nanti.
Sebelum Bunda mengomel Syifa nyengir dan berkata "Gapapa bund, Syifa kan kangen sama Ayah, pengen banget ketemu sama Ayah."
"Siapa yang pengen ketemu Ayah?" Suara bariton membuat semua menoleh sumber suara.
Sedangkan Syifa dengan tatapan binarnya langsung berlari memeluk sang Ayah, membuat Fauzi hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal dan juga Bunda yang mengaga.
Anak itu kenapa coba?
"Syifa kangen sama Ayah." Gumam Syifa terpejam.
Ampun Fa keraskukan apa kamu.
"Loh anak ayah kenapa manja begini?" Tanya Arnold membuat Syifa mendongak sebentar nyengir lagi.
"Syifa kangen sama Ayah."
"Sama bunda enggak?" Celetuk Ayana.
"Enggak." Jawab Syifa enteng lagi, membuat Ayana melirik tajam.
Saat ini keluarga itu segera menuju meja makan untuk melaksanakan sahur sedangkan Syifa bener-bener tak melepaskan Arnold saat ini, ia bahkan menyuapi Arnold sehingga membuat pria baya itu sungkan kepada si menantu.
"Zi, Syifa habis makan apa?" Bisik Arnold,
"Tadi Syifa belum makan Ayah dia cuma masakin Fauzi saja." Ucap Fauzi dengan polos juga, sedangkan Arnold pasrah dengan apa yang di lakukan putri kesayangannya itu.
"Zi?" Bisik Arnold lagi.
"Delem Ayah?" Tanya Fauzi, ia kini ikut memakan alias sahur dua kali untuk menghormati mertuanya.
"Syifa salah minum obat kali ya? Sikapnya rada anah." Gumam Arnold membuat Fauzi terkekeh sejenak, lain dengan Syifa yang bergelanyut manja kepada Ayahnya, sedangkan si bunda hanya geleng-geleng kepala, ada yang aneh dengan putrinya?
"Sebenarnya Syifa lagi isi Ayah." Ucap Fauzi sembari menatap Syifa dan tersenyum.
Isi?
Isi apa heh?!
__ADS_1
Arnold tidak bisa mencerna, sebelum...
"Kamu mau punya anak ke dua?" Tanya Ayana membuat Fauzi mengangguk dua kali.
"Maksudnya Syifa hamil begitu?" Tanya Arnold membuat Fauzi mengangguk lagi dua kali. Syifa yang di samping Arnold hanya diam.
"Kamu hamil Fa?" Ucap Arnold lagi saking senengnya dapet cucu lagi.
"Kata dokter si begitu." Jawab Syifa apa adanya.
Ooalah jadi begitu kenapa gak ngobrol dari tadi, sedangkan Arnold sudah berburuk sangka kepada menantu nya yang mungkin saja menyakiti Syifa.
"Dahimu kenapa nak kok di perban?" Tanya Ayana membuat Fauzi gelagapan.
******
Sehabis subuh berjama'ah Fauzi undur diri karena harus mengajar para santri, sedangkan Syifa masih tetap ingin bersama sang Ayah, untung saja sama Ayah bukan orang lain pikir Fauzi.
"Menantu jangan cemburu." Ucap Arnold terkekeh.
"Ayah Bunda, Fauzi pulang ya?" Ucapnya tanpa mengubris kekehan sang Ayah mertua.
"Hati-hati nak." Jawab Ayana.
"Fa aku ke pesantren dulu ya," Pamit Fauzi kepada Syifa.
"Hati-hati kang." Jawab Syifa dan mencium tangan Fauzi dengan tangan kiri Fauzi mengelus kepala Syifa.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
*****
Selepas kepergian Fauzi, Syifa berlari kekamar mandi mual dan pusing. Bunda hanya memijit tengkuk sang putri dengan telaten.
"Syifa gak tau kenapa, tapi Syifa mual mencium parfum Kang Uzi." Ucapnya menunduk. "Syifa pengen pulang bareng Kang Uzi tapi Syifa gak tau kenapa gak suka." Imbuhnya membuat Ayah Bundanya terkekeh.
"Nanti bunda biar nyuruh kang santrimu untuk ganti parfum ya?" Ucap Ayana membuat Syifa memangguk-mangguk.
"Ayahh Syifa ngantuk pengen tidur bareng Ayah." Ucap Syifa membuat Arnold menghembus nafas pelan, habis subuh kok tidur, tapi kalau tak menuruti permintaan bumil bisa di tendang nanti.
"Kamu ke kamar kamu dulu, nanti Ayah nyusul." Ucap Ayah membuat Syifa segera ke kamar.
Ayana menatap heran ke arah Arnold yang menatapnya jahil. "Bunda jangan cemburu sama anak, sebentar lagi kita punya cucu lagi." Ucap Arnold membuat Ayana mengerinyit.
"Bunda ingat umur Yah gak usah alay, Alhamdulillah."
*****
Anak dan Ayah itu tertidur dalam satu ranjang, Arnold yakin jika cucunya ini akan menempel dengannya.
Drrt drrrtt
Dering ponsel membuat Arnold yang hendak terpejam kembali membuka mata, ada nama bodyguard yang tertera di atas layar.
"Berani kau membangunkan ku!!! Aku bunuh kau.." Gumam Arnold kriyip kriyip.
"T-tuan alex berada di indonesia king." Ucap dari seberang.
__ADS_1
DEG