Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
29.Tidak Melihat


__ADS_3

Kini Ridwan dan Syifa sudah berada di pondok. Mereka memasuki area pondok sambil melihat keliling,


"Rizky mana ya bang, Syifa tidak melihat." Ucap Syifa matanya terus menyusuri setiap sudut anak anak lain yang tengah berolah raga.


"Biasanya juga di sana." Ucap Ridwan menunjuk arah lapangan, Syifa melihat arah yang dituju,


"Kayaknya bukan deh." Gumam Syifa yang arahnya melihat sosok pria berkoko dan berpecis hitam, galfok ceritanya.


"Yasudah Abang pergi ke kantor dulu ya dek, mungkin orangnya sedang ke toilet atau jajan." Ujar Ridwan dan diangguki Syifa.


Ridwan menuju kantor, Syifa masih memaku di tempat dan melihat sekeliling tanpa sadar ia terus mengikuti kemana kakinya melangkah,


"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang membuyarkan lamunan Syifa.


"Wa Wa'alaikumussalam." Jawab Syifa terbata bata orang itu tersenyum,


"Ada perlu ya?" Tanya Orang itu


Syifa pov on.


Entahlah sejak kapan ucapan orang itu menyadarkan ku dan membuatku gelagapan, sungguh aku malu sendiri


"Ada perlu apa." Tanyanya, Sungguh tanpa sengaja aku menatap mata itu seolah aku tengah tenggelam didalamnya, isyarat matanya yang teduh membuatku ingin terus menatapnya


"Astaghfirullah, Zina mata." Aku segera menundukkan pandanganku dan merutuki semua kebodohanku.


"Apa yang kau pikirkan Fa, bukan kah itu termasuk zina jika kau mendalami pandangannya." Aku merasa telah terhipnotis.


"Hey." Ucapnya kembali mengagetkanku.


Suaranya membangunkanku yang seolah telah tidur bertahun tahun, sekali lagi aku dibuat gelagapan olehnya,


"Ii iya mm." Jawabku terbata bata, sungguh aku malu sendiri,


Syifa Pov off


"Bagaimana pertanyaanku yang tadi." Tanya orang itu.


"Pertanyaan yang mana kang santri." Jawab Syifa dengan nada lembutnya.


_____________""


Fauzi pov on


Kami memutuskan belajar luar ruangan, saat sedang memberikan intruksi kepada adik adik kelas untuk menyalin huruf hijaiyah, aku terpaku dengan sosok gadis berhijab Maroon sungguh perasaanku sedikit memberontak,


"Assalamu'alikum." Sapaku saat melihatnya berdiri jarak beberapa meter dari hadapanku,


"Wa Wa'alaikumussalam." Jawabnya sungguh itu mengemaskan dia gelagapan apa dia sedang melamun? tanyaku pada diri sendiri. Tunggu tunggu bukannya kemarin aku menitipkan Surat untuknya, apa bocil itu memberitahunya.


Ah aku dibuat malu mau ditaruh mana mukaku yang belum cukup umur untuk memperistri dia, Kenapa pikiranku menjadi seperti ini. Dasar otak


"Ada perlu ya?" Tanyaku mencoba setenang mungkin dengan menatapnya sungguh di dalam terasa suhu tubuhku menurun dan jantungku hendak loncat dari tempat tidurnya, apakah aku benar benar jatuh cinta?


Dia tidak bergeming apakah dia marah padaku soal surat kemarin, Ah lebih baik kemarin tidak usah kuberikan padanya, ku pikir dia marah tapi kenapa dia tidak menyadari tanganku yang melambai di hadapannya,


"Hey." ucapku.


"Ii iya mm." Jawabnya terbata bata viks dia melamun apa dia hendak memarahiku di tempat begini,


Sungguh akan ada sejarah baru anak Kyai jatuh hati kepada Gadis Rumahan dan parahnya ia mengirim surat diam diam jika Abi tau aku sudah digundul nanti. Aku menanyakan kembali padanya.

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana kang santri." Jawabnya dengan nada lembutnya. Sungguh jika aku sebuah coklat maka aku sudah melumer di tempat, jika aku sebuah lilin maka aku sudah meleleh sebelum waktunya, jangan biarkan perasaan ini padam bak sang kerlap kerlip lampu menerangi malam.


Fauzi pov off


________


#Author pov


"Sedang ada keperluan apa ya?" Tanya Fauzi yang terlihat menahan senyum karena gerogi.


"Ohh gini, Syifa mau cari Rizky ada tidak." Jawab Syifa menunduk.


"Ternyata Bocil itu menepati amanahnya." Batin Fauzi aman.


"Tidak, dari pagi Saya tidak melihatnya Fa." Jawab Fauzi.


"Duh kemana si bocah itu." Gerutu Syifa masih terdengar oleh Fauzi.


"Yasudah saya cari di kamar dulu." Ucap Fauzi.


"Sa Saya ikut kang." Usul Syifa menunduk, ada senyum tipis yang terpajang di sudut bibir sangat tipis.


Fauzi sedikit berpikir ia tak mungkin berjalan berdua dengannya walaupun jalannya dia yang di depan dan Fauzi yang dibelakang tapi tujuannya kamar, bagaimana jika ada setan lewat. ck ck ck


"Baiklah, kamu (Ucap Fauzi menunjuk satu santri) sekamar dengan Rizky?" tanya Fauzi


"Iya Gus," Jawab satu santri.


"Ikut kami ke kamar Rizky ya." Ajak Fauzi dan Anak itu mengangguk lain dengan Syifa yang mengerinyitkan dahi,


"Apa dia tidak suka denganku Cih kenapa harus ngajak bocah juga, bilang aja tidak mau nganter gue, sebel gue." Batin Syifa kesal,


"Ayo." Ajak Fauzi mengintruksi untuk mengikutinya Syifa hanya mengangguk.


.


.


Santri kecil tadi langsung nylonong saja hingga Syifa terheran heran dibuatnya.


"Assalamu'alikum." Syifa dan Fauzi.


"Wa'alaikumussalam." Jawab si santri.


"Ada nggak dek." tanya Fauzi


"Tidak ada Gus." Ucap Santri tadi masih mode clingak clinguk kemudian mengintip bawah kasur.


"Apa yang kau lakukan." Tanya Fauzi heran.


"Cari kecoak." ucap asal santri tadi.


"Heh!!" Teriak Syifa dan Fauzi bersama hingga keduanya saling melirik dan tercengir kuda.


"Ya cari Rizky lah." Jawab si santri sedikit geram karena hanya dia yang sibuk mencari.


"Tapi kenapa di bawah kasur memangnya ada ya?." tanya Syifa dengan polosnya.


"Heheheh tidak ada sii." Ucap si santri tanpa dosanya.


"Huuuu." sorak Syifa.

__ADS_1


"Kan siapa tau kak, kita itu harus ikhtiar dulu jadi apapun itu harus ada usahanya, dan disertai dengan tawakal berserah diri kepada Allah SWT. baru kebahagiaan menjadi seimbang sama kayak makanan, harus ada nasi disertai sayuran baru hidup seimbang ." Tutur Santri kecil itu bahkan Syifa tak percaya dibuatnya.


"Wah wah kelihatannya ilmumu makin nambah." Ujar Fauzi.


"Iya Alhamdulillah."


"Jadi kita harus Ikhtiar dulu ya?" Tanya Syifa


Kompak Fauzi dan si santri mengangguk,


"Contohnya gini," Ucap si santri memasukan tangannya kedalam saku koko dan melihatnya hingga Fauzi dan Syifa mengernyitkan dahi.


"Kenapa melihat kantong." Tanya Syifa heran.


"Mm heheh sebagian dari usaha." Cengir cengir


"Ck ck ck baru aja dipuji udah berulah." Fauzi malas.


"Namanaya usaha Gus, siapa tau dia nyelip di duit." Ucap si santri asal.


"Sakarepmu." Jawab Fauzi.


Syifa hanya tersenyum senyum melihat Fauzi kesal, Fauzi menyadarinya dan


"Kenapa kamu melihatku, naksir ya." tanya Fauzi.


"Ti tidak siapa pede banget." Alih alih Syifa.


"Ngga usah malu mengakui, tikus saja yang mencuri padi tidak malu untuk mencuri lagi." Fauzi.


"Cih! Maaf ya Kang Fauzi itu tikus dan tikus bukan saya." Tutur Syifa.


"Siapa yang mengataimu tikus hemm." tanya Fauzi


"Mm enggak ya." Syifa kikuk.


"Tidak usah malu ayo ke KUA." Syifa menganga.


"Eh ngapain." Syifa salting


"Aku halalin mau?" Goda Fauzi.


"Ngga usah saya bukan makanan haram supaya jadi halal." Ucap Syifa gugup.


"Kakak ini mau dinikahin Gus Fauzi ya." Celetuk Si Santri.


"Dimana mau engga." goda Fauzi.


"Enggak." Syifa memalingkan Wajahnya yang sudah merah


"Yaudah." Ucap Fauzi datar.


Mereka segera keluar untuk mencari Rizky...


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


Like komen Vote juga


Terimakasih..😍


__ADS_2