Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
61.Cerita Bunda


__ADS_3

Masih dengan Syifa yang merenung dengan apa yang Bunda katakan, ia tak menyangka jika orang tuanya mengalami hal berat yang mungkin saja tidak ada orang lain yang mengerti.


Flashback on


"Lalu kenapa Bunda bertahan dengan Ayah." Tanya Syifa penasaran.


"Bunda bertahan karena Ayahmu mencintai Bunda, dan itu cukup untuk membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh hidup dengan Bunda bahkan usia kami terpaut jauh." Ucap Ayana menerawang jauh.


Dimana dulu ia mendapat beasiswa di Amerika, dan terjebak dalam aura kejam sosok Arnold yang memaksanya untuk menikah dengan ancaman, dimana Ayana tidak mengenal sama sekali Arnold.


Lebih parahnya lagi selama bertahun-tahun Ayana menderita karena perilaku kejam yang Arnold berikan.


"Kenapa kau menikahiku hah, bunuh saja aku hiks aku tak tahan."


Bukannya membunuh tetapi Arnold menyiksa Gadis berusia 18 tahun tanpa alasan. Setiap kali pulang Arnold selalu berbau darah, rahang tegas dan berwibawa tentu kejam dan tampan terdapat dalam tubuh pria berusia 30 tahun itu.


Ayana selalu ikhlas melakukan kewajiban sebagai istri tetapi satu kejadian dimana Ayana menghilang membuat Arnold gelisah, ia rindu sosok Ayana, sampai dimana dia menemukan Ayana bersama Alex musuh bebuyutan antar mafia membuat permusuhan semakin menjadi-jadi.


Arnold berhasil membawa Ayana ke pelukannya, ia menyatakan cintanya setelah Ayana berusia 22 tahun, satu hal lagi Ayana saat itu belum mengetahui jika Arnold King Mafia. Miris bukan?


Ridwan lahir yang sekarang berusia 19 tahun, wajahnya sangat mirip dengan Arnold, namun sifatnya tidak sekejam Ayahnya. Ridwan di didik keras bahkan selalu melibatkan fisik namun semua tak sia-sia didikan Arnold membuahkan sosok Ridwan yang tegas dan bisa memiliki perusahaan usia muda.


Syifa 17 tahun gadis dengan wajah cantik menipu, siapa yang menyangka dibalik lembutnya berbuah duri dalam sifatnya yang kejam. Yah!! dia keturunan darah psycopat, lain dengan Ridwan yang dulu harus berlatih keras menggunakan senjata tapi tidak dengan Syifa.


Rizky 7 tahun miris baru pertama kalinya bertemu dengan orang tuanya, namun sifat Rizky tidak menunjukkan sebagai pria kejam, semoga memang begitu kenyataan, tapi siapa yang tau takdir?


"Sejak saat itu Ayahmu memutuskan untuk berhenti di dunia gelap atas permintaan bunda, tetapi justru awal dari masalah bermunculan kalian jadi harus berpisah sementara."


"Percayalah Ayah dulu juga sulit mengendalikan diri namun Bunda tulus mencintai Arnold hingga dia berani keluar dari dunia gelapnya." Ayana tersenyum.


"Benarkah begitu?" Ucap Syifa tak percaya.


"He'em."


"Buktinya?"


"Hemm Buktinya?? yah buktinya hadirlah kalian bertiga di dunia." Ucap Ayana terkekeh, Syifa yang belum paham maksud dari Bundanya hanya mengerinyit.


"Maksud Bunda kita bertiga kenapa?" Polos.


Sang Bunda tepuk jidat Anak ini benar-benar polos pikirnya.


"Sudahlah suatu saat Syifa tau, Bunda keluar dulu." Syifa mengangguk.


Flashback Off.


Syifa tersenyum-senyum dikala saudara-saudaranya menjadi bukti cinta dari sosok Ayah kejam dan Bunda lembut, namun Syifa belum tau maksud dari perkataan bundanya yang


"Hadirlah kalian bertiga di dunia."


Benar-benar polos...

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Syifa kelak dengan latar belakang miris, bukti cinta dari siapa yang akan menjadikan Syifa menjadi manusia normal, tunggu bukankah dia sudah normal? sudahlah kita tunggu tanggal mainnya..


(....)


Ruang makan yang semulanya hanya diisi bertiga kini lengkap bersama keluarga, sungguh Allah memberi nikmat banyak kepada hambanya yang mau bersabar.


"Ayah Bunda Abang Kakak." gema Bocil dengan seragam lengkapnya.


"Wah bocilnya kakak udah siap." Ucap Syifa.


"Itu kopernya buat apa?" Tanya Arnold sembari meneguk air putih.


"Rizky mau mondok." Ucapnya enteng membuat Arnold tersedak.


"Uhuk uhuk."


"Pelan-pelan Yah," Ucap Ridwan yang baru duduk.


"Tunggu, kenapa tiba-tiba Rizky mau mondok bukannya Ayah Bunda sudah pulang ya?" Ucap Ayana.


Rizky dengan santainya meneguk susu yang siap di meja hingga Syifa menatap tajam adiknya.


"Ehem Rizky mau mondok karena suka, lagian belajar disana enak banyak temen." Ucap Rizky tercengir membuat sepasang suami istri saling pandang dan membuang nafas kasar.


"Baiklah selagi itu jalan yang baik, Ayah izinin." Ucap Arnold, seketika Rizky menuju Arnold dan melompat memeluk Ayahnya.


Bugh! Hampir saja kursinya terhuyung kebelakang, untung Syifa dengan sigap menahan kursinya.


"Ridwan hari ini ngajar bun, ke pondok." Ucap Ridwan lagi-lagi sepasang suami istri menganga. Sejak kapan Ridwan jadi guru.


"Bela diri karena dulu bla bla bla." Pangkas Syifa, mereka dibuat pasrah dengan ini.


"Seharusnya aku tidak pulang ck." Batin Arnold kesal, Ayana yang tau wajah kesal suaminya segera memberi senyuman semanis gula.


-


-


-


Dan disini lah Ponpes Nurul Qur'an, Rizky dengan muka so imutnya menggandeng tangan Ayah Bunda, semua mata tertuju pada KB heheh Keluarga Bahagia maksudnya.


"Assalamu'alaikum." Ucap pria paruh baya yang tak lain Kiyai Hakim.


"Wa'alaikumussalam."


Kemudian mengajak mereka untuk mengikuti langkahnya menuju ruangan tepatnya seperti rumah yang masih area pondok. Arnold menjelaskan kedatangannya hingga Ridwan pamit untuk bersiap mengajar.


Ummi Fatimah menyiapkan teh hangat dan cemilan,


"Nak Syifa mau mondok juga?" Tanya Ummi hingga Syifa hanya menggeleng dan tersenyum.

__ADS_1


"Kelihatannya Rizky begitu semangat mondok."


"Tentu saja, karena Rizky ingin menghapal surat." Celoteh anak kecil itu dengan polosnya yang mendengarpun menatap bangga.


Hening sesaat.


"Ummi?" Ucap lembut seseorang dari kamar.


Deg!!


Syifa memegangi dadanya, suara itu membuat jantung Syifa hendak meloncat sungguh Syifa dibuat bingung dengan dirinya sendiri.


"Saya permisi dulu pak buk," Ucap Ummi semua pun mengangguk.


Selang beberapa lama sosok dengan seragam bela dirinya keluar dari kamar itu, pertama tatapan itu bertemu hanya sekejap.


"Ini Fauzi?" Arnold.


"Lho Bapak kenal?" Tanya Kiyai.


"Tentu saja, ternyata dia Gus to pantas saja adem lihat wajahnya saja." Ucap Arnold dengan menekan kan kepada Syifa.


"Ayah ish biasa aja." Bisik Syifa kikuk.


Fauzi menyalami Arnold dan Ayana tak lupa Abi dan Umminya segeralah untuk menuju lapangan, namun langkahnya terhenti ketika Rizky memanggil Fauzi.


"Kak Gus Rizky ikuttt, Assalamu'alaikum semua." Ucap Rizky berlalu.


"Ya ampun bocah itu." Gerutu Syifa.


"Masih kecil tidak apa." Ucap Ummi membuat Syifa kikuk.


______________


"Yul?" / "Yan?" mereka berpelukan yah saudara jauh itu berpelukan, Bunda dan Bude Yul berpelukan setelah sekian lama terpisah, Arnold memberi ruang untuk mereka melepas Rindu.


"MasyaAllah aku seperti bermimpi mbak," Ucap Bunda.


"Iyaa akhirnya kamu balik juga." Bude Yul tak kalah antusias.


Syifa segera pamit menunggu di mobil karena Ayahnya menunggu di sana.


Syifa bersyukur untuk hari ini, nikmat Allah yang tiada tara beribu terimakasih karena Keluarganya utuh lagi.


"Semangat Ujian." Ucap seseorang hingga Syifa menoleh benar saja di sana sudah ada Fauzi.


"Iya doakan biar dimudahkan." Ucap Syifa tak berhenti tersenyum.


Fauzi hanya mengangguk, ia heran sikap Syifa saat ini tidak ketus-ketus seperti dulu, Fauzi memutuskan untuk berlalu tanpa kata dia begitu terhipnotis dengan senyum itu. Namun apalah daya..


"Aneh." Gumam Syifa melihat Fauzi berlalu begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2