
Assalamu'alaikum,
happy Reading. Intinya banyak Typo dann males mau baca ulang wkwkw
Semangat berpuasanyaaa yaaa
jangan lupa baca Qur'an nya😘😘
******
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Suara Adzan Dzuhur menggema di penjuru pesantren, sama seperti langkah para santri yang mendekat ke masjid Nurul Qur'an. Jika santri dan santriwati di pesantren Nurul Qur'an masih melaksanakan kegiatan Ramadhan di pondok.
Setelah sholat dzuhur para santri membaca Al-Qur'an, tidak ada yang memakai ponsel. Begitupun dengan Ustadz lain sosok Fauzi menyandarkan di tembok Masjid dengan memejamkan mata, melantunkan Ayat-ayat suci yang sudah fasih ia baca.
Akhir-akhir ini ia merasa sangat Rindu dengan Syifa. Tiga hari sudah berpuasa itu artinya Fauzi sudah menjauh dari Syifa selama tiga hari pula.
Flashback On
Waktu itu Fauzi di kejutkan dengan Annisa yang menangis dan baju Syifa yang sedikut kena darah, Fauzi menatap heran bahkan kejadian masa remaja lalu itu membuat Fauzi sedikit curiga, namun segera ia tepis.
"Abi...Abi.. Annisa takut, bu-bunda tadi main pistol.." Ucap Annisa memeluk erat leher Fauzi dengan tersedu-sedu.
"Pelan-pelan hmm..Maksud Annisa gimana?" Tanya Fauzi, sesekali melirik Syifa yang hanya menunduk.
"Ada banyak orang..gede gede..banyak darah hikss Annisa takutt.." Rancau Annisa lagi.
"Sssttt, sudah, ada Abi. Annisa sekarang Abi antar ke kamar ya?" Ucap Fauzi membuat anak itu mengangguk cepat. Syifa merasakan ada tangan besar yang mengenggamnya.
()()()(
"Jelasin Fa. Annisa tadi pergi kemana sama kamu." Tanya Fauzi.
Keduanya tengah duduk di ranjang saat Annisa gadis cilik itu terlelap. Syifa hanya menunduk, gelombang ketakutan kembali muncul tapi bisikan keberanian sesekali memacu otak Syifa. Wanita itu membeku,
"Jangan bilang kamu menagajak Annisa ke tempat silat dan pelatihan memanah?" Tanya Fauzi lagi-lagi Syifa hanya membisu dan menunduk.
"Ma-maaf." Ucap Syifa memejamkan mata.
Fauzi hanya tersenyum tipis lalu mengelus kepala Syifa dengan lembut. Ada perasaan aneh tapi, entahlah ia tak mau curiga. Ia percaya sangat dengan Syifanya.
dan terbukti saat...
Beberapa hari lalu, Syifa menunduk di hadapannya. Fauzi mengulas senyum ketika pujaan hatinya seperti ini. Namun, ba'da maghrib ini nampak seluruh santri masih berada di Masjid.
"Kang, S-syifa minta maaf." Ucap Syifa seketika mengambil tangan Fauzi.
Fauzi merasa punggung tangan yang basah mengerinyit kening, Syifa menangis??
"Untuk Apa?" Tanya Fauzi lembut, jujur saja ia tak bisa melihat Syifa menangis. Itu adalah kelemahannya.
"......." Syifa diam tak bergeming. Bibirnya masih menempel di punggung tangan Fauzi.
"Mau meminta maaf buat melaksanakan puasa?" Tanya Fauzi, tapi Syifa menggeleng pelan.
"Lalu?"
"Syifa u-udah bohong sama Kang Fauzi, yang tadi kang Fauzi denger dari Annisa itu benar. Se-semua benar. Maafin Syifa Kang Maaf."
Deg.
Syifa tersentak kala tangan Fauzi tertarik paksa dalam genggamannya. Bersamaan Adzan berkumandang.
"Aku ke masjid duluan Fa." Ucap Fauzi setelah itu pergi tanpa mengindahkan Syifa yang sudah banjir air mata.
__ADS_1
"Nanti kamu nyusul." Kata terakhir setelah itu melenggang pergi dengan perasaannya yang kecewa.
Flashback off.
Semenjak kejadian itu, dua hari Fauzi hanya menyibukkan diri di perpustakaan pesantren. Selalu lembur dengan dalih banyak tugas. Sempat sang ummi menegurnya tapi Fauzi hanya menjawab'iya' dan 'banyak kerjaan'
Dan kini, sosok ayah muda itu sesekali mengulang Hafalan lagi yang mulai acak-acak. Pikirannya hanya tertuju pada pendamping hidupnya.
"Ya Rabb, bagaimana mungkin istri hamba menyembunyikan hal ini selama enam tahun??"
"Atau hamba yang sudah lalai dalam tanggung jawab yang membuat Syifa masih melakukan itu lagi?" Monolog Gus Fauzi.
"Gak bisa di biarin." Ucap Fauzi berdiri tidak sadar kala Ustadz Rizal tengah menatapnya heran.
"?????" seolah kepala penuh tanda tanya.
"Ustadz Rizal sehat?" Tanya Fauzi yang melihat tatapan ngeri dari Ustadz Rizal.
"Alhamdulillah kolak, ehhh!!! sehat gus sehat." Ralat Ustadz itu nyengir.
*****
Tok tok tok
Pintu bertuliskan 'Gus' di ketuk oleh Fauzi. Mengerinyit heran kala tidak ada jawaban. Fauzi memutar tubuh kemudian menuju tempat sang Abi Ummi sekaligus melihat Annisa.
"Assalamu'alaikum Abi, Ummi." Salam Fauzi yang membuat ketiga insan itu menjawab salam.
"Wa'alaikumussalam."
"Aabiii." Girang Annisa langsung minta salim ke Fauzi. Sedangakn Orang tua Fauzi hanya terkekeh.
"Bunda gak ikut Abi?" Tanya Annisa mendongak sesaat manik hitamnya menelisik setiap sudut ruangan namun nihil. Fauzi hanya tersenyum khawatir.
"Zil, 3 hari Syifa nggak bantuin Ummi? apa makanan di ruangan mu masih?" Tanya Ummi Fatimah membuat lagi-lagi Fauzi hanya terdiam sejenak.
"Zil, pergi dulu Umi Abi. Nisa Abi ada urusan bentar ya nak." Ucap Fauzi membuat gadis cilik itu hanya mengangguk dengan raut kebingungan.
****
Fauzi kembali berlari tanpa memperhatikan tatapan dari beberapa santri ndalem yang juga tengah berpapasan dengan Gus nya.
Tok.Tok.Tok
"Syifaa!!" Ucap Fauzi kali ini ia berada di depan pintu meraih gagang pintu ternyata tak di kunci.
Brak!
"Syifa."
Ruangan itu masih Rapi dan bersih, kemana Syifa? kalau waktu bisa di putar mungkin Fauzi tidak akan menjauh dari Syifa, kalau saja..
"Fa." Langkah Fauzi terhenti kala melihat wanita yang mendongak dari tundukannya, rambut yang terurai dan mungkin saja Syifa tidak menyisirnya. Apa perginya menyiksa istrinya?
Pria berkoko biru tua dengan peci hitam dan sarung hitam itu mendekat, dilihatnya Syifa yang mematung dan menatapnya tanp kedip.
"Kang Santri?" Tanya Syifa menangis lagi.
Fauzi yang sudah duduk di hadapan Syifa kini melihat setiap inchi wajah Syifa dengan kelopak mata yang menghitam, Senyum manis yang selalu terpancar karenanya kini juga pudar karena ulahnya.
Syifa menyugar surai legam milik Fauzi turun ke pipi kemudian menunduk, kala tangan kekar Fauzi mengucir rambutnya yang berantakan kemana-mana.
"Maafin Syifa."
"Sssstttt...sudah Fa," Fauzi menarik Syifa ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Maafin aku juga ya." Ucap Fauzi membuat Syifa menggeleng cepat, ini salahnya dan karena meragukan cinta dari Fauzi. Kurang beruntung kah Syifa?
"Syifa yang minta maaf karena bohong," Ucap Syifa lagi. Fauzi hanya mengulas senyum.
"Kamu 3 hari ini sahur apa hm? Umi bilang kamu nggak keluar kamar?" Tanya Fauzi membuat Syifa tersenyum kemudian mengenggam tangan kekar Fauzi.
"Syifa nunggu kang santri." Ucapnya dengan punggung tangan yang mengusap bekas air mata. "Kan di sini ada kurma, Syifa sahur sama kurma dan air putih." Ucap Syifa lagi dengan senyum lebarnya.
"Dan Syifa nggak ngunci kamar, karena Syifa yakin Kang Santri pasti dateng ke Syifa. Syifa suka takut kalau kang santri nggak mau lagi sama Syifa, Syifa yang meragukan cinta kang santri, padahal kang santri udah buktiin cinta ke Syifa...."
Fauzi hendak menyela tapi telunjuk Syifa mengisyaratkan untuk tetap diam.
"Harusnya dari dulu Syifa bilang, maka kejadian ini tak sama saat kang santri ngejauhi gadis Syifa. Harusnya Syifa gak main-main seperti meminta cerai saat kang santri menikahi Syifa dengan bukti cinta kang santri...."
"Harusnya Syifa juga bilang, ka..kalau Syifa gak bisa nahan diri, sy ..Syifa jauh sama Allah. Syifa banyak dosa, Syifa gak pantes buat kang santri. Syifa takut kalau kang santri ikut masuk neraka karena Syifa...
"Pantaskah Syifa di sebut wanita yang di rindukan Surga? Syifa bahkan tidak yakin kalau Surga mau menerima wanita seperti Syifa...Apa aku pantas untuk itu.." Ucap Syifa mengeluarkan perasaan setelah enam tahun memendamnya.
"Kalau kamu merasa melakukan kesalahan, lalu kenapa kamu masih mendekati kegelapan itu Fa?" Tanya Fauzi.
Syifa menggeleng dengan tatapan kosong. "Syifa nggak tahu."
Hening...
"Aku nggak pantes buat kamu Kang." Ucap Syifa menunduk lagi. "Laki-laki baik untuk perempuan baik, dan wanita buruk seperti Syifa nggak pantes buat kamu Zi." Ucap Syifa.
Satu yang di sadari Fauzi, bahwa Syifa tertekan dan menyebut suami dengan nama itu sama sekali bukan Syifanya. Kecuali benar-benar terjadi pemikiran sesuatu.
"Syifa." Lirih Fauzi.
"Kamu benar laki-laki baik untuk perempuan baik. Pun demikian dengan sebaliknya. Tapi kamu juga jangan lupa kalau seandainya satu laki-laki di satukan takdir, bukan berarti keduanya tak jodoh. Hanya saja Allah punya cara untuk membuat hambanya berubah ke jalan yang lebih baik."
"Syifa,, aku bukan imam baik seperti yang kamu impikan, tapi mari kita berjuang untuk mencapai janah-nya beserta ridho-Nya." Tutur Fauzi mampu meloloskan Air mata Syifa lagi.
"Udah jangan nangis terus, kalau air matanya ke hisep batal nanti puasanya."
Bugh..
"Sakit Fa " Fauzi nyengir , "sore ini kita buka puasa di luar ya." Ucap Fauzi . Tak lama ia merentangkan tangan agar Syifa masuk ke dalam pelukannya.
Keduanya berpelukan, melepas rindu sejenak. "Kang santri bauu." Ketus Syifa entahlah mendadak ia mual.
"Masa sih?"
"Iya." Ketusnya, tapi Fauzi yang tak percaya malah mendekapkan semakin erat.
"Uum..." Syifa terpaksa mendorong Fauzi sampai jatuh ke kasur. Gak heran kalo Istrinya jago!!
Syifa berlari ke kamar mandi.
"hoeeekk...hoeeekk.."
*
z
z
Syifa kenapa?
Like.komen.Votee ihihi
biar rame.
Tankss semuaa yang masih mendukuung sampai sini.
__ADS_1
Lopee youu pulll..