
Assalamu'alaikum, banyak typo hehe.
****
Hari terus berganti
Sayup-sayup terdengar bunyi ringisan dari si empu yang tengah tersiksa habis habisan oleh geng yang baru terbentuk di daerah itu. Siang ini bahkan tidak ada tanda kemunculan matahari yang membuat siapapun ikut berseri.
Awan hitam menandakan rintik-rintik air dari langit, hujan di sertai erangan adalah nikmat bagi si empu yang tengah asyik memainkan pisau kecil menyayat setiap kulit hingga aliran merah kental mengucur begitu saja.
"Akhh...ssshhh..ja-jangann.." Erangan ringisan dan bau amis sudah terbiasa terhirup di ruangan gelap penuh dengan potongan-potongan organ tubuh manusia yang tidak berdosa, tapi peran yang di jamin Surga.
"Penghianat, cih." Bos mafia itu meludah ke arah wajah yang sudah tak berbentuk. Ia berdiri mengambil pistol di sakunya kemudian mengarahkan ke arah kepala dan jantung.
DOR
DOR.
"Allahu akbar."
sekali tembak dengan dua alat si manusia malang sudah terkapar tanpa nyawa, pria misterius itu tersenyum devil, tatapannya beralih ke seluruh penjuru manusia lain berpakaian hitam lengkap yang melihat betul apa yang tengah di lakukan oleh bos nya.
"Kalian lihat!" Ucapnya dengan seringai.
"Itulah hukuman dari si penghianat, kalau sampai saya menemukan siapa yang berkhianat ingatt pistol saya siap menembus jantung kalian." Setelah mengucapkan itu bos meninggalkan para pengawal dengan bulu kuduk yang hendak berdiri.
Semua pakaian berserba hitam itu menunduk,
"Kalau bukan karena membiayai keluarga mana mungkin aku bekerja seperti ini." Gumam salah satu.
"Bos Alex memang kejam." Ucap salah satu lagi.
"Jangan berniat untuk menghianati bos Alex kalau kalian masih ingin hidup." Peringat salah satu anggota yang mendegarnya.
Lain sisi ada yang aneh dengan salah satu anak buah Alex, senyum tipis tercetak lebar dan juga rencana sudah tertera di kepalanya.
"Hmm. Rupanya ada yang terpaksa mengambil pekerjaan ini, baiklah satu informasi ini cukup untuk nona bos." Batinnya menunduk. Ia segera mengikuti orang-orang yang melaksanakan tugasnya.
****
Arnold beserta Ayana sedang duduk di teras rumah. Ayana menatap suaminya yang terlihat gusar
"Kamu kenapa yah?"
"Alex sudah membentuk kelompok mafia di salah satu kota, aku khawatir sama putri kita." Ucap Arnold dengan kepalan tangan.
"Alex? musuh kamu?" Tanya Ayana.
"Dia mau bales dendam kematian riko. Astaga itu sudah lama sekali bund." Ucap Arnold.
Ayana menatap suaminya dengan berkaca-kaca dan penuh harap. Arnold paham jika istrinya khawatir dengan keselamatan putrinya.
"Kapan ini semua berakhir?" Lirihnya, membuat Arnold terdiam.
sudah cukup untuk dirinya yang tersiksa di negara lain saat usia muda. Ia hanya berharap jangan sampai putrinya mengalami penyiksaan seperti dirinya.
"Aku berjanji akan segera mengakhiri ini." Jawab Arnold, ia mengetikkan sesuatu di ponselnya setelah itu menempelkan di telinga kanan.
"Kamu siapkan pengawal penembak jitu terbaik dan penjinak bom dari negaramu." Tutur Arnold dengan logat bahasa luar.
"Kamu mau melakukan apa?" Tanya Ayana.
"Tenang saja, kalau Alex melangkah aku akan melangkah sepuluh langkah di hadapannya." Gumam Arnold mengelus kepala istrinya.
****
__ADS_1
"Akhir-akhir ini aku resah kang, jadi nggak mau makan." Ucap Syifa memelas dan menggeleng di hadapan Kang Santri yang menyodorkan satu sendok bubur.
"Sedikit saja Syifa kasihan anak kita di dalam kalau kamu terus seperti ini." Ucap Fauzi membuat Syifa menunduk menatap perutnya yang sudah membesar.
"Kang."
"Hm."
"Syifa baru lima bulan kok udah kayak tujuh bulan ya kang?" Tanya Syifa dirinya heran dengan perutnya yang membesar lebih cepat.
"Nanti kita periksa ya." Ucap Fauzi yang membuat Syifa mengangguk menatap tangan Fauzi yang mengelus lembut perutnya.
"Gimana kalau kita USG." Kata Fauzi yang membuat Syifa menggeleng tak setuju.
"Jangan dong, biar ada kejutan pas lahir nanti Kang." Ucap Syifa nyengir, Fauzi beralih mengelus lembut pipi sang istri yang membuat Syifa malu setengah hidup.
"Aku seneng Fa, pipimu sekarang berisi enak di uyel uyel." Kata Fauzi membuat Syifa menghempaskan tangan Fauzi kasar.
"Jadi kamu bilang aku genduutt huaaaa, ayah bunda, kang santri jahat hikss..." Syifa memukuli lengan Fauzi dan membuat Fauzi meringis.
kapok kamu zi, haruse tau bumil itu sensian
"Eng-enggak kok Fa, kamu tetep buat aku cinta kok Fa." Ucap Fauzi membujuk Syifa yang mengambek.
"Huaa pokoknya aku gak mau tau, kamu harus tidur di luar." Ucap Syifa yang membuat Fauzi membulatkan mata.
"Syifa sayang jangan gitu nanti kalau junior kangen repot nanti hehe." Kekeh Fauzi membuat Syifa mendelik.
"Gak ada kangen-kangennan." Ketus Syifa.
"Sayang, aku itu tadi.."
"K-E-L-U-A-R."
"Syifa Zil?" Suara dari luar membuat kedua insan yang sedang berdebat itu menoleh, ada sang ummi yang tersenyum menggelengkan kepala.
Lain dengan Fatimah dan Fauzi, sedangkan Syifa malah mengaga "Duh ada umi, syifa bakal dipecat enggak ya jadi menantu." batinnya konyol sembari menunduk.
"Dramanya di sambung nanti, itu ada mertuamu zil." Suara Abi hakim membuat Fauzi langsung berdiri, sedangkan Syifa masih loding.
"Ada mertua ya Bi Mi. iya nanti Fauzi nyusul." Ucap Fauzi membuat Fatimah dan Hakim langsung mengangguk.
Sekarang Fauzi sudah menggandeng tangan Syifa membuat si empunya tangan terjengit kaget.
"Ehh.."
"Kenapa Fa?" Tanya Fauzi heran.
"E..kenapa?" Tanya balik Syifa seolah kepalanya penuh dengan pikirannya sendiri. Fauzi menepuk dahi.
"Itu ada mertua." Jawabnya.
"Ha?"
Astaghfirullah sabarr makin tampan makin di sayang istri
"Ada Bunda sama Ayah," Ucap Fauzi lagi membuat Syifa menatap dengan berbinar.
"Beneran." Ucap Syifa bangkit dari tempat duduknya setelah itu berjalan cepat keluar.
"Faa jangan lari kasian dedenya." Ucap Fauzi yang tak di hiraukan oleh Syifa.
Astaghfirullah sabar.
****
__ADS_1
Kini Syifa sudah mencium tangan sang bunda dan memeluknya erat, ia beralih ke sang Ayah. Saat tangannya mengulur bersamaan Arnold yang langsung memeluk putrinya hangat.
"Ayah." Ucap Syifa.
Arnold tersenyum kala merasa bahwa putrinya kini benar benar telah menjadi sosok ibu, tapi biar begitu Syifa tetap menjadi anak sekalipun usianya sudah tak anak anak lagi.
Giliran Fauzi yang menyalimi Arnold dan memeluk sebentar. "Syifa nggak ngrepotin kan?" Tanya Arnold menggoda
"Sama sekali tidak yah." Ucap Fauzi membuat Arnold tersenyum dan menepuk bahu menantunya seolah bangga punya mantu gininih
"Ehh besan." Ucap Arnold melihat kiyai Hakim yang menuju ke arah mereka.
Begitupun dengan Ummi dan Bunda yang malah ngobrol, Syifa hanya menatap mereka bergantian sembari mengelus perut buncitnya sebenernya ayah bunda mau ketemu anaknya atau mau ketemu besan sih, ih sebel.
****
Kini Syifa Fauzi sedang berbicara serius dengan Arnold, sedangkan Ayana dan Ummi sedang di dapur ndalem Kalau Abi Hakim tadi sudah pergi untuk mengisi kajian di desa.
"Sinyal bahaya." Gumam Arnold membuat Fauzi mengerinyit kecuali Syifa yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Menantu?"
"Iya Yah?" Jawab Fauzi.
"Sampai mana latihanmu menembak ?" Tanya Arnold membuat Fauzi menggaruk tengkuk, sedangkan Syifa beralih memutar bola mata jengah.
"Tak ada latihanlah yah, Kang Santri sibuk kajian." Ucap Syifa.
"Sudah sebulan ini jadwal padat Fa." Albi Fauzi yang membuat Syifa mencibir kesal.
Bilang saja trauma di pertama dan terakhir latihan nembak.
"Ayah akan mengajarkanmu cara menjinakkan bom." Ucap Arnold tenang.
"B-bom?" Fauzi membulatkan mata.
"Jadi kapan ada waktu." Tanya Arnold membuat Fauzi menunduk.
"Demi Syifa kang." Ucap Syifa membuat Fauzi memelas.
"Eh Aku cinta kamu kok Fa." Ucap Fauzi malah ngalor ngidul, Syifa menepuk dahi.
krik krik.
"Ayah tidak memaksamu untuk bisa tapi sinyal bahaya juga tidak dapat kamu halangi zi." Ucap Arnold sebelum meninggalkan Fauzi yang menunduk.
"Kang."
"Hmm."
"Kang santri nyesel ya nikah sama Syifa ." Lirih Syifa.
Fauzi menatap Syifa dengan kerinyitan di dahi.
"Nyesel gimana Fa?" Tanya Fauzi.
"Gara gara Syifa kan semua masalah tidak mungkin muncul kan?" Tanya Syifa.
"Eh enggak Fa, Astaghfirullah." Ucap Fauzi masih membuat Syifa menunduk.
"Kalau ini yang terbaik untuk menjaga dan keselamatan kamu Fa, Aku siap untuk latihan." Ucap Fauzi membuat Syifa berbinar.
"Benarkah?"
"Apapun untukmu." Ucap Fauzi.
__ADS_1
Sementara Arnold menggeleng pelan bucin sekali menantunya.
"Jadi sekarang siap latihan?" Ucap Arnold tiba-tiba. Sontak Fauzi dan Syifa saling pandang dan mengangguk.