
Dua bulan berlalu..
Setiap seminggu sekali Syifa mengunjungi RS hanya sekedar melihat keadaan Fauzi. Seperti minggu-minggu sebelumnya ia hanya menatap pria itu terpejam dengan alat bantu pernafasan dan layar monitor pertanda masih ada kehidupan di sana.
Shodakallahhul 'Adzim
Ucap Syifa mengakhiri bacaan Al-Qur'annya lalu menciumnya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya.
"Kang Santri apa di situ nyaman? Kelihatannya anda sangat senang terpejam di situ, apa anda tak ingin melihat tingkah konyolku."
"Hiks maaf bacaanku belum terlalu benar, kau bilang mau mengajariku mengaji, lalu kenapa kau tidak ingin membuka mata."
Syifa menatap Fauzi yang setia dengan posisinya, setiap kali ada kesempatan Syifa selalu mengunjungi RS hanya sekedar membacakan Ayat Al-Qur'an. Yah walaupun bacaannya masih berantakan.
Sekiranya waktu menunjukkan Abi dan Ummi Fauzi akan segera datang, Syifa bergegas untuk keluar ruangan.
(....)
"Assalamu'alaikum." Ucap Syifa.
"Wa'alaikumussalam, dari mana dek." Tanya Ridwan yang masih mencuci motornya. Syifa berjalan menunuju kursi teras.
"Mau mencari perkuliahan bang." Jawabnya sembari mengeluarkan ponsel.
"Ikut aja teman-teman ke Universitas Xxx, atau beasiswa kamu ambil di luar negeri." Saran Ridwan.
"Syifa lagi ngga mau ke luar negeri bang, kenapa coba harus ke sana kalo di sini ada." Ucap Syifa.
Drrt..Drtt..Drrrtt
Dering ponsel Ridwan membuat telinga Syifa memanas ia melihat nama Kiyai Hakim tertera di layar kaca, sontak Syifa berteriak ke Ridwan.
"Abanng ada telfon dari Pak Yai." Ucap Syifa.
"Iya kamu angkat dulu gih, ngga usah pake teriak-teriak." Ketus Ridwan membuat Syifa tercengir kuda.
"Assalamu'alaikum Pak Yai." Sapa Syifa sopan.
"Wa'alaikumussalam, Nak Syifa." Suara Ummi dari seberang.
"Ummi, ada apa?"
"Alhamdulillah Zildan sudah sadar, terimakasih berkat doa kalian."
Deg. Deg. Deg.
Syifa memegangi dadanya, entah kenapa perasaan aneh itu kini hadir kembali terlebih lagi dua bulan lalu tepatnya terakhir ia merasakan detak jantung berpacu lebih kencang.
"Syifa, Nak masih di sana??"
"Eh- Iya Ummi, Alhamdulillah boleh Syifa menjenguk." Ucap Syifa hati-hati.
"Boleh. Ya sudah udah dulu ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
__ADS_1
__________________
Ridwan dan Syifa sudah bersiap menuju RS yang di tempati Fauzi, namun Arnold dan Ayana tidak bisa menjenguk dahulu karena ada keperluan mendadak jadi harus terbang ke Amerika, Rizky? tenang si bocil masih mondok.
"Bang kita beli buah-buah an dulu ya." Ajak Syifa antusias.
"Cieee yang mau ketemu pujaan hati nieee." Goda Ridwan sukses membuat Syifa gelagapan.
"Mm maksudnya kenapa hati harus dipuja-puja?" Tanyanya. Ridwan mengangkat bahu, bahkan urusan cinta pun ia harus searching di media sosial.
"Sudahlah Abang juga kurang paham." Ucapnya santai, sedangkan Syifa masih sibuk dengan pikirannya.
Sesampainya di RS dengan antusias dan senyuman lebar Syifa berjalan melewati lorong-lorong Rumah Sakit, sedangkan Ridwan? justru merasa khawatir akan sikap Fauzi nantinya kepada Syifa.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, eh masuk nak." Ucap Ummi Fatimah.
Ridwan berjalan menuju brankar meletakkan buah-buahan di atas nakas samping brankar, dilihatnya Fauzi yang sudah membuka matanya, namun masih dalam keadaan lemah.
"Gimana Gus keadaannya?" Tanya Ridwan.
"Alhamdulillah Kak lumayan." Ucap Fauzi yang tadinya menatap langit-langit kini pandangan matanya menuju sosok gadis yang berdiri di bibir pintu.
Hiya Syifa sedang berdiri di sana ia tersenyum manis dengan maksud untuk menyapa Fauzi, sepersekian detik manik hitam mereka saling beradu. Syifa yang penuh binar sedangkan Fauzi hanya datar.
1 Detik
2 Detik
3 Detik Fauzi memutuskan kontak mata, ia berpaling dari tatapan itu.
Deg
"Kenapa begini."
"Dek?" Tanya Ridwan.
"Eh iya Bang." Ucap Syifa gugup.
"Kenapa duduk di sini, ayo masuk bukannya tadi mau ketemu sama Kang Santri?" Tanya Ridwan dengan menaik turunkan alisnya.
"Heheh Syifa malu, Bang, lain kali saja." Ucap Syifa menutupi kebohongan dengan senyum kikuk. Entah kenapa ia tidak ingin mengatakan jujur kepada Ridwan.
Ridwan hanya mangguk-mangguk yah tadi Ridwan sedang berbincang dengan Ummi Fatimah, ia tak melihat jika Fauzi sudah melihat kedatangan Syifa. Namun Ridwan tetap tahu jika Syifa menyembunyikan sesuatu.
Sesampainya di rumah
"Bang Syifa ke kamar dulu ya." Ucap Syifa. Sedangkan Ridwan menatap heran jam berapa ini tumben dia ingin ke kamar.
"Fa kenapa kau cengeng sekali, dasar payah mana mau dia bertemu dengan orang pembunuh sepertimu, hiks Kang Santri berubah." Lirih Syifa sambil memeluk buku Fauzi yang belum ia kembalikan dulu.
Saat ini Syifa sedang di landa galau apa ia sudah jatuh cinta? Jawabannya tidak tahu karena Syifa tidak pernah peka dengan perasaannya sendiri.
______________________
__ADS_1
Di Rumah Sakit Fauzi termenung dengan kejadian tadi, ia tidak tahu harus bagaimana lalu ia sendiri juga tanpa sadar memalingkan Wajahnya sendiri melihat Syifa.
Fauzi rindu namun ego mengalahkan segalanya, bukannya sudah ada nama pengganti di hatinya hanya saja ia perlu waktu untuk menerimanya, ia sekarang akan lebih fokus menata hidup dari pada menata cinta.
"Zil, Syifa tadi juga ikut lho." Ucap Fatimah.
"Zildan tahu Ummi." Ucap Fauzi tersenyum tipis. Seketika Fatimah mengerinyit melihat kelakuan anaknya.
"Tumben tidak menyapanya." Tanya Ummi sedangkan Fauzi hanya menggeleng.
"Ummi, kapan kita pulangnya Zildan tidak betah di sini, Abi mana." Rengkek Fauzi seperti anak kecil.
"Anak kecil ummi, sabar ya kita nunggu perintah Dokter dulu oke!" Ucap Fatimah geleng-geleng.
Hening,
Fauzi ingin menanyakan sesuatu tetapi berpikirnya bukan sekali dua kali bahkan sudah seratus kali hanya untuk menanyakan hal konyol saat ia koma.
Jujur Fauzi terkadang mendengar seseorang mengaji untuknya, ingin melihat wajahnya namun mata Fauzi seolah terkena lem hingga susah untuk membukanya. Bukan sekali dua kali melainkan berkali-kali, ia merasakan itu.
"Hiks maaf bacaanku belum terlalu benar, kau bilang mau mengajariku mengaji, lalu kenapa kau tidak ingin membuka mata."
Terakhir kali ia mendengar kalimat itu, setelah beberapa waktu ia baru mempunyai semangat untuk membuka matanya.
"Mm Ummi.."
"Heemmm." Jawab Fatimah mengelus rambut Fauzi ia sangat bersyukur.
"Ummi?"
"Iya?"
Hening
"Ummi?"
"Astaghfirullah sabar dia anakmu satu-satunya, kenapa tingkahnya seperti bayi begini." Batin Fatimah.
"Hehe.. Nggak jadi." Kata Fauzi membuat Fatimah menarik nafas dalam-dalam.
Hening
"Ummi?" Panggil Fauzi lagi.
"Iyaa nak. Butuh sesuatu?" Tanya sang Ummi lembut. Fauzi hanya menggeleng.
Hening
Sumpah kalo Ummi orangnya ngga sabaran udah kena gebuk tu Fauzi.
"Ummi??."
"Hemm."
"Boleh Zil tanya sesuatu?" Tanya Fauzi hati-hati.
__ADS_1
"Tentu." Ucap Fatimah tersenyum.
"Sebenarnya selama Fauzi koma, apa ada sosok gadis yang Ummi kirim untuk menemani Zil dan dia sering membacakan Al-Qur'an untuk Zil, Mm dia siapa Ummi?" Tanya Fauzi.