Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Ali Alexanders


__ADS_3

^^^Assalamu'alaikum, author datang dengan. banyak typo. Karena author ini manusia. Khusus Ali yang juga tak kalah peran..hihi^^^


****


DOR


DOR


Malam ini gelap, ya karena memang malam gelap kan? lebih lagi di sertai mendung yang membuat cahaya bulan terutup awan hitam.


Bunyi tembakan itu nyaring di telinga sosok pemuda yang sembunyi di balik semak-semak.


"Shit! " Umpatnya kakinya berjinjit untuk berjalan menempel dinding. Sesekali melirik ke kanan dan kiri bahwa ia yakini ada pengawal lain yang ada di sana.


krek, Ali (Jack) menginjak sesuatu yang membuat nya menyeringai.


Dor. Dor.Dor


sempurna, tembakan itu langsung mengenai para pengawal yang berusaha menembaknya. Kaki Ali segera mengayun ke semak-semak saat derap langkah menuju keluar.


"King Alex, apa itu penghianat Jack?" Tanya bodyguard yang berkepala kinclong itu membuat Alex was was.


"Sial kau jack anak tak tahu diri!" Umpat Alex memasukkan peluru ke senjata apinya.


Drrt. Drrt.


Tiba-tiba ponsel-nya berbunyi hingga ia memutuskan pergi dari tempat itu, tempat Ali yang di tinggalinya selama misi, tetapi misi ini gagal karena adanya Fauzi.


"Sorry king."


Bau anyir dan juga darah menyeruak ke penciuman hidung Ali, tubuh para maid berserakan bahkan terlepas dari anggota tubuh lain dan juga pengawal islam yang terkena bantai.


"Apa ini perjuangan islam?" Gumamnya.


"Hiks hiks.." Suara itu mengusik konsentrasi Ali, hingga di bawah meja sosok gadis kecil yang memeluk lututnya terguncang-guncang.


Ali menarik tangan gadis itu yang tersentak kaget, tapi setelahnya tersenyum. "T-tuan i-ibu hikss." Ucap adik dengan rambut sebahu itu sesenggukan.


Ali terdiam sejenak, aturan bekerja di sini tidak boleh anak kecil tapi entah kenapa Ali iba dengan gadis berusia 12 tahun itu. Semua maid dan juga pengawal di tembak mati oleh Alex sialan itu.


Bukan hanya itu, Alex meninggalkan surat ancaman untuk jack jika bermain-main dengannya.


Seorang muslim sejati ia yang tetap menjadi islam meski menghabiskan titik darah sekalipun, meski dalam ke adaan apapun, entah bagaimana dalam menjalankan nya, Hanya Allah yang tahu, serahkan saja pada Allah, pasrah bukan berarti menyerah.


*****


Ali terduduk depan sajadah saat usai menghafal beberapa bacaan sholat, ia bicara banyak hal kepada Fauzi saat di pondok. Tatapannya melirik ke meja nakas di mana terdapat foto sosok berhijab dengan baju kantornya.


Gadis yang menarik nya dalam keindahan islam. Anehnya sekarang sosok suami dari si Wanita yang mengajarkan arti Islam. Kalau saja cinta itu fitrah tidak mungkin kan ia jatuh cinta kepada yang salah.


----


"Suaminya Syifa memang sekeren ini, se alim ini." Ucap Ali membuat Fauzi terhenti menjelaskan beberapa ilmu tajwid.


"Jangan menilai seseorang dari beberapa pengetahuan apalagi memujinya secara berlebihan tentang ilmu, nanti saya bisa ujub." Kata Fauzi.


"Ujub?"


"Ujub bisa di katakan membanggakan diri sendiri merasa heran terhadap diri sendiri sebab adanya satu dan lain hal. Menurut Al-Junjani ujub adalah anggapan seseorang terhadap ketinggian dirinya, padahal ia tidak berhak untuk anggapan itu." Ujar Fauzi lagi lagi membuat Ali terdiam, kenapa orang islam tidak mau mengakui apa yang ia ketahui dan miliki? Kali ini benar ia gak salah langkah.


"Tapi ilmu kau sudah sangat banyak."

__ADS_1


"Iblis pun berilmu tapi tetap masuk neraka karena ke angkuhannya." Jawab Fauzi masih tenang.


"Bisa tidak mengakui jika kamu memang Alim, bahkan menolak berjaba tangan dengan yang bukan makroni dengan dalih islam melarang."


"Makhrom." Ralat Fauzi. Sejak kapan jadi makroni.


"Iya itu dia, padahal mereka cuma ingin meminta jadi sahabat atau sejenisnya."


Fauzi terdiam sejenak.


"Bukan maksud menjelekkan niat baik mereka dengan dalih silaturahmi atau sejenisnya... Meski mereka saja yang taat ibadah paham agama. Tapi kita harus berburuk sangka pada iblis..kesalehan barshisa yang bahkan sampai di puji oleh malaikat karena ketaatan ibadah ..bisa masuk neraka karena murtad." Ujar Fauzi


"Siapa barshisa?."


"Orang alim yang masuk neraka karena murtad. bagian akhir hayat." Ucap Fauzi menjelaskan sedikit kisah.


Dan Fauzi juga yakin bahwa sudah banyak yang tahu kisah ini.... kalau belum tahu searcing saja jangan buat nge-game doang.


"Orang dengan ilmu dan iman sekelas mereka masih bisa terjebak dalam talbis iblis, apalagi kita yang iman pas pas an???" Tanya Fauzi membuat Ali bergidik.


Flashback off


Ali yang tersadar jika di rumah ada seorang gadis pun segera bersiap, memilih untuk menyewa apatermen. Dia memang mafia tapi tak gila wanita. Hanya saja jaga jaga jika terkena tipu dan daya seperti kisah yang di ceritakan tadi...entah lah ia lupa namanya.


Memulai dari awal.


***


tiga bulan kemudian


Sore hari, salah satu dalam keluarga.


Tiga bulan kehamilan Syifa sering meminta keinginan yang bukan lagi terbilang nyeleneh tapi terlalu nyeleneh. Bahkan Fauzi sampai heran sendiri, anak pertamanya saja selalu minta yang kalem lah ini kok... Kalau kata Abi hakim mah turutin aja toh juga kamu yang buat Zil... Berani buat juga berani tanggung jawab.


Huwallahu a'lam


Saat ini...


Syifa yang sedari tadi terus mondar mandir tanpa tujuan dan menggigit bibir bawah. Hingga Fauzi yang melihatnya menggeleng pelan.


"Pengen sesuatu Fa?" Tanya Fauzi membuat Syifa menatap Fauzi tanpa mau menjawab ia kembali mondar-mandir.


"Pengen mie ayam?" Tanya Fauzi di jawab gelengan oleh Syifa.


"Bakso?" Lagi lagi menggeleng.


"Ayam bakar?" Syifa menggeleng lagi.


"Bebek rebus." Aih makanan apa itu? Syifa lagi-lagi menggeleng.


"Pare goreng?" Tanya Fauzi lagi, seperti permintaan beberapa hari lalu, benar-benar hari yang memahitkan lidah.


"Anggur bakar?" Subhanallah makanan jenis pelanet mana lagi itu, Fauzi ini benar-benar ingin membuat anaknya keracunan atau gimana sih.. Syifa terduduk di sofa sembari mengerucutkan bibir.


"Bunda pengen apa?" Tanya Annisa.


Syifa diam sembari berpikir keras kasih tahu enggak ya permintaan debay di kandungannya. Ia terus ingin melakukan adegan itu.


"Enggak jadi deh, bunda takut abi." Lirih Syifa Kali ini siapa anaknya dan siapa mak nya...berasa kebalik pikir Fauzi yang menatap keduanya bergantian. Tepuk jidat saja kang..


"Gapapa bund, Abi kan selalu nurutin apa mau bunda sama calon adik aku." Ucap Annisa dengan nada riang. "Iyah kan abi?" Tanya Annisa membuat Fauzi mengangguk-angguk, meski perasaannya tidak enak.

__ADS_1


Demi debay abi.


"Syifa pengenn..." Sengaja banget di gantung bikin jantung Fauzi ingin meledak saja.


Fauzi dan Annisa menunggu kelanjutannya.


"Syifa pengen nembak."


Apa tadi? Telinga Fauzi normal tidak ini? bumil tiga bulan ini sering bikin Fauzi susah tidur ck ck ck.


"Nembak apa Fa?" Tanya Fauzi was was. Annisa tidak tahu apa yang di maksud Bundanya ini.


"Nembak kamu lah bi." Jawab Syifa santai jujur saja Fauzi seketika lemes, apa anaknya di dalam ingin melihat ayahnya tertembak,


Ya salamm


"Abi, Bunda mau jadi malaikat izrail ya?" Tanya Annisa lugu. Fauzi hanya menatap putrinya sembari menggeleng pelan kembali menatap Syifa.


"Kamu udah gak sayang aku Fa." Ya salamm Fauzi ihh gemoy Syifa jadinya.


Syifa tertawa. "Becanda kang, Syifa pengen Kang Santri nembak."


Nembak apa dulu nih, secara Fauzi gak pernah pegang benda itu untuk mengabulkan bumil ngidam.


"Nggak ada tembaknya Fa, kita main panah aja ya." Bujuk Fauzi lagi, saat ini ia sudah menyuruh Annisa untuk ke kakek nenek agar tak melihat adegan penarikan peluru itu.


"Ada kok, Syifa udah ambil dari Ayah." Jawabnya malah memegang tembak dan di arahkan ke kepala Fauzi, Astaghfirullah wa laaillahillallah bisa bisa jantungan kalau gini.


Syifa tidak tahu juga dengan dirinya kenapa ingin mengajari Fauzi untuk menembak, padahal bisa saja dirinya menghilangkan kebiasaan itu dengan perbanyak nderes misalnya.


"Turunin tembaknya Fa kalau gak mau jadi janda." Ucap Fauzi hanya membuat bumil itu nyengir.


"Yaudah coba dulu kang." Titah Syifa membuat Fauzi menggeleng keras.


"Bahaya Fa, nanti kalau ada yang tergores peluru bisa sakit nanti." Alibi Fauzi membuat Syifa mendengus.


Ia berusaha memegangkan tembak itu ke jari jari Fauzi.


"Sakitnya gak parah kang kalau tertembak," Ucap Syifa.


Hehhhh


"Cuma kayak di gigit plankton." Kenapa sekarang bawa bawa nama bakteri kacang ijo sih Syifa.


"...."


"Tapi planktonnya seribu." Sudah Istighfar dan menurut saja apa kata istri, Fauzi mengarahkan tembaknya ke tembok.


"Kita main ketapel aja ya Fa." Negonya..


...*...


...z...


...z...


Tadi ketinggalan, ...Akan ada action seruuan lagi tapi aku....


Up tergantung komenan sih hehe.. kalao gak punya doi ya minimal dapet semangat dari kalian gitu, kan lumayan bisa bikin senyum senyum pas baca komentar yang sedikit menggelitik wkwwk.


Wassalamu'alikum

__ADS_1


Jazakallah khairr ..


__ADS_2