
Kelapa muda.
"Mau Kelapa muda." Gumamnya berbinar seraya mengelus perut yang mulai berisi. Ia mencari sosok suami yang akan ia minta untuk mencari kelapa.
Banyak kehadiran dari sesepuh dan kiyai lain di berbagai daerah, tentu saja termasuk juga kerabat dekat, dan juga alumni pesantren Nurul Qur'an. Bukan sebagai alasan hanya saja ini sudah benar-benar terjadi setiap tahun.
"Kang Santri." Bisik Syifa ke telinga Fauzi, sosok Gus dengan tatapan teduh itu juga tengah di tamui oleh beberapa muridnya, dan juga banyak tamunya abi hingga beberapa kali abdi ndalem bolak balik ke dapur untuk mengambilkan beberapa minuman.
"Iya?" Tanyanya.
Tiba-tiba saja tangan Syifa melingkari lengan Fauzi, tatapan para Ning dari pondok lain terus mencuri-curi pandang ke arah suaminya.
"Udara panas Kang." Gerutu Syifa.
Fauzi yang paham jika Syifa menempel gini artinya tengah cemburu dengan para gadis gadis yang mencuri pandangnya. Ia merangkul bahu Syifa, dasar! Fauzi yang kelewat bucin tidak tahu dimana tempat. padahal Abinya saja jauhan dari sang Umi hanya kerena menghormati banyak kalangan. Baik kalangan jomblo maupun singel, kan sama saja ...
"Pengennn." Rengek Syifa membuat Fauzi merundukkan kepala menatap wajah Syifa.
"Pengen?"
"Kelapa Muda." Jawabnya membuat Fauzi mengelus kelapa Syifa pelan.
"Iya nanti ya." Dengan penuh ketenangan.
"SEKARANG!." Ucap Syifa lantang, sungguh Fauzi hanya menunduk kala pasang mata mengarah ke mereka, Fauzi jadi menyapa mereka dengan kikuk. Wibawa Gus goyah karena istri yang tengah ngidam.
"Tapi belum ada toko buka Fa." Kata Fauzi membuat Syifa berkaca-kaca.
"I-i-iya dimana dapet kelapanya." Tanya Fauzi menggaruk tengkuk agar istrinya tidak menangis.
"Di pohon belakang pesantren."
Di saat yang sama Fauzi tengah mengaga dan dengan Syifa yang membayangkan saat menyeruput kelapa muda. Bu nyai jajaran pondok lain juga ikut menimbrung.
"Wah istri Gus Fauzi sedang isi ya?"
"Inggih Bu, Doakan saja yang terbaik buat istri saya dan calon anak saya." Ucap Fauzi membuat semua yang mendengarkan ikut mengangguk.
Bayi yang tengah di kandung Syifa beruntung mendapat Do'a dari jajaran ulama-ulama besar yang turut serta dalam mendoakan. Mendadak saja jadi tasyukuran sebelum Syifa yang menarik tangan Fauzi untuk mengikuti langkahnya.
"Kalau mau lihat yang bening jangan yang sudah punya istri dong." Gerutu Syifa yang masih terdengar oleh Fauzi yang hanya terkekeh.
"Kenapa hem?" Tanya Fauzi dari belakang.
Syifa menghentakkan tangan Fauzi membuat si empunya meringis pelan.
"Kenapa hem? suka di liatin para gadis gadis di sana iya!?" Tanya balik Syifa membuat Fauzi dengan gelagak menahan tawa dan juga menggeleng kepala.
"Tenang Kang Santri mu ini memang tampan...Tapi tenang juga, dia hanya punya Syifa seorang." Ucapnya ehh lebih tepatnya gombalan ala halal kang santri yang mungkin saja akan membuat Syifa meleleh, tapi..
"Alay.."
"Loh?"
Kalau saja Syifa tidak tengah ngidam pasti akan di buat terbang ke awang awang, tetapi dirinya hanya berangan angan kelapa muda yang segar jika di seruput.
"Gombalnya di pending, panjatin pohon kelapa di belakang Pesantren," Ucap Syifa yang terdengar memerintah.
__ADS_1
sabar sabar sabar... makin tampan..
"Tapi Fa.."
"Pengenn.." Lirih Syifa memajukan bibir. Fauzi hanya mengangguk patuh..
"Sesuai perintah bu nyai." Gumamnya seraya membungkukkan badan. Anehnya Syifa malah ikut berderama.
"Santri pinter."
*****
Dan di sinilah Fauzi, yang tengah menatap ketinggian pohon kelapa yang tak bisa di bilang pendek, melainkan sangat tinggi. Ia menggaruk-garuk tengkuk yang membuat peci hitamnya menutup kening.
"Ini beneran Fa?" Tanya Fauzi.
"Iya demi anak kamu Kang."
Lagi, Fauzi menatap ke atas.. jangan tanya bisakah Fauzi memanjat pohon? tentu saja bisa. Kemampuannya dalam memanah menunggang kuda dan juga memanjat pohon jangan di ragukan...
Hanya sajaaa.
Benarkah ia akan menaiki pohon di antara pandangan para Ning jajaran nyai sepuh yang juga ikut melihat ke area belakang pesantren.
Dikira ini tontonan apa mbak?
Fauzi menghela nafas, melihat Syifa yang berada jauh dari pohon yang menyemangatinya. Kali ini saja ya Fa.
Fauzi menaikkan sarung dan mengikatnya di pinggang, beruntung ia menggunakan celana sampai bawah lutut. Kaki Fauzi mulai menaiki satu per-satu pijakan yang sengaja di buat.
Syifa menyengit sebal dengan tatapan penuh minat itu.
"SAYANG KELAPANYA JANGAN SAMPAI JATUH."
aduhh, sengaja ini biar mereka yang menatap suaminya segera tersadar dengan halu berkepanjangan...Benar saja mereka langsung menunduk dan pada kabur semua.
"SAYANG??" Teriak Fauzi dari atas ia berbunga-bunga.
lagi-lagi Syifa menjatuhkan.
"IYA SAYANG KALAU KELAPANYA JATOH."
Tau gini diam saja Zil.
Fauzi mengambil kelapa dan melemparkan ke bawah, anehnya Syifa malah mendekat dan..
SYIFA!
grep
Syifa tersenyum dan menatap bangga dengan senyum menyungging menunjukkan jempolnya, hampir saja membuat Fauzi merosotkan diri dan jantungnya kalau Syifa terkena kelapa.
Segera Fauzi mengambil satu kelapa lagi tanpa men jatuhkannya. Fauzi takut dengan ulah Syifa yang mungkin bisa saja ceroboh. Atau Fauzi lupa jika hal itu kecil bagi seorang Syifa? ahh sudahlah.
"Syifa kamu..!" Kata Fauzi terpotong kala melihat ekspresi istrinya dengan tampang watadosnya dengan menunjukkan kelapanya dan cengiran manis.
"Bukain Kang, Syifa udah haus hehe."
__ADS_1
Fauzi menghembuskan nafas berat. Ia mengambil kelapa di tangan Syifa dan berjalan ke ndalem. Syifa duduk di beberapa susunan bambu yang sudah di buat menjadi kursi panjang di bawah pohon.
Hingga Fauzi datang memberikan kelapa yang sudah terbuka beserta sedotan.
"Hus segerr.."
"Bismillah dulu Fa."
Sontak Syifa nyengir dan mengucap bismillah, ia menyeruput seolah hendak menghabiskan air kelapa muda yang baru di petik dari Kang Santri. Syifa tak peduli dengan Fauzi yang menatapnya dari samping.
"Kamu ini nakal banget, tadi kalau sampai kelapa-nya kena kepala kamu gimana?"
"Ya benjol lah kang..masa kepala ganti kelapa." Ketus Syifa membuat Fauzi menggelengkan kepala. Hormon Syifa yang kadangkala menjadi judes amat membuat Fauzi bingung sendiri.
"Abi Bunda." Ucap sosok anak yang tak lain putrinya sendiri menyengir kemudian ikut duduk di tengah-tengah keduanya.
gagal romantisan batin Fauzi.
"Iya nisa sayang." Ucap Syifa membuat Annisa menatap orang tuanya bergantian.
"Nisa dapet Uang dari mbah mbah yai." Ucapnya sembari menunjukkan beberapa lembaran rupiah.
Fauzi dan Syifa saling pandang.
"Hah?" Syifa.
"Katanya buat beli permen..." Kata Annisa. "Beli permen kan uangnya kebanyakan bund." Imbuhnya membuat Syifa tersenyum-senyum.
"Nisa tabung aja ya Bi." Kini Annisa melirik Fauzi. Yang dilirik mengangguk-angguk setuju.
"Buat apa uangnya." Tanya Fauzi membuat anak itu berfikir keras.
"Eummm...buat beli jajan hihi." Cengiran manis Annisa membuat Fauzi ikut tertawa.
Di sela ocehan Annisa dan candaan kedua pasutri itu benar-benar berkesan mengahdirkan berbagai tawa dan arti keharmonisan keluarga. Harapannya keluarga selalu seperti ini, tapi mungkinkah?
Semua orang memimpikan bahagia, yah karena bahagia itu di rasakan bukan di cari. Seringkah mendengar kalimat bagaimana agar kita bahagia? hmm, padahal bahagia tidaknya tergantung kita yang menerima, tergantung apa yang kita lakukan.
Contoh mudahnya ya..tersenyum untuk bahagia. Maka sebelum tersenyum itu di larang. Di saat bersenda gurau harus lagi mendapat gangguan...
"Assalamu'alaikum."
"Pak Jack?/ Tuan Jack." Ucap Syifa dan Fauzi bersama di hiasi tampang polos Annisa dengan sosok itu.
*
e
e
hayo hayoo manis terus takut pada diabetes nih....siap tamat kan? kalau siap tamat harus siap konflik hihi...( tauk ah gaje banget aku tu)
Next lagi gak hihi ...jempolnya harus tempel dilayar dong.
semangat dan salam seperjuangan senegara dan seagama...
...21.05.2021💌...
__ADS_1