Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll : Nona Bos


__ADS_3

Brug..


"Fa, kamu tengah mengandung biar aku yang nangani." Ucap Fauzi membuat Syifa mengidikkan bahu.


Dor


Ia menembakkan ke berbagai titik kelemahan lawan, Fauzi pun demikian.


"Kuncinya fokus Kang." Ucap Syifa setelah itu keduanya terpisah. Fauzi dengan empat orang yang menuju dekat pohon besar. Melilitkan sarung ke batas pinggangnya.


Perang itu kalau lo pegang pedang, gue juga pegang pedang. Kali ini senjata api mereka terhempas ke rerumputan setelah dengan lihai Fauzi menembak tangan-tangan mereka.


Dor


Dor


Dor


Dor


Fauzi menghempaskan tembaknya ke rerumputan, ia mulai menyerang satu per satu dengan ilmu bela diri.


Menangkis setiap pukulan hingga,


Bugh. Pria lawan pertama sudah tersungkur, Fauzi mengaduh sakit di bagian punggung kala tendangan kencang ia rasakan. Dengan cepat berbalik dan menghindari gerakan lawan sambil berguling.


Hap. Fauzi berdiri bersiap dengan kaki kudanya,


Bugh. Pukulan lawan membuat lengan kiri Fauzi ia angkat ke udara guna menahan gerakan lawan. Tangan kanannya ia ajukan memukul perut si lawan.


Bugh.


Lawan terjatuh dengan mengenaskan, sungguh pria bernama Fauzi ini sedang khawatir dengan sang istri, ke empat pria yang ia lawan sedari tadi tidak membiarkan dirinya menoleh barang sedikitpun.


Bugh


Bugh


Satu pukulan mendarat ke perut Fauzi sampai terdorong ke belakang dan pukulan lainnya mendarat di sudut bibir Fauzi hingga membuat kepala Fauzi tertoleh.


Bugh, satu tendangan berhasil membuat Fauzi tersungkur diantara rerumputan. Terlihat ke empat pria sudah mengisi peluru di pistolnya.


Kuncinya Fokus kang.


Fauzi merayapkan tangan meraih pistolnya, dengan tatapan tajam mulai mengambil bidikan tapi lain berhadapan, guna mengecoh lawan.


Dor


Dor


Dor


Dor.


Sayangnya satu tembakan melesat, hingga seringai kekehan di balik masker hitam itu tersenyum, ia mengarahkan tembaknya berputar mengitari Fauzi yang masih terkulai di atas rerumputan.

__ADS_1


Siap menembak Fauzi dan...


"Aaawhhhh...." Ringis dari seorang perempuan.


"Nona bos??"


Anehnya pria yang siap menembaknya ikut menoleh dan buru-buru menghampiri suara Syifa, bukan hanya dia tapi semua yang duel tadi. Dengan sisa tenaga Fauzi bangkit dan menyusul perkumpulan.


Salah satu diantaranya hendak menyentuh Syifa tapi Syifa menkodenya agar jangan membantunya.


"Biar saya bantu nona bos?"


"Nona bos?" Gumam Fauzi, ia langsung menerobos pria berbaju hitam dan memeluk Syifa yang memegangi perutnya.


"Syifa, kamu kenapa mereka melukaimu? bagian mana? hm? aku akan habisi mereka! Jawab aku Fa? dimana yang sakit hem?" Cerocos Fauzi membuat Syifa meringis sambil terkekeh pelan di dekapan Fauzi.


"S..Sh..Sakit kang, jangan kenceng-kenceng meluknya, aku gak bisa napas." Ucap Syifa membuat Fauzi melepas pelukannya dengan kikuk.


Baru ia sadari bahwa sedari tadi pria berbaju hitam hitam juga berdiri mengerumuni mereka. Fauzi was-was.


"Nona bos tidak apa-apa."


Sontak ke was-was an Fauzi sirna gara-gara pertanyaan orang yang tadi melawannya. Apa tadi nona bos katanya...


"Nona bos?" Kini tatapan Fauzi mengarah ke Syifa yang menyengir.


Fauzi beralih menatap sekeliling, pria yang memakai masker dan topi hitam itu membuka satu per satu yang menutupi wajah mereka.


"Kak Rian?" Kata Fauzi.


"Maksudnya apa ini Syifa?" Tanya Fauzi datar, sebal sekali rasanya dirinya di kerjai dengan hal seperti ini. Syifa tidak tahu seberapa khawatirnya dirinya saat membayangkan istrinya hamil tiga bulan harus berperang.


"Praktek kang praktek." Ucap Syifa.


Fauzi meraup wajahnya frustasi! Kalau bukan istri sudahhlah.. Semua pria menatap mereka datar, dan juga Rian yang cekikikan bersama Ridwan.


"Kami manut apa kata nona bos, Gus." Celetuk Rian membuat Syifa menatap Rian tajam. Kurang ajar sekali kak Rian ini, ingatkan Syifa untuk mengurung pria ini nanti.


Fauzi diam.


"Adik ipar marah Dek" Cekikikan Ridwan yang sekarang ini duduk di samping Syifa dan merangkul bahunya.


"Abang yang pukul Kang Santri keras-keras kan?" Tuduh Syifa saat tadi melihat Fauzi tersungkur.


Glek, Ridwan menelan ludah susah payah.


"Awas saja nanti." Gumam Syifa kini beralih menatap Fauzi.


"Maafin Syifa ya Kang. Syifa salah." Ucap Syifa menatap Fauzi yang memalingkan wajah.


"Tapi belajar ya belajar saja Fa, praktek nya bisa lain kali bukan mendadak gini." Protes Fauzi tetap memalingkan wajah.


Syifa menunduk. "Syifa sekolah dulu langsung praktek kok nggak nanti nanti." Ucap Syifa,


Yailah dek itu kalo smk, batin Ridwan menepuk jidat.

__ADS_1


"Aw aduhh." Syifa memeangi perutnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Fauzi panik.


"Dedenya nendang kang, saat kamu mau di tembak tadi dedenya juga nendang dia nggak mau Abinya terluka." Ucap Syifa membuat Fauzi menghembuskan nafas lega.


Beruntung dirinya tidak memiliki riwayat penyakit jantung, kalau ada mungkin hari ini namanya akan tertulis dengan Muhammad Zildan Alfauzy bin Moehammad Hakim nur Fauzi.


Membayangkan saja membuat Fauzi sedih, apalagi kalau terjadi. Yaa mungkin saja akan terjadi dan itu pasti, tapi.... Apa amal sudah cukup?


Kembali ke cerita.


"Kalian pengawal yang jomblo atau beristri silahkan pulang ke rumah, saya juga pengen cepet-cepet ketemu istri." Kata Ridwan sudah panas melihat kemesraan Fauzi dan adeknya di angguki oleh Rian.


"Betul betul betul."


Panas ini panas


"Terus yang jomblo gimana bos?" Tanya salah satu pengawal membuat Ridwan mendelik tajam.


"Nasib kalian. Makanya cepet cari istri, jangan pacaran dosa atau kalau sampai kalian pacaran saya pecat dari kerjaan kalian." Kata Ridwan.


Semua mengangguk dan menunduk.


"Tenang gaess, nanti kita buka lowongan." Celetuk Rian membuat semua menatapnya.


"Lowongan kerjaan baru?" Tanya semua kompak.


"Bukan!!"


"Terusss??" Tanya barengan lagi.


"Lowongan istri hahahaha." Ayo pukuli saja Rian ini.


*****


Setelah acara praktek sepandai apa Fauzi tadi membuat Syifa harus mengobati luka-luka lebam di wajahnya. Syifa kasihan juga melihat Fauzi seperti ini dan salahnya, tapi gimana lagi dia juga ingin melihat adegan itu.


"Kang Santri kurang fokus tadi." Kata Syifa.


Kebetulan tinggal mereka berdua di danau ini.


"Gimana aku mau fokus Fa?" Tanya Fauzi balik membuat Syifa nyengir.


"Syifa cuma takut kalau terjadi apa apa di masa depan, rasanya Syifa akan jauh dari Kang Santri. Gak kebayang gimana Syifa hidup nanti."


"Kamu ngomong apa sih Fa!!" Sentak Fauzi.


Syifa diam ia mulai membersihkan luka di sudut bibir Fauzi. Melihat Kang Santri sedekat inilah kebahagiaannya, dia tidak meminta apapun asal bisa bersama dengan Kang Santri sudah pasti ia akan bahagia.


"Enggak Kang." Ucap Syifa.


Hening, sesekali Fauzi meringis.


"Sakit banget ya Kang?" Tanya Syifa dengan bodohnya ikut meringis.

__ADS_1


"Cuma kayak di gigit plangkton Fa." Jawab Fauzi datar,


__ADS_2