Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
73. Dua Bulan Lalu


__ADS_3

Seorang gadis tengah memandang danau, entah sejak kapan ia selelu nyaman karena tempat begitu sepi dan cocok buat menenangkan hati dan pikiran.


Syifa menerawang dua bulan lalu dimana setelahnya terdapat perubahan dalam diri Syifa yakni sosok yang tenang. Ia telah berjanji untuk keluar dari dunia gelapnya. Bukan hanya Syifa, melainkan keluarganya.


Orang tuanya pergi ke Amerika untuk menyelesaikan urusannya, sampai sekarang belum kembali ke Indonesia, sedangkan Rian yang telah ia anggap sebagai kakaknya kini menjadi Mu'alaf. Semua berubah tepatnya setelah dua bulan itu berlalu, termasuk sikap Fauzi yang cenderung diam.


Flashback dua bulan lalu


Kejadian setelah dimana Fauzi dibawa kerumah sakit, Syifa yang izin pulang bukan pulang ke rumah, namun ke ruang bawah tanah dimana Riko dan anak buahnya belum diberi pelajaran.


"Kak Rian bagaimana?" Tanya Syifa dengan nada es batunya.


"Sudah beres Fa, berita pesantren tidak akan tersebar dan Riko sudah ditahan." Ucap Rian, walaupun ia lebih tua tetapi Syifa tetap disegani oleh Rian.


Tanpa kata Syifa segera menuju tempat dimana pria mengenaskan itu di ikat, tepatnya kaki di atas dan kepala di bawah. Aura kejam dan mencekam berada dalam ruangan gelap tersebut.


"Hem bagaimana kabarmu?" Tanya Syifa mengejek.


"Apa yang kau lakukan Syifa?" Tanya Riko dengan ringisannya.


"Melakukan apa yang harus ku lakukan."


"Kau bukan Syifa yang dulu, Syifa tidak seburuk ini." Ucap Riko tak percaya.


"DAN KAU MEMBUAT SURAM MASALALUKU BODOH...KAU PIKIR AKU SELEMAH ITU HAH." Teriak Syifa meluapkan amarahnya, sudah bertahun-tahun ia berada dalam bayangan masalalu, sakit fisik dan batin karena ulah Riko.


"Tapi a-ku hanya ingin mendapatkan cintamu, dan kau selalu menolakku." Ucapnya tercekat.


"Lalu kau menghalalkan segala cara? Hendak melakukan hal tak seno'oh begitu, aku benci kamu!!" Ucap Syifa.


"Dengar Syifa aku hanya ingin mendapatkan cintamu..."


"DIAM jangan katakan cinta lagi dihadapanku. Kau sudah membuat orang yang ku cinta terbaring lemas di rumah sakit sekarang kau harus merasaka lebih dari itu." Ucap Syifa


Sppllassshhhh


Bugh


Plasshhh


Jelb


Akhhhhh


"He-ntikan Syifa."


Syifa terus menghajar habis Riko dan Jhonathan, dua orang itu sudah lemah tak berdaya. Syifa terbawa suasana awalnya yang hanya ingin memberi perhitungan malah terbayang masalalu yang membuatnya marah dan dendam.


Syifa juga manusia, apalagi dia manusia pendosa yakni dia tahu sendiri. Ia hanya ingin menuntaskan dendamnya, dalam islam memang di larang. Namun perlu dikatahui jika Syifa tidak terlalu pandai agama, apalagi faktanya dia sosok kejam.


"Aku harap ini akhir dari kekejamanku, ampuni aku Ya Rabb." Batinnya, bahkan pantaskah ia mengharap pengampunan dari penciptanya? ia sendiri merasa kotor dan lebih lagi buruk dari seburuknya manusia.


"Kak Rian kau urus semuanya, aku pergi." Ucap Syifa datar, Rian mengangguk.


Entah apa yang di lakukan Rian kepada anak Riko dan anak buahnya. Yang terdengar hanya erangan, ringisan dan jeritan. Syifa tidak membunuhnya tidak mungkin ia akan menambah dosa.


Flashback off


Setelah itu, Syifa menjadi pribadi berusaha lebih baik dari sebelumnya. Walaupun kerap terbayang akan dosa-dosanya ia akan tetap berusaha meminta ampun kepada Allah, malu? tentu malu! Justru karena malu, Syifa kerap menangis dalam sujudnya tidur yang selalu tak tenang.


Arnold dan keluarganya pernah mendatangi Kiyai Hakim tepatnya menjenguk Fauzi yang masih koma, menceritakan kisah buruknya di masa lalu. Sedangkan Kiyai hanya tersenyum lalu menyuruhnya untuk sholat taubat, keluar dari dunia gelapnya.


Kata beliau sih semua orang mempunyai masa lalu masing-masing, baik buruknya tergantung kita, Allah akan membuka hidayah kepada setiap hambanya yang ingin memperbaiki diri.


"Tapi masalalu kami terlalu suram pak Yai, pantaskah kami meminta ampun kepada-Nya." Tutur Ayah waktu itu.


"Iya Pak Yai, saya pernah melakukan keburukan yang amat buruk mungkinkah Allah masih mengampuni kami." Syifa.

__ADS_1


"Mengapa Pak Yai yakin jika masalalu kami dapat di ampuni?" Ridwan.


"Jangan pernah menilai seseorang dari masalalu." Jawab Kiyai Hakim.


Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam…


jauh dari sunnah…


jauh dari hidayah…


tenggelam dalam dunia yang menipu…


terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista…


Bukankah banyak sahabat rodhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khomr, bahkan pelaku kesyirikan?


Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.


Bisa jadi kalian salah satu dari mereka para manusia yang memiliki masa lalu yang kelam, yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam kalian.


Sebagaimana kalian tidak ingin orang lain menilai kalian dengan melihat masa lalu kelam kalian


maka janganlah kalian menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk.


Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang


kondisinya tatkala akan meninggal, bukan masa lalunya.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Amalan-amalan itu tergantung akhirnya”


________________


Sejak saat itu, keluarga Arnold memutuskan untuk hijrah dan benar-benar ingin memperbaiki keluarganya yang pernah terjebak di dunia gelapnya.


Syifa menitihkan air mata dikala mengingat dirinya masih jauh dari kata taat bahkan ia sendiri belum tentu arah, ia hanya berharap ada titik cerah dalam masa depannya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Syifa membalikkan badan melihat 2 pemilik suara itu.


Deg. Deg. Deg.


Mundur dan mundur hingga selangkah lagi mungkin Syifa sudah tercebur ke danau. Kenapa dia menjadi minder begini, jujur saat ini jantung Syifa berpacu dengan cepat, namun mengingat Najwa entah wajahnya yang melihat Fauzi penuh cinta, Syifa menjadi minder.


"Kamu mau mandi Fa?" Ucapnya tanpa dosa, hingga Syifa mendongak geram. Kenapa laki-laki ini tidak peka, Syifa malu.


"Hahak hini ko nengang hi khoam." (Kakak sini kalau berenang di kolam) Celoteh si bocil, siapa lagi kalau bukan Rizky yang mulutnya mungkin tersumbat siomay.


"Adek mulut penuh jangan bicara." Titah Syifa.


Glek! Rizky menelan siomaynya.


"Kakak ih, Rizky kan mau cariin kakak tadi." Ucapnya lalu makan Siomay lagi, hihh anak ini.


Hening


"Fa." Ucap Fauzi.


"Hem."


"Kamu tidak menanyakan keadaanku?" Ucap Fauzi, sedangkan Syifa berpikir sejenak.


"Kau sudah baik, aku sudah tahu jadi untuk apa menanyakan lagi yang sudah ku ketahui." Ucap Syifa menatap Fauzi sekilas lalu menunduk.


"Lalu apa kau baik-baik saja?" Tanya Fauzi membuat Syifa berpikir untuk apa menanyakannya jelas-jelas yang koma dia? ahh Syifa jadi ingat waktu di peluk Fauzi tiba-tiba.


Hening


"Apa kau tidak merindukanku?" Ucap Fauzi. Oh tidak pipi Syifa memanas lalu memalingkan wajah.

__ADS_1


"Kenapa kau berpaling, apa kau marah padaku karena dulu memelukmu tiba-tiba?" Ucap Fauzi.


Deg.


"Maafkan kesalahanku, kau tahu waktu itu aku sempat berpikir itu pelukan terakhirku dan saat melihat wajah khawatirmu,," Terjeda.


"Aku hanya berdoa agar aku bisa membuka mata untuk melihatmu tersenyum, kau tahu? aku bahkan berpikir jika saja itu pelukan terakhirku..." Ucap Fauzi terjeda karena Syifa.


"Stop!! jangan katakan itu, aku berterimaksih karena kau menyelamatkanku, maafkan aku karena membuatmu terbaring berbulan-bulan." Pangkas Syifa entah kenapa ia merasa sakit dikala mendengar "terakhirku" di ucapannya.


Fauzi hanya tersenyum.


"Apa kau merindukanku?" Ucapan Fauzi sukses membuat Syifa gelagapan.


"Kalaupun aku merindukanmu akan ku buang jauh ke danau." Faktanya Syifa merindukan Fauzi bahkan ia diam-diam membacakan Al-Qur'an untuknya.


"Kenapa?"


Diam


"Lalu bukankah yang membacakan Al-Qur'an seminggu sekali itu adalah kau, kau mampu membuatku bangkit Syifa." Ucap Fauzi yang geram karena Syifa selalu bungkam.


"Dengar ya!! Aku yang membuatmu sakit dan sepantasnya kau membenci wanita kejam pembunuh seperti ku!!" Ucap Syifa mengungkapkan faktanya.


"Aku tidak peduli." Ucap tegas Fauzi hingga Syifa mendongak hal itu membuat tatapan mereka terkunci.


Keduanya memendam kerinduan, Fauzi melihat mata Syifa yang memerah menahan tangisnya ia menjadi bersalah.


"Kau keras kepala, sudah ku bilang aku bukan wanita baik-baik dan sudah membuatmu sakit, maka menjauh dariku." Ucap Syifa memalingkan wajahnya.


"Iya Fa kau yang membuatku sakit!" Ucap Fauzi.


Deg.


Air mata yang Syifa tahan kini luruh begitu saja, kenapa ucapannya bak pedang yang siap menusuk hatinya, menggores setiap lukanya.


"Iya!! Kau yang membuatku sakit,, jika kau menangis, sakit dulu tidak ada apa-apanya Fa, harusnya aku membencimu karena aku benci wanita kejam pembunuh, tetapi aku tidak bisa Fa...." Ucap Fauzi lirih, Syifa hanya sesenggukan tanpa ingin menjawab.


Fauzi merogoh saku kokonya, menyodorkan benda merah berbentuk hati di hadapan Syifa yang masih menunduk.


"Kau yang membuatku sakit, tapi kau juga Asyifa ku, Penyembuh segala sakit ku, hanya karena mendengar suaramu dan melihat senyummu." Ucap Fauzi tangannya masih menyodor dan kepala menunduk.


Rizky menatap mereka dengan tampang temboknya., kasihan sekali nasib mu anak kecil, namun masih melahap siomaynya.


Oke kembali ke Syifauzi.


Deg. Deg.


"Ambilah." Ujar Fauzi.


Syifa mengerinyit melihat benda itu, semacam benda berbentuk hati yang ia lihat di kamar bundanya, hanya saja ini terlihat kecil..


-


-


Iklannnn😂😂😂


Dah dah sampai sini puas atau paus🙄 yaudah yang halu author ya suka-suka author dong.


What??? kira kira apa isinya yang di berikan Fauzi 😋😂bukannya mau ke kairo dulu ya??


Hayo main tebak"an?? seromantis apa niee kang santrinya😅


Banyakin komen dong, kalau tebakan kalian benar aku up cepet.


1430 kata😘

__ADS_1


salam dari aku 😅Si Pemalas Sejuta Impian


__ADS_2