
Dia, Jack Alexanders pria se usia Fauzi yang berasal dari Amerika. Kepercayaan bos mafia terbesar di Amerika yakni bernama Alexanders fransisco, di ketuhi bahwa Alex adalah musuh Arnold king Mafia yang pernah berkuasa di New York hanya saja jejaknya menghilang membuat Alex yang menguasai dunia gelap.
Sejak kecil lelaki itu hanya berdiri si samping jalanan, hingga Alex menemukannya dan memberinya nama Jack Alexanders, melatih dengan senjata tajam dan juga mendalami ilmu-ilmu yang membuat berkembangnya perusahaannya, namun sayangnya ia tak percaya akan hadirnya tuhan.
"Ini hidup saya!" Tegasnya setelah bercerita tentang kehidupannya kepada pria bernama Fauzi.
"..." Fauzi hanya diam dan menyimak.
"Tapi saat ini saya sedikit melihat hadirnya tuhan dalam hidup saya, itu karena anda." Ucapnya hanya membuat Fauzi terkejut.
"Maksudnya."
"Saya akan membebaskan anda." Ucapnya berdiri seraya memberi isyarat untuk mengikutinya.
"Di sini ada banyak pintu tapi hanya membawamu ke tempat yang sama. Saya akan menunjukkan arahnya sedangkan anda yang akan melakukan." Ucap Jack membuat Fauzi mengaga dalam keterkejutannya.
"Anda serius."
"Saya tidak pernah main-main." Ucapnya datar. Fauzi mengangguk lantas mengikuti langkah pria yang was was di hadapannya.
"Kau tau, saya seperti maling dalam markas saya sendiri." Ucap Jack terkekeh. "Saya dulu pernah tertarik dengan islam, saat pertama kali menginjakkan kaki saya di indonesia." Bisiknya pelan.
Ia mengulurkan masker dan juga topi agar Fauzi memakainya. "Terimakasih."
"Lalu kenapa anda tidak masuk ke agama Islam." Tanya Fauzi membenarkan masker hitamnya.
"Entahlah, saya tidak tahu...Yang jelas sejak bekerja sama dengan salah satu kantor di indonesia saya tertarik dengan seseorang And she is muslim." Jawab Jack membuat perasaan Fauzi mendadak aneh, ia bahkan tidak tahu kenapa ada rasa tak nyaman.
"Perempuan?" Tanya Fauzi.
"Yap...Tapi sekarang saya benar-benar tertarik dengan muslim." Jawab Jack langkahnya terhenti. Fauzi menunduk kala Jack berbicara kepada para pengawal ber seragam hitam.
Beruntung Fauzi tadi sudah di beri jaket hitam dan celana hitam. Wahasil sarung dan koko nya harus ia tinggal di ruangan itu.
"Aman." Satu kata itu membuat Fauzi mendongak, kemana pengawal tadi? Sudahlah ia harus mengikuti langkah jack dengan cepat.
"Alex menuju kemari, kau segera mengikuti arah jalur ini sampai di keramaian." Ucap Jack membuat Fauzi mengangguk patuh sebelum meninggalkan Jack yang terus menatapnya.
"Semoga Allah permudah jalan hidayahmu."
****
Langkah Fauzi memberat nafasnya ter-engah engah ia meletakkan tangannya di kedua lutut dengan posisi membungkuk. Di lihatnya ada sebuah Masjid megah yang membuat senyum Fauzi terbit bahkan matanya berkaca.
"Terimakasih Allah, Syifa aku kembali."
Kaki Fauzi mengayun ke tangga masjid kakinya yang sudah kotor karena tak memakai alas kaki dan juga tubuhnya basah kuyub karena keringat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Spontan jawab Fauzi terlonjak kaget kala melihat pria baya berdiri sambil geleng-geleng melihat Fauzi.
"Antum sendirian?" Tanya Sang pria.
"Nahh ini nih Ustadz malingnya." Ucap pria yang baru datang dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Maling?" Batin Fauzi bertanya-tanya.
"Heh kamu maling ya??!" Tuduh laki laki itu menunjuk Fauzi. Bahkan saking dekatnya membuat kepala Fauzi terdorong kebelakang.
"Bu-bukan mas." Jawab Fauzi.
"Lha terus apa?." Tuduh orang itu lagi bersungut-sungut.
"Manusia."
"Saya tau kamu manusia, tapi niat kamu.." Ucap pria itu terhenti kala bapak paruh baya itu menghentikannya.
__ADS_1
"Buka maskermu nak." Titahnya membuat Fauzi menurutinya, bapak itu terus memandangi wajah Fauzi yang juga menatapnya heran.
"Seperti kenal." Batin bapak itu.
"Udin, kamu ambilkan sarung dengan koko di dalam." Ucapnya yang di ketahui bahwa nama pria yang menuduhnya dengan sebutan maling itu bernama udin.
"Siap Pak Ustadz." Jawabnya, sedangkan Fauzi hanya menyimak tanpa mencampurinya.
Setelah kepergian Udin, Pak Ustadz memandangi Fauzi dengan tersenyum.
"Sebentar lagi waktu sholat dzuhur. Apa ada keperluan lain di sini?" Tanyanya.
"Enggak Pak Ustadz, saya hanya ingin mampir untuk sholat Dzuhur." Jawab Fauzi menunduk. Pria di hadapannya ini menatap dirinya seolah mengenal dan Fauzi jadi Was-was.
Di lihatnya Udin memberikan satu set koko dan sarung serta kopiyah hitam di berikan ke pak Ustadz tadi. Ustadz itu tersenyum dan mengucap "Terimakasih."
"Masih ada waktu untuk persiapan sholat dzuhur." Ucap Pak Ustadz membuat Fauzi benar-benar terkejut, bahkan Ustadz itu tahu apa yang sedang di butuhkannya.
Fauzi menerima setelan itu dengan menunduk, "Terimakasih Ustadz." Membuat orang itu tersenyum dan mengangguk.
*****
Di tempat yang sama, sosok Syifa sedang mondar mandir di depan pintu sesekali menggigit jarinya, cemas? tentu saja, Khawatir apalagi? Kehilangan sosok Fauzi dalam hidupnya membuat Syifa uring-uringan, ia bahkan menahan lapar, di sana Fauzi memakan apa? bersama siapa?
Kang santri Syifa Rindu
"Nak makan dulu ya." Ucap Ayana membuat Syifa menatap bundanya dengan sedih.
"Syifa udah kenyang Bund." Jawab Syifa membuat Ayana menghela nafas sejenak.
Hari ini Annisa sedang bersama Abi dan juga Ummi, mereka juga sudah mencari ke kota Z untuk mastikan keberadaan putranya tetapi hasilnya nihil, dan Syifa yang sudah tak tahan ia nekat berniat untuk mencari Fauzi.
Dengan Syarat Annisa tidak boleh ikut campur dalam urusan ini.
"Kalau kamu nggak makan, Bunda nggak akan izinin kamu cari Fauzi."
Syifa menatap bundanya yang juga menatapnya datar.
Maafin Bunda nak, membuat kalian tersiksa Batin Syifa mengelus perutnya yang sudah sedikit berisi.
Seusai sarapan, Syifa berjalan menuju Ridwan yang juga sudah siap dengan mobil sportnya.
"Yakin dek mau ikut." Syifa mengangguk. Ia duduk di belakang sesaat Arnold duduk di depan.
"Abang, kita ke kota Z." Ucap Syifa membuat Arnold menoleh.
"Mertuamu sudah mencari ke sana." Sambung Arnold membuat Syifa memejamkan mata yang sudah panas.
"Syifa pengen ke sana." Ucapnya membuat Ridwan dan Arnold saling pandang kemudian mengangguk bersamaan. Menurut lebih baik dari pada kena goresan pisau?
Kepadatan di sini membuat Syifa hanya menatap beberapa kendaraan sepeda motor yang memilih jalur yang belum ter aspal, sepertinya naik motor jauh cepat di banding menaiki mobil.
Pov Syifa on
Apa yang akan kalian lakukan saat kehilangan sosok berarti dalam hidup kalian? aku sangat kacau! tapi jangan katakan jika aku ini lebay, calon anakku ini merindukan sosok Abi.
Kemana kamu Kang?
"Abang kita jangan lewat jalur kota." Ucapku membuat Abang Ridwan mengangguk.
Entah kenapa meskipun pedesaan termasuk jalan yang cukup jauh setidaknya akan sama sampainya di kota Z.
Jalur yang kami lewati memang asri di sini ada jajaran pohon jati dan juga jalan naik turun pemandangan ini aku sangat menyukainya, sudah lama rasanya baru kali ini bisa melewati tempat ini lagi.
"Jalanan macet kang! coba aja kita bisa terbang pasti tidak akan se lama ini. Atau coba kita mermaid ya kang? biar gak usah repot-repot menunggu lampu merah berlalu." Gerutuku membuat tangannya menarik tanganku untuk melingkar di perutnya.
Beginilah Kang Santri, dia yang selalu mengajarkan ku arti sederhana meski punya mobil besar tapi dia memilih naik motor, entah untuk modus atau apalah. Pasalnya tanganku selalu melingkar di perutnya kasihan para jomblo.
__ADS_1
" Buat apa kita terbang dan berenang Fa, kalau Allah mengasihi kita kaki kalau bukan untuk berjalan. Sejatinya manusia itu makhluk yang paling sempurna." Ucapnya membuatku mendengus, kenapa setiap mengajak Ustadz halu itu selalau gagal?
"Panas kang." Ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Kan matahari di ciptain untuk memberi cahaya ke bumi Fa." Jawabnya lagi, "Sama kayak Ning Syifa yang di ciptain untuk Fauzi." Sambungnya membuat pipiku terasa panas. Anehnya dia selalu tahu meski merah itu aku sembunyikan.
Dia tertawa mengalun diantara kendaraan motor yang membunyikan klaksonnya. Tawa yang selalu indah, aku pukul saja helm-nya membuatnya menoleh. Bukan hanya dia tapi pengendara motor lainnya yang menunggu lampu merah berlalu.
"Jangan malu Fa, kita ini sudah halal." Ucapnya terdengar mengejek.
Menyebalkan!
"Loh kok lewat sini kang?" Tanyaku membuatnya melirikku lewat sepion, tanganku kembali di tarik olehnya untuk melingkar di perutnya.
"Biar kamu gak ngeluh terus Fa, takutnya kalau nanti di yaumul Akhir Allah protes ke aku istrinya ngeluh terus." Ucap Fauzi membuatku mencubit perutnya kesal. Aku diam, aku marah
"Fa?" Panggil Fauzi.
"Fa?"
"Marah Fa?" Tanyanya, sungguh menyebalkan. laki-laki susah peka-nya atau pura-pura tak peka?
"Tahu gak Fa?" Aku hanya berdehem.
"Kamu selalu membuat aku jatuh cinta, tapi aku mau bilang sama Allah, terimakasih sudah memberikan kamu sebagai istriku. Sewaktu di kairo aku tidak pernah bisa melihat perempuan kecuali mengingat kamu." Ucap Fauzi, terdengar Syifa terkekeh di balik helmnya.
Fauzi selalu punya cara untukku bahagia.
"Kang pemandangannya indah, kapan-kapan ajak aku lagi lewat sini." Ucapku mengalihkan pembicaraan. Sengaja, biar jantungku tidak merosot ke bawah.
Usia pernikahan kami yang masih di bilang pengantin baru. Dan aku bahagia karena dia yang selalu aku do'a kan beneran halal.
Lamunanku terbuyar, bisa bisanya aku membayangkan masalalu bersama Kang Santri waktu dirinya hendak mensurvei lahan untuk Pesantren baru.
"Habis ini kita kemana?" Tanya Bang Ridwan.
"Kita ke kiri." Ucapku membuatnya mengangguk.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Suara Adzan dzuhur membuat Syifa memandang masjid yang ada di dekat jalan, aku meminta agar Bang Ridwan menghentikan mobilnya, Kini aku berada di hadapan masjid indah yang berada di dekat pepohonan,
Bukan pertama kali, hanya saja aku merasakan debaran jantung yang tak biasa. Entah apa yang terjadi hingga hatiku bergetar melangkahkan kaki ku ke masjid ini, bang Ridwan dan Ayah berada di samping kanan dan kiriku.
Aku terpisah dari Abang dan Ayah, jelas saja karena tempat wudhu putra dan putri itu berbeda arah.
Ada perasaan senang dan takut secara bersama hingga membuat hatiku ikut bergetar, menyatu di setiap langkahku menuju pintu masjid.
"Ada apa denganku." Batinku menyentuh debaran dadaku.
****
z
z
Kalian pernah gak sih ngerasa berdebar kalau akan bertemu seseorang hehe, Parah nya lagi si dia beneran lewat terus debaran itu hilang juga bersamaan dia berlalu..candaa, aku sih cuma mau bilang berdebar itu bukan tanda cinta kan?
Di UP kapan lagi hehe?
Author maunya di vote dulu baru di Up😅
See you next episode..author gak mudik kok.. cuma kecapekan aja di dunyat ..iya capek rebahan hehe, sembari menunggu pengumuman kelulusan nanti juni😆 doain ya lulus dapet kerja hihi.
29 ramadhan, siap menuju kemenangan?
Semangat ya
__ADS_1