
Sesampainya di rumah Syifa dan Ridwan segera membersihkan diri, baru menyiapkan makanan memang sudah kebiasaannya, setelah satu jam berkutat dengan dapur Syifa memanggil Ridwan.
"Bang, makanan siap." Teriak Syifa.
Ridwan segera menuju ruang makan yang bersatu dengan dapur, dilihatnya sangat sedap,
"Wah ini kesukaan Rizky semua." Ucap ridwan,
"Iya, Panggil Rizky dulu Bang." Tanpa Sadar,
Membuat Ridwan kaget, memang Asyifa orang yang sulit ditebak apalagi sifat pelupanya yang sangat menguasai otaknya,
"Dek, Rizky kan sudah mondok." Ucap Ridwan, seketika Syifa terlihat murung,
"Astaghfirullah, Syifa lupa." Syifa tersenyum kecut
"Bagaimana mungkin kakak bisa jauh darimu dek." Batin Syifa
Keduanya segera menyantap hidangannya, hanya ada suara garpu dan sendok yang saling beradu.
.
.
Malam Hari Pesantren
"Assalamu'alikum." Ucap seseorang dibalik pintu.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Rizky membukanya.
"Kamu segera ke masjid ya sholat Isya, kemudian makan malam, dilanjut belajar ngaji, dan setoran." Titah orang itu,
"Iya Kak Gus." Rizky mengangguk
"Ayo teman teman," Ajak Rizky kepada teman sekamarnya,
Mereka segera menuju Masjid lalu mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya.
Para Santri sudah selesai makan malam dan kini mereka masih dimasjid untuk setoran dan belajar juga, tergantung tempat juga.
Rizky sudah selesai giliran ia duduk ditangga masjid yang hanya ada tiga tingkatan anak tangga, ia menatap langit yang bertabur bintang.
"Kak, Bang, ini sudah keputusan Rizky untuk mondok ternyata benar Rizky masih orang yang beruntung masih ada Ayah dan Bunda walaupun tidak pernah melihatnya, baru tadi siang ditinggal kini sidah rindu hem, apa setiap santri merasakan kerinduan seperti ini hem." Batin Rizky sekalaigus tanyanya pada si otak,
"Boleh kakak duduk." Suara itu membuyarkan lamunan Rizky
"Mikirin apa." tanyanya
"Hem sama seperti anak pondok lain Kak Gus." Ucap Rizky santai.
"Oh." Jawab Fauzi yah dia Fauzi
"Hm Rizky aneh kemarin ngotot sekarang tau juga jika seperti ini rasanya." Tiba tiba Seorang Rizky mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa?"
"Kakak sudah melarang nyantri dan kini belum 24 jam sudah rindu saja." Gumam pelan Rizky masih didengar Fauzi
"Mm memang seperti itu resikonya, tapi kita jauh itu bukan berarti kita harus terus bersedih, kita belajar gimana rasanya jauh dari orang yang berharga dihidup kita, supaya kita bisa menghargai yang ada sebelum tidak sama sekali."
__ADS_1
Rizky nampak serius mendengarkan
"Kita buktikan bahwa kita disini sanggup, kita mewujudkan cita cita kita, jangan kecewakan mereka." Sambung Fauzi.
"Iya kak Gus." Ucap Rizky
"Kakaknya Rizky sangat sayang ya sama Rizky." Tanya Fauzi dilanda penasaran,
"Iya dong, apalagi kak Syifa setiap malam pasti cerita soal Ayah Bunda Rizky hingga Rizky tertidur." Ucap Rizky tersenyum mengingat Syifa.
"Wah jadi itu kebiasaanmu ya, jadi nanti harus panggil kakakmu dulu ya." Tanya Fauzi menggoda,
"Tidak." Datar Rizky
"Tuh kan ekspresinya berubah." Batin Fauzi,
"Kalau bersedia biar kakak bacakan Kisah kisah nabi biar kamu bisa tidur," Tawar Fauzi
"Ah tidak usah, Rizky bisa nanti jika sudah terbiasa." Ucap Rizky kemudian hening
"Mungkin dia juga merindukanmu." Tebak Fauzi,
"Mungkin!!! tapi kasian nanti, dan aku sudah berpesan" Ucap Rizky kemudian Fauzi mengerinyitkan dahi,
"Berpesan maksudmu." Fauzi heran
"Rindu itu berat mereka nanti ngga kuat nanggung, biar aku saja." Ucap geli rizky,
"Hahahah kecil kecil cabe gede." Lagak Tawa Fauzi diikuti Rizky,
"Apa kakak Suka dengan Kakakku." Tanya Rizky menyelidik,
"Jujur saja kak." Desak Rizky,
"Kamu masih terlalu kecil." Sambung Fauzi,
"Em Suratnya sudah Rizky kasih kok tenang saja." Rizky menggoda.
"Mm surat? oh iya surat ya." Fauzi berasa kepergok mencuri sesuatu dari orang lain,
"Emm kira kira kak Syifa nerima surat Cintanya kakak tidak ya." Tebak tebak Rizky.
"Astaghfirullah kamu masih terlalu kecil, belum cukup umur." Ucap Fauzi dan Rizky mengerucutkan bibir.
Tiba tiba ada Faqih dan Danu yang menghampiri keduanya,
"Assalamu'alikum kalian kelihatannya sudah selesai setor." Ucap Faqih dan bertanya pada Rizky,
"Wa'alaikumussalam."
"Iya dong, kak Faqih sejak kapan mondok." Tanya Rizky,
"Sudah sejak MTs tapi mondok disini pas kelas sembilan." Jawab Faqih.
"Hey kamu santri baru disini." Tanya Danu yang asing dengan Rizky.
"Iya."
"Kelas berapa." tanyanya penasaran karena Rizky akrab dengan orang orang dewasa.
__ADS_1
"Kelas sepuluh." datar
"Yang benar saja, sekecil ini kelas sepuluh." kekeh Danu.
"La sampean itu gimana to, jelas jelas dia masih kecil pasti baru kelas satu lah." Celetuk Faqih dan Rizky mengerucutakn bibir.
"Sudahlah Rizky mau ke kamar, Assalamu'alikum." Ucap Rizky berlari menyusul temannya semua hanya geleng geleng,
"Wa'alaikumussalam"
"Kau tidak memanfaatkan Rizky bukan?" Bisik Faqih,
"Apa urusanmu." Fauzi datar,
"Ingat aku akan mengambil apa yang menjadi hakku dan satu lagi aku akan berjuang untuk itu." Bisik Faqih mengancam,
"Eh eh kalian ini main bisik bisik tetangga." Celetuk Danu kesal,
"Kepo." Fauzi/Faqih Datar hingga Danu Bergidik ngeri,
"Ingat ya dalam hadis pernah dijelaskan:
Dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: Rasulullah bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbicara/berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
"Dalam situasi yang demikian, akan menimbulkan berbagai perasaan yang tidak mengenakkan bagi orang ketiga. Bisa jadi timbul rasa sedih dalam dirinya, kenapa dia tidak diajak bicara, kenapa pembicaraan itu dirahasiakan dari dirinya, dan berbagai pertanyaan lain. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga perasaan saudaranya dan tidak menyakiti serta membuatnya bersedih." Danu menjeda
"Selain itu, menimbulkan berbagai prasangka atau su-uzhan (persangkaan-persangkaan yang buruk). Misalnya menghibahi, menjelek jelekkan, mengosip, maka timbullah prasangka yang ditekan setan padanya," Tutur panjang Danu sedangakan Fauzi dan Faqih saling pandang,
"Hemm Maafkan kami sudah membuatmu tersungging." Ucap Faqih tapi Danu mengerinyitkan dahi, seketika Fauzi menyenggol lengan Faqih,
"Apanya yang disungging." Tanya Fauzi.
"Itu beras." jawab Faqih mengambil beras yang hendak ditaruh didapur.
"Ck ck ck! Maafkan kami ya," Ucap Fauzi pada Danu,
"Sudah cocok jadi Ustadz belum tadi." Tanya Danu pada Fauzi,
"Sudah."
"Tapi bentar lagi palyboynya kumat." Celetuk Faqih.
"Pehh." Danu menggaruk tengkuk.
Kemudian mereka menaruh beras di dapur dan segera menuju kamar untuk istirahat, mungkin sudah terlalu larut.
.
.
Happy Readingg 😍
Salam Semangatt saja buat semua😃
Dukung terus Author yak🤗
Like Komen Vote kalo ngga ingat😇
Sekiaan terimakasih.
__ADS_1