
✨Pesantren
Malam hari setelah kegiatan rutin para santri, Kiyai Hakim mengajak berbincang bincang dengan para ustadz ,Sedangkan Mereka terlihat bingung siapa yang akan mengajar bela diri,
Mengingat Jadwal para ustadz bukan hanya tentang Ekstra, Ustadz Hamdan mengusulkan untuk mengajak Diskusi beberapa santri
"Maaf Pak Yai, Bagaimana jika saya mengusulkan untuk memanggil Faqih dan Gus Fauzi untuk menanyakan siapa yang menolong kejadian tadi." Ustadz Hamdan
"Baiklah, Silahkan."
Ustadz Hamdan pun menyuruh santri untuk memanggilkan Fauzi dan Faqih,
Tak lama Fauzi, Faqih sampai ke Tempat yang di tentukan
"Assalamu'alaikum. " Faqih dan Fauzi
"Wa'alaikumussalam.'' Jawab serempak kemudian duduk lesehan.
Ustadz Hamdan memulai pembicaraan,
" Begini Ustadz ingin tanya, siapa yang menolong saat kita di hadang para genk motor," ucap Ustadz sedangkan Fauzi dan Faqih saling memandang.
Kiyai pun menjelaskan kebutuhan pesantren kemudian meminta kejelasan, Faqih angkat bicara
" Begini Pak Yai, Dia adalah siswa SMK N 1Xxx..dia telah kelas 12, sudah dua kali menolong kami dalam kesulitan." jelas Faqih, sontak semuanya terkejut
"MasyaAllah apa itu benar." Ucap Kiyai tidak percaya
"Benar Abi, caranya berkelahi juga top bener," Sambung Fauzi antusias
"Yasudah kalian saya beri tugas untuk mengajaknya datang ke pesantren, biar abi yang mengatakannya." Tutur Kiyai
"Tapi apakah kita perlu ijin juga ke orang tua mereka Pak Yai, " tanya ustadz Hamdan
"Tapi saya tidak pernah melihatnya bersama orang tuanya, Selama kita kenal." Ucap Faqih
Kiyai Hakim merenungkan ucapan santri nya dan mengambil keputusan awal untuk berbicara baik baik dengan yang bersangkutan.
Setelah selesai perbincangan pun berakhir, Fauzi dan Faqih menuju kamar masing masing.
.
.
.
Di rumah Syifa
Syifa memandangi Bintang dari luar, setelah menidurkan Rizky ia menunggu kakaknya dengan perasaan was was
"Ck! Sudah larut begini kenapa dia tidak pulang pulang, awas saja besok." Gerutu Syifa
Ia melihat benda yang melingkar di pergelangan sudah hampir jam 11 Malam
"Apa begitu repot, Pekerjaan kantormu hah." Teriak Syifa pada diri sendiri ingin dia memaki kakaknya yang membuatnya resah.
"Apa jangan jangan..." pikir Syifa mengingat kakaknya marah saat di kamar.
.
.
__ADS_1
.
Di sudut tempat yang gelap
Berdiri seorang bermuka dingin tatapan mata tajam, Celana hitam jeans kaos lengan panjang serta topi hitam melekat di kepalanya.
Duduk di kursi kebesarannya dengan senyuman yang membuat siapapun bergidik ngeri, tak lupa beberapa pengawal yang sudah berjaga.
"Cepat katakan, apa tujuanmu menganggu bisnisku," ucap Ridwan Dingin
"Tidak akan pernah ku katakan." Ucap orang itu
"Rian!!."
"Baik bos." jawab rian yang paham tatapan Ridwan untuk mengertak dengan sayatan panjang di tangan orang itu dan pipinya.
"Arrgh." Ringisnya
"Masih mau belum mengaku." Tanya Ridwan sinis namun orang itu tak bergeming.
Dorr!!
Bukan bukan menembak lawan,,itu hanya gertakan tepatnya pluru menancap dinding,
"Mau mencoba.?" tanya Ridwan menyeringai
"Ayolah bos aku sudah tak tahan ingin menggorengnya." Ucap Rian jengah karena bosnya tak berani membunuh
Ridwan menatap tajam Rian hingga sang empu tercengir kuda "lanjutkan lanjutkan heheh." cengegesan
Ridwan mengambil belati ia melemparkan arah lengan mangsa
"sett!! jlep"
"Maka aku akan menghancurkan hidup mereka." ucap Ridwan tersenyum devil
Sontak orang itu terkejut pasalnya ia tak akan pernah tega dengan istri dan anaknya
"Ja jangann tuan, Saya mohon." permohonannya
"Hitungan keLima, atau jelaskan."
1, 2 , 3, 4, ...
Dengan cepat ia menjelaskan sedetail detailnya permasalahan keuangan keluarga dan ia disuruh mencari informasi perusahaan Ridwan dengan bayaran yang cukup besar,
"Siall berani dia menantang ku." umpat Ridwan berapi api
"Rian, kau urus hukuman yang pantas untuknya, hidupi keluarganya saat dia di penjara dan aku harus pulang." Ridwan dingin sedangkan Pria paruh baya sudah bersujud karena keluarganya masih di beri bantuan, ia menyesali perbuatannya
"Baik." Rian
.
.
.
Beberapa minggu kemudian, Keadaan berangsur membaik dan Ridwan telah menjelaskan kepada Syifa mengenai permasalahnnya, tentu dengan persyaratan yang membuat ridwan menghela nafas panjang,
Sore hari Syifa yang tengah mengajak Ridwan dan Rizky bermain dengan alasan kakaknya yang sebentar lagi ujian dan takut tak ada waktu dan ini itu membuat ridwan dengan terpaksa menuruti adiknya,
__ADS_1
Tepat di Taman kota disana terdapat lapangan dan berbagai jajanan, permainan serta bunga bunga yang terawat,
"Kak Adek mau naik itu ya." Ucap Rizky menunjuk odong odong
"Ayo, Bang ikut yuk." Syifa
"Ngga lah dek malu, abang mau lari dulu nanti tak kabari." Tolak Ridwan halus dan Syifa mengangguk pasrah kemudian menggendong adiknya.
Fauzi yang tengah berlari beberapa putaran dikejutkan dengan teriakan seseorang.
"Kak Ridwan."
Ridwan menoleh seketika tersenyum, Yah dia adalah Fauzi dan Faqih, yang terlihat lebih akrab dari pada kemarin kemarin
"Assalamu'alaikum." sapanya
"Wa'alaikumsalam." jawab Ridwan.
"Kak boleh kita ngobrol bentar kak.?" tanya Faqih, Ridwan mengernyitkan dahi
"Bukankah kita ini ngobrol." tanya Ridwan sedangkan Fauzi menggaruk garuk tengkuk di susul duduk di kursi yang tersedia di samping lapangan
"Kakak apa kabar." tanya Fauzi
"Langsung inti saja adik saya nunggu."
"Jadi syifa disini kak." Kini giliran faqih antusias kemudian Ridwan berdehem
"Kak jika ada waktu, boleh kah mampir dulu ke Pesantren Pak Kiyai mau bicara." Ucap Faqih serius
"Apa saya ada salah." Ucap Ridwan tenang
"Kak ridwan tenang banget ya." Batin Fauzi kagum.
"Tidak, atau mungkin pihak pesantren yang ke rumah kakak." Tawar Faqih
"Kalian cerita saja sekarang jadi tidak usah menutupi apapun," tutur Ridwan sontak membuat Faqih dan Fauzi merinding dia tau apa yang di rahasiakan.
"Sebenarnya kita sedang cari Guru bela diri mengingat seperti ada bahaya yang akhir akhir ini sering terjadi, Bahkan ada yang meneror santri santri di sana jadi jika kak Ridwan tak ada keberatan boleh berbagi ilmu di sana." Ucap Fauzi
Ridwan mencerna ucapan Fauzi,
"Kalo kakak berkenan Biar Pak Yai bicara dengan Orang Tua kakak mungkin." imbuh Faqih yang penasaran keberadaan orang tua Ridwan
Ridwan seketika terkejut rupanya bukan hanya temannya yang menanyakan Keberadaannya tapi juga orang lain.
" Oo itu tidak perlu, Saya sendiri yang akan datang ke pesantren, tapi saya pikir pikir dulu, Lagian saya juga butuh pekerjaan untuk sehari hari." Ucap Ridwan bohong.
Faqih dan Fauzi mengerti sehingga niat untuk menanyakan kedua orang tua Ridwan hanya di angan angan
Lalu mereka mengobrol biasa, Fauzi yang sedari tadi menyapu pandangan ke arah permainan melihat sosok perempuan.
"Itukan??..."
.
.
.
Heppy Reading
__ADS_1
Jan lupa teken jempol and komen