
Dengan Fauzi yang keluar dari Rumah Syifa benar-benar terkejut melihat banyaknya orang berpakaian hitam berdiri bak penjaga, ya kalo senyum lah ini ck ck ck
Fauzi dibuat heran karena ekspresi orang itu sangat datar bin dingin, yang benar saja orang yang soleh seperti Fauzi ingin yang namanya beradab kepada orang yang lebih tua. Prinsip!
"Permisi pak?" Ucap Fauzi kepada pria tegap dengan rambut yang terpotong rapi.
Orang itu hanya melihat Fauzi sekejap mengangguk, kemudian menghadap lurus ke depan, Fauzi hanya menganga tak percaya, bukankah ia berniat untuk menyapa namun kenapa hanya mendapatkan tatapan horor.
"Saya sedang bicara dengan tiang listrik atau gimana sih." Batinnya Fauzi mengangkat bahu kemudian menaiki motornya menuju pondok.
-
-
-
Sempai di parkiran, Fauzi masih memikirkan kejadian di rumah Syifa ia mulai curiga dengan keluarga Syifa yang baru datang.
"Hemm sebenarnya apa yang di sembunyikan Syifa sih? dilihat banyak penjaga tadi Ayahnya mungkin bukan orang biasa." Gumam Fauzi sambil berjalan.
"Ah sepertinya Ayah Syifa aku pernah melihatnya, tapi kapan? Lalu siapa keluarga Syifa sebenarnya." Gumamnya Fauzi seolah bertanya kepada dirinya sendiri namun tak mendapat jawaban.
"Assalamu'alaikum Gus." Ucap Dinda dan Fika dua santriwati yang setahu Fauzi salah satunya menyukai Faqih.
"Wa'alaikumussalam."
"Njenengan dipanggil Abi Gus." Ucap Dinda menunduk.
"Oh enggeh." Jawab Fauzi hendak berlalu.
Belum sempat Fauzi beralu, Dinda sudah memanggilnya dengan pelan entahlah apa maksudnya.
"Mm Gus?." Langkah Fauzi terhenti seolah tahu ada yang ingin dibicarakan.
"Apa istimewanya Syifa kakaknya Rizky." Ucapan itu muncul dari Dinda. Fauzi membulatkan matanya.
"Apa maksud sampean." Tanya Fauzi datar hingga Dinda menggaruk tengkuk berlapis jilbabnya sambil menunduk.
"Maaf Gus, Saya hanya heran dia hanya gadis rumahan tapii kenapa seolah istimewa." Ucapan Dinda sebenarnya ingin tanya Fauzi agar menjawab kenapa sikap Fauzi berbanding terbalik jika dengan Syifa. Namun ia juga takut Gus marah.
Lain dengan Fauzi yang tahu arah pembicaraan salah satu mbak santri itu, membuat emosinya naik ke ubun-ubun, Istighfar terus terbatin olehnya.
"Ada masalah apa dengan Syifa." Tanya Fauzi.
"Eng-Enggak Gus." Ucap Dinda menunduk.
"Seharusnya jika sampean menyukai seseorang usahakan caramu sendiri, meminta kepada sang pencipta dan jangan merendahkan Syifa yang tak tau apa-apa." Ucap Fauzi.
Fauzi ingat betul jika dulu Syifa pernah direndahkan dengan Dinda saat Faqih terus memperhatikan Syifa, namun bukankah itu membawa peluang dekatnya Fauzi pada Syifa?
Tetapi tetap saja Fauzi tidak terima dengan perlakuan santri yang berlebihan itu. Namanya juga manusia! Dinda hanya menunduk tapi entah apa yang hatinya katakan.
"Syifa baik dan lembut, dia bukan gadis kejam yang harus di jauhi, dan dia pantas dikagumi dalam diam...Termasuk Kang Faqih jadi jika sampean tak suka hanya karena dia diperhatikan oleh Faqih, Sampean salah karena itu pantas." Tutur Fauzi.
__ADS_1
Kedua santriwati menegang dikala Fauzi sudah berkata panjang lebar seluas alas segitiga ck, setidaknya mereka bisa intropeksi diri itulah harapan Fauzi, ia benar-benar ingin menceramahi dua santriwati itu. Tapii..
"Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi segera berlalu karena Abinya sudah menunggu.
"Wa'alaikumussalam."
Sesampainya tempat Abi segeralah Fauzi mencium tangan Abi dan Ummi lalu ikut duduk di ruang tamu.
"Zil kamu setelah ujian nanti langsung ke kairo atau bagaimana?" Tanya Abi.
"Zildan belum kepikiran Abi." Ucap Fauzi.
"Tapi Abi ingin tole memperdalam ilmu agama ke kairo dan kuliah di sana, kalau sudah dewasa nanti jadi penerus Abi." Ucap Kiyai Hakim.
"Iya Zil, Ummi setuju sama Abi." Ucapan Ummi membuat Fauzi berpikir sejenak.
"Jangan kebanyakan mikir, selagi itu baik untuk masa depan kenapa tidak." kekehan Kiyai Hakim membuat Fauzi tercengir, sifat Fauzi jika dengan keluarga cenderung manja.
"Atau mau nikah dulu baru ke kairo hem?" Tanya Ummi Fatimah sengaja menggodanya.
"Emmm..Nikah?" Ucap Fauzi pelan.
"Bagaimana apa Putra Abi ini tertarik dengan santriwati sini." Goda Kiyai Hakim sukses membuat Fauzi menggeleng.
"Kalaupun Zildan nikah, nanti istrinya ikut ke kairo gitu bi?" Tanya Fauzi ikut tertarik dengan mmm... Nikah.
"Enggak, nanti dia nemeni Abi sama Ummi di sini." Ucap Abi terkekeh, Fauzi datar.
"Jadi adakah di sini yang membuat Fauzi tertarik, Abi hanya tidak mau nanti terjebak dalam Zina." Ucapan Kiyai membuat Fauzi merenung.
"Baiklah kalau tidak ada Abi akann.." Ucap Kiyai menggantung hingga Fauzi menebak apa yang Abinya inginkan.
"Maaf Abi, jangan di jodohkan yaaa." Ucapnya memelas hingga orang tuanya tekekeh.
"Tau aja kamu Zil, zil kenapa ngga mau di jodohkan Abimu punya kenalan kiyai di Xxxx Ningnya sudah Hafidzah juga" Kini giliran Ummi.
"Yah karena Zildan masih muda heheehe dan biarkan Zildan mencari tujuan hidup sendiri."
"Tujuan hidup itu Akhirat dan bersama ummat lain bukan Zildan sendiri." Gurau Kiyai hingga Fauzi garuk tengkuk.
"Mm maksudnya itu Nikah muda itu bukan cita-cita yang harus diwujudkan." Ucap Fauzi.
"Mm atau sedang menunggu seseorang ini?hem?" Tanya Umminya sengaja memojokkan putranya. Fauzi hanya tersenyum kikuk. Umminya memang selalu tahu apa yang Fauzi pikirkan.
"Yah menunggu,,menunggu seseorang dengan pembuktian."
-
-
-
Malam hari
__ADS_1
Di tempat yang hening gelap dan hanya cahaya remang-remang dari si lampu jamur, Seseorang tengah bersujud dengan isakan tangisnya, mengadu kepada sang kuasa.
"Assalamu'alaikum warrahmatullah.." Ucapan salam mengakhiri sholat malamnya.
Orang itu mengadahkan tangan mengadu setiap hal yang menimpa, haruskah ia bahagia bahkan ia tak mampu berkata-kata Tuhan baik padanya, namun nyaris isakan itu semakin pilu disaat dosa itu terbayang dipikirannya.
______________
"Ya Allah, apakah pantas hamba mengadu kepadamu Ya Rabb Tangan ini hiks tangan ini kotor, tangan ini tanpa takutnya membunuh sosok nyawa, Ya Allah ampuni segala dosa Hamba ampuni hamba hiks. Berikan hamba kekuatan untuk menahan diri mengendalikan diri Ya Rabb."
"Hamba bukan orang solehah dan semua orang menganggap hamba ini seolah malaikat, tapi Ya Allah bukan maksud saya untuk munafik tetapi.. hiks ampuni Hamba yang berlumur dosa ini hiks."
_______
Syifa menatap tangannya dengan sendu, apakah ini takdirnya lalu keajaiban apa yang akan membawanya keluar dari dunia gelapnya. Hanya Allah yang tahu..
Syifa melipat mukenah dan meletakkan di sisi ranjang pikirannya kalut, hingga lamunannya terbuyar karena pintu diketuk dari luar.
"Bunda?" Ucap Syifa menyilahkan Ayana masuk.
"Kamu kenapa?" Ucap Ayana mengelus lembut kepala Syifa yang tak berjilbab. Syifa rindu dengan elusan bundanya.
"Hiks Bun, apakah Syifa jahat."
"Apakah Syifa munafik."
Deg!
Ayana menatap anaknya sendu, membawanya kedalam pelukannya seolah berbagi perasaan yang sama.
"Hus kenapa ngomongnya gini hemm." Ucap Ayana.
"Syifa..Syifa nggak tau bun hiks," Melepas pelukan lalu menunduk.
"Syifa tidak sadar, diri Syifa tersulut emosi, Syifa membunuhnya Bun,hikss Syifa pembunuh." Tangis Syifa pecah Ayana memeluk erat putirnya.
"Dengerin Bunda, apa yang hadir dalam kehidupanmu itu sudah takdir nak, Bunda yakin suatu saat akan ada pria yang membawamu keluar dari Gelapnya duniamu."
"Syifa bukan orang baik."
"No."
"Mana ada orang yang mau memperistri pembunuh seperti Syifa." Ucap Syifa.
Ayana mengulas senyum, anaknya yang satu ini sudah dewasa rupanya.
"Kau tau?? Ayahmu pernah bercerita ke bunda, jika sebelum hadirnya Bunda si Ayah tidak mengenal tuhan, ia benar-benar kejam." Ucap Bunda Ayana membuat Syifa mendongak menatap Ayana
"Lalu...
__ADS_1