
Menatap setiap santri berlalu lalang, tersenyum setiap paksaan, yah hatinya tengah dilanda sakit senyum ukirnya hanya sebatas isyarat bahwa ia kuat.
Fauzi duduk di serambi masjid, ia memilih untuk menghapus semua dengan bismillah. Hingga teriakan seseorang membuat Fauzi terlonjak dari tempat duduknya.
"Kak Gus?"
"Astaghfirullah, ngagetin aja kamu ky." Ucap Fauzi terkekeh.
"Ya maap." Ucap Rizky tanpa dosanya. Kemudian mundur sepuluh langkah.
"Satu,dua,tiga,empat,lima,enam,tujuh,delapan,sembilan, sepuluh..." Ucap Rizky sembari mundur perlangkah.
"Mau ngapain Ky?" Tanya Fauzi mengerinyit heran.
"Rizky lupa ngucap salam, ASSALAMU'ALAIKUM." Ucap Rizky dengan deretan gigi putihnya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Fauzi menggeleng-nggeleng kepala.
Rizky menatap intes Fauzi dengan posisi kikuk, Fauzi jadi salah tingkah, ditatap anak kecil saja sudah cengar-cengir bagaimana jika dengan.. ehem sudahlah.
"Kak Gus tau namanya ikan?" Tanya Rizky Fauzi mengangguk.
"Ikan nila, ******, hiu, lumba-lumba..." Jawab Fauzi sedangkan Rizky mangguk-mangguk.
Tak lama Faqih datang, hingga Fauzi memalingkan wajahnya ke samping mungkin takut jika dikata lemah oleh saingannya yang jelas-jelas Syifa sudah bahagia dengannya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Faqih tersenyum teduh, tunggu bukan seperti mengejek tetapi apa artinya itu.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Fauzi ikut tersenyum canggung.
"Tolong jaga dia, sampean lebih pantas." Ucap Faqih tersenyum, Fauzi belum tahu makna itu tetapi matanya mengatakan terluka, itu artinya?
"Maksudnya?"
"Jangan pura-pura ndak tahu, selamat berjuang." Ujarnya tersenyum menepuk bahu Fauzi.
Puk puk (kemudian berlalu)
"Kang Faqih kenapa Kak Gus?" Tanya Anak kecil seolah telah menonton derama rebutan siomay ckckck.
-
-
Syifa berjalan dengan langkah gontai tatapan kosong, ia membuat semua orang sakit bahkan dirinya sendiri kini sakit, lantas apa yang harus dipaksa, sekali lagi Syifa adalah tipe teguh pendirian tanpa memaksa.
Termasuk berbicara jujur dengan Faqih, kalaupun dia tegar mungkin dia akan berusaha menerima tapi tidak untuk seorang seperti Syifa.
Flashback on
Bugh!
__ADS_1
Tangan Faqih sudah bercucuran darah, Syifa yang terkejut kakinya tak mampu menopang tubuhnya sendiri, apakah ini balasan untuk orang yang selalu ada? Tetapi Syifa tak berpikiran seperti itu.
Hening
"Maaf."
"Maafkan aku, bukan maksudku untuk membuatmu trauma akan masalalu lagi, maaf." Ucap Faqih masih poissi duduk dan menunduk.
"A-aku sudah senang sudah kau anggap sebagai kakakmu harusnya aku tahu diri dan maafkan aku hampir terpedaya karena emosi. Maaf.." Ucap Faqih membuat Syifa mendongak menghapus sisa-sisa air mata.
"Jangan buat aku takut lagi,,kak." Ucap Syifa lirih, seketika Faqih mendongak dan tersenyum.
"Maaf." Dan Syifa hanya mengangguk.
"Apa kau akan tetap menganggapku kakak?" Tanya Faqih was-was seolah takut dianggap orang asing lagi.
"Iya."
"Terimakasih-terimakasih." Ucap Faqih senang, setidaknya ia bukan orang asing setelah perbuatannya yang membuat Syifa takut.
Yah Faqih tersadar karena Ridwan dulu pernah menasehati dengan jelas, jika boleh egois Faqih akan memaksa. Tetapi Faqih bukan pria seperti itu yang menyakiti perasaan perempuan.
Dengan gemetar tangan Faqih merapikan jilbab Syifa tanpa menyentuh kulitnya, Syifa memaku ditempat membiarkan kakak angkatnya ini merapikannya.
"Aku setelah lulus mau pindah ke universitas Al Azar." Ucap Faqih terakhir mengelus kepala Syifa.
"Kenapa?" Tanya Syifa.
"Hm Sebenarnya aku mengucapkan kata itu ingin memperjelas dan kini menjadi sebuah kelegaan untukku, aku masih bersyukur jika Syifa masih mau menganggapku kakak." Ucap Faqih tersenyum, senyum tulus itu membuat hati Syifa miris. Apa ia melakukan kesalahan?
"Maaf."
"Hey-hey tidak masalah, kakak malah senang kalau adek jujur heheh." Ucap Faqih dengan terekekeh sendiri. Syifa ikut terkekeh karena namanya pun sudah berubah panggilan.
"Ini untukmu. Tenang saja ini wujud cinta dari Kakak untuk Adik." Ucap Faqih memberikan gantungan kunci dengan ukiran kayu yang cantik dan berbentuk hati.
"Makasih kak." Ucap Syifa merubah panggilan.
Faqih tersenyum mengacak jilbab Syifa,
"Baiklah kau harus janji, tetap menjadi Syifa yang terkenal lembut dan mungkin besok aku langsung berangkat." Ucap Faqih.
"Apa tadi?Lembut.."
"Iya kak, semangat mencapai cita-citanya." Ucap Syifa tersenyum sedangkan Faqih membalas dan berlalu dari hadapan Syifa
Tetapi Syifa merasa senyuman itu luka, senyuman itu palsu dan senyuman itu bukan kebahagiaan, apakah Syifa sejahat itu?
Syifa akui sebelumnya ia suka perhatian-perhatian kecil dari Faqih, jujur dia kagum waktu dulu Faqih melantunkan murrotal, lebih kagum lagi ia laki-laki pertama yang membuat Syifa nyaman bercerita.
Syifa sempat berpikir dulunya apakah ia menyukai Faqih, harusnya ia senang ketika perasaan kagumnya terbalas, tapi kenapa dia tidak merasakan apa-apa saat ini, dulunya Syifa mengagumi cara Faqih dalam segala hal.
__ADS_1
Tetapi setelah hadirnya Fauzi, justru nama Faqih bukan se spesial dulu kenapa demikian? Ah Syifa jadi pusing tujuh keliling. Apa itu artinya saat ini ia suka dengan Fauzi. Tetapi sudahlah jangan berharap lebih pada ciptaannya.
Berharap cukup pada sang pencipta, hingga ciptaannya menjadi perantara dari cinta pada Sang pencipta.
Flashback off.
-
-
"Kak Syifa.." Teriak Rizky memanggilnya, Fauzi bahkan sampai terlonjak karena tiba-tiba suara Rizky berteriak.
Syifa menuju arah adiknya, sedangkan Fauzi mencoba menormalkan detak jantungnya perlu diakui jika dia payah dengan urusan perasaan.
"Kakak kalau Rizky naik kelas, Rizky mau minta hadiah." Ucap anak itu berbinar-binar.
"Minta sama Ayah dong, maassa sama Kak Syifa, bangkrut nanti." Ucap Syifa yang sangat tahu jika adiknya kalau minta jajan tak tanggung-tanggung.
"Ikhh Kakak pelit." Ucap Syifa mengerucutkan bibirnya, ingin ditarik tuh mulut.
"Emang mau minta apa hem, Siomayy?" Tanya Syifa sedangakan Rizky menggeleng masih dengan bibir mengerucut.
"Tempura?" Rizky menggeleng lagi.
"Siomay?"
"Tempura?"
"Siomay."
"Tempura?"
"Ck Kakakk kenapa tawarannya cuma dua sih." Ucap Rizky semakin merajuk, Fauzi yang melihatnya terkekeh geli. Lagian tawaran Syifa hanya seputar Siomay dan tempura.
"Lalu Rizky mau minta apa?" Ucap Syifa menarik hidung Adiknya.
"Mau minta Ikan Vanila." Ujarnya dengan percaya diri.
"Apa itu ikan Vanila?" Ucap Syifa menatap Fauzi. Yang ditatap menggeleng.
"Tadi nanya-nanya seputar ikan." Ucap Fauzi. Dan Syifa mangguk-mangguk.
"Itu Ayah udah selesai, ayoo kak kita beli Ikan Vanila." Ucap anak itu menarik tangan Syifa.
"Apa itu Ikan Vanila??." Batin Fauzi terheran-heran dengan pemikiran anak kecil itu.
"Pelan-pelan dek." Ucap Syifa tak digubris Rizky.
"Aaayyyyaaaahhh Buunnndaaaa." Teriak anak itu tanpa malu.
"Astaghfirullah anak kecil ituuu." Batin Syifa dan menepuk keningnya agar otaknya tetap berkerja dengan normal.
__ADS_1