
Fauzi terduduk di belakang pesantren di sana terdapat perkebunan luas yang sedap dipandang tak lama Faqih menyusulnya.
"Assalamu'alaikum." Faqih
"Wa'alaikumussalam." Jawab Fauzi tanpa menengok kemudian menggeser tempat duduk pertanda agar Faqih duduk
"Apa kau menyukainya." Faqih pandangan lurus menatap para petani yang masih bekerja.
"Maksudmu." Tanya Fauzi
"Jangan pura pura tak paham."
"Baiklah bukankah kau yang membuatnya terluka." Tutur Fauzi sedangkan Faqih dibuat bingung olehnya,
"Kau selama ini memang menyukainya, tapi apa kau pernah tau dia dianggap rendahan oleh Fans Fanatikmu, apa kau tau itu." Faqih semakin tak mengerti.
"Saat saya tau ketika dia mengagumimu bahkan menyukaimu dan kau memiliki perasaan yang sama, saya mencoba ikhlas dan berusaha untuk membuat kalian memiliki perasaan yang sama, tapi kenyataan sesak yang paling sulitku terima." Fauzi menarik nafas ada sedikit keraguan.
"Dia dikatakan gadis yang tak pantas bersanding denganmu yang sebentar lagi hafidz, Apa kau mengetahui itu?." Ucap Fauzi tersenyum masam Faqih menggeleng.
"Kau harusnya tau jika dia mengagumimu dan kau menyukainya lalu apa kau membiarkan dia terluka atas kegilaan fansmu diluar, Aku sudah berjanji akan membuat orang yang ku cinta bahagia walau tak bersamaku, tapi jika orang itu terluka karenanya aku akan berjuang untuknya."
"Akanku pastikan kau tak dapat mengambilnya dariku." Ucap Faqih kemudian meninggalkan Fauzi.
"Ya Allah seandainya dia jodohku maka suatu saat ia yang akan memilihku..aamiin." Ucap Fauzi
.
.
.
Beberapa hari kemudian para siswa SMK libur
hari ini mengingat ujian semakin dekat
Para siswa kelas 12 menyiapkan belajar extra, Untuk menghadapi Ujian tapi tidak untuk Ridwan dia mengajar ilmu bela diri di pondok pesantren
Hari ini Ridwan mengajar cara cara menendang ada berbagai macam tendangan tak lupa mengajarkan sikap kuda kuda yang tepat, Seluruh santri mengikuti instruksi dari Gurunya.
Syifa tidak ada kerjaan dirumah memutuskan untuk menyusul adiknya ia melihat kakaknya sedang sibuk melatih hingga tak sadar jika Syifa melihatnya.
"Ah si abang ngga ngeliat adeknya." Ucap Syifa dari kejauhan.
Syifa berniat mendekati kakaknya tapi karena ketajaman penglihatan Ridwan ia segera berdehem
"Adek di sini." Ucapnya masih melanjutkan mengajar, sontak membuat syifa gelagapan.
"Iya bosen di rumah." Ucap syifa duduk sembari melihat murid ridwan tatapannya terhenti terhadap dua sosok yang memandangnya.
"Emm ada yang salah ya sama penampilan aku." Gumam Syifa
"Cantik." Batin Fauzi/Faqih
"Baiklah latihan kita cukupkan untuk hari ini, dilanjut minggu depan."
"Siap kak." Ucap serempak dan meninggalkan tempat, Ridwan segera menghampiri Syifa.
"Dek Rizky belum keluar."
"Belum kak, mungkin masih hafalan sama ustadz." Ucap Syifa sambil menyodorkan air mineral,
"Kak Syifa mau ke KM dulu." Sambil berlari kecil
(...)
"Duh jam berapa ini." Ucap syifa setelah membenarkan jilbabnya lalu keluar dari KM.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Balas Syifa terkejut
"Ngapain Syi." Ucap Faqih
"Perlu dijawab gitu." Ucap Syifa ketus
"O iya iya." Faqih malu
"Kang Faqih ngapain disini ."
"O tadii kebetulan lewat," Ucap Faqih bohong nyatanya Faqih melihat Syifa lari ia mengikuti arah Syifa.
"Yaudah kak Syifa pergi." Ucap Syifa
"Eh tunggu tunggu." Cegah Faqih
"Tenang Fa kamu harus mulai jauh dari Kang Faqih, Huft." Batin Syifa
"Ya."
"Mm ak.. aku." Ucap Faqih terbata bata Syifa masih setia di tempat sedangkan Faqih masih mencoba mengumpulkan tenaga
"Aku sebenarnya.." Ucap Faqih terhenti karena seseorang.
"Assalamu'alaikum." Faqih menatap Orang itu sinis.
"Wa'alaikumussalam." Jawabnya
"Ada apa Gus." Ucap Faqih, Yah dia Fauzi
"Qih nanti sampean jadwal adzan," Ucap Fauzi
"Saya ingat Gus." Ucap Faqih kesal sebab Fauzi menggagalkan rencananya.
"Saya kira Lupa, O ya kamu( menunjuk syifa)," Fauzi
"Di cari Kak Ridwan." Fauzi tersenyum kemenangan.
"Baiklah saya pergi ,Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab keduanya dan Setelah kepergian Syifa, Faqih menatap tajam Fauzi
"Maksudmu apa hah." Ucap Faqih
"Saya tidak tau maksudmu." Ucap Fauzi.
"Jangan pura pura bo***, Sekarang berjuang secara adil." tantang Faqih.
"Siapa takut, Toh juga jika berjodoh ngga akan kemana." Fauzi yakin.
Tanpa mereka sadari terdapat empat pasang mata yang memandang dari arah yang berbeda.
.
.
.
Syifa kebingungan mencari Ridwan hingga menggerutu disela sela pencariannya,
"Awas saja jika Santri itu menipu gue, mau gue seblak sekalian biar enak." Umpat Syifa
"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang
"Wa'alaikumussalam." Syifa langsung mencium tangan Bu Nyai.
"Nak jam segini sudah ada ajaran lagi, Kenapa tidak masuk." Ucap Fatimah
"Maksudnya..." Ucap Syifa terhenti,
__ADS_1
"Panggil Ummi." Kemudian Syifa mengangguk.
"Maksud Ummi Syifa tak mengerti."
"Kenapa tidak masuk kelas?" Tanyan Ummi lagi.
"Saya bukan santri Mi, Saya menjemput adik saya." Ucap Syifa tersenyum sopan.
"Yasudah Saya masuk dulu ya, Assalamu'alaikum." Fatimah kemudian diangguki Syifa.
"MasyaAllah cantiknya, Sopan lagi walaupun bukan santri, Beruntung yang dapet mantu sepertinya." Batin Fatimah.
Syifa kembali mencari Ridwan nampak dari arah kelas terdapat Sorang anak kecil dan kakaknya yah siapa lagi jika bukan Ridwan dengan Rizky.
Syifa yang hendak mencak mencak ditahan karena tempat umum, Sikapnya yang tiada orang mengerti hanya mengira Syifa orang biasa kelem mandiri dewasa, Dia memutuskan datar
"Dek udah nunggu dari tadi." Ucap Ridwan serasa tanpa dosa.
"Hem."
"Wah bisa habis nanti dirumah, Cari cara ah oh ya rizky." Batin Ridwan.
"Ayo pulang " Ajak Syifa pada Rizky.
Rizky hanya mengangguk sedangkan Ridwan hanya diam mengikuti langkah kedua adiknya.
Sesampainya Di Rumah Syifa yang sudah siap mengutarakan seribu kata terhenti karena Ridwan mengajak Rizky main sungguh otak yang cerdas.
"Oh sudah mulai pandai ya." Batin Syifa kesal kemudian memutuskan memasak,
.
.
.
Malam tiba dan para santri sudah siap siap mengaji kitab, Setelah selesai kini para santri waktunya untuk mengistirahatkan diri.
Di Kamar Faqih terlihat mondar mandir sebentar mengusap kepala kasar tanpa pecis dan hanya memakai kaos lengan pendek
"Hadehh Kau kenapa dari tadi tampang kusut kurang kerjaan?" Tanya Danu
"Iya tuh pusing liatnya." Sambung Ridho
"Hmm Fauzi bakal ambil Syifa." Ucap Faqih
"Astaghfirullah, Ternyata ini tho yang bikin Faqih presiden sholawat galu." Celetuk Danu
Ridho dan Adit mengernyitkan dahi "Hey playboy, Galau bukan galu." Ucap Ridho.
"Gimana ya masalah jodoh itu udah diatur dari sononya, So kita hanya perlu memperbaiki diri dan memantaskan diri." Tutur Danu tak lama Ridho memeriksa kening Danu.
"Hey hey apa apaan ini." Alih Danu
"Ini playboy yang bicara, ah aku ngga percaya deh hahahah." Ucap Ridho disambut gelak tawa seluruhnya.
"Aku ada ide..!"
.
.
.
Heppy Reading yaa,
Maaf Masih banyak Typo, Mohon saran dan kritiknya, Jangan lupa teken jempol ,Komen, Dan Dukung author dengan cara Vote,
Terimakasih
__ADS_1