
Sesampainya di aula Fauzi segera menemui Umminya, yang tengah duduk bersama Abi dan ustad lain. Fauzi tau jika yang akan di bahas adalah kepindahannya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi.
"Wa'alaikumussalam." Ucap Abi, Ummi, Ustadz Ihsan.
"Duduk, Zil." Ucap Ummi dan Fauzi menurut.
"Kelihatannya kamu betah ya disini." Ucap Abi basa-basi Fauzi hanya tersenyum.
"Nak, berikan Ustadz Ihsan jadwalmu karena mulai besok kamu sudah pindah." Ummi.
"Se-Secepat itu ummi?" tanya Fauzi setengah terkejut.
"Iya, sebenarnya sudah dari sebulan lalu tapi kelihatannya kamu betah di pondok abi. Tapi data disini sudah selesai," Abi angkat bicara.
"Ah iya abi tidak apa." Fauzi tersenyum masam.
"Kelihatannya anak Ummi sudah betah disini ya." Goda Ummi, sedangkan Fauzi mengangguk.
"Kamu selesaikan pendidikanmu setahun ini, setelah itu pindah kesini lagi." Ucap Ummi menghibur.
"Baiklah Abi mau sholat duha dulu," Ucap Abi meninggalkan aula diikuti Ummi tak lupa Fauzi mencium tangan mereka.
Fauzi sedari tadi termenung, Ustadz Ihsan yang dijadikan kacang panjang terheran heran.
"Ekhemm.." Deheman Ustadz Ihsan tetapi seratus sayang Fauzi tak bergeming.
"Ekhemmm.." Kini deheman itu makin panjang tapi masih sama saja.
"Hak ehhmm." Dengan nada tinggi lantas Fauzi memegangi dadanya.
"Astaghfirullah Ustadz mengejutkanku." Fauzi menetralkan degupan jantungnya.
"Sudah sedari tadi saya dijadikan kacang panjang," Gumam Ustadz Ihsan.
"Dimana kacang panjangnya Ustadz?" Tanya Fauzi polos.
"Astaghfirullah lama-lama darah saya akan meninggi jika begini." Gerutu Ustadz.
"Memangnya darahnya Ustadz diberi makan apa agar tumbuh tinggi." Ucap Fauzi terheran heran.
"Saat ini rasanya ingin mendidih." Geram Ust.Ihsan.
"Apa Ustadz tengah memanaskan air." Tanya Fauzi polos.
"Tidak, hanya saja hendak membuat kopi dengan air panas, karena saya sedang stres." Ucap Ust.Ihsan asal.
"Oo." Tutur Fauzi hanya ber O ria. Seketika hening kembali hingga satu jam.
"Mm kelihatannya kau sedih ya?" Tanya Ust.Ihsan
"Menurut Ustadz?"
"Sedih." Jawab Ust.Ihsan Sedangakan Fauzi mengangguk.
"Apa karena pindah pondok." Tebakan Ustadz.
"Iya."
"Oh."
"Hem"
"Alasannya?"
"Karena masa depan saya disini." Tutur Fauzi.
"A-apa hahahha." Tawa Ustadz, hingga Fauzi mengerinyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Hey, anak muda masa depanmu itu masih panjang." Tutur Ustadz.
__ADS_1
"Kita sangat tau tiga masa, dalam kehidupan dunia." Ucap Ustadz Ihsan mantab.
"Maksudnya."
"Coba kita cermati, Bagaimana dengan masa lalu, apa kita bisa mengulangnya? tidakkan? hem, tapi dengan itu jadikan pembelajaran di masa yang sedang kita hadapi."
"Masa kini! Kita tengah mengalaminya berusaha lah untuk menggunakan waktu dengan bijak baik untuk duniawi tapi akhirat tetap utama, Caranya? lebih mendekat pada sang kuasa."
"Masa depan, kita tidak tau seperti apa tapi kita yakin Allah sudah merencanakan sesuatu di kedepannya tinggal usaha saja." Tutur bijak Ust.Ihsan.
"Termasuk jodoh.? Entah keberanian dari mana Fauzi mengatakannya, sedangakan Ustadz Ihsan mengangguk heran.
"Jika itu sudah tercantum di lahul ma'fudz semua sudah tersusun rapi atas kehendaknya, tinggal nunggu datangnya, jika cocok langsung lamar."
"Sama halnya dengan ibarat waktu, Kemarin untuk kita berkaca di hari ini dan hari ini untuk bayangan apa yang kita lakukan di hari esok," Imbuhnya.
"Oalah." Fauzi mengangguk paham.
"Ayo persiapan sholat jum'at." Ajak Ust.Ihsan kemudian Fauzi mengangguk.
.
.
.
Malam hari..
"Dek, Abang sudah pesankan kos untukmu." Ucap Ridwan masih fokus dengan film actionnya.
"Tapi Yunda udah pesenin kosnya bang." Sergah Syifa.
"Kos atau laju." Ridwan dingin.
Glek!!
"Iya iya." Syifa pasrah kemudian melangkah ke kamarnya.
******
Me: Gaes, untuk kosnya biar diurus bang Ridwan yak @Yunda.
Reva: Where are you @Yunda??
Rina: Aku ngikut aja
Reva: Aku juga😋
Me: Lahh @Yunda mana??🙄
10 menit kemudian..
Yunda: 😴😴😴.
Syifa/Rina/Reva: 👹😪👿👿
Yunda: Wkwkwkw, iya aku sedelapan kurangi satu heheh😂
Reva: Mm
Rina: Hmmmm
Syifa : Y
Yunda: Ellah, tuh kurang huruf apa hangus kosa kata😣
Syifa/Reva/Rina: 😴
Selesai chat dengan temannya Syifa mengambil buku merah yang sangat penting bersangkutan dengan Prakerinnya.
"Hemm cek dulu lah daftar hariannya nanti." Gumamnya sembari meraih buku dalam tas.
Saat sudah ketemu, Syifa membukanya seketika ia mengernyitkan kening. Antara terkejut dan heran.
__ADS_1
"Sejak kapan aku menulis arab? dan apa ini." Menunjuk buku dan bertanya pada diri sendiri.
"Massa iya tulisanku berubah seperti powerengger, kan ngga lucu." Tanyanya lagi sendiri.
"Tertukar" Gumamnya.
Syifa terus membolak balikkan bukunya hingga menemukan nama yang tertera di salah satu lembarannya.
~M.Zil.Alfauzy.~
Lengkap dengan tanda tangan yang indah benar-benar indah karena tanda tangannya tertulis dengan lafadz arab tak lupa dengan arab yang latinnya dari kata Al-Fauzi.
"Cantik!." Satu kata Syifa sembari memperhatikan tanda tangan orang itu. Otaknya memutar waktu di pagi hari tadi saat ia tengah tertabrak dengan Fauzi.
"Kang Santri." Cicitnya pelan.
Ia segera menggelengkan kepala saat melihat wajah Fauzi menari nari di pikirannya.
"Tidak tidak,, ngga mungkin aku suka sama pria yang pikirannya hanya nikah, takdir, jodoh, benar benar membuang waktu." Gerutu Syifa memasukkan buku ke dalam tasnya
"Besok aku ke sana untuk mengembalikkan ini dan menukar buku ku..huhh." Ucap Syifa lalu merebahkan dirinya di kasur king size.
Setelah menatap langit-langit cukup lama Syifa tertidur dengan sendirinya.
.
.
.
Di tempat lain yang sangat gelap hanya ada cahaya remang remang, seseorang tengah terhanyut dalam emosi.
"Bagaimana apa kau berhasil menemukan kelemahan Ridwan songong." Ucap orang itu dengan tatapan membunuh.
"Ma-maafkan saya gagal lagi, karena dia sangat menguasai bidang legal dan ilegal bos," Ucap anak buah menunduk kakinya serasa tak bisa menopang tubuhnya.
"Dasar kalian tidak becuss, kalian sudah menghabiskan keuntungan uang perusahaanku dan sekarang hanya sia sia,, cuihhh" Ucap sang bos meludah ke kepala si anak buah.
"Ma- afkan kami bos, kami akan usaha lagi." Ucapnya sambil bersujud.
"Tidak ada kata maaf dalam kamus ku." Ucapnya dengan seringai licik.
"Baiklah sekarang kembali lah." Ucapnya dingin 3 pengawal tadi saling pandang heran, dan segera berbalik saat empat langkah kaki tiba tiba...
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan dari senjata yang berharga milyaran tembus tubuh si pengawal..
tak hanya itu ia menembakkan lagi dan lagi
Dor!
Dor!
Dor!
Hingga pengawal sudah terkapar dengan darah segar yang mengalir di bagian dada kepala dan leher.
"Bereskan sekarang." Ucap si bos para pengawal lain yang tadi memejamkan mata segera melaksanakan perintah.
"Lihat saja Ridwan gue akan habisin keluarga lo..tunggu pembalasan gue, dan lo harus tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayang." Ucapnya dengan mengepalkan tangan.
.
.
Oke!
Sekarang bagaimana tanggapannya😀
__ADS_1
saya jawab IYA aja😂
Sampai jumpa bab selanjutnya dadahh😸