Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Cinta (Ex. Part)


__ADS_3

Ummi Fatimah ngotot mengajak menantunya ke dokter kandungan, tentu saja setelah drama kelapa muda dan mangga muda yang baru saja kelar. Tak lupa mengabari besannya tentu saja membuat Ayana heboh bukan kepalang.


Dan di sinilah mereka, para keluarga yang berwibawa dan soleh berkumpul, bahkan yang mengantre ikut heran. Bagaimana nggak heran jika dua keluarga yang sudah terikat itu berkumpul rame-rame.


"Kang kalo aku nggak hamil gimana?" Tanya Syifa sedikit takut, jika dia tidak hamil apakah mertuanya akan mencari pengganti? pikiran Syifa mendadak nyeleweng.


Kumenangiss membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku


Ikh Syifa bergidik ngeri kenapa pemikirannya mendadak nyableng kemana-mana coba?


"Tidak apa-apa, kan semua sudah ada yang mengatur dik, kita serahkan sama Allah." Ucap Fauzi mengecup dahi Syifa sekilas, tentu saja itu membuat Syifa bersemu.


"Ehem ehem, Ingat tempat." Ucap Ridwan menatap atap putih dengan maksud menyindir, ia jengah melihat dua orang yang dilanda bucin. Bilang saja iri bang?


"Kamu tu Wan udah gede belum nikah, keburu tua nanti." Celetuk Bunda cekikikan.


"Emang bang Ridwan belum nikah ya bun?" Tanya Rizky puoloss pake banget, karungin aja tuh bocah!!


Jelas-jelas di sana hanya Ridwan yang belum ada pasangan!! ngenes ngenes Ya Allah. Belum sempat Ridwan menimpali Rizky, sudah ada panggilan yang memanggil nama Syifa.


"Asyifa Nur Fadilla?" Ucapnya.


Semua masuk ke ruangan, hingga wanita bernama Dr.Dian itu mengerinyit heran terlihat jelas dengan maksud tatapan heran, bagaimana tidak? semua keluarga berbondong memenuhi ruangan itu.


Terlihat Rizky menelusup masuk karena tidak kebagian tempat.


"Emh maaf bapak ibuk saya memanggil Syifa saja." Ucap Dr. Dian.


"Yaya dok, kami tahu itu." Ucap Ayana diangguki Fatimah.


"Lalu di sini siapa yang bernama Syifa?" Ucap Dokter itu.


Sontak kedua keluarga itu saling pandang memandang,


"Lhoh mana Syifa?" Tanya mereka serempak. Lantas Dokter itu semakin dibuat binggung dengan tingkah keluarga itu.


"Fa Syifa?" Ayana dan Fatimah.


"Syifa di sini Bunda Ummi." Ucap Syifa di pintu. Hal itu membuat semua kepala memutar 180° melihat arah suara.


"Kita terlalu seneng ya san, padahal putri kita belum masuk ruangan." Ucap Arnold.


"Haha bisa jadi." Kekeh Kiyai Hakim serta diringi gelak tawa ruangan, lain dengan si dokter yang memijit pelipisnya. Mungkin dia lelah?


Dokter menyuruh Syifa berbaring di ranjang pasien dan mulai memeriksa, semua yang dilakukannya tidak lepas dari pandangan kedua keluarga, yah keluarga kepo maksimal!


Senyum Dokter itu tidak bisa di artikan, segera ia memberikan suatu benda untuk mengeceknya, Syifa menuruti perintah dokter ia berjalan menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan itu.


"Eh Gus mau ngapain?" Tanya Ridwan saat melihat Fauzi mengekor adiknya.

__ADS_1


"Mau bantuin." Jawab Fauzi dengan tampang polosnya,


Syifa yang tersadar mencubit lengan suaminya ini, malu dong ya? apa lagi di sini keluarga pada ngumpul, lebih lagi ada dokternya lagi.


"Ikh kang tunggu di luar." Bisik Syifa pelan, membuat Fauzi heran lalu menatap semua orang yang sudah cekikikan menunduk-nunduk.


(...)


Setelah usai periksa kandungan kini Syifa berada di rumahnya dan Fauzi serta kedua orang tua masing-masing pada ngikut putra-putrinya.


Kata dokter, Syifa positif hamil dan juga usia kandungannya sudah dua minggu, karena kehamilan pertama retan keguguran membuat dokter menyarankan agar Syifa tidak terlalu kecapekan dan menjaga kesehatannya.


"Kamu mau minta apa bilang ya." Ucap Fauzi mengelus perut Syifa yang masih datar.


"Mmm mau Ayam goreng." Ucap Syifa posisinya menatap layar TV yang di tonton oleh Rizky, si ipin memakan paha ayam, Syifa membayangkannya sepertinya enak.


Fauzi mengangguk cepat ia bersiap,


"Aku belikan dulu ya." Ucap Fauzi dibalas anggukan Syifa dengan binar.


Jangankan Ayam goreng, kalaupun Ayam terbang pun akan Fauzi cari demi Syifanya. Beginilah cintanya Fauzi ia akan melakukan apapun, yah apapun yang membuat Istrinya bahagia.


"Ckckck , dasar anak ini." Gerutu Ridwan tapi ia bahagia melihat adiknya bersama orang yang tepat.


"Itu karena kamu belum ngerasain wan." Ucap Arnold dengan seringainya, sampai kapan coba? Ridwan akan menjomblo.


"Sampai kapan?" Tanya Ayana.


"Bunda jangan bahas itu ya?" Ucap Ridwan.


"Bunda cuma mau nanya kok, lagian adik kamu udah mau jadi ibu, massa kamu sebagai Abang belum ada pendamping." Ucap Ayana, ia heran sebenarnya flezeer mana yang membuat putranya itu dingin?


"Udah ya, Ridwan mau berangkat kantor dulu." Putus Ridwan, ia sudah malas dengan pembahasan seperti itu.


"Fa jaga kondisi ponakanku ya haha, ingat udah ada Fauzi yang jaga kamu." Ucap Ridwan saat Syifa menyalami Abangnya.


"Iya."


Setelah selesai acara salimnya, Ridwan undur pamit hendak mendatangi meeting dengan klien.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


___________


Malam hari


Fauzi dan Syifa tengah berada di kamar, rasanya Allah memberikan kebahagiaan berlipat kepada Syifa, ia tak henti-hentinya bersyukur. Dosa dari masalalunya sudah terlalu banyak.

__ADS_1


Tapi adanya Fauzi membuat Syifa hidup menemui tujuannya , yaitu bahagia bersama sampai surganya. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu selama hidupnya. Perjalanan keluarga tidak ada yang mulus.


Namun dengan itu, kita semua bisa mengambil hikmah dan menambah rasa cinta serta semakin kuat rumah tangganya tentunya InsyaAllah membawa bahagia dunia dan akhirat kelak. Aamiin


"Kang," Panggil Syifa, ia melihat Fauzi membenamkan kepalanya di perut datar Syifa. Dengan posisi Fauzi yang di bawah.


"Hm."


Hening


"Apa kamu bahagia?" Tanya Syifa membuat Fauzi mendongak lalu mendudukan dirinya di samping istrinya.


"Tentu saja aku bahagia." Ucap Fauzi merengkuh tubuh istrinya. Ia tahu jika Syifa belum percaya sepenuhnya.


Lagi-lagi hening, Syifa mendengar alunan merdu dari dada Fauzi yang terdengar sangat cepat. Mungkinkah ia grogi? Tapi itulah yang juga di rasakan Syifa.


"Apa kamu menyesal menikah denganku?" Tanya Fauzi masih dengan memeluk erat istri halalnya, sesekali ia mengecup kepala Syifa tanpa balutan hijabnya.


"Tidak, tapi.." Menggantungkan kalimat.


"Tapi, kenapa? bisa..Yang ku tahu kamu benci wanita sepertiku." Imbuh Syifa, ia benar-benar ingin memastikan apakah suaminya ini benar-benar memcintainya? atau hanya nafsu semata?


"Hm." Hanya deheman yang terdengar, membuat Syifa mendengus, ia memilih untuk tidur dan posisinya membelakangi Fauzi.


Lain dengan Fauzi, ia heran kenapa ibu hamil itu sangat sensitif tapi Fauzi juga senang akan hal itu. Fauzi tersenyum menatap arah jendela yang sudah tertutup gorden.


"Saya tidak pernah menyesal Syifa, karena saya memang mencintai kamu. Sejak dulu! bagi saya masalalu adalah angin lewat, bisa saja berupa badai atau semilir sejuk."


"Iya dulu saya pernah berjanji jika saya tidak akan mau bersama orang kejam, apapun alasannya. Tapi karena kamu, saya bisa mengubah sisi pandang tersebut, selama masih ada cinta, dan saya akan selalu cinta."


"Jika janji bisa ku ingkari, Tapi saya buktikan jika saya memang sudah benar-benar jatuh. Bahkan jatuh sedalam-dalamnya ini??" Batin Fauzi.


Fauzi berbaring di samping Syifa, ia membalikkan badan Syifa ternyata ada bulir air mata yang terjatuh. Karenanya.


Di usapnya air mata itu, satu kecupan mendarat di kening Istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia benar-benar akan mengutuk dirinya jika sampai membuat istri dan calon anaknya menangis.


"Aku cinta kamu."


"Dan selalu cinta."


Kalimat itu diucapkan Fauzi sebelum memeluk tubuh istrinya, dirasakan Fauzi jika Syifa membalas pelukan itu. Sudut bibir Fauzi tertarik sedikit.


Bismika Allahumma ahya wa bismika aamuut


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2