Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
82.Sepertiga Malam


__ADS_3

Di satu sisi dia mencintai Fauzi tapi di sisi lain tidak mungkin ia akan terus terjebak dalam perasaan yang tidak pasti, islam memang tidak melarang tapi apakah tidak tumbuh dosa karena terlalu lama memikirkan jodoh.


Syifa memutuskan untuk sholat istikharah sebelum menjawab pertanyaan itu, lagi dan lagi wajah yang iya dapatkan tak lain ialah Kang santri.


"Bismillah semoga ini keputusan tepat."


"Maaf saya tidak bisa menerimanya karena,, karena mungkin akan menyakiti pribadi masing-masing sekali lagi saya minta maaf.." Tolak Syifa saat itu dengan halus.


Semua tercengang termasuk keluarganya, tapi sudahlah anaknya yang tak mau. Keluarga Zadid pun juga harus menerima ini semua, lebih baik Syifa jujur kan dari pada berbohong menyakiti perasaan keduanya.


_______________


Selepas Sholat tahajud, Syifa memohon kepada Robbnya semoga di temukan kepada Fauzi.


"Ya Allah maafkan hamba yang sudah melewatkan khitbah pertama, bukan apa tapi memang hamba tidak mencintainya, Ya Allah tunjukkan jalan mu bagaimana dengan Kang Santri hiks." Lirih Syifa.


Dia itu pasrah tapi dalam ke pasrahan nya seolah menyimpan seribu harapan.


sudah banyak perasaan yang ia rasakan, Cinta, Benci, Rindu menjadi satu. Bagaimanapun dia sendiri tidak pernah merasakan yang sebelumnya.


Sebulan berlalu


"Dek kamu tolong nanti ke Restoran X ya." Ucap Ridwan.


"Oke Kak." Ucap Syifa segera bersiap untuk ke tempat X.


Sesampainya di sana ia mendudukkan dirinya ke kursi yang masih kosong, mendengarkan musik yang tersedia di panggung kecil. Rasanya Syifa jengah setelah nyanyiannya selesai.


"Mmm mungkin bang Ridwan masih lama, bagaimana dengan meeting nya? Ah aku mau nyanyi aja kalo gitu." Batin Syifa


Setelah berdiskusi pada si pemilik musik tepatnya, Syifa berencana untuk menyumbangkan nyanyian lagu..


"Assalamu'alaikum semua, saya akan menyanyikan lagu."


prok.prok.prok.


Lirik lagi Qhutbus shaka


Sepertiga malam


🎡🎡🎡🎡🎡🎢


Pertama ku memandangnya


Tak ada rasa di dalam jiwa


Semua terasa seperti biasa


Tak ada rasa cinta


Waktu pun terus berlalu


Mengapa ku semakin merindu


Inikah rasa pada dirinya yang tak bisa kusentuh


Reff:Di dalam setiap hariku


Di waktu sepertiga malam


Bersujud berdoa padanya


Memohon petunjuknya


Wahai sang pemilik hati


Sampaikanlah rinduku ini


Jika dialah yang terbaik


Dekatkan kami, Ya Rabbi


Waktu pun terus berlalu


Mengapa ku semakin merindu


Inikah rasa pada dirinya yang tak bisa kusentuh


Di dalam setiap hariku


Di waktu sepertiga malam


Bersujud berdoa padanya


Memohon petunjuknya


Wahai sang pemilik hati..

__ADS_1


reff again...


🎢🎡🎡🎡🎡


Sosok pria yang sedari tadi melihat arah Syifa tersenyum walaupun tidak jelas karena menggunakan masker.


Suara tepuk tangan menggema di restoran itu, tak di pungkiri suara Syifa memang bagus bahkan di minta untuk menyanyikan lagi tapi Syifa yang notabenya cuek hanya mengabaikan semua itu. Toh juga ini restoran Abangnya.


" Dek?" Lambaian seseorang yang tak lain ialah Ridwan.


Syifa yang melihat Ridwan ingin segera menuju kursi yang berada di pojok, sudah pastikan dia ini marah menunggu Ridwan hampir lumutan. Sudah cukup menunggu Fauzi tanpa kepastian, jangan Ridwan juga dong, lelah hati ini.


Karena terburu-buru Syifa tidak sengaja kakinya menyampar kaki kursi, hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan Syifa terhuyung kedepan.


Bug


Deg.Deg.Deg


Syifa terjatuh di pelukan seseorang, yah pria yang memakai celana jeans, kemeja tanpa di kancing melihatkan kaos polos dan topi hitam yang melekat di kepalanya tak lupa masker yang menutupi wajahnya.


Entahlah sepersekian detik Syifa masih menormalkan jantungnya. Ia berada di pelukan seseorang, seolah tak ingin lepas dari sana. Wangi parfume dari pria itu tidak asing.


Masih dengan jantung, tanpa sadari banyak mata yang mengarah mereka. Yah parfume yang sangat ia rindukan sangat ia kenali. Tapi kenapa seolah dia seperti orang asing.


"Ehem." Deheman Ridwan membuat Syifa tersadar dan membenarkan posisinya.


"Hati-hati mbak." Ucap orang itu segera berlalu begitu saja.


"Kang santri?"


Masih dengan memandangi punggung pria misterius itu berlalu. Syifa berfikir jika itu kang santrinya, orang selama ini menghilang, orang yang mengisi kerinduan hatinya, orang yang Syifa tunggu bahkan rela menunggu tanpa kepastian.


"Tidak mungkin itu kang santri, tapi arrgghh kenapa dia menjauh...Tidak-tidak parfume seperti itu bukan hanya kang santri yang punya." Batin Syifa.


"Dek? ngapain ngelihatin pria itu?" Tanya Ridwan membuat Syifa gelagapan.


"Ah ya, ayo bang mana klien nya?" Ucap Syifa mengalihkan pembicaraan.


Meeting selesai, Syifa tanpa lama segera menuju kantornya meninggalkan Ridwan yang masih berada di sana.


"Aku duluan bang, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ridwan yang sudah hendak pergi dari tempat itu urung melihat pria yang menolong adiknya tadi.


"Terimakasih sudah menyelamatkan adik saya." Ucap Ridwan yang belum tahu siapa pria misterius itu.


"Sama-sama kak Ridwan." Ujarnya membuat Ridwan mengerinyit.


"Tunggu dari mana kau tahu nama saya." Ucap Ridwan menyelidik orang ini sudah seperti betmen serba hitam,


Orang misterius itu tersenyum dibalik masker. Tangannya membuaka maskernya hingga muncul lah wajah yang sangat Ridwan kenali hanya saja wajah itu terlihat lebih ke dewasa.


"Gus Fauzi??" Terkejut Ridwan bukan main, orang yang selama ini di nanti adiknya.


"Iya kak," Jawab Fauzi tersenyum tipis.


"Jadi sudah di indonesia ya, kenapa baru nongol." Ucap Ridwan geram juga, karena adiknya itu punya penyakit.


"Kau tahu gara-gara ngga balik-balik adikku punya penyakit." Ucap Ridwan setengah serius.


"Pe-penyakit?" Beo Fauzi dengan perasaan cemas.


"Iya! 3G." Aihh bukannya 3G itu sinyal ya Fauzi masih menatap dengan tatapan lola nya.


"Ha?"


"Gelisah, Galau, Geger." Ucap Ridwan dengan santainya, membuat Fauzi hanya tersenyum tipis rupanya lima tahun berlalu merubah segalanya.


"Kakak bisa aja." Elak Fauzi, jujur saja dia tidak ingin menjawab tapi ya nggak papa lah belajar ramah sama calon kakak ipar.


"Kamu masih hutang penjelasan dengan saya, Gus." Ucap Ridwan datar, Fauzi tahu jika sudah begitu Ridwan mau penjelasan yang sebenarnya..


"Baiklah, sebelumnya saya sudah lama ingin pulang ke indonesia tapi.."


"Apakah pernikahan ini Nazar? Tanya Fauzi.


"Tidak, ini perasaan Najwa yang memang memendam perasaannya." Ucap Abi.


Alhamdulillah itu artinya Fauzi tidak memaksa perasaannya yang harus menikah karena nazar.


"Maaf abi bisakah Zil di beri waktu dulu." Tanya Fauzi memutuskan untuk keluar sebentar.


Fauzi yang tak sengaja bertemu Faqih mengobrol banyak waktu itu, hingga Faqih menanyakan perasaan ke Syifa. Hal itu membuat Fauzi sadar jika Faqih masih mengharapkan cinta Syifa.


Ia tidak akan membiarkan itu.

__ADS_1


"Aku akan membuktikannya Syifa."


Sore Hari


Fauzi memilih jujur dengan Abi dan Pamannya.


"Maaf Abi, zil tidak memiliki perasaan apapun ke Ning Najwa, karena Zil sudah ada seseorang sendiri yang Zil ingin." Ucap Fauzi menunduk takut jika ia mendapat ceramah panjang lebar.


"Tidak apa nak, jujur Abi mengingikan kamu jujur dari pada membohongi perasaan sendiri."


"Abi tidak marah?" Tanya Fauzi heran.


"Haha kenapa marah? abi juga pernah jatuh cinta kalik Zil ada-ada aja." Ucap Hakim dengan menunduk-nunduk sudah pastikan dia sedang ketawa.


"Lha ya to, umur kami ini udah tua, tapi pengalaman cinta sudah banyak ya to kim." Ucap Paman Hanan.


Fauzi terkekeh dibuatnya, ia memutuskan untuk pulang ke indonesia tepat Faqih yang juga pulang ke Indonesia. Namun Faqih tidak mengetahui itu. Sedangkan Abi nya memilih beberapa waktu di kairo.


Saat sampai di pesantren, bukannya mendapat sambutan malah mendapat kejutan, Syifa yang menabrak Faqih dan mengobrol hal itu membuat Fauzi sedikit panas. Ia memilih untuk segera pergi.


Memang dia tidak tinggal di pesantren melainkan di rumah yang ada di tempat X,hingga kini dia melihat senyuman Syifa dari nyanyian Spertiga Malam Syifa.


Ridwan yang mendengar cerita itu menganga tak percaya, kenapa ada anak yang setengil ini, harusnya dulu dia itu menemui adiknya, kan?


"Harusnya kamu itu menemui dia dong gimana sih." Ucap Ridwan dengan ketusnya.


"Saya tidak ada keberanian setelah membuatnya menunggu terlalu lama, tapi.."


"Alasan! kau ini jantan sedikit dong." Astaga ucap Ridwan dengan sungutnya. Padahal nih ya Ridwan itu masih jomblo.


"Kenapa ada orang yang berfikir kritis seperti anda ck." Imbuh Ridwan menggertak.


"Saya punya alasan kak." Ucap Fauzi membuat Ridwan diam seolah meminta penjelasan.


"Dulu Syifa menolak janji saya, tetapi dia meminta saya membuktikan...Saya memang belum bisa membuktikan tetapi saat ini mungkin sudah waktu yang tepat buat saya buktikan." Ucap Fauzi menerawang jauh, dikala ia mengumpulkan uang sendiri untuk mendirikan usaha.


"Ternyata dia serius." Batin Ridwan.


"Setidaknya temui dia, untung saja dia belum menerima lamaran dari sepuluh orang yang datang padanya dulu." Ucap Ridwan membuat Fauzi membulatkan mata.


Apa 10? nggak salah? Syifa bertahan demi dia, ia harus segera datang untuk menemuinya.


"Saya itu sudah membujuk si author aneh itu kenapa juga saya disembunyikan di lubang semut, mana sambutannya di lihatkan pemandangan si Syifa Faqih." Kesal Fauzi mengeluarkan unek-unek.


"Lha kok gitu?" Tanya Ridwan.


(uhuk-uhuk ada yang ghibah saya ya?) Author.


"Tau tuh katanya sih pada request ketemuya di Pelaminan jadi kalo saya pengen ketemu, saya harus usaha ngumpulin biaya dulu di paksa kerja sama tuh orang..Saya juga udah rindu setengah hidup." Ucap Fauzi, banyak drama ya kang?


"Harusnya kamu miscall saya, nanti saya pinjamin uang. Saya itu orang terkaya kok." Dihh mulai sombong nih.


"Jadi saya nikahnya hutang ke kakak ipar gitu?" Ucap Fauzi dengan drama nya.


"Iya, tapi bunga nya 50 persen dan satu lagi jangan anggap saya kakak ipar sebelum utang mu lunas." Canda Ridwan.


"Sudah-sudah kak, jangan ghibah orang, dosa ntar toh kita ini calon bapak-bapak bukan emak-emak yang suka ghibah." Ucap Fauzi memang kelb deh kalo sama Ridwan.


Hening ..


Muka papan siap terpasang, sepertinya papan triplek dan papan blabak sudah normal ke tubuh semula,


"Jadi sekarang apa rencanamu?" Tanya Ridwan secara gamblang.


"Ya saya akan membuktikan, dia sendiri tidak mengharap janji tapi jika dia memilih Bukti saya akan buktikan" Ucap Fauzi dengan senyum khas orang datar.


____________________


oke babay, dont forget comment


saya ucapkan makasih banyakk..


Apalah novel ini tanpa kalian☎


Sya juga sadar ini novel memang acak-acakan...Saya buat novel ini memang hanya sebatas halu kok


Dan sebenarnya halu ini tersimpan sejuta harapan buat orang terspesial..jadi kalo novel ini tak sebagus karya para author lainnya..


Wajar yaa..


Ini cerita juga bentaran lgi End kok..buat yang masih menunggu tunggu aja, sesabar cinta Syifa menunggu Fauzi.


Babay sempatkan komen lho ya..karena itu bikin semangatt. love you all


kapan lagi coba ucapin cinta ke kalian heheπŸ˜πŸ˜‚


Salam dariku

__ADS_1


Si Pemalas Sejuta Impian


__ADS_2